Kemenhub akan mengaktifkan kembali layanan KRL di Stasiun Gambir untuk meningkatkan konektivitas dan memudahkan perpindahan penumpang, bersamaan dengan beautifikasi stasiun. [508] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memastikan Stasiun Gambir ke depan tidak hanya melayani perjalanan kereta api jarak jauh, tetapi juga menjadi titik naik turun kereta rel listrik (KRL). Kemenhub menghidupkan kembali kebijakan yang sempat dicabut 14 tahun lalu.
Diketahui, Stasiun Gambir sebelumnya pernah melayani KRL Commuter Line. Sejak jalur layang diresmikan pada tahun 1992, Stasiun Gambir melayani KRL dan kereta api jarak jauh (KAJJ) secara bersamaan. Namun, pasca-Lebaran tahun 2012, KRL resmi tidak lagi berhenti untuk menaikturunkan penumpang di Stasiun Gambir demi mengurangi kepadatan dan sterilisasi area penumpang
Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi menyampaikan, langkah itu menjadi bagian dari penataan kawasan sekaligus penguatan konektivitas antarmoda melalui program beautifikasi Stasiun Gambir.
Proyek beautifikasi Stasiun Gambir akan dipimpin oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) selaku operator kereta. Pemerintah menargetkan stasiun tersebut menjadi wajah baru layanan perkeretaapian nasional.
"Nanti Gambir yang selama ini melayani kereta jarak jauh akan dikombinasi dengan layanan KRL,” ujarnya, dikutip pada Sabtu (27/6/2026).
Nantinya, kondisi ini memudahkan perpindahan penumpang dalam satu kawasan. Pasalnya saat ini bagi masyarakat yang akan menuju Stasiun Gambir harus turun di Stasiun Gondangdia atau Juanda.
Dia menegaskan pengoperasian KRL di Gambir tidak akan mengurangi peran Stasiun Manggarai sebagai simpul utama perkeretaapian. Menurutnya, kehadiran layanan KRL di Gambir ditujukan untuk memperkuat konektivitas antarlayanan.
"Manggarai tetap. Gambir itu untuk memberikan bagaimana kita melayani masyarakat. Ada konektivitasnya. Jadi KRL berhenti, kemudian juga bisa dilayani oleh kereta jarak jauh," ujarnya.
Pemerintah masih menghitung jumlah perjalanan KRL maupun kereta jarak jauh yang nantinya akan dilayani di Stasiun Gambir. Namun, kepastian integrasi kedua layanan tersebut telah menjadi bagian dari rencana pengembangan stasiun.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub Allan Tandiono mengungkapkan, PT KAI saat ini tengah menyelesaikan tahap akhir penyusunan desain beautifikasi Stasiun Gambir. Pengerjaan fisik proyek ditargetkan rampung dalam waktu sekitar dua tahun.
"Targetnya dua tahun penyelesaian [beautifikasi Stasiun Gambir],” tambahnya.
Stasiun Gambir sendiri menjadi salah satu wajah penting perjalanan kereta api Indonesia. Berdiri di jantung Ibu Kota, tepat di kawasan strategis Jakarta Pusat dan berdekatan dengan Monumen Nasional, stasiun ini menyimpan perjalanan panjang dari masa kolonial hingga era layanan digital Kereta Api Indonesia.
Jejak Gambir bermula pada 1871 sebagai Halte Koningsplein. Pada masa itu, perhentian kereta api di kawasan Weltevreden masih sederhana dan menjadi bagian dari perkembangan awal jaringan kereta api Batavia. Seiring tumbuhnya aktivitas kota, halte tersebut kemudian berkembang menjadi Stasiun Weltevreden yang lebih menetap pada 1884.
Memasuki 1930-an, wajah stasiun kembali berubah. Stasiun Weltevreden diperbarui dan dikenal sebagai Batavia Koningsplein dengan gaya arsitektur Art Deco. Pada masa itu, kawasan sekitar Gambir juga lekat dengan aktivitas publik, pemerintahan, ruang kota, dan perayaan masyarakat yang kemudian menjadi bagian dari memori kolektif warga Jakarta.
Setelah Indonesia merdeka, nama Gambir semakin dikenal sebagai identitas stasiun di pusat Ibu Kota. Stasiun ini terus melayani perjalanan masyarakat dan menjadi bagian dari kehidupan Jakarta yang terus berkembang. Gambir menjadi titik berangkat, titik pulang, sekaligus titik temu bagi banyak cerita perjalanan.
Dalam perkembangannya, Stasiun Gambir juga mengalami perubahan pola layanan. Setelah masa pelayanan kereta perkotaan, Gambir kini difokuskan sebagai stasiun keberangkatan dan kedatangan kereta api jarak jauh.
Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah memiliki pekerjaan rumah besar dalam mendorong masyarakat beralih menggunakan transportasi publik. Salah satunya perihal kesiapan ekosistem transit.
