Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Produsen Benang dan Filamen Indonesia (APSyFI) memperingatkan tekanan berat yang tengah dihadapi industri tekstil akibat lonjakan harga bahan baku utama dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan ini dinilai berpotensi menekan utilisasi produksi di sektor hulu hingga hilir.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Benang dan Filamen Indonesia, Redma Gita Wirawasta, mengatakan bahwa kenaikan signifikan terjadi pada sejumlah komponen bahan baku utama seperti paraxylene (PX), purified terephthalic acid (PTA), dan monoethylene glycol (MEG). Dampaknya, harga produk berbasis polyester ikut terdorong naik.
Menurut dia, kenaikan harga bahan baku polyester bahkan mencapai sekitar 40%, sementara untuk rayon relatif lebih terkendali karena hanya dipengaruhi kenaikan salah satu komponen saja.
“Harga PX, PT dan MEG-nya sudah naik 40%, jadi untuk polyester juga naik sekitar 40%,” ujar Redma kepada Bisnis, Selasa (31/3/2026).
Selain faktor harga bahan baku, tekanan juga datang dari sisi logistik. Biaya pengiriman, khususnya asuransi, mengalami peningkatan yang turut memperberat beban industri. Kondisi ini mempersempit ruang bagi pelaku usaha untuk menjaga efisiensi biaya produksi.
Di sisi pasokan, APSyFI menyebut ketersediaan bahan baku masih relatif aman hingga April 2026. Hal ini tidak terlepas dari jaminan suplai dari Pertamina, khususnya untuk bahan baku PX yang menjadi komponen penting dalam produksi polyester.
Meski demikian, tekanan harga dinilai akan berdampak langsung pada pasar. Tidak semua pelaku industri mampu menyerap kenaikan biaya tersebut, sehingga berpotensi memicu penurunan tingkat produksi dalam waktu dekat.
“Tetapi market tidak semuanya mampu menghadapi kenaikan harganya, jadi sepertinya akan ada penurunan utilisasi produksi lagi,” tuturnya.
Untuk meredam dampak yang lebih dalam, pelaku industri berharap adanya kepastian pasokan bahan baku ke depan. Keberlanjutan suplai dinilai menjadi faktor krusial untuk menjaga stabilitas produksi di tengah tekanan biaya yang meningkat.
APSyFI juga mendorong pemerintah untuk memberikan dukungan kebijakan guna meringankan beban industri, khususnya melalui insentif fiskal pada bahan baku dalam negeri.
“Untuk menurunkan beban, pemerintah bisa berikan insentif pemotongan PPN atau PPN DTP untuk bahan baku yang origin Indonesia,” pungkasnya.
Sebelumnya, Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mengungkapkan adanya kenaikan harga bahan baku poliester yang berasal dari turunan minyak bumi sebagai imbas dari perang Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran di Timur Tengah.
Government Relations API, Geraldi Halomoan menyampaikan bahwa kenaikan harga bahan baku poliester yang mencakup paraxylene (PX), polyethylene terephthalate (PET) hingga monoethylene glycol (MEG) itu diiringi kebutuhan yang tinggi di dalam negeri.
Pasalnya, dia menyebut produk pakaian di Tanah Air didominasi oleh campuran antara poliester dengan kapas maupun rayon.
“Dengan adanya perang di Timur Tengah ini seluruh pelaku usaha TPT itu waspada. Karena berdampak secara langsung yaitu bahan baku,” kata Geraldi saat ditemui usai rapat di Komisi VI DPR RI, Jakarta Pusat, Senin (30/3/2026).
Selain itu, dia mengungkapkan bahwa kekhawatiran pelaku usaha tekstil juga timbul dari sisi kenaikan biaya logistik.
Menurutnya, ancaman krisis energi seperti bahan bakar minyak akibat situasi perang ini dapat berpengaruh terhadap kinerja dan produktivitas industri tekstil dan produk tekstil di Tanah Air.