Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menilai perbaikan produktivitas petani sawit swadaya penting dilakukan untuk mencegah potensi kehilangan produk ... [840] url asal
Namun, produktivitas mereka saat ini baru mencapai sekitar 26,5 persen dari potensi maksimal yang dapat dicapai
Jakarta (ANTARA) - Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menilai perbaikan produktivitas petani sawit swadaya penting dilakukan untuk mencegah potensi kehilangan produk domestik bruto (PDB) Rp70,3 triliun, crude palm oil (CPO) melalui penguatan peremajaan, legalitas, dan pembiayaan.
Chief Executive Officer CIPS Anton Rizki menyampaikan isu produktivitas petani sawit swadaya merupakan persoalan yang sangat urgen untuk segera ditangani. Saat ini, sekitar 41 persen petani sawit di Indonesia merupakan petani independen atau swadaya yang masih memiliki ruang besar untuk meningkatkan produktivitasnya.
"Dan kalau ini tidak dilakukan maka dalam studi kami, kami perkirakan bisa mencapai potensi kehilangan lebih dari Rp70 triliun dari segi pendapatan PDB Indonesia. Jadi cukup besar juga potensinya," kata Anton di Jakarta, Selasa.
Dia memaparkan hal itu dalam Exclusive Media Luncheon Discussion bertajuk Peningkatan Produktivitas Petani Swadaya: Kunci Dongkrak Daya Saing Minyak Sawit Indonesia yang dihadiri sejumlah asosiasi petani sawit.
Lebih lanjut, ia menekankan masih adanya hambatan struktural yang dihadapi petani. Oleh karena itu, CIPS merekomendasikan peningkatan investasi kepada petani, tidak hanya dalam bentuk pendanaan, tetapi juga melalui perhatian kebijakan dan upaya bersama untuk mendorong peningkatan produktivitas secara berkelanjutan.
Di tempat yang sama, Peneliti dan Analis Kebijakan Senior CIPS Rahmad Supriyanto mengatakan studi terbaru yang dilakukan pihaknya menunjukkan tanpa perbaikan pada kendala yang dihadapi petani swadaya,
"Indonesia berisiko kehilangan tambahan produksi minyak sawit mentah (CPO) sebesar 4,73 juta ton, kehilangan peningkatan ekspor hingga 718,5 juta dolar AS, dan kehilangan tambahan PDB sekitar Rp70,3 triliun," kata Rahmad.
Rahmad menekankan temuan itu menjadi penting mengingat data Kementerian Pertanian (2026) mencatat petani sawit swadaya mengelola sekitar 41 persen lahan sawit nasional dan berkontribusi terhadap 35-40 persen produksi tandan buah segar (TBS) Indonesia.
"Namun, produktivitas mereka saat ini baru mencapai sekitar 26,5 persen dari potensi maksimal yang dapat dicapai," ujarnya.
Dia menuturkan rendahnya produktivitas petani sawit swadaya merupakan cerminan berbagai hambatan yang masih dihadapi petani. Persoalan itu tidak hanya berdampak pada pendapatan petani, tetapi juga membatasi potensi kontribusi sektor sawit terhadap perekonomian nasional.
"Selama tantangan seperti peremajaan, pembiayaan, legalitas lahan, dan penguatan kelembagaan belum terselesaikan, Indonesia akan terus kehilangan peluang menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih besar di sektor kelapa sawit," ujar Rahmad.
Chief Executive Officer CIPS Anton Rizki (kiri), Peneliti dan Analis Kebijakan Senior CIPS Rahmad Supriyanto (kanan) dalam Exclusive Media Luncheon Discussion bertajuk Peningkatan Produktivitas Petani Swadaya: Kunci Dongkrak Daya Saing Minyak Sawit Indonesia yang dihadiri sejumlah asosiasi petani sawit yang digelar oleh Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) di Jakarta, Selasa (23/6/2026). ANTARA/Harianto
Di balik potensi ekonomi yang besar, lanjutnya, produktivitas petani swadaya masih tertahan oleh berbagai hambatan yang saling berkaitan sehingga kontribusi mereka terhadap pertumbuhan produksi sawit nasional belum optimal.
Studi CIPS (2026) mencatat sekitar 2,4 juta petani saat ini mengelola tanaman sawit yang telah berusia lebih dari 25 tahun dan tidak lagi produktif. Sementara itu, program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang dirancang pemerintah belum memberikan hasil yang optimal.
Hasil studi juga menemukan petani masih menghadapi keterbatasan kapasitas praktik budidaya yang baik (good agricultural practices/GAP), akses terhadap benih unggul, pembiayaan yang terjangkau, serta pendampingan teknis yang memadai.
Selain itu, sebagian besar petani swadaya masih terkendala legalitas lahan, yang menghambat mereka mendapatkan akses bantuan maupun sertifikasi berkelanjutan.
Padahal, sertifikasi dapat menjadi instrumen untuk mendorong penerapan praktik budidaya yang lebih baik, penguatan kelembagaan petani, peningkatan kapasitas, serta akses yang lebih luas terhadap pendampingan dan pasar.
CIPS mendorong adanya prioritas program peremajaan sawit dengan skema yang lebih menarik minat petani swadaya, penyelesaian legalitas lahan, dan penyederhanaan proses Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB).
Hal itu penting agar petani swadaya lebih mudah mengakses berbagai program dukungan pemerintah, termasuk peremajaan, pembiayaan, dan sertifikasi berkelanjutan.
CIPS juga menilai pendekatan yurisdiksional di tingkat daerah perlu diperkuat melalui kolaborasi pemerintah daerah, sektor swasta, organisasi masyarakat sipil, dan petani untuk memastikan layanan seperti pelatihan hingga pendampingan teknis dapat menjangkau lebih banyak petani secara inklusif.
"Salah satu tantangan utama dalam sektor sawit adalah memastikan petani swadaya memiliki akses terhadap faktor-faktor krusial yang menentukan produktivitas mereka," katanya.
Ia menambahkan selama hambatan tersebut belum terselesaikan, Indonesia akan terus kehilangan peluang ekonomi yang sebenarnya dapat diraih secara optimal.
Menanggapi temuan tersebut, Head of Smallholders di Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), Guntur Cahyo Prabowo menegaskan sertifikasi tidak seharusnya dipandang sekedar sebagai persyaratan pasar, melainkan bagian dari ekosistem yang lebih luas untuk memperkuat kapasitas, produktivitas, dan daya saing jangka panjang petani swadaya.
la menjelaskan banyak petani swadaya tertinggal bukan karena kurang memiliki komitmen atau kemauan untuk berkembang.
Sebaliknya, kata Guntur, mereka sering terjebak dalam apa yang disebut sebagai passive exclusion, yaitu kondisi ketika sistem, kebijakan, pasar, dan institusi tapa disadari lebih menghargai petani yang sudah siap, dibanding membantu lebih banyak petani agar menjadi siap.
