Bisnis.com, JAKARTA – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto hadir di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-48 Asean Cebu dengan membawa pesan konsisten: Asia Tenggara harus tetap menjadi kawasan damai, stabil, dan mampu berdiri mandiri di tengah rivalitas global.
Kehadiran Presiden Prabowo disambut langsung oleh Presiden Filipina Ferdinand Romualdez Marcos Jr dan Ibu Marie Louise Cacho Araneta Marcos.
Jabat tangan kedua pemimpin di foyer Mactan Expo menjadi simbol hubungan erat Indonesia dan Filipina, tetapi lebih dari itu, juga memperlihatkan upaya Asean menjaga solidaritas di tengah dunia yang sedang bergerak menuju fragmentasi geopolitik.
Dalam sesi pleno KTT Asean ke-48, Presiden Prabowo menyampaikan salah satu pesan paling tegas mengenai posisi Asean di tengah rivalitas geopolitik global. Menurutnya, Asean tidak boleh terbawa arus persaingan kekuatan besar dunia.
"Kita tidak boleh membiarkan persaingan. Kita tidak boleh membiarkan masa lalu kita menentukan masa kini dan masa depan kita. Indonesia bertekad untuk membangun kebijakan bertetangga yang baik," ujar Prabowo.
Untuk diketahui, dalam beberapa tahun terakhir, Asia Tenggara menjadi salah satu kawasan paling strategis dalam percaturan geopolitik dunia. Laut China Selatan terus menjadi sumber ketegangan. Jalur perdagangan kawasan Asean menjadi urat nadi ekonomi global. Pada saat bersamaan, negara-negara besar berlomba memperluas pengaruh politik dan ekonomi di kawasan.
Data Dana Moneter Internasional (IMF) menunjukkan bahwa ekonomi Asean secara kolektif telah melampaui US$4 triliun pada 2025 dan menjadikan kawasan ini salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia. Dengan populasi lebih dari 680 juta jiwa, Asean juga merupakan pasar strategis bagi perdagangan global.
Namun kekuatan ekonomi tersebut sekaligus membuat Asean menjadi arena perebutan pengaruh. Presiden Prabowo menegaskan bahwa Asean harus menjadi contoh global dalam menjaga budaya damai.
"Di tengah makin dalamnya perpecahan, budaya perdamaian Asean tidak hanya harus dilestarikan, tetapi juga harus kita majukan agar menjadi contoh global. Asean harus benar-benar menjadi zona perdamaian," kata Prabowo.
Pandangan itu muncul di tengah kekhawatiran meningkatnya fragmentasi geopolitik dunia. Laporan World Economic Forum 2026 bahkan menyebut bahwa dunia sedang memasuki era “polycrisis”, yaitu situasi ketika berbagai krisis ekonomi, politik, keamanan, dan lingkungan terjadi secara bersamaan dan saling memperkuat.
Bagi Asean, stabilitas menjadi syarat utama menjaga pertumbuhan ekonomi. Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara pada 2026 berada di kisaran 4,7% hingga 5%, relatif lebih tinggi dibanding kawasan lain. Namun pertumbuhan tersebut sangat rentan terhadap gangguan perdagangan global dan konflik geopolitik.
Karena itu, pesan Presiden Prabowo mengenai pentingnya dialog dan kerja sama tidak semata bernuansa diplomatik, tetapi juga berkaitan langsung dengan masa depan ekonomi kawasan.
Ketahanan Energi Jadi Agenda Mendesak
Salah satu isu yang paling banyak mendapat perhatian dalam KTT Asean ke-48 adalah ketahanan energi.
Presiden Prabowo secara khusus menyoroti tekanan besar yang dihadapi negara-negara Asean akibat gangguan pada jalur perdagangan global dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
"Gangguan berkepanjangan di sepanjang jalur global utama sudah memberikan tekanan yang sangat tinggi pada situasi energi negara kita dan tekanan itu tampaknya tidak akan mereda dalam waktu dekat," ujar Prabowo.
Krisis energi memang menjadi salah satu ancaman terbesar dunia saat ini.
Data International Energy Agency (IEA) menunjukkan harga minyak global kembali mengalami volatilitas tinggi sepanjang 2025 hingga awal 2026 akibat konflik Timur Tengah dan ketegangan geopolitik di sejumlah wilayah strategis.