Peningkatan jumlah pengguna pada kuartal I/2026 di berbagai moda seperti KRL, MRT, LRT, hingga KA Bandara tercatat meningkat secara tahunan, sejalan dengan semakin baik integrasi di sejumlah simpul, khususnya di Jabodetabek.
Direktur Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda Kementerian Perhubungan Mohamad Risal Wasal mengatakan, integrasi yang semakin baik membuat perpindahan moda menjadi lebih praktis.
“Ketika perjalanan menjadi lebih seamless, waktu tempuh lebih efisien, dan kepastian layanan meningkat, maka minat masyarakat untuk beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum semakin tumbuh,” ujarnya kepada Bisnis, dikutip pada Senin (27/4/2026).
Integrasi tersebut mencakup konektivitas fisik, sistem pembayaran, jaringan antarmoda, hingga informasi layanan yang mulai terhubung.
Pemerintah juga mendorong lima pilar integrasi, yakni kelembagaan, fisik, pembayaran, jaringan, dan informasi, yang sebagian telah berjalan di sejumlah kota.
Di Jakarta, integrasi mulai terlihat melalui skema tarif antarmoda yang memungkinkan masyarakat menggunakan MRT, LRT Jakarta, dan Transjakarta dengan tarif maksimal Rp10.000 dalam durasi 180 menit.
Selain itu, pengembangan layanan pengumpan seperti mikrotrans memperluas jangkauan ke kawasan permukiman sebagai penghubung first mile dan last mile.
Integrasi fisik juga diperkuat di sejumlah simpul. Misalnya, Stasiun Cawang Cikoko yang mengintegrasikan moda KRL, LRT Jabodebek, dan Transjakarta. Selain itu juga sudah ada beberapa halte Transjakarta yang terhubung dengan stasiun KRL.
“Integrasi fisik ini menjadi salah satu indikator keberhasilan integrasi yang sudah berjalan,” ujarnya.
Bus Transjakarta
Upaya pemerintah untuk mendorong integrasi dan memudahkan mobilitas masyarakat tercermin saat periode lebaran.
Ditjen Intram menginisiasi reaktivasi layanan Transjakarta Rute 10C, khususnya pada masa Nataru dan Angkutan Lebaran, sebagai bagian dari upaya penyediaan sistem transportasi terintegrasi di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok.
Reaktivasi ini ditujukan untuk meningkatkan konektivitas antarmoda antara pelabuhan, terminal bus, dan stasiun kereta api di Kawasan Tanjung Priok guna mendukung kelancaran mobilitas penumpang.
Di luar Jakarta, pada libur Lebaran tahun 2026, layanan Bus Trans Banyumas juga diarahkan rutenya agar terintegrasi dengan Stasiun maupun Terminal di wilayah Purwokerto. Hal ini agar moda transportasi umum dapat saling terhubung dan memudahkan mobilitas masyarakat.
Berdasarkan data Renstra Ditjen Intram 2025-2029, Sektor Transportasi memiliki kontribusi pada Perekonomian yaitu sebesar 8,98%.
Sementara Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan sektor Transportasi & Pergudangan pada kuartal IV/2025 tumbuh paling tinggi di antara lapangan usaha lain, yakni mencapai 8,98% year on year (YoY).
Ke depan, Risal menuturkan bahwa pengembangan integrasi moda tidak hanya difokuskan di Jakarta, tetapi juga akan diperluas ke kota-kota besar lainnya.
Dirinya terus mendorong penguatan simpul-simpul transportasi terpadu di wilayah seperti Surabaya, Medan, Makassar, dan kota strategis lainnya, dengan mengedepankan konektivitas antar moda darat, laut, udara, dan perkeretaapian sesuai dengan potensi demand dan kondisi transportasi yang ada di Indonesia.
Hambatan Transit
Meski menunjukkan progres, tantangan utama masih terletak pada pengalaman perpindahan antarmoda yang belum sepenuhnya efisien.
Southeast Asia Director Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia Gonggomtua Sitanggang menilai, integrasi transportasi publik harus mampu menghilangkan hambatan saat pengguna berpindah moda.
Untuk itu, diperlukan desain integrasi fisik yang memastikan kedekatan antar moda, koneksi langsung, infrastruktur aksesibilitas, serta sistem informasi yang jelas. Namun, dampak integrasi terhadap peningkatan minat masyarakat dinilai belum sepenuhnya terukur.
Studi ITDP pada 2023 menunjukkan bahwa 10% pengguna kendaraan pribadi enggan beralih ke transportasi publik karena harus melakukan transit.
Sebaliknya, sekitar 20% masyarakat berpotensi beralih jika integrasi mampu memangkas waktu tempuh perjalanan.
