Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja bank-bank pelat merah atau bank BUMN diperkirakan tetap solid dari sisi skala laba dan daya hasil inti hingga akhir 2025, meski laju pertumbuhan labanya cenderung lebih moderat.
Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede menyampaikan dengan indikator industri yang menunjukkan margin bunga dan laba atas aset menurun, serta pertumbuhan kredit yang melambat sementara penghimpunan dana tumbuh lebih tinggi, ruang akselerasi laba di bulan-bulan terakhir tahun biasanya bergantung pada dua hal, apakah biaya dana mulai mereda dan apakah beban kerugian penurunan nilai bisa dinormalisasi tanpa mengorbankan kehati-hatian.
“Jadi, sampai akhir 2025, bank-bank BUMN kemungkinan tetap menutup tahun dengan laba besar, tetapi komposisi labanya cenderung lebih hati-hati dan pertumbuhannya tidak setinggi fase ekspansi kredit yang lebih agresif,” tutur Josua kepada Bisnis, Selasa (6/1/2026).
Dalam laporan keuangan bulanan November 2025, laba bersih tahun berjalan bank-bank pelat merah seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) menunjukkan penurunan dibandingkan perolehan November 2024.
Perinciannya, laba BRI mencapai Rp45,44 triliun, menyusut 9,12% (year on year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp50,00 triliun. Kemudian, Bank Mandiri dengan raihan laba bersih senilai Rp44,14 triliun, turun 6,41% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp47,17 triliun.
Selain itu, BNI meraup laba bersih senilai Rp18,62 triliun hingga November 2025. Capaian ini menyusut 6,01% YoY dari capaian November 2024 yang sebesar Rp19,81 triliun.
Josua menuturkan penurunan laba bank pada dasarnya disebabkan oleh kombinasi tiga faktor, yaitu pendapatan inti melambat, biaya dana naik sehingga margin bunga menyempit, dan beban kerugian penurunan nilai kredit meningkat.
Kombinasi ini, lanjut dia, cenderung lebih terasa karena porsi pembiayaan ke segmen prioritas pemerintah lebih besar, terutama UMKM dan KUR, yang secara alami memiliki biaya operasional lebih tinggi dan lebih sensitif saat daya beli melemah atau kualitas portofolio menurun.
Di sisi lain, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) membukukan pertumbuhan laba bersih pada November 2025.
Pada periode ini, BTN mencatatkan pertumbuhan impresif bahkan mencapai double digit, yakni sebesar 21,10% YoY dari November 2024 yang sebesar Rp2,40 triliun. Dengan demikian raihan laba BTN mencapai Rp2,91 triliun hingga November 2025.
Menurut Josua, pertumbuhan laba bank yang fokus pada pembiayaan perumahan ini biasanya didorong oleh perbaikan biaya risiko di portofolio perumahan, perbaikan pendanaan, dan stabilisasi margin di kredit pemilikan rumah. “...sehingga volume pembiayaan perumahan tidak hanya besar tetapi juga lebih sehat dari sisi kualitas laba,” kata Josua.
Sementara itu, BSI meraup laba sebesar Rp6,70 triliun hingga November 2025. Raihan tersebut tumbuh 8,20% YoY dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp6,20 triliun.
Josua mengatakan, pertumbuhan laba bank syariah terbesar di Indonesia itu umumnya didorong oleh pertumbuhan pembiayaan syariah dan dana murah berbasis tabungan, serta perbaikan kualitas pembiayaan yang menurunkan kebutuhan pencadangan seiring penguatan manajemen risiko.