Asean termasuk kawasan yang rentan terhadap gangguan pasokan energi karena sebagian negara masih bergantung pada impor minyak dan gas.
Indonesia sendiri mengalami tantangan besar dalam menjaga ketahanan energi nasional. Meski memiliki cadangan energi cukup besar, Indonesia tetap menghadapi tekanan impor minyak mentah dan bahan bakar.
Oleh karena itu, Presiden Prabowo menegaskan bahwa diversifikasi energi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
"Diversifikasi energi bukan lagi pilihan. Ini sangat penting, ini perlu. Kita harus bergerak lebih cepat. Kita harus melalui sumber alternatif dan kita harus mempersiapkan energi terbarukan," katanya.
Indonesia menargetkan bauran energi terbarukan mencapai 23% dalam beberapa tahun mendatang. Pemerintah juga mulai memperluas penggunaan bioenergi, kendaraan listrik, dan pembangunan energi surya.
Prabowo bahkan mengungkapkan rencana pembangunan program energi surya 100 gigawatt yang disebut sangat ambisius.
"Kita sedang mengembangkan alternatif, energi terbarukan, menggunakan bioenergi, juga meningkatkan penggunaan kendaraan listrik, dan kita sedang membangun program energi surya 100 gigawatt yang sangat ambisius yang ingin kita selesaikan dalam tiga tahun," paparnya.
Target tersebut menjadi salah satu agenda energi terbesar yang pernah disampaikan pemerintah Indonesia.
Sebagai perbandingan, kapasitas pembangkit listrik nasional Indonesia saat ini berada di kisaran 95 gigawatt. Artinya, program energi surya 100 gigawatt akan menjadi lompatan besar dalam transformasi energi nasional. Asean sendiri mulai bergerak menuju transisi energi.
Vietnam dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan energi surya tercepat di dunia. Thailand memperluas penggunaan kendaraan listrik. Singapura meningkatkan investasi energi hijau dan konektivitas listrik kawasan.
Dalam konteks itu, dorongan Presiden Prabowo agar Asean memperkuat kerja sama energi regional menjadi semakin relevan.
Ancaman El Nino dan Pertaruhan Ketahanan Pangan
Selain energi, isu ketahanan pangan menjadi fokus utama lain dalam KTT Asean.
Prabowo memperingatkan bahwa kawasan Asia Tenggara harus bersiap menghadapi ancaman El Nino ekstrem yang dapat memicu gangguan produksi pangan.
"Kita telah diperingatkan oleh organisasi internasional tentang risiko El Niño yang sangat ekstrem yang mengintai di depan kita. Dalam hal ini, ketahanan pangan menjadi semakin mendesak," ujarnya.
Peringatan tersebut bukan tanpa dasar. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) dalam sejumlah laporannya menyebut perubahan iklim telah meningkatkan risiko gagal panen dan gangguan distribusi pangan global.
Asia Tenggara termasuk kawasan yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim karena banyak negara masih bergantung pada sektor pertanian.
Indonesia sendiri menghadapi tantangan besar menjaga stabilitas pangan di tengah pertumbuhan populasi dan ancaman perubahan cuaca.
Karena itu, Presiden Prabowo menegaskan bahwa ketahanan pangan bukan sekadar isu ekonomi, tetapi menyangkut kedaulatan negara.
"Tanpa pangan, pada dasarnya tidak ada masyarakat. Tanpa pangan, tidak ada kemerdekaan. Tanpa pangan, tidak ada perdamaian," kata Prabowo.
Pernyataan tersebut memperlihatkan cara pandang pemerintah Indonesia yang menempatkan pangan sebagai fondasi stabilitas nasional.
Dalam forum Asean, Presiden Prabowo mendorong penguatan cadangan pangan regional, pengembangan teknologi pertanian, hingga diversifikasi pangan. Indonesia juga mendukung penguatan APTERR atau Asean Plus Three Emergency Rice Reserve.
APTERR dibentuk sebagai mekanisme cadangan beras darurat kawasan Asean bersama Jepang, China, dan Korea Selatan. Mekanisme ini bertujuan membantu negara-negara anggota ketika menghadapi krisis pangan akibat bencana atau gangguan produksi.
Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono menyebut ketahanan pangan dan energi menjadi salah satu isu paling dominan dalam pembahasan KTT Asean.