Ia menegaskan seiring ekspektasi pasar global yang terus berkembang, Indonesia memiliki peluang untuk mengurangi passive exclusion dengan membantu lebih banyak petani swadaya menjadi siap.
"Bukan hanya untuk memenuhi standar, tetapi juga untuk bersaing, seraya membuktikan bahwa pertumbuhan masa depan dapat dicapai tapa bergantung pada perluasan lahan," ujarnya.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pengemis lekat dengan citra kemiskinan. Pekerjaan ini tak membutuhkan keterampilan dan pendidikan tinggi, hanya bermodal belas kasihan masyarakat di jalanan.
Namun, siapa sangka ada pengemis yang mampu tinggal di apartemen seharga Rp2,2 miliar dan memiliki harta Rp 14 miliar.
Kisah ini miliki seorang pengemis bernama Bharat Jain asal Mumbai, India. Menurut laporan Economic Times, Bharat Jain adalah pengemis terkaya di dunia yang sering terlihat meminta-minta di jalanan.
Kisah Bharat Jain yang berprofesi sebagai pengemis hingga menjadi kaya raya bisa dibilang kisah unik sekaligus inspiratif. Bharat Jain lahir dari keluarga yang serba terbatas secara ekonomi, sehingga dia tidak mampu mengejar pendidikan formal.
Lantaran tidak mengenyam pendidikan, Bharat Jain tentu sulit mendapatkan pekerjaan yang stabil. Meski demikian, Bharat Jain sukses mengubah hidupnya dan keluarganya berkat profesinya yang tidak lazim.
Saat ini, Bharat Jain diproyeksikan memiliki harta lebih dari Rs 7,5 crore atau sekitar Rp 14 miliar. Anak-anaknya pun mengenyam pendidikan formal secara layak.
Tak tanggung-tanggung, Bharat Jain sanggup menghasilkan Rs 60.000-75.000 atau setara Rp 14 juta dalam sebulan hanya dengan mengemis.
Selama bertahun-tahun bekerja sebagai pengemis, Bharat Jain mampu mengumpulkan banyak uang untuk membeli berbagai barang dan aset.
Dia tercatat memiliki apartemen dua kamar tidur di Mumbai senilai Rs 1,2 crore atau Rp 2,3 miliar. Ia pun memiliki 2 ruko di Thane yang disewakan Rs 30.000 per bulan.
Meski sudah kaya raya, Bharat Jain diketahui tetap mengemis di kawasan Chhatrapati Shivaji Maharaj Terminus atau Azad Maidan.
Di saat banyak orang bekerja keras namun hanya memperoleh beberapa ratus rupee, Bharat Jain berhasil menghasilkan Rs 2.000-2.500 per hari (Rp376.000 hingga Rp471.000) dalam waktu 10 hingga 12 jam hanya dengan mengemis.
Bharat Jain dan keluarganya tinggal dengan nyaman di apartemen dua kamar. Anak-anaknya pergi sekolah, sedangkan anggota keluarga lainnya memiliki toko alat tulis.
Memang, Bharat Jain terus-menerus disarankan untuk tidak mengemis. Meski begitu, ia tidak mengindahkan nasihat ini dan melanjutkan pekerjaannya dengan mengemis sampai sekarang.
Setidaknya dari Bharat Jain kita bisa mengambil pelajaran bahwa gengsi tinggi tak akan membawa hidup ke mana-mana. Meski profesi pengemis kerap dipandang enteng, bisa jadi harta Bharat Jain lebih banyak daripada orang yang bekerja kantoran.
Jakarta, CNBC Indonesia - Seorang hacker kawakan bernama Vyacheslav Penchukov atau Tank buka-bukaan soal kehidupannya, termasuk saat ditangkap beberapa tahun lalu. Kini dia mendekam di penjara Colorado usai jadi buron selama 10 tahun. Ternyata, dulu Penchukov juga sempat menjadi pengusaha batu bara.
Tank bersama kru Jabber Zeus menggunakan teknologi kejahatan siber untuk melakukan pencurian dari rekening bank usaha kecil, pemerintah daerah dan lembaga amal selama akhir tahun 2000-an. Kejahatan itu berhasil menguras uang banyak korban.
Setidaknya ada lebih dari 600 korban dengan kerugian lebih dari 4 juta poundsterling selama tiga bulan di Inggris.
Menurutnya kejahatan saat itu adalah 'uang mudah'. Sebab para korbannya yang merupakan bank, begitu pula polisi di berbagai wilayah tidak bisa mengatasinya.
Kejahatan Tank kian membesar antara 2018-2022. Saat itu dia bergabung dengan ekosistem ransomware dan menargetkan banyak perusahaan internasional serta rumah sakit.
Butuh waktu 15 tahun, termasuk 10 tahun jadi buron, sebelum akhirnya dia ditangkap pada 2022 lalu. Penchukov mengaku masih kesal dengan penangkapannya yang dianggap berlebihan di Swiss.
"Ada penembak jitu di atap dan polisi menjatuhkan saya ke tanah, memborgol, dan membekap kepala di jalan di depan anak-anak saya. Mereka ketakutan," jelasnya dikutip dari BBC, Rabu (12/11/2025).
Kini dia ditahan di Fasilitas Pemasyarakatan Englewood. Dia mengaku menghabiskan waktu sebaik-baiknya selama di penjara.
Salah satunya adalah olahraga. Penchukov juga memanfaatkan waktunya dengan belajar bahasa Perancis dan Inggris, dia terlihat membawa kamus Rusia-Inggris yang usang selama wawancara dengan BBC.
Sempat Bisnis Batu Bara
Polisi sempat mengetahui identitas asli Tank dari rincian kelahiran putrinya. Kemudian beberapa kru Jabber Zeus telah ditangkap, tapi Tank tetap bisa lolos.
Penchukov menceritakan dirinya pernah mendirikan perusahaan jual beli batu bara. Meski tak terdeteksi, FBI masih terus melacaknya dan memasukkannya dalam daftar pencarian orang.
Masalahnya bukan hanya itu. Dia diperas habis-habisan oleh pihak berwenang Ukraina, tempatnya bersembunyi, setelah mengetahui dia adalah peretas kaya yang dicari oleh Barat.
Setiap hari, dia mengklaim para pejabat akan datang dan memerasnya. Ini juga yang membuat Tank tetap melakukan kejahatan siber, saat bisnis batu baranya ternyata berjalan lancar hingga invasi Rusia ke Krimea tahun 2014.
"Ini jadi cara tercepat menghasilkan uang untuk membayar mereka," kata dia.
Jakarta, CNBC Indonesia - Bukti keberadaan alien masih menjadi tanda tanya besar. Ilmuwan terus mencari bukti jejak kehidupan di luar Bumi, namun belum bisa memastikan 100% keberadaan mereka.
