JAKARTA, KOMPAS.com — Penyaluran kredit perbankan pada Maret 2026 tetap menunjukkan pertumbuhan positif di tengah dinamika likuiditas dan perlambatan suku bunga.
Bank Indonesia (BI) dalam Survei Perbankan mencatat kredit yang disalurkan perbankan mencapai Rp 8.516 triliun pada Maret 2026 atau tumbuh 8,9 persen secara tahunan (year on year/yoy), stabil dibandingkan pertumbuhan Februari 2026.
Pertumbuhan kredit itu menjadi salah satu faktor yang menopang kenaikan likuiditas perekonomian.
FREEPIK/PCH.VECTOR Ilustrasi kredit, fintech, pinjaman daring.Uang beredar dalam arti luas (M2) pada Maret 2026 tercatat Rp 10.355,1 triliun atau tumbuh 9,7 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan Februari 2026 sebesar 8,7 persen (yoy).
Menurut BI, perkembangan M2 terutama dipengaruhi oleh tagihan bersih kepada pemerintah pusat dan penyaluran kredit.
Dalam struktur faktor yang memengaruhi uang beredar, penyaluran kredit yang mencapai Rp 8.516 triliun itu tumbuh relatif stabil, tetapi tetap menjadi penopang utama ekspansi likuiditas.
Bersamaan dengan itu, tagihan bersih kepada pemerintah pusat melonjak 39,2 persen (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan Februari 2026 sebesar 25,6 persen.
Perkembangan kredit juga sejalan dengan peningkatan dana pihak ketiga (DPK). Penghimpunan DPK pada Maret 2026 mencapai Rp 9.658,5 triliun atau tumbuh 10,7 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 9,2 persen (yoy).
Pertumbuhan tersebut didorong seluruh komponen DPK, baik giro, tabungan, maupun simpanan berjangka.
Giro tercatat tumbuh 21,2 persen (yoy), meningkat dari 17,6 persen pada Februari 2026. Tabungan tumbuh 8,4 persen (yoy), naik dari 7,7 persen.
SHUTTERSTOCK/CREATE JOBS 51 Ilustrasi kredit, kredit perbankan.Adapun simpanan berjangka tumbuh 4,4 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan 3,7 persen pada bulan sebelumnya.
Secara komposisi nasabah, pertumbuhan DPK juga didorong dana korporasi yang tumbuh 18,8 persen (yoy), nasabah perorangan 2,4 persen (yoy), serta nasabah lainnya 10,6 persen (yoy).
Akselerasi penghimpunan dana ini memperlihatkan likuiditas perbankan yang masih terjaga untuk menopang ekspansi kredit.
Kredit korporasi dan perorangan masih menopang
Berdasarkan golongan debitur, penyaluran kredit pada Maret 2026 terutama masih ditopang segmen korporasi dan perorangan. Kredit kepada debitur korporasi tumbuh 14 persen (yoy), melanjutkan pertumbuhan Februari 2026 sebesar 13,8 persen.
Sementara kredit kepada debitur perorangan tumbuh 3 persen (yoy), relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya yang juga tumbuh 3,2 persen. Kredit kepada kelompok debitur lainnya tercatat tumbuh 4,1 persen (yoy).
Dari sisi sektoral, pertumbuhan kredit modal kerja dan investasi terutama ditopang sektor industri pengolahan, pengangkutan dan komunikasi, serta konstruksi. Sektor-sektor ini menjadi motor pertumbuhan kredit produktif pada awal tahun.
Berdasarkan jenis penggunaan, kredit modal kerja (KMK) tumbuh 4 persen (yoy) pada Maret 2026, lebih tinggi dibandingkan 3,7 persen pada Februari 2026.
BI mencatat perkembangan ini terutama dipengaruhi pertumbuhan penyaluran kredit pada sektor industri pengolahan serta sektor pengangkutan dan komunikasi.
Kredit investasi (KI) tetap menjadi penopang terbesar pertumbuhan kredit, dengan pertumbuhan 20 persen (yoy), stabil dibandingkan bulan sebelumnya. Ekspansi kredit investasi terutama dipengaruhi pertumbuhan kredit pada sektor konstruksi serta pengangkutan dan komunikasi.