"Ada satu kesadaran bersama yang tumbuh bahwa dengan situasi yang terjadi saat ini perlu suatu inisiatif bersama untuk menjadikan Asean ini sebagai suatu wilayah yang resilient, khususnya di bidang energi dan pangan," ujar Sugiono.
Menurutnya, seluruh negara Asean menyadari bahwa konflik di kawasan lain dapat berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat Asia Tenggara.
Lonjakan harga pangan global sejak perang Rusia-Ukraina beberapa tahun lalu menjadi pelajaran penting.
Negara-negara Asean kini mencoba membangun sistem ketahanan pangan yang lebih kuat agar tidak terlalu rentan terhadap guncangan eksternal.
Myanmar dan Diplomasi Rekonsiliasi
Salah satu isu paling sensitif dalam KTT Asean ke-48 adalah situasi Myanmar. Sejak kudeta militer pada 2021, Myanmar menjadi sumber ketegangan serius di Asean. Krisis politik dan konflik internal membuat Asean menghadapi ujian terbesar dalam sejarah organisasinya.
Indonesia sejak awal mendorong penyelesaian damai melalui implementasi five point consensus Asean. Sugiono menjelaskan bahwa Asean membahas perkembangan terbaru Myanmar pasca pemilu dan pembentukan pemerintahan baru.
"Dari awal posisi Indonesia adalah jika pemilu tersebut berlangsung, pemilu yang dilangsungkan harus inklusif, kemudian mampu mengadress masalah-masalah yang ada di sana, kemudian juga mampu membawa perdamaian," ujar Sugiono.
Menurut Sugiono, sejumlah langkah pemerintah baru Myanmar dinilai sebagai perkembangan positif, termasuk pembebasan ribuan tahanan politik. Namun Indonesia tetap menekankan pentingnya proses politik yang inklusif.
Asean menghadapi dilema besar terkait Myanmar. Di satu sisi, Asean memiliki prinsip non-interference atau tidak mencampuri urusan domestik negara anggota. Namun di sisi lain, krisis Myanmar telah berdampak terhadap stabilitas kawasan. Oleh karena itu, pendekatan dialog dan rekonsiliasi menjadi pilihan utama
Menurut Sugiono, Presiden Prabowo mendorong pendekatan konstruktif dalam menghadapi berbagai persoalan kawasan, termasuk ketegangan Thailand dan Kamboja.
"Daripada kita mempertajam perbedaan-perbedaan di antara kita, biarlah urusan legal itu terus berjalan, tapi in the meantime kenapa kita tidak mencari hal-hal yang positif yang bisa kita kerjasamakan," ujar Sugiono mengutip pandangan Presiden.
KTT Asean kali ini berlangsung dalam konteks internasional yang jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Konflik di Timur Tengah kembali memicu ketidakstabilan harga energi dunia. Jalur perdagangan internasional menghadapi tekanan akibat perang dan ketegangan geopolitik. Organisasi pangan dunia juga telah memperingatkan ancaman El Nino ekstrem yang berpotensi mengganggu produksi pangan global.
Di tengah situasi tersebut, Asean menghadapi pertanyaan mendasar: mampukah kawasan ini tetap menjadi jangkar stabilitas ketika dunia justru bergerak menuju polarisasi?
Presiden Marcos Jr. dalam pidato pembukaannya mencoba menjawab pertanyaan itu dengan menekankan pentingnya persatuan kawasan.
"Kehadiran Anda [pemimpin negara] di sini mencerminkan tidak hanya urgensi dan pentingnya acara ini, tetapi juga komitmen bersama kita terhadap nilai-nilai abadi yang terus mengikat kawasan kita, yaitu dialog, kerja sama, dan saling menghormati," ujar Marcos Jr.
Pidato tersebut tidak hanya bersifat seremonial. Filipina sebagai tuan rumah menghadapi situasi pelik akibat konflik global yang berdampak langsung terhadap ekonomi domestik dan kawasan. Bahkan pemerintah Filipina memutuskan untuk mengurangi sejumlah agenda fisik dan mengalihkan sebagian pertemuan ke platform virtual demi menyesuaikan kondisi internasional. Namun Asean memilih tetap berkumpul.
Di Cebu, para pemimpin kawasan menyadari bahwa ketidakpastian global tidak bisa dihadapi secara individual. Asean harus tampil sebagai blok yang solid.