Survei yang sama juga mencatat sekitar 40% pengguna transportasi publik harus melakukan setidaknya satu kali transit, yang kerap menjadi beban tambahan akibat waktu tunggu dan jarak perpindahan yang tidak efisien.
“Jika integrasi transportasi publik yang dilakukan mampu memperpendek durasi tempuh mereka, maka 20% masyarakat akan lebih memilih untuk menggunakan transportasi publik,” ujar Gonggomtua kepada Bisnis.
Angkot jangklingo
Efisiensi Ekonomi dan Logistik
Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai persoalan utama konektivitas berkaitan langsung dengan efisiensi ekonomi.
Dia menyoroti tingginya biaya logistik yang masih menjadi beban struktural perekonomian. Biaya tersebut membuat harga barang lebih mahal dan menekan daya saing industri nasional.
“Selama transportasi antarmoda tidak terhubung dengan baik, biaya ini akan terus ada,” katanya.
Menurutnya, integrasi transportasi dapat menurunkan biaya distribusi dan membuat aktivitas ekonomi lebih terkonsentrasi dan efisien. Namun, manfaat tersebut hanya akan optimal jika wilayah pinggiran benar-benar terhubung dengan pusat ekonomi.
“Kalau tidak, yang terjadi justru ketimpangan makin lebar,” ujarnya.
Dia mencontohkan distribusi barang di pelabuhan yang masih bergantung pada angkutan truk tanpa dukungan moda lain, sehingga memicu kemacetan dan biaya tinggi.
Di sisi lain, investor juga mempertimbangkan efisiensi logistik secara menyeluruh, mulai dari pabrik hingga pelabuhan. Waktu tempuh yang tidak pasti meskipun jarak dekat tetap menjadi faktor penghambat investasi.
Dari sisi mobilitas penumpang, integrasi transportasi dinilai berpengaruh langsung terhadap produktivitas tenaga kerja.
“Waktu tempuh yang lebih cepat membuat orang bisa bekerja lintas kota dengan lebih fleksibel,” ujarnya.
Namun, dia menilai integrasi antarmoda di Indonesia masih belum merata dan cenderung terpusat di Pulau Jawa.
Padahal, kebutuhan konektivitas di luar Jawa dinilai lebih mendesak untuk membuka potensi ekonomi daerah dan menekan kesenjangan antarwilayah.
“Yang sering dilupakan, integrasi transportasi juga soal pemerataan. Kalau akses membaik, produsen di daerah bisa jual lebih luas dengan biaya lebih rendah,” ujarnya.
Penguatan integrasi, termasuk pada angkutan multimoda, dinilai dapat menekan biaya logistik, meningkatkan efisiensi distribusi, serta mempercepat pergerakan barang dan penumpang.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) mencatat peningkatan jumlah penumpang Kereta Cepat Whoosh sebesar 6,3 persen pada periode Januari hingga Oktober 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
General Manager Corporate Secretary KCIC, Eva Chairunisa, mengatakan peningkatan ini menjadi bukti bahwa masyarakat semakin mempercayai layanan Kereta Cepat Whoosh sebagai moda transportasi andal yang cepat, efisien, dan nyaman.
“Kenaikan jumlah penumpang ini menjadi bukti bahwa masyarakat semakin mempercayai layanan Kereta Cepat Whoosh sebagai moda transportasi cepat dan andal untuk mobilitas antara Jakarta dan Bandung,” ujar Eva dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (30/10/2025).
Selama sepuluh bulan pertama tahun ini, layanan Whoosh telah melayani lebih dari 5,1 juta penumpang, meningkat dari 4,8 juta penumpang pada periode yang sama tahun 2024. Secara kumulatif, sejak beroperasi secara komersial pada Oktober 2023, Whoosh telah melayani lebih dari 12,2 juta penumpang.
Kenaikan jumlah penumpang ini didorong oleh sejumlah faktor yang menunjukkan semakin kuatnya minat masyarakat terhadap layanan Whoosh. Di antaranya, penambahan jadwal perjalanan menjadi 62 perjalanan per hari serta hadirnya Stasiun Karawang yang menambah opsi keberangkatan dan memperluas konektivitas antardaerah.
Peningkatan jumlah penumpang Whoosh juga didukung oleh konektivitas antarmoda yang semakin baik di seluruh stasiun. Setiap stasiun Whoosh kini terhubung dengan berbagai moda transportasi seperti LRT, kereta feeder, kereta komuter, bus, shuttle, taksi, hingga layanan angkutan daring yang memudahkan mobilitas penumpang.
Jaringan konektivitas ini menghubungkan stasiun Whoosh dengan berbagai titik strategis, mulai dari bandara, pusat kota, hingga destinasi wisata dan olahraga di Jakarta, Karawang, dan Bandung Raya. Kehadiran integrasi antarmoda yang menyeluruh menjadikan perjalanan menggunakan Whoosh semakin efisien, nyaman, dan praktis bagi seluruh pengguna.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56