Bisnis.com, JAKARTA — Pembangunan konstruksi fase 2A Bundaran HI-Kota telah mencapai 54,36% per Oktober 2025. Angka tersebut bahkan melampaui target akhir tahun yang sebesar 53,29%.
Dari tiga paket dalam fase 2A, paket kontrak CP201 (Stasiun Thamrin dan Monas) telah berhasil mencapai 90,2%.
Sejumlah pekerjaan utama di Stasiun Thamrin meliputi test pit utilitas dan pemasangan traffic decking pada entre 1, pemasangan boredpile pada entre 3, pemasangan waterproofing dan rebar base slab & pekerjaan arsitektural pemasangan dinding pada combine building entre 4 CTVT, pemasangan rebar untuk dinding entre 5, 7, dan 8, serta jet grouting di entre 6.
“Stasiun Thamrin merupakan stasiun dengan entrance terbanyak, yaitu sembilan, serta stasiun terpanjang hingga 440 meter. Stasiun ini juga akan menjadi stasiun transit dengan lintas Timur Barat,” tulis MRT dalam keterangan resmi, dikutip pada Kamis (13/11/2025).
Selain itu, tim konstruksi juga melanjutkan pekerjaan instalasi homogeneous tile, dinding ACP, dinding drywall dan rangka ceiling pada level concourse dan platform, serta instalasi pipa, ducting, cable tray, fireboard dan hydrant box.
Sementara di Stasiun Monas, pekerjaan utama meliputi reinstatement entre 1, pengecoran dinding dan atap entre 2, penyelesaian arsitektural pada koridor entre 1 & 2, instalasi steel structure elevator 1 pada level ground, instalasi granit dan handrail tangga, serta shutter pada entre 1, dan instalasi travelator, pipa, ducting, serta partial acceptance test untuk station fan, socket outlet, dan lighting fixtures.
Kedua stasiun ini ditargetkan beroperasi pada 2027 mendatang.
Pada CP202 (Stasiun Harmoni, Sawah Besar, dan Mangga Besar), perkembangannya mencapai 59,36%. Sejumlah pekerjaan utama seperti ekskavasi boks stasiun, pengecoran base slab dan waterproofing canal underpass, hingga persiapan breakthrough TBM 1 di sisi udara Stasiun Sawah Besar.
Sedangkan pada paket kontrak CP203 (Stasiun Glodok dan Kota) telah menyelesaikan 79,11% pekerjaannya.
Sejumlah pekerjaan utama terus dikerjakan seperti struktur kolom pada entre stasiun, backfill, hingga instalasi hanging wall pintu tepi peron (platform screen doors). Khusus di Stasiun Glodok, tim konstruksi sedang mempersiapkan breakthrough TBM 1 ke Stasiun Mangga Besar.
Kemajuan pekerjaan paket CP 205 yang meliputi sistem perkeretaapian dan rel juga melampaui targetnya, yaitu mencapai 28,67%. Tim konstruksi sedang melakukan penyelesaian produksi cable tray peralatan persinyalan stasiun di segmen 1 (Bundaran HI—Monas). Selain itu, sedang dilakukan juga sejumlah pekerjaan test pit dan konstruksi saluran kabel tegangan tinggi 150kV.
Termasuk, MRT juga telah membeli delapan trainset baru untuk menunjang perjalanan MRT dari Lebak Bulus hingga Kota.
Sedangkan paket kontrak CP206 kereta baru saja selesai menandatangani kontrak dengan Sumitomo Corporation untuk desain dan pengadaan. Paket kontrak CP207 automatic fare collection system (sistem pembayaran), sedang proses klarifikasi dokumen tender.
Telan Biaya Rp4,36 Triliun per Km
Fase 2A MRT Jakarta merupakan kelanjutan fase 1 Lebak Bulus-Bundaran HI. Nantinya, akan menghubungkan Stasiun Bundaran HI hingga Kota sepanjang sekitar 5,8 kilometer.
Fase 2A MRT Jakarta dibangun dengan biaya sekitar Rp25,3 triliun melalui dana pinjaman kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Jepang. Artinya, biaya untuk setiap kilometernya menelan sekitar Rp4,36 triliun.
Bukan tanpa sebab, pembangunan ini terdiri dari tujuh stasiun bawah tanah, yaitu Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, dan Kota.
Dalam pembangunannya, PT MRT Jakarta (Perseroda) juga membuat terowongan bertingkat kereta bawah tanah pertama di Indonesia pada kedalaman 28 meter dengan panjang sekitar 390 meter dan diameter enam meter.
Fase 2A tersebut dibagi menjadi dua segmen, yaitu segmen satu Bundaran HI—Harmoni yang ditargetkan selesai pada 2027 dan segmen dua Harmoni—Kota yang ditargetkan selesai pada 2029.
Sedangkan Fase 2B MRT Jakarta yang rencananya melanjutkan dari Kota sampai dengan Depo Ancol Barat masih dalam tahap studi kelayakan (feasibility study).
Berbeda dengan fase 1, fase 2A dibangun sekaligus dengan mengembangkan kawasan stasiun dengan konsep kawasan berorientasi transit (transit-oriented development/TOD).