Kendati demikian, ada kemungkinan bahwa alien sebenarnya sudah mengetahui kehidupan di Bumi. Sebab, berbagai aktivitas manusia, baik secara sengaja maupun tidak, telah meninggalkan jejak yang menunjukkan adanya peradaban maju.
Menurut laporan BBC, sejauh ini manusia telah berhasil menemukan lebih dari 5.500 planet di galaksi yang sama dengan Bumi. Para astronom memperkirakan masih ada triliunan planet lain di luar galaksi Bima Sakti.
Meski begitu, hingga kini para peneliti di Bumi belum mendapatkan bukti nyata adanya kehidupan cerdas di planet lain.
Untuk mencari keberadaan alien, para astronom menggunakan berbagai metode, mulai dari mendeteksi sinyal kimia di atmosfer hingga mencari sinyal teknologi seperti gelombang radio.
Jika alien di planet lain menggunakan metode yang sama dengan manusia di Bumi, seharusnya mereka sudah lama tahu bahwa ada kehidupan cerdas di Bumi.
Tanda-tanda kehidupan di Bumi sudah tersiar lama ke seluruh penjuru galaksi. Bahkan, sinyal tersiar lebih intens dan luas pada 1900-an hingga era Perang Dunia II.
"[Mereka dari zaman Perang Dunia] membutuhkan sinyal yang lebih kuat karena radio yang digunakan oleh masyarakat saat itu tidak memiliki antena radio yang sensitif," kata Howard Isaacson dari UC Berkeley dikutip dari Futurism, Selasa (11/11/2025).
Hingga saat ini, gelombang radio masih memancar dari dan ke seluruh penjuru Bumi dalam bentuk sinyal seluler hingga televisi, meskipun lebih sulit terdeteksi. "Stasiun radio tentunya tidak bertujuan mengirim sinyal ke luar angkasa, tetapi ke permukaan Bumi," kata Thomas Beatty dari University of Wisconsin.
Manusia juga telah menerbangkan sejumlah wahana ke segala penjuru Tata Surya, bahkan lebih jauh ke wilayah lain di antariksa. Setiap wahana luar angkasa tersebut dilengkapi oleh transmisi gelombang sendiri.
Menurut Isaacson, misi Voyager paling tidak akan mengirim sinyal ke lebih dari 1.000 bintang pada 2030. "Sinyal yang diterima akan tampak jelas sebagai sinyal buatan," katanya kepada BBC. Isaacson menambahkan, alien yang tinggal di sekitar yang bintang terdekat dari Bumi sudah punya waktu untuk menerima dan mengirim sinyal balasan dalam 8 tahun ke depan.
Tidak hanya gelombang radio. Pengamat dari planet lain juga bisa menerka ada kehidupan di Bumi dengan mengamati atmosfer Bumi. Cahaya lampu yang memancarkan sodium juga bisa jadi tanda peradaban yang sudah maju.
Menrut Paul Rimmer, ahli astrokimia dari University of Cambridge, indikator terbaik dari kehidupan di Bumi adalah oksigen, nitrogen, dan uap air. "Ketiganya adalah indikasi samudra berisi cairan yang stabil."
Perlu dicatat, analisa dan hipotesis ini masih membutuhkan penelitian dan eksplorasi lebih lanjut. Kita tunggu saja!
Jakarta, CNBC Indonesia - Keberadaan alien masih menjadi misteri besar. Para ilmuwan memiliki banyak teori terkait kehidupan di luar angkasa. Dalam beberapa kesempatan, penampakan yang diduga sebagai alien kerap menghebohkan dunia internet.
Salah satunya adalah penampakan bayangan aneh yang tertangkap kamera dan terlihat di Google Earth beberapa waktu lalu. Bayangan aneh itu diduga oleh beberapa pihak merupakan perwujudan alien.
Bayangan aneh menyerupai alien terdeteksi oleh pengguna aplikasi Google Earth. Penampakan itu dibagikan oleh akun TikTok @hidden.on.google.earth dan membuat geger netizen.
Video itu memperlihatkan sebuah lanskap berbatu dan tertutup salju yang telah diperbesar. Di sekitarnya hanya ada sejumlah bangunan industri dan jalur tanah.
Berikutnya terdapat penampilan jalan dan bayangan aneh. Terlihat dengan cara pengambilan gambar nampak bayangan yang mengambang tidak menempel pada tubuh, terlihat juga bentuk aneh di atas kepala.
Foto: Doc. TikTok @hidden.on.google.earth Alien
Dari unggahan itu terlihat foto diambil pada pagi atau malam hari, dikutip dari Daily Star, Selasa (4/11/2025).Para netizen pun memenuhi kolom komentar bertanya apa sebenarnya objek tersebut. Mereka yang meninggalkan jejak pada kolom komentar banyak juga yang menambahkan tagar alien.
Tak sedikit yang mencoba menebak bayangan apa yang sebenarnya ada dalam unggahan tersebut. Salah seorang pengguna yang skeptis menuliskan bayangan itu adalah refleksi sepeda motor pengendara dengan kamera.
Namun bukan kali ini saja TikTok jadi tempat para pengguna membagikan penemuan aneh di Google Earth. Misalnya beberapa saat lalu, netizen mengklaim menemukan pesawat angkatan udara AS yang tidak terlihat bersembunyi pada citra satelit.
Selain itu mereka juga menunjukkan replika ET seram yang duduk pada jendela seseorang. Bahkan beberapa orang menganggap gambar itu nyata.
"Saya tahu itu juru kamera namun nampak seperti firaun atau alien," ungkap salah satu pengguna.
Pencarian Alien dari Bayangan Bumi
Para astronom meyakini bahwa bayangan Bumi berpotensi memegang kunci untuk menemukan pesawat antariksa luar angkasa. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Monthly Notices of the Royal Astronomical Society menyarankan penggunaan "zona bersih" ini sebagai tempat untuk mencari pesawat antariksa asing milik alien yang secara teoritis dapat memantau Bumi.
Ruang angkasa dekat Bumi kini dipenuhi satelit dan puing-puing antariksa. Hal ini menyulitkan pencarian objek tak dikenal di orbit. Untuk mengatasi masalah ini, tim yang dipimpin oleh Beatriz Villarroel dari Universitas Stockholm memutuskan untuk mengambil pendekatan yang berbeda, yakni mencari objek hanya di bayangan Bumi.
Tidak ada pantulan dari satelit atau puing-puing di bayangan ini, sehingga menjadi semacam "zona tenang". Menggunakan lebih dari 200.000 gambar dari teleskop ZTF di California dan sistem kecerdasan buatan NEOrion, para peneliti telah merekam ribuan objek yang tidak biasa.
Sebagian besar ternyata adalah meteor, pesawat terbang, atau asteroid yang diketahui, tetapi satu kasus masih menjadi misteri hingga saat ini. Objek ini bergerak lebih cepat daripada asteroid dan tidak terdaftar dalam katalog mana pun, dikutip dari UniverseMagazine, Selasa (4/11/2025).
Ide lain dari para ilmuwan adalah untuk memeriksa foto-foto astronomi kuno yang diambil sebelum peluncuran satelit pertama pada tahun 1957. Jika objek aneh muncul di foto-foto tersebut, ini bisa menjadi petunjuk asal-usul buatan mereka, dan mungkin juga dari luar angkasa.
Selain itu, tim mempelajari spektrum cahaya untuk mengidentifikasi material yang telah terpapar ke luar angkasa dalam waktu yang lama. Ini akan membantu membedakan benda-benda alami biasa dari struktur yang diciptakan secara teknologi.
Pada saat yang sama, sekelompok ilmuwan lain, yang dipimpin oleh Pinchen Fan dari Universitas Pennsylvania, sedang mempelajari sinyal radio kita sendiri.
Ternyata, ketika planet-planet sejajar, sinyal dari Bumi merambat dengan sangat jelas dan jauh. Ini berarti bahwa pada saat itulah peradaban luar angkasa, jika memang ada, dapat mendengar kita. Kemungkinan mungkin mereka mengirimkan balasan pada saat-saat seperti itu.
Sejauh ini, belum ada konfirmasi tentang keberadaan pesawat antariksa luar angkasa atau alien yang benar-benar bisa dipastikan kebenarannya 100%.
Namun, pendekatan-pendekatan baru ini menawarkan peluang nyata bagi para astronom untuk beralih dari pencarian yang berantakan ke pengamatan yang terarah, yakni di tempat-tempat dan pada saat-saat di mana kemungkinan menemukan sesuatu yang benar-benar tidak biasa.
Perlu dilakukan pencarian lebih jauh dan penelitian mendalam secara berlanjut untuk mengetahui keberadaan alien. Kita tunggu saja!
Pemanasan global mencairkan es, mengungkap "dunia lain" dan artefak kuno. Penemuan ini membawa ilmuwan pada sejarah manusia ribuan tahun lalu. [352] url asal
Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena mencairnya lapisan es akibat pemanasan global membuka rahasia yang telah terkubur selama ribuan tahun. Peneliti menemukan keberadaan "dunia lain" di bawah es.
Tanda "kiamat" pemanasan global ini terjadi karena pembakaran bahan bakar fosil yang menghasilkan kadar karbon dioksida dan gas rumah kaca lain di atmosfer.
Akibatnya temperatur Bumi naik dan menjadi panas, hingga mencairkan es yang terjadi selama beberapa dekade terakhir.
Arkeolog menemukan bukti kehidupan manusia selama berabad-abad lalu. Salah satunya adalah penemuan jasad manusia yang terawetkan selama ribuan tahun atau dikenal sebagai Otzi yang ditemukan di pegunungan Alpen pada 1991.
Material-material barang di sekitar Otzi bisa langsung diteliti karena pengawetan yang dilakukan.
Sebab tanpa diawetkan, material organik yang pernah hidup akan segera membusuk. Material itu termasuk serat tanaman, kayu, dan kulit.
Penemuan itu membawa para ilmuwan pada abad Neolitikum di Pegunungan Alpen. Ini meluncurkan bidang yang disebut arkeologi bongkahan es.
Selain itu, para arkeolog juga menemukan jejak manusia yang terkubur ribuan tahun lalu dari penelitian bongkahan es dan material yang digali di Eropa, Amerika Utara, dan Asia.
Misalnya temuan bukti manusia yang berburu dan menggembalakan rusa kutub sejak 6.000 tahun lalu. Penemuan berasal dari terowongan sepanjang 70 meter yang diukir di lapisan es Juvfonne di Norwegia, dikutip dari Nature, Rabu (23/10/2024).
Banyak artefak kuno yang akhirnya terlihat karena lapisan es yang mencair. Isinya adalah terkait perburuan hewan besar.
Temuan lain adalah di Pegunungan Rocky tahun 2007. Arkeolog, Craig Lee menemukan artefak lapisan es tertua yang pernah ditemukan.
Yakni sebuah alat untuk melempar anak panah atau lembing. Bagian poros depannya terbuat dari pohon muda kulit birch dan berasal dari 10.300 tahun berdasarkan penanggalan karbon.
Pengemis terkaya di dunia asal Mumbai, memiliki kekayaan miliaran rupiah. Meski kaya, ia tetap mengemis, menunjukkan sisi tak terduga dari profesi ini. [440] url asal
Jakarta, CNBC Indonesia - Profesi pengemis merupakan pekerjaan yang identik dengan kemiskinan. Namun, kisah seorang pria asal Mumbai, India, membuktikan hal sebaliknya. Ia adalah Bharat Jain, sosok yang dikenal sebagai pengemis terkaya di dunia.
Meski sehari-hari terlihat mengemis di jalanan Mumbai, gaya hidup dan aset yang dimilikinya jauh dari kesan miskin. Berdasarkan laporan Economic Times, Bharat Jain memiliki total kekayaan yang mencapai miliaran rupiah, termasuk apartemen senilai sekitar Rp2,3 miliar.
Kisahnya pun menjadi sorotan karena memperlihatkan sisi tak terduga dari profesi yang selama ini dianggap tidak menghasilkan.
Adapun kisah Bharat Jain yang berawal dari sosok sederhana hingga menjadi pengemis kaya raya sungguh menakjubkan. Bharat Jain lahir dari keluarga yang serba terbatas secara ekonomi, sehingga dia tidak mampu mengejar pendidikan formal.
Lantaran tidak mengenyam pendidikan, Bharat Jain tentu sulit mendapatkan pekerjaan yang stabil. Meski demikian, Bharat Jain sukses mengubah hidupnya dan keluarganya berkat profesinya yang tidak lazim.
Saat ini, Bharat Jain diproyeksikan memiliki harta lebih dari Rs 7,5 crore rupee atau sekitar Rp 14,8 miliar. Anak-anaknya pun mengenyam pendidikan formal secara layak.
Tak tanggung-tanggung, Bharat Jain sanggup menghasilkan Rs 60.000-75.000 atau setara Rp 11 juta dalam sebulan hanya dengan mengemis.
Selama bertahun-tahun bekerja sebagai pengemis, Bharat Jain mampu mengumpulkan banyak uang untuk membeli berbagai barang dan aset. Dia tercatat memiliki apartemen dua kamar tidur di Mumbai senilai Rs 1,2 crore atau Rp 2,3 miliar. Ia pun menyewakan dua tokonya di Thane dengan sewa Rs 30.000 per bulan.
Meski sudah kaya raya, Bharat Jain diketahui tetap mengemis di kawasan Chhatrapati Shivaji Maharaj Terminus atau Azad Maidan.
Di saat banyak orang bekerja keras namun hanya memperoleh beberapa ratus rupee, Bharat Jain berhasil menghasilkan Rs 2.000-2.500 per hari (Rp 365.000 hingga Rp 500.000) dalam waktu 10 hingga 12 jam hanya dengan mengemis.
Bharat Jain dan keluarganya tinggal dengan nyaman di apartemen dua kamar. Anak-anaknya pergi sekolah, sedangkan anggota keluarga lainnya memiliki toko alat tulis.
Memang, Bharat Jain terus-menerus disarankan untuk tidak mengemis. Meski begitu, ia tidak mengindahkan nasehat ini dan melanjutkan pekerjaannya dengan mengemis sampai sekarang.
Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam laporan Global Anti-scam Alliance (GASA) dan Indosat Ooredoo Hutchison, State of Scams in Indonesia 2025 mengungkapkan rata-rata korban penipuan kehilangan Rp 1.723.310 per orang.
"Tantangannya di sini 14% orang kehilangan uang karena penipuan," kata APAC Director Anti-scam Alliance (GASA), Brian D. Hanley, di Jakarta, Jumat (31/10/2025). "Rp 1,7 juta bukan uang yang kecil untuk seseorang yang menghasilkan Rp 3-4 juta," ungkapnya.
Dalam laporan itu, dijelaskan rata-rata milenial kehilangan lebih banyak uang dibandingkan mereka yang lebih tua. Uang yang hilang mencapai Rp 1.954.095 untuk kelompok usia milenial.
Sementara baby boomers dilaporkan harus kehilangan Rp 1.007.821 dalam penipuan tersebut selama setahun terakhir. Penipuan terbanyak dilakukan melalui transfer bank dan wire (65%) serta transfer melalui dompet digital (43%).
Laporan yang sama juga mengungkapkan Rp 49 triliun tercatat berhasil didapatkan semua kasus penipuan di Indonesia selama setahun.
Korban penipuan di Indonesia juga cukup luas. Laporan GASA mengungkapkan anak-anak juga menjadi korban setidaknya sekali.
Hal serupa juga diungkapkan Mediodecci Lustarini, selaku Sekretaris Direktorat Jenderal Pengawasan Ruang Digital Kementerian Komunikasi dan Digital. Dia mengatakan banyak korban berasal dari pensiunan hingga pelaku usaha.
"Dan kehilangannya mungkin kecil di mata pembisnis gitu kan. Mungkin kehilangan Rp 10 juta...Tapi itu at the edge their whole life. Itu adalah bagaimana mereka hidup, menghidupi bisnisnya, menghidupi dirinya," jelasnya.
Dia mengatakan perlu untuk melakukan penyatuan layanan antar kementerian dan lembaga, seperti layanan aduan. Karena selama layanan tersebut tersebar di sejumlah pemangku kepentingan.
"Sehingga bisa jadi kita bisa membayangkan ketika suatu hari seseorang diminta untuk transfer cepat karena ada kecelakaan harus transfer atau ada narkoba harus transfer, mereka bisa mendapatkan notifikasi nomor ini pernah dilaporkan karena adanya dugaan penipuan," ujarnya.
Jakarta, CNBC Indonesia - Saat kita kehilangan ponsel, mungkin kesempatan untuk mendapatkannya kembali sangat kecil atau bahkan tidak ada. Namun, ternyata ada yang bisa memegang kembali iPhone yang sudah hilang setelah 2 minggu.
Cerita ini dibagikan oleh pembuat konten Abdul Azis dalam akun instagramnya @pikiping. Ia menjelaskan iPhone miliknya hilang tidak ada dalam tasnya dan baru diketahui saat hendak menggunakan MRT
Kemudian ia kembali ke tempat kosnya dan mencoba mengeceknya. Saat mengecek CCTV, ternyata dia masih memegang ponselnya saat keluar kediamannya.
Dia mencoba mengecek posisi ponselnya melalui Find my lewat iPad, dan ternyata berada di rumah sakit 30 menit sebelumnya. Namun saat dicari dan mencoba membunyikan suaranya dalam layanan tersebut, ponsel itu tak berbunyi dan tetap tidak diketahui keberadaannya.
Selama satu jam mencari ponsel itu, dia memutuskan kembali ke kos dan mencari esok harinya. Asumsinya ponsel itu jatuh dan ditemukan pekerja di rumah sakit tersebut.
"Pikiranku, mungkin yang menemukan HP ku jatoh di jalan ialah yang bekerja di rumah sakit tersebut, dan hpnya disimpan di ruangan di rumah sakit, mungkin yaa...asumsi boleh dong??" tulisnya.
CNBC Indonesia sudah meminta izin untuk mengutip postingan tersebut. Pantauan CNBC Indonesia hingga berita ini dirilis, postingan tersebut viral dengan mendapat 538 repost dan 515 komentar.
Keesokan harinya dia dikejutkan lokasi ponselnya berpindah. Mencoba mengejar langsung ke lokasi yang merujuk pada sebuah kontrakan, hasilnya nihil dan ponselnya tetap tak diketahui posisinya.
Selama beberapa hari, lokasi ponselnya tetap berada di lokasi yang sama. Hingga dua minggu kemudian, muncul notifikasi dalam Apple Watch dan Find My jika ponsel itu di-charge.
Dia kembali ke lokasi itu dengan melakukan pencarian yang lebih luas. Berakhir dengan bertanya kepada seorang ibu di sebuah warung.
Ternyata ibu itu langsung mempersilahkan untuk masuk dalam gang kontrakan di dekatnya. Tak lama ponselnya langsung ditemukan, dibawa oleh seorang pria.
"Muncul mas-mas keluar dari gang kontrakan sambil bawa hp yang masih bunyi "ping! ping! ping!". Beliau kaget pas dicharge hpnya bunyi dan gabisa dimatiin alarmnya. Beliau inisiatif keluar mungkin ada pemilik hp yang cari. Akhirnya ketemu," dia menambahkan.
Dalam postingan itu, Abdul menjelaskan kondisi ponselnya masih cukup baik dengan sedikit retak pada bagian tempered glass. Satu SIM fisiknya dilepas oleh penemu ponselnya dengan tujuan pemilik ponsel menelepon dan eSIM masih aktif begitu juga jaringannya.
Fitur Find My iPhone
Find My sendiri merupakan layanan Apple untuk mencari perangkat yang hilang. Layanan akan menunjukkan titik posisi perangkat.
Apple juga menyematkan kemampuan Find My untuk bisa menemukan perangkat bahkan saat offline. Jadi saat baterai perangkat lemah akan mengaktifkan lokasi terakhir.
Selain itu terdapat fitur untuk mengunci atau menghapus data dari jarak jauh, tujuannya agar mereka yang mendapatkan ponsel itu tak bisa menggunakan data pengguna.
Fitur lain yang tersedia dalam Find My adalah membunyikan ponsel. Anda bisa menekan tombol Play Sound saat sudah berada di lokasi yang ditunjukkan Find My.
Play Sound akan mengeluarkan suara dari perangkat yang dicari. Jadi pencarian bisa lebih cepat dengan mencari ke sumber suara perangkat.
Anda juga bisa menandai perangkat sebagai perangkat yang hilang. Fitur ini dapat menampilkan pesan seperti kontak agar orang yang menemukan perangkat bisa menghubungi pemiliknya segera.
Jakarta, CNBC Indonesia - Tim peneliti dari Jepang menggunakan superkomputer dan model sistem planet NASA untuk meramal akhir kehidupan di dunia. Makhluk di Bumi diperkirakan musnah karena kehabisan oksigen jauh lebih dulu sebelum Bumi hancur.
Kesimpulan tersebut didapatkan lewat 400.000 simulasi di superkomputer oleh sekelompok peneliti dari Toho University. Temuan kemudian dipublikasikan dalam laporan penelitian berjudul The Future Lifespan of Earth's Oxygenated Atmosphere di jurnal Nature Geoscience.
Berdasarkan hasil simulasi, peristiwa kiamat diawali dengan Matahari yang makin tua sehingga mengeluarkan panas yang makin lama makin tinggi. Matahari yang makin panas dan terang membuat permukaan Bumi memanas sehingga semua air menguap.
Perubahan iklim ini menghancurkan siklus karbon di Bumi yang mendukung aktivitas fotosintesis. Tumbuhan pun mulai punah sehingga produksi oksigen di Bumi berhenti total. Atmosfer Bumi makin didominasi oleh metana yang tak bisa lagi mendukung segala jenis kehidupan.
"Sejak lama, umur biosfer Bumi diprediksi berdasarkan Matahari yang makin terang," kata Kazumi Ozaki yang menjadi penulis utama.
Ozaki dan tim menyatakan sebelumnya makhluk hidup diperkirakan masih bertahan di Bumi selama 2 miliar tahun ke depan. Namun, simulasi yang mereka lakukan dengan model yang baru menunjukkan kehidupan bakal punah hanya dalam 1 miliar tahun.
Manusia diramal punah lebih dulu. Radiasi yang makin intens bakal berakibat fatal terhadap sistem lingkungan dan atmosfer sehingga manusia tak bisa bertahan hidup.
Saat ini, usia Bumi diperkirakan mencapai 4,5 miliar tahun. Artinya, 82 persen dari "umur" Bumi sudah terpakai.
Tanda-tanda awal dari "kiamat" tersebut sekarang sudah tampak jelas. Ilmuwan sudah berulang kali melaporkan peningkatan aktivitas Matahari dalam bentuk badai surya sehingga medan magnet Bumi terganggu dan kadar oksigen di atmosfer turun.
Belum lagi, ada dampak perubahan iklim akibat pemanasan global yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Suhu rata-rata di Bumi terus menanjak sehingga es di Kutub Utara dan Kutub Selatan mencair lebih cepat.
Ratusan penumpang berdesakan di dermaga kecil Banda Neira, Maluku Tengah. Di bawah langit sore yang perlahan meredup, mereka menanti kapal Pelni yang akan ... [1,688] url asal
Jakarta (ANTARA) - Ratusan penumpang berdesakan di dermaga kecil Banda Neira, Maluku Tengah. Di bawah langit sore yang perlahan meredup, mereka menanti kapal Pelni yang akan berangkat menuju Ambon.
Di pulau yang hanya bisa dijangkau lewat laut dan udara terbatas, setiap kedatangan kapal menjadi peristiwa besar. Bukan sekadar perjalanan, tapi pertaruhan waktu, logistik, dan nasib banyak orang.
Banda Neira, pulau mungil di gugusan Laut Banda, menyimpan sejarah besar yang mengubah wajah dunia. Dari sinilah pala pernah menjadi rebutan bangsa Eropa, ratusan tahun lalu.
Kini, sejarah itu berganti rupa. Banda Neira tidak lagi menjadi pusat perdagangan rempah dunia, melainkan simbol ketabahan masyarakat di wilayah terluar yang bertahan dengan irama laut.
Berbanding terbalik dengan Jakarta yang bergerak dengan moda transportasi canggih, Banda Neira masih hidup dengan kesabaran. Di sini, waktu berjalan pelan bersama jadwal kapal yang tidak menentu.
Warga harus menunggu tiga, hingga empat hari, hanya untuk keluar pulau. Kapal Pelni menjadi satu-satunya tumpuan, menyeberang selama 14 jam menuju Ambon, berdamai dengan ombak, jarak, dan waktu.
Susana Pelabuhan di Banda Neira, Maluku Tengah padat saat kapal Pelni bersandar, yang hendak mengangkut calon penumpang untuk berlayar ke Ambon, Kamis (23/10/2025). ANTARA/Harianto
Begitulah Banda Neira. Di antara laut yang biru dan langit yang luas, setiap keberangkatan kapal, bukan hanya rutinitas, tapi denyut kehidupan yang menjaga pulau ini tetap bernapas.
Bangunan tua berwarna biru di tepi pelabuhan menjadi saksi kesibukan sore itu. Deretan motor parkir rapat, sementara warga menenteng karung, koper, dan tas hendak masuk ke dalam kapal.
Ketika tangga besi dibentangkan ke lambung kapal putih bertuliskan “PELNI”, antrean panjang mulai bergerak perlahan, meniti pijakan sempit, dengan hati-hati sambil membawa barang bawaan.
Bukan hanya penumpang yang naik, tetapi juga logistik kehidupan, beras, minyak, sayur-mayur, hingga paket dari keluarga di Ambon dan Jakarta, semua ikut menumpang harapan dalam satu pelayaran.
Kapal Pelni menjadi urat nadi yang menyambung Banda Neira dengan dunia luar. Tanpanya, harga-harga kebutuhan bisa melambung tinggi dan arus ekonomi di pulau itu akan terhenti.
Di antara hiruk pikuk itu, beberapa awak kapal berseragam putih berjaga di tangga kapal. Mereka membantu penumpang naik satu per satu, memastikan semua bisa berangkat dengan aman dan tenang.
Hening seketika menyelimuti dermaga, saat sebuah ambulans masuk pelabuhan. Warga spontan menyingkir, memberi jalan bagi tandu sederhana yang membawa seorang perempuan lemah yang diarak masuk ke dalam KM Sangiang.
Wajahnya pucat, namun matanya terbuka lemah menatap kapal yang akan membawanya ke rumah sakit di Ambon. Di matanya, kapal ini adalah harapan yang menyeberangi laut untuk menyelamatkan hidupnya.
Seorang wisatawan, salah satu calon penumpang kapal Pelni KM Sangiang yang akan berlayar dari Banda Neira ke Ambon, meneteskan air mata saat melihat pasien diturunkan dari ambulans untuk dirujuk ke rumah sakit di Ambon, menggunakan kapal yang sama, di Banda Neira, Kamis (23/10/2025). ANTARA/Harianto
Seorang perempuan berkerudung abu-abu berdiri terpaku di sisi pelabuhan. Air matanya jatuh pelan, bukan karena perpisahan, tapi karena tersentuh melihat betapa besar arti kapal bagi kehidupan di Banda Neira.
Bagi warga pulau itu, Pelni bukan sekadar kapal besar yang berlabuh dan berangkat. Ia adalah jembatan kemanusiaan, membawa logistik, kesehatan, pendidikan, dan rasa keterhubungan antar-pulau.
Setiap peluit panjang yang terdengar, bukan hanya tanda keberangkatan, tapi juga pernyataan bahwa negara selalu hadir di wilayah tertinggal, terdepan, terluar, dan perbatasan (3TP).
Kapal pun perlahan berlayar meninggalkan dermaga membawa manusia, barang, dan harapan melintasi Maluku, menjaga denyut kehidupan yang tak pernah padam.
Transportasi andalan
Mirna (37 tahun) menjadi salah satu wajah ketekunan Banda Neira. Dari rumah kayunya yang sederhana, ia menjalankan usaha kecil menjual barang pecah belah, pakaian, dan buah segar untuk warga sekitar.
Rumahnya, sekaligus menjadi toko kecil, tempat warga datang membeli kebutuhan harian, sambil bertukar kabar. Di ruang sempit itulah roda ekonomi Banda Neira berputar sederhana, tapi pasti.
Sebagian besar barang dagangan didatangkan dari Ambon dan Makassar. Mirna mengandalkan adiknya di Makassar untuk mengirimkan pesanan, sehingga ia tidak perlu sering bepergian jauh, cukup menunggu kapal datang.
Setiap awal dan akhir bulan, Mirna biasanya berangkat ke Ambon menggunakan kapal Pelni, entah Pangrango atau Labobar. Ia menyesuaikan jadwal keberangkatan dengan ketersediaan kapal agar stok tetap aman.
Perjalanan itu bukan hal mudah. Ia harus menunggu tiga, hingga empat hari, sampai kapal tiba, lalu menempuh pelayaran 14 jam ke Ambon dalam cuaca yang kadang tidak bersahabat. Namun, semua dijalani dengan sabar.
Sejumlah calon penumpang kapal Pelni hendak memasuki KM Sangiang yang akan berlayar dari Banda Neira ke Ambon, Kamis (23/10/2025). ANTARA/Harianto
Selain berdagang langsung, Mirna juga memanfaatkan media sosial. Ia memotret dagangan dan memostingnya di media sosial agar pembeli dari luar Banda bisa memesan, tanpa harus datang langsung.
Kapal Pelni, baginya bukan hanya sarana transportasi, tetapi urat nadi kehidupan. Selama bertahun-tahun, pengiriman barang berjalan aman, tanpa kehilangan, membuat kepercayaan warga terhadap layanan ini tetap tinggi.
Hanya saja, jadwal kapal tidak selalu pasti. Pangrango biasanya beroperasi satu atau dua kali sepekan, sementara Labobar yang berlayar jauh dari Jawa, sering penuh penumpang dan tidak selalu bisa memuat barang.
Ketika kapal sedang docking, aktivitas logistik di Banda Neira pun terganggu. Barang tertahan, stok menipis, dan harga kebutuhan mulai naik. Semua berharap kapal cepat kembali berlayar menembus ombak.
Mirna selalu berdoa agar Pangrango segera turun beroperasi lagi. Kapal itu adalah jembatan utama yang membuat roda ekonomi di pulau kecil tetap bergerak dan kebutuhan warga terus terpenuhi. Bagi masyarakat Banda Neira, Pelni adalah wajah nyata kehadiran negara untuk rakyat.
Banda Neira, pulau kecil di jantung Laut Banda, berdiri tenang di antara ombak biru yang berlapis riak sejarah. Di sinilah masa lalu kolonial Belanda masih bernapas lewat benteng, rumah tua, dan kisah perjuangan.
Manajer Komunikasi Korporasi Pelni Ditto Pappilanda (kiri) bersama pegawai Pelni lainnya menjawab pertanyaan awak media dalam pelayaran kapal Pelni KM Sangiang dari Banda Neira ke Ambon, Kamis (23/10/2025) malam. ANTARA/Harianto
Misi kemanusiaan
Di wilayah-wilayah 3TP, kapal Pelni, selain mendukung mobilitas dan logistik, sering menjadi ambulans terapung, menempuh gelombang panjang demi membawa pasien ke rumah sakit rujukan di kota besar, seperti Ambon. Tidak jarang, di atas kapal ini pula seorang bayi pertama kali melihat dunia.
Kapal Pelni memiliki fasilitas poliklinik di setiap armada penumpang, lengkap dengan tempat tidur, obat-obatan dasar, hingga tabung oksigen. Beberapa kapal, bahkan menempatkan tenaga medis atau dokter untuk menangani kondisi darurat selama pelayaran. Semua layanan kesehatan itu diberikan tanpa biaya karena difasilitasi oleh negara lewat perusahaan tersebut.
Meskipun demikian, tidak sedikit pula penumpang yang datang tanpa surat rujukan resmi dari otoritas kesehatan. Dalam situasi mendesak, pihak kapal tetap memberi ruang, mencatat peristiwa dengan berita acara, dan mengutamakan sisi kemanusiaan dibanding aturan kaku. Di laut luas, waktu sering kali lebih berharga dari dokumen.
Kisah penumpang sakit yang harus ditandu, malam itu, hanyalah satu dari sekian banyak peristiwa yang menggambarkan peran ganda Pelni.
Ketika wisatawan terjebak akibat letusan Gunung Lewotobi di Nusa Tenggara Timur, kapal Pelni diarahkan untuk menjemput mereka menuju pelabuhan terdekat. Di saat semua moda transportasi lain berhenti, kapal Pelni tetap berlayar.
Demikian pula, saat bencana melanda Palu, kapal yang biasanya mengangkut penumpang sipil berubah menjadi kapal kemanusiaan. Di dalam ruang yang biasanya dipenuhi koper dan karung, berubah menjadi susunan bantuan logistik dan peralatan penyelamat.
Sejumlah penumpang non seat tidur di lorong-lorong kecil kapal Pelni dalam pelayaran kapal Pelni KM Sangiang dari Banda Neira ke Ambon, Kamis (23/10/2025) malam. ANTARA/Harianto
Bagi Pelni, laut bukan sekadar jalur niaga, tapi juga jalur empati. Di dalam dek baja yang mengarungi samudra, tersimpan kisah tentang pelayanan publik yang tetap berdenyut di tengah tuntutan bisnis.
Pelni berada dalam posisi unik, di mana "kaki kiri" perusahaan berpijak pada misi sosial, sementara "kaki kanan" berdiri pada tuntutan komersial. Dua sisi yang jarang bisa dijalankan bersamaan oleh perusahaan transportasi lainnya.
“Kalau swasta pasti profit, profit, dan profit, sementara Pelni harus siap kapan pun menjalankan penugasan sosial," ujar Manager Komunikasi Korporasi Pelni Ditto Pappilanda di atas KM Sangiang, yang berlayar menembus malam gelap lautan Banda dari Banda Neira menuju Ambon.
Kapal-kapal Pelni menjadi tulang punggung logistik dan penumpang di wilayah timur Indonesia.
Memaksimalkan armada
Saat ini, terdapat 25 kapal penumpang aktif dari total 26 armada, sementara satu kapal masih menjalani perawatan pascakebakaran di Makassar. Selain itu, terdapat 30 kapal perintis, satu kapal ternak, satu kapal rede, dan 11 kapal barang yang melayani berbagai jalur.
Dari seluruh armada tersebut, sekitar 10 kapal melayani kawasan timur Indonesia, wilayah dengan bentang lautan luas dan fasilitas transportasi yang sangat terbatas. Sisanya tersebar di klaster tengah dan barat, di mana moda transportasi lain, seperti pesawat atau kereta masih tersedia.
Sejumlah penumpang non seat tidur di lorong-lorong kecil kapal Pelni dalam pelayaran kapal Pelni KM Sangiang dari Banda Neira ke Ambon, Kamis (23/10/2025) malam. ANTARA/Harianto
Sementara itu, Pelni harus memutar otak agar tetap berlayar di tengah keterbatasan armada tua. Beberapa kapal sudah berusia lebih dari 40 tahun, melintasi ribuan mil laut dari generasi ke generasi, menjadi saksi perjalanan ekonomi dan kemanusiaan di Indonesia Timur.
Untuk membeli satu kapal baru tipe besar, dibutuhkan dana sekitar Rp1,5 triliun. Pelni, yang setiap tahunnya hanya mampu menyisihkan sekitar Rp200 miliar dari laba operasional, memperkirakan butuh waktu hingga satu dekade untuk mengumpulkan biaya pengadaan satu kapal baru.
Padahal, dari kajian, kebutuhan ideal untuk menyatukan seluruh wilayah Nusantara mencapai 80 kapal penumpang. Jumlah itu diyakini cukup untuk memperpendek waktu tunggu masyarakat di pulau-pulau kecil yang kini harus menunggu hingga dua minggu untuk kedatangan kapal berikutnya.
Realitas di Banda Neira menggambarkan perlunya pemenuhan kebutuhan transportasi. Di tengah pesona wisata sejarah dan alamnya, masyarakat di pulau itu harus menunggu kapal Pelni tiga hingga empat hari sekali, sementara pesawat kecil hanya terbang dua kali sepekan, dengan kapasitas tidak lebih dari selusin orang.
Kondisi itu membuat setiap kedatangan kapal seperti peristiwa besar. Tidak hanya penumpang dan logistik, kapal Pelni membawa harapan, membawa pasien yang ingin sembuh, membawa barang dagangan yang menopang ekonomi pulau, dan kadang membawa cerita lahirnya kehidupan baru di tengah laut.
Meski belum mampu menyetor dividen besar bagi negara, peran Pelni di wilayah kepulauan timur menjadi tidak tergantikan. Ia bukan hanya operator pelayaran, melainkan simbol kehadiran negara di perbatasan samudra, tempat profit sering kali tidak sebanding dengan makna kemanusiaan yang dihadirkan.
Pelni menjadi nadi kehidupan dan kemanusiaan di pelosok tanah air, menjaga harapan, logistik, dan keterhubungan pulau-pulau timur Indonesia di tengah keterbatasan armada dan jarak yang memisahkan.
Jakarta, CNBC Indonesia - Ada kemungkinan bahwa alien, telah mengetahui keberadaan kehidupan di Bumi. Sebab, berbagai aktivitas manusia, baik secara sengaja maupun tidak, telah meninggalkan jejak yang menunjukkan adanya peradaban maju.
Menurut laporan BBC, sejauh ini manusia telah berhasil menemukan lebih dari 5.500 planet di galaksi yang sama dengan Bumi. Para astronom memperkirakan masih ada triliunan planet lain di luar galaksi Bima Sakti.
Meski begitu, hingga kini para peneliti di Bumi belum mendapatkan bukti nyata adanya kehidupan cerdas di planet lain.
Untuk mencari keberadaan alien, para astronom menggunakan berbagai metode, mulai dari mendeteksi sinyal kimia di atmosfer hingga mencari sinyal teknologi seperti gelombang radio.
Jika alien di planet lain menggunakan metode yang sama dengan manusia di Bumi, seharusnya mereka sudah lama tahu bahwa ada kehidupan cerdas di Bumi.
Tanda-tanda kehidupan di Bumi sudah tersiar lama ke seluruh penjuru galaksi. Bahkan, sinyal tersiar lebih intens dan luas pada 1900-an hingga era Perang Dunia II.
"[Mereka dari zaman Perang Dunia] membutuhkan sinyal yang lebih kuat karena radio yang digunakan oleh masyarakat saat itu tidak memiliki antena radio yang sensitif," kata Howard Isaacson dari UC Berkeley dikutip dari Futurism, Jumat (24/10/2025).
Hingga saat ini, gelombang radio masih memancar dari dan ke seluruh penjuru Bumi dalam bentuk sinyal seluler hingga televisi, meskipun lebih sulit terdeteksi. "Stasiun radio tentunya tidak bertujuan mengirim sinyal ke luar angkasa, tetapi ke permukaan Bumi," kata Thomas Beatty dari University of Wisconsin.
Manusia juga telah menerbangkan sejumlah wahana ke segala penjuru Tata Surya, bahkan lebih jauh ke wilayah lain di antariksa. Setiap wahana luar angkasa tersebut dilengkapi oleh transmisi gelombang sendiri.
Menurut Isaacson, misi Voyager paling tidak akan mengirim sinyal ke lebih dari 1.000 bintang pada 2030. "Sinyal yang diterima akan tampak jelas sebagai sinyal buatan," katanya kepada BBC. Isaacson menambahkan, alien yang tinggal di sekitar yang bintang terdekat dari Bumi sudah punya waktu untuk menerima dan mengirim sinyal balasan dalam 8 tahun ke depan.
Tidak hanya gelombang radio. Pengamat dari planet lain juga bisa menerka ada kehidupan di Bumi dengan mengamati atmosfer Bumi. Cahaya lampu yang memancarkan sodium juga bisa jadi tanda peradaban yang sudah maju.
Menrut Paul Rimmer, ahli astrokimia dari University of Cambridge, indikator terbaik dari kehidupan di Bumi adalah oksigen, nitrogen, dan uap air. "Ketiganya adalah indikasi samudra berisi cairan yang stabil."
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56