SHUTTERSTOCK/AZMI PAMUNGKAS Ilustrasi kredit, kredit UMKM.Tingginya pertumbuhan kredit investasi menunjukkan aktivitas ekspansi usaha masih berlangsung, terutama pada proyek-proyek jangka menengah dan panjang.
Di tengah suku bunga yang menurun, permintaan pembiayaan investasi tetap terjaga.
Sebaliknya, kredit konsumsi (KK) tumbuh lebih moderat, yakni 5,8 persen (yoy), melambat dibandingkan Februari 2026 yang mencapai 6,3 persen.
Perlambatan ini dipengaruhi kontraksi kredit kendaraan bermotor sebesar 9,2 persen (yoy), lebih dalam dibandingkan kontraksi 8,1 persen pada bulan sebelumnya.
Kredit multiguna dan kredit pemilikan rumah juga melambat masing-masing menjadi 8,2 persen yoy dan 4,3 persen (yoy).
Kredit properti menguat
Di tengah moderasi kredit konsumsi, kredit properti justru menunjukkan penguatan. Penyaluran kredit properti pada Maret 2026 tumbuh 17,5 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Februari 2026 sebesar 13,7 persen.
Kinerja kredit properti terutama ditopang lonjakan kredit konstruksi yang tumbuh 47,2 persen (yoy), lebih tinggi dari 33,6 persen pada Februari 2026. Kredit real estate juga meningkat dengan pertumbuhan 12,9 persen (yoy), naik dari 10,6 persen.
Sementara kredit pemilikan rumah dan apartemen (KPR dan KPA) tumbuh 4,5 persen (yoy), sedikit meningkat dibandingkan 4 persen pada Februari 2026.
Data ini menunjukkan akselerasi kredit properti lebih banyak berasal dari sisi pembangunan dan pasokan, bukan semata permintaan pembelian rumah tangga.
Pertumbuhan kredit properti yang lebih kuat ini juga mempertegas peran sektor konstruksi sebagai salah satu pendorong ekspansi kredit perbankan pada awal 2026.
SHUTTERSTOCK/BASTIAN AS Ilustrasi UMKM, pelaku UMKM.Kredit UMKM masih terbatas
Di segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pertumbuhan kredit masih terbatas. Penyaluran kredit UMKM pada Maret 2026 hanya tumbuh 0,1 persen (yoy), meski membaik dibandingkan Februari yang terkontraksi 0,6 persen.
Menurut skala usaha, kredit usaha mikro tumbuh 0,2 persen (yoy), usaha kecil 0,5 persen (yoy), dan usaha menengah 0,9 persen (yoy).
Berdasarkan jenis penggunaan, ekspansi kredit UMKM terutama bersumber dari kredit investasi yang tumbuh 9,7 persen (yoy). Sebaliknya, kredit modal kerja UMKM masih terkontraksi 4 persen (yoy).
Data ini memperlihatkan pemulihan pembiayaan segmen UMKM berlangsung lebih lambat dibanding kredit korporasi maupun kredit investasi secara umum.
Penurunan suku bunga dorong ruang ekspansi
Di sisi harga kredit, rata-rata tertimbang suku bunga kredit pada Maret 2026 tercatat 8,73 persen, menurun dibandingkan Februari 2026 sebesar 8,78 persen. Suku bunga simpanan berjangka juga menurun, terutama tenor 12 bulan dan 24 bulan, masing-masing menjadi 4,46 persen dan 4,12 persen.
Penurunan suku bunga kredit dan simpanan ini berlangsung di tengah pelonggaran kondisi moneter yang tercermin dari perkembangan uang primer (M0 adjusted).
Bank Indonesia mencatat uang primer adjusted pada Maret 2026 mencapai Rp 2.396,5 triliun atau tumbuh 16,8 persen (yoy), melambat dari 18,3 persen pada Februari 2026. Meski melambat, pertumbuhan itu masih tinggi dan didorong peningkatan giro bank umum di BI adjusted sebesar 41,8 persen (yoy).
