Bisnis.com, JAKARTA — PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menargetkan penggunaan biomassa hingga 10 juta ton per tahun pada 2030 sebagai upaya menggantikan molekul fosil dalam pembangkitan listrik nasional dan menekan emisi karbon sektor ketenagalistrikan.
Direktur Bioenergi PLN EPI Hokkop Situngkir mengatakan pihaknya menargetkan penggunaan biomassa mencapai 2,5 juta ton tahun ini. Adapun, realisasi hingga pertengahan Desember mencapai 2,2 juta ton.
Melalui penggunaan biomassa tersebut, pihaknya menyebut telah berhasil menurunkan emisi karbon hingga 2,6 juta ton karbon dioksida (CO2e) ekuivalen dari 14 jenis biomassa. Hingga 2030, PLN EPI menargetkan 10 juta biomassa diterapkan dalam program co-firing biomassa.
"Tetapi untuk 2–3 tahun ke depan, kami punya potensi sekitar 7,3 juta ton, yang sebenarnya ini kami punya di depan mata," kata Hokkop dalam Bisnis Indonesia Forum bertajuk Prospek dan Tantangan Bioenergi Nasional, Selasa (16/12/2025).
Co-firing biomassa menjadi salah satu instrumen paling efektif dalam mendukung target net zero emission (NZE) karena mampu menurunkan emisi karbon secara langsung melalui penggantian molekul fosil, bukan sekadar mengganti jenis pembangkit.
PLN EPI mencatat potensi biomassa nasional sangat besar, mencakup dari limbah pertanian, kehutanan, kayu, hingga pulp (waste agro, waste forestry, waste wood, waste pulp), potensi biomassa Indonesia diperkirakan mencapai 280 juta ton per tahun.
Namun, sejauh ini pemanfaatan baru mencapai 20 juta ton, sementara potensi yang dinilai mudah diakses mencapai 60 juta ton.
“Bioenergi itu unik karena molekul fosilnya diganti dengan molekul hayati. Secara life cycle assessment, ini terbukti mampu mereduksi emisi karbon secara signifikan,” ujarnya.
Dalam praktiknya, PLN telah mengimplementasikan teknologi co-firing biomassa di hampir seluruh pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Dari total 52 PLTU milik PLN, sebanyak 49 PLTU telah menerapkan co-firing dengan berbagai jenis biomassa.
Meski demikian, PLN EPI mengakui peningkatan pemanfaatan biomassa masih menghadapi tantangan teknis. Pembangkit listrik yang awalnya dirancang berbasis fosil memiliki batas toleransi terhadap campuran energi baru, sehingga implementasi biomassa harus dilakukan secara bertahap agar keandalan mesin tetap terjaga.
Secara teknis, PLN menilai porsi co-firing biomassa sebesar 10–15% masih berada dalam batas aman bagi mayoritas PLTU. Bahkan, beberapa PLTU berteknologi stoker di wilayah timur Indonesia telah menggunakan biomassa di atas 50%, dan sebagian mendekati 90%.
Selain biomassa padat, PLN EPI juga mengembangkan sumber bioenergi lain, seperti biogas dari limbah cair kelapa sawit (palm oil mill effluent/POME) serta pemanfaatan biomassa menjadi syngas, yang masuk dalam perencanaan Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).
PLN EPI turut menambahkan bahwa tantangan terbesar adopsi biomassa ke depan tidak hanya terletak pada teknologi, tetapi di pembentukan ekosistem bioenergi yang berkelanjutan, mulai dari rantai pasok, pengolahan, blending (pencampuran), hingga infrastruktur penyimpanan biomassa.
“Kalau PLTU atau PLTG, ekosistemnya sudah terbentuk sejak awal. Bioenergi ini masuk di tengah, sehingga ekosistemnya harus kita bangun bersama,” tuturnya.
Dengan target 10 juta ton biomassa pada 2030, PLN EPI memperkirakan potensi pendapatan mencapai hingga Rp9,3 triliun dengan penurunan emisi 11 juta ton CO2e. Dia pun optimistis bioenergi akan menjadi tulang punggung transisi energi nasional, sekaligus solusi penurunan emisi karbon terbesar di sektor ketenagalistrikan.