Likuiditas yang longgar dan tren penurunan bunga memberi ruang bagi perbankan mempertahankan pertumbuhan pembiayaan, terutama pada segmen produktif.
UNSPLASH/TOWFIQU BARBHUIYA Ilustrasi tabungan. Kehilangan pekerjaan bisa datang tiba-tiba. Agar keuangan tetap aman, dana darurat jadi penyelamat utama. Simak lima cara sederhana membangunnya sejak sekarang.DPK tumbuh lebih tinggi dari kredit
Salah satu perkembangan menonjol pada Maret 2026 adalah pertumbuhan DPK yang lebih tinggi dibanding pertumbuhan kredit. DPK tumbuh 10,7 persen (yoy), sementara kredit tumbuh 8,9 persen (yoy).
Selisih pertumbuhan ini mencerminkan likuiditas perbankan relatif memadai, sekaligus memberi bantalan terhadap ekspansi pembiayaan. Penguatan penghimpunan dana juga terlihat dari seluruh jenis simpanan, terutama giro yang tumbuh paling tinggi.
Dari sisi nominal, total DPK mencapai Rp 9.658,5 triliun, lebih tinggi dari Rp 9.447 triliun pada Februari. Sementara kredit naik dari Rp 8.420,5 triliun menjadi Rp 8.516 triliun.
Dengan struktur tersebut, rasio penghimpunan dana terhadap penyaluran kredit memperlihatkan ruang intermediasi yang masih terjaga.
Kredit produktif mendominasi struktur pertumbuhan
Jika dilihat dari komposisinya, pertumbuhan kredit Maret 2026 lebih banyak didorong kredit produktif dibanding konsumsi. Kredit investasi tumbuh 20 persen, kredit modal kerja 4 persen, sedangkan kredit konsumsi 5,8 persen.
Dominasi kredit produktif juga tercermin dari sektor penopang pertumbuhan, yakni konstruksi, industri pengolahan, dan transportasi-komunikasi.
Kondisi ini berbeda dengan pola pertumbuhan yang biasanya lebih ditopang kredit konsumsi pada periode awal tahun.
Pada Maret 2026, ekspansi pembiayaan justru lebih terkonsentrasi pada sektor-sektor yang terkait aktivitas usaha dan pembangunan.
Perkembangan itu juga sejalan dengan kenaikan kredit properti yang ditopang konstruksi serta tingginya pertumbuhan kredit investasi.
SHUTTERSTOCK/STASIQUE Ilustrasi perjanjian kredit, kredit pemilikan rumah (KPR).Di sisi lain, melambatnya kredit konsumsi, khususnya kendaraan bermotor, menunjukkan permintaan rumah tangga belum menjadi penggerak utama pertumbuhan pembiayaan.
Uang beredar menguat ditopang kredit
Penguatan penyaluran kredit pada Maret 2026 juga tercermin dalam perkembangan uang beredar. Komponen faktor yang memengaruhi M2 menunjukkan kredit menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan likuiditas.
M2 tumbuh 9,7 persen yoy menjadi Rp 10.355,1 triliun, didukung pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 14,4 persen (yoy) dan uang kuasi 5,2 persen.
Pada komponen M1, giro rupiah tumbuh 26,4 persen yoy, meningkat dibanding bulan sebelumnya 23,5 persen. Uang kartal di luar bank umum dan BPR tumbuh 10,8 persen (yoy).
Sementara pada uang kuasi, simpanan berjangka tumbuh 4,4 persen (yoy), tabungan lainnya 16,1 persen (yoy), dan giro valas 4,3 persen (yoy).
Dalam struktur faktor yang memengaruhi M2, kredit kepada sektor lainnya tumbuh 8,8 persen yoy menjadi Rp 9.040 triliun, menegaskan peran intermediasi perbankan terhadap ekspansi likuiditas.
Dengan pertumbuhan kredit yang stabil, likuiditas yang menguat, DPK yang meningkat lebih cepat, serta suku bunga yang menurun, data Maret 2026 menunjukkan penyaluran pembiayaan perbankan masih ditopang terutama oleh kredit produktif, sementara segmen konsumsi dan UMKM tumbuh lebih terbatas.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang