Head of Fund Services Mirae Asset Sekuritas Indonesia Francisca Gerungan mengatakan di tengah kondisi pasar yang masih berfluktuasi, investor diingatkan untuk ... [418] url asal
Jakarta (ANTARA) - Head of Fund Services Mirae Asset Sekuritas Indonesia Francisca Gerungan mengatakan di tengah kondisi pasar yang masih berfluktuasi, investor diingatkan untuk menerapkan strategi pengelolaan portofolio yang lebih disiplin dan terdiversifikasi.
Francisca menilai, kondisi pasar yang tidak menentu membuat investor tidak dapat lagi mengandalkan satu instrumen investasi saja. Ia mengingatkan pentingnya prinsip diversifikasi dalam membangun portofolio yang sehat.
“Kita akan memberikan approach wealth management. Jadi di kondisi market yang pastinya challenging. Jadi kita mau terus memberikan edukasi kepada investor-investor kita untuk ‘not put your eggs in one basket’,” kata Francisca dalam acara Media Day Mirae Asset Sekuritas di Jakarta, Selasa.
Francisca mengatakan perkembangan teknologi digital dan fintech juga telah membuat akses investasi semakin mudah, sehingga jumlah investor reksa dana di Indonesia meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir.
Tercatat, dari total 20,32 juta investor pasar modal, investor reksa dana dari fintech tumbuh pesat kurang lebih 19,17 juta SID pada akhir 2025, dan di kuartal pertama tahun 2026 naik menjadi 23,5 juta investor reksa dana. Namun, tantangan yang muncul bukan lagi sekadar akses, melainkan kedisiplinan dalam berinvestasi.
Ia mengatakan masih banyak investor yang baru membuka akun lalu berhenti berinvestasi secara rutin, padahal strategi seperti auto-invest bulanan dapat membantu pertumbuhan dana secara konsisten dalam jangka panjang.
“Jadi sebenarnya investor baru di reksadana ini tumbuhnya pesat, tapi mungkin kebiasaan atau disiplin investasi itu yang perlu terus ditularkan. Habis buka rekening IFUA kemudian invest, lalu diem aja. Nah kita pengennya setiap bulan auto invest ke reksadana supaya dananya tumbuh,” katanya.
Francisca mengatakan dalam menghadapi kondisi pasar yang tidak stabil, strategi core-satellite menjadi salah satu pendekatan yang direkomendasikan. Portofolio core berfungsi sebagai inti investasi yang lebih stabil dan berorientasi jangka panjang, sementara satellite digunakan untuk menangkap peluang dari sektor atau tema yang sedang tren dengan potensi imbal hasil lebih tinggi.
Selain itu, investor juga disarankan untuk melakukan rebalancing portofolio secara berkala, misalnya setiap enam bulan atau satu tahun. Tujuannya adalah untuk mengunci keuntungan, menyesuaikan komposisi aset, dan menjaga agar portofolio tetap sesuai dengan tujuan keuangan.
Francisca mengatakan untuk mendukung investor memiliki portofolio yang sehat, Mirae Asset melalui platform M-Fund menyediakan berbagai kelas aset reksa dana, mulai dari pasar uang, pendapatan tetap, campuran, saham, hingga reksa dana indeks. Hal ini memungkinkan investor menerapkan strategi core-satellite dalam satu platform yang terintegrasi.
Aplikasi ini telah digunakan oleh sekitar 53.000 investor, serta didukung oleh hampir 30 kantor edukasi (OE) dan lebih dari 200 tim pendukung yang siap membantu investor.
BRI-MI dan Ayovest bermitra untuk memperluas akses investasi reksa dana digital, menjangkau lebih banyak investor ritel dengan produk beragam dan inklusif. [394] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — PT BRI Manajemen Investasi dan PT Generasi Paham Investasi (Ayovest) menjalin kemitraan strategis untuk memperluas akses investasi reksa dana melalui platform digital.
Direktur Utama PT BRI Manajemen Investasi, Arief Budiman, mengatakan kemitraan dengan Ayovest merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk memperluas distribusi produk investasi secara digital dan menjangkau lebih banyak investor ritel.
“Sinergi antara BRI-MI dan Ayovest bertujuan memberikan akses dan kemudahan berinvestasi bagi lebih banyak investor secara digital. Ini adalah bagian dari strategi kami membangun ekosistem distribusi investasi yang lebih efektif dan inklusif di industri pasar modal,” katanya dalam keterangan resmi, Rabu (17/6/2026).
Direktur PT Generasi Paham Investasi, Sonny Afriansyah, mengatakan kerja sama tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan dalam memperkuat ekosistem investasi digital yang inklusif sekaligus memperluas pilihan produk investasi bagi pengguna.
Menurutnya, kolaborasi dengan BRI-MI tidak hanya sebatas integrasi teknologi, tetapi juga sinergi antara kemudahan akses digital yang dimiliki Ayovest dengan kompetensi pengelolaan investasi dari BRI-MI.
“Kerja sama dengan BRI-MI merupakan langkah strategis dalam memperkuat ekosistem investasi digital yang inklusif. Melalui sinergi ini, kami berkomitmen memperluas akses layanan sehingga masyarakat dapat mulai berinvestasi dengan rasa aman karena didukung sistem yang berizin dan diawasi OJK,” ujar Sonny.
Dia menambahkan, Ayovest juga berupaya mendorong terbentuknya kebiasaan investasi jangka panjang melalui fitur Systematic Investment Plan (SIP) yang mendukung program PINTAR Reksa Dana atau Program Investasi Terencana dan Berkala Reksa Dana.
Melalui fitur tersebut, investor dapat melakukan pembelian reksa dana secara rutin dan terjadwal sesuai kemampuan serta tujuan keuangan masing-masing.
Dengan kerja sama kedua pihak, investor dapat mengakses sejumlah produk reksa dana BRI-MI melalui platform Ayovest. Produk yang tersedia mencakup reksa dana pasar uang, pendapatan tetap, campuran, hingga reksa dana syariah.
Beberapa produk yang ditawarkan antara lain Reksa Dana BRI Seruni Pasar Uang II, Reksa Dana Syariah BRI Seruni Pasar Uang, BRI Balanced Regular Income Fund Kelas A, BRI Syariah Berimbang, BRI Mawar, BRI Indeks Syariah, dan BRI Brawijaya Abadi Pendapatan Tetap.
Ayovest menyebut kemitraan tersebut diharapkan dapat memperkuat literasi dan inklusi investasi di Indonesia dengan menghadirkan akses investasi yang lebih praktis, terjangkau, dan mudah dipahami masyarakat.
Sebagai platform investasi digital yang berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Ayovest menawarkan akses investasi reksa dana dengan nominal mulai Rp5.000.
Perseroan juga berencana terus memperluas ekosistem investasi melalui pengembangan layanan digital, edukasi keuangan, dan kolaborasi dengan berbagai manajer investasi serta pelaku industri pasar modal.
Masa pensiun dapat berlangsung selama 30 hingga 40 tahun sehingga membutuhkan perencanaan yang lebih matang untuk menjamin ketahanan finansial jangka panjang. [1,628] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Konsep pensiun di berbagai negara tengah mengalami perubahan mendasar seiring dengan meningkatnya harapan hidup, perubahan pola karier, dan ketidakpastian ekonomi yang semakin tinggi. Kondisi ini mendorong perlunya transformasi sistem pensiun agar mampu menjawab tantangan masa depan.
Dalam laporan terbaru bertajuk Securing Retirement: What Builds a Strong Pension System, Manulife menilai bahwa pensiun kini bukan lagi fase singkat setelah masa kerja berakhir. Sebaliknya, masa pensiun dapat berlangsung selama 30 hingga 40 tahun sehingga membutuhkan perencanaan yang lebih matang untuk menjamin keberlanjutan pendapatan dan ketahanan finansial jangka panjang.
Manulife mengungkapkan bahwa banyak sistem pensiun yang saat ini berlaku, baik di negara maju maupun berkembang, masih dibangun berdasarkan asumsi lama, yakni pekerjaan yang stabil, jalur karier yang dapat diprediksi, serta usia harapan hidup yang lebih pendek.
Akibatnya, sejumlah tantangan masih membayangi sistem pensiun global. Tingkat penggantian pendapatan saat pensiun (retirement replacement rate) dinilai masih rendah, sementara kesenjangan partisipasi program pensiun masih terjadi, terutama pada kelompok pekerja informal.
Selain itu, individu kini semakin dituntut mengambil keputusan finansial yang kompleks dengan panduan yang terbatas. Di sejumlah negara Asia, termasuk Indonesia, kesenjangan pendapatan pada masa pensiun juga masih menjadi persoalan yang memerlukan perhatian serius.
Dalam laporannya, Manulife mengidentifikasi lima elemen utama yang menjadi fondasi sistem pensiun yang tangguh, yaitu kecukupan (adequacy), akses (access), fleksibilitas (flexibility), nasihat (advice), dan akuntabilitas (accountability).
Kelima elemen tersebut dinilai mencerminkan pendekatan yang lebih progresif dalam membangun sistem pensiun, tidak hanya berfokus pada akumulasi aset, tetapi juga memperhatikan aspek inklusivitas, perilaku peserta, serta kepercayaan terhadap sistem.
Laporan ini menegaskan bahwa sistem pensiun yang kuat tidak terbentuk secara kebetulan, melainkan melalui desain kebijakan yang tepat, inovasi berkelanjutan, serta kolaborasi antarpemangku kepentingan.
Di tengah perubahan tersebut, Manulife menegaskan perannya tidak hanya sebagai penyedia solusi pensiun, tetapi juga sebagai kontributor dalam pengembangan sistem pensiun yang lebih berkelanjutan.
Melalui pengalaman global, riset, serta kapabilitas di bidang asuransi, manajemen aset, dan solusi kekayaan, perusahaan berupaya membantu masyarakat menjembatani kesenjangan antara kontribusi selama masa kerja dan kebutuhan pendapatan saat pensiun.
Elvin Tharm, Head of Emerging Markets Asia Retirement, Manulife, berbagi pandangannya mengenai tantangan, peluang, serta prioritas strategis dalam membangun sistem pensiun yang lebih kuat kepada Bisnis. Berikut petikannya:
Laporan terbaru Manulife menunjukkan bahwa ekosistem pensiun di Asia tengah berada pada titik infleksi yang krusial. Dengan tingkat pendapatan di masa pensiun (retirement replacement rate) yang umumnya berada di bawah 50% dari pendapatan sebelum pensiun, jutaan orang berisiko menghadapi ketidakcukupan finansial di masa tua. Dalam konteks ini, bagaimana membangun ekosistem pensiun yang lebih tangguh ke depan?
Urgensi tersebut semakin nyata di pasar seperti Indonesia. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tingkat penggantian pendapatan pensiun di Indonesia baru berada di kisaran 10–15% dari pendapatan sebelum pensiun. Ini jauh di bawah ambang kecukupan sekitar 40% yang diacu secara internasional, termasuk oleh ILO. Kesenjangan ini mencerminkan adanya kesenjangan struktural yang signifikan antara kebutuhan finansial di masa pensiun dan kemampuan sistem saat ini dalam memenuhinya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pembangunan ekosistem pensiun yang tangguh memerlukan pergeseran mendasar: dari sekadar fokus pada “akumulasi” aset menuju “keberlanjutan pendapatan”. Seiring dengan masa pensiun yang kini dapat berlangsung 30 hingga 40 tahun, langkah ke depan perlu difokuskan pada tiga prioritas utama.
Pertama, desain yang dirancang untuk menghadapi umur panjang. Sistem pensiun perlu keluar dari pendekatan lama yang didesain untuk karier linear dan usia harapan hidup yang lebih pendek.
Ke depannya, diperlukan strategi investasi “through-retirement” yang tetap mempertahankan eksposur pada pertumbuhan aset, bahkan setelah memasuki masa pensiun, alih-alih sepenuhnya beralih ke portofolio konservatif.
Kedua, integrasi nasihat investasi sebagai infrastruktur inti. Ketahanan finansial tidak hanya ditentukan oleh besaran kontribusi peserta program pensiun, tetapi juga oleh kualitas pengambilan keputusan.
Akses terhadap panduan profesional - baik melalui platform digital, penasihat manusia, maupun kombinasi keduanya - menjadi kunci untuk menyederhanakan kompleksitas dan menerjemahkan desain sistem menjadi hasil yang lebih optimal bagi individu.
Hal ini juga mencakup penetapan tujuan keuangan yang tepat, seperti membedakan antara kebutuhan jangka pendek dan aspirasi jangka panjang, agar perencanaan pensiun tetap menjadi prioritas.
Ketiga, percepatan agenda reformasi pensiun. Sistem pensiun yang tangguh perlu dikembangkan secara struktural untuk membantu masyarakat menghadapi risiko umur panjang dan ketidakpastian ekonomi.
Di Indonesia, sejumlah perkembangan positif mulai terlihat. Regulator dan pembuat kebijakan terus mendorong reformasi untuk memperkuat tabungan sukarela, termasuk langkah menuju perluasan cakupan wajib dan harmonisasi sistem pensiun.
Dekade mendatang akan mendefinisikan ulang makna pensiun, baik bagi individu, keluarga, maupun perekonomian secara luas. Kita memiliki peluang sekaligus tanggung jawab untuk membangun sistem yang tidak hanya memberikan pendapatan, tetapi juga menghadirkan ketahanan, keadilan, dan rasa percaya diri bagi generasi mendatang.
Bagaimana kecenderungan memilih portofolio konservatif dapat menurunkan pendapatan bulanan di masa pensiun?
Temuan ini menyoroti adanya opportunity cost yang signifikan ketika pendekatan investasi terlalu berhati-hati dalam horizon jangka panjang. Analisis kami menunjukkan beberapa hal berikut.
Pertama, kesenjangan imbal hasil (growth gap). Dalam tiga dekade terakhir, indeks S&P 500 mencatatkan imbal hasil rata-rata sekitar 9% per tahun, dibandingkan dengan sekitar 4% untuk obligasi AS.
Ketika sistem pensiun secara default menempatkan peserta pada portofolio yang terlalu konservatif - terutama di tahap awal - efek bunga-berbunga dari imbal hasil yang lebih rendah dapat secara signifikan menggerus hasil akhir investasi.
Kedua, kondisi di Indonesia. Dalam 20 tahun terakhir, baik saham maupun obligasi di Indonesia mencatatkan imbal hasil rata-rata di atas 10% per tahun, jauh lebih tinggi dibandingkan deposito bank sekitar 4,5% dan instrumen pasar uang di kisaran 4–5%.
Namun demikian, dengan profil demografi di mana 59% tenaga kerja berada pada usia produktif (15–44 tahun), sekitar 57% aset pensiun justru ditempatkan pada instrumen pasar uang, sementara 39% berada di obligasi dan hanya sekitar 4% di saham.
Ketiga, kesenjangan pendapatan pensiun (income shortfall). Dengan kinerja pasar modal Indonesia sebagai ilustrasi, seorang peserta program pensiun dengan horizon investasi 30 tahun dan kontribusi rutin sebesar Rp1 juta per bulan, melalui portofolio dengan alokasi saham dan obligasi yang seimbang sesuai siklus usia (glidepath), berpotensi mengumpulkan dana sekitar Rp2,6 miliar.
Sebaliknya, jika sejak awal seluruh dana hanya ditempatkan pada instrumen pasar uang yang sangat konservatif, nilai yang terkumpul hanya sekitar Rp1 miliar. Perbandingan ini menunjukkan hilangnya potensi hasil yang signifikan, khususnya bagi generasi pekerja muda di Indonesia.
Keempat, mitigasi melalui diversifikasi. Untuk mengatasi hal ini, penting untuk menerapkan diversifikasi lintas kelas aset dan sektor. Penyebaran investasi dapat membantu meredam fluktuasi pasar sekaligus tetap memberikan peluang pertumbuhan, sehingga risiko dapat dikelola tanpa mengorbankan hasil jangka panjang.
Bagaimana cara memperluas partisipasi pekerja lepas dan perempuan - yang selama ini masih kurang terakomodasi - ke dalam skema tabungan pensiun formal?
Inklusi merupakan fondasi dari ketahanan ekonomi. Untuk mendorong kelompok ini masuk ke dalam sistem, diperlukan upaya sistematis dalam mengurangi hambatan struktural, memperluas akses, serta memberdayakan individu agar dapat mulai menabung lebih dini dan secara konsisten.
Skema kontribusi sukarela. Program tabungan sukarela tambahan dapat membantu menutup kesenjangan di berbagai bentuk pekerjaan, terutama bagi pekerja yang berpindah-pindah antar perusahaan, industri, maupun platform.
Sebagai contoh, Employees Provident Fund (EPF) di Malaysia menyediakan inisiatif kontribusi sukarela yang lebih terarah, seperti i-Saraan untuk pekerja gig dan i-Suri untuk ibu rumah tangga, yang menawarkan cara fleksibel untuk mulai berpartisipasi dan membangun tabungan pensiun secara bertahap.
Perluasan cakupan jaminan sosial nasional. Pembuat kebijakan dan regulator memiliki peran kunci dalam memperluas partisipasi dalam sistem jaminan sosial nasional.
Beberapa negara, termasuk Indonesia dan Filipina, mulai memperluas cakupan agar mencakup pekerja mandiri dan sektor informal, sehingga membantu individu dengan riwayat kerja yang tidak kontinu tetap dapat membangun tabungan pensiun secara berkelanjutan.
Peningkatan kesadaran dan literasi. Banyak individu yang belum sepenuhnya memahami keberadaan skema sukarela maupun insentif pajak pada program pensiun.
Oleh karena itu, pemerintah bersama pelaku industri perlu memperkuat upaya edukasi keuangan, meningkatkan sosialisasi, serta membangun kepercayaan diri masyarakat dalam merencanakan masa depan finansial jangka panjang.
Mengapa industri dana pensiun perlu beralih dari fokus pada “saldo simpanan pensiun” menuju solusi “pendapatan berkelanjutan” yang mampu menopang masa pensiun hingga 40 tahun?
Saldo akun yang besar sejatinya hanyalah sarana, bukan tujuan akhir. Di era ketika masa pensiun dapat berlangsung hingga empat dekade, terlalu berfokus pada “lump sum” justru dapat menyesatkan karena beberapa alasan utama.
Tantangan fase dekumulasi. Pertama, ujian sesungguhnya dari sebuah sistem pensiun adalah kemampuannya mengubah tabungan menjadi aliran pendapatan rutin - atau retirement income - yang mampu mengikuti inflasi serta bertahan di tengah volatilitas pasar.
Mengelola risiko setelah pensiun. Kedua, risiko seperti usia panjang, inflasi, dan biaya kesehatan tidak berhenti saat seseorang pensiun. Oleh karena itu, pendekatan berbasis pendapatan berkelanjutan mendorong industri untuk merancang solusi sejak awal yang juga memperhitungkan fase dekumulasi, bukan hanya akumulasi.
Mendefinisikan ulang hasil akhir (outcome). Ketiga, kepercayaan merupakan fondasi dari setiap sistem pensiun. Individu menempatkan tabungan seumur hidup mereka dengan harapan bahwa sistem yang ada transparan, adil, dan selaras dengan kesejahteraan jangka panjang mereka.
Mendorong penggunaan alat dan kalkulator yang menerjemahkan tabungan menjadi proyeksi pendapatan pensiun dapat membantu individu memahami posisi keuangan mereka secara lebih akurat, serta mengambil keputusan yang lebih tepat terkait penganggaran, tingkat kontribusi, dan waktu pensiun.
Sistem yang dibangun di atas transparansi yang lebih baik dan ukuran berbasis hasil (outcome-based) pada akhirnya akan memperkuat kepercayaan dan keyakinan di setiap tahap perjalanan pensiun.
Apa saja syarat utama dari sistem pensiun yang kuat?
Menurut laporan terbaru Manulife mengenai pensiun, sebuah sistem pensiun yang kuat memiliki lima karakteristik utama.
Pertama, kecukupan dan perlindungan terhadap usia panjang. Dirancang untuk menghasilkan pendapatan yang bertahan sepanjang masa pensiun, serta mampu menghadapi inflasi dan volatilitas pasar.
Kedua, akses dan inklusi. Menjangkau populasi seluas mungkin, termasuk mereka dengan pola kerja yang tidak linear atau terus berubah.
Ketiga, fleksibilitas yang disertai perlindungan. Menyeimbangkan kebebasan individu dalam mengambil keputusan dengan mekanisme perlindungan, seperti program default yang cerdas dan memberikan dorongan perilaku positif, untuk mencegah habisnya tabungan secara prematur.
Keempat, kepercayaan melalui nasihat. Memanfaatkan panduan berbasis digital, penasihat manusia, maupun kombinasi keduanya untuk menyederhanakan kompleksitas finansial menjadi langkah yang jelas dan dapat ditindaklanjuti.
Kelima, transparansi dan akuntabilitas. Membangun kepercayaan melalui tata kelola yang kuat serta pelaporan yang berfokus pada hasil nyata, terutama kesiapan pendapatan di masa pensiun.
Bisnis.com, MAKASSAR — Instrumen reksa dana kembali mendominasi dan menjadi primadona bagi para investor pasar modal di Sulawesi Selatan (Sulsel).
Tren positif ini tercermin dari lonjakan signifikan baik pada pertumbuhan tahunan maupun jumlah Single Investor Identification (SID) per Maret 2026.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah investor reksa dana di Sulsel telah menembus 617.794 SID hingga Maret 2026. Angka tersebut menjadi yang tertinggi jika dibandingkan dengan instrumen pasar modal lainnya seperti saham dan Surat Berharga Negara (SBN).
Dari sisi laju pertumbuhan, reksa dana mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 58,23% secara tahunan (year-on-year/yoy). Kinerja ini berhasil membalikkan keadaan setelah sepanjang tahun 2025 lalu posisi puncak pertumbuhan sempat direbut oleh instrumen saham.
Sebagai catatan, pada sepanjang 2025, pertumbuhan investor saham di Sulsel memimpin dengan capaian 40,46%. Angka tersebut melampaui reksa dana yang hanya tumbuh 30,48% dan SBN yang tumbuh sebesar 19,75%.
Namun, memasuki kuartal I/2026, pertumbuhan investor saham di Sulsel melandai di level 47,47% (yoy) dengan total kepemilikan 199.671 SID. Di sisi lain, instrumen SBN mencatatkan pertumbuhan 25,47% (yoy) dengan total akumulasi 22.628 SID.
Kepala OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Moch. Muchlasin, menjelaskan bahwa lompatan performa reksa dana ini menjadi indikator kuat bahwa produk tersebut masih menjadi pilihan utama masyarakat urban maupun daerah.
"Tingginya pertumbuhan tersebut mengindikasikan bahwa produk reksa dana masih menjadi instrumen investasi yang diminati masyarakat karena relatif mudah diakses, memiliki variasi pilihan produk, serta sesuai bagi investor pemula maupun ritel," ujar Muchlasin di Makassar, Rabu (3/6/2026).
Secara umum, OJK mencatat total investor pasar modal di Sulsel pada posisi Maret 2026 mencapai 525.596 SID, atau tumbuh agregat sebesar 57,63% (yoy).
Geliat pasar modal ini terus menunjukkan perkembangan positif. Kondisi tersebut didorong oleh penetrasi akses layanan investasi yang kian inklusif serta masifnya program literasi keuangan, yang pada akhirnya menebalkan kepercayaan masyarakat terhadap investasi jangka panjang.
BRI dan Syailendra Capital berkolaborasi menghadirkan investasi syariah di BRImo, menawarkan reksa dana Syailendra Sharia Money Market Fund dan Syailendra Sharia Fixed Income Fund [433] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI resmi menjalin kerja sama strategis dengan Syailendra Capital melalui penandatanganan kerja sama distribusi produk reksa dana dalam acara “Mutual Fund Distribution Signing Ceremony” yang digelar di Kantor Pusat BRI, Jakarta (20/5). Kolaborasi ini menjadi bagian dari langkah BRI dalam memperluas akses masyarakat terhadap investasi syariah.
Direktur Consumer Banking BRI, Aris Hartanto, menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan bagian dari strategi BRI dalam memperkuat layanan investasi bagi nasabah. Melalui kolaborasi tersebut, produk reksa dana Syailendra Capital kini dapat diakses melaluisuperappsBRImo maupun kantor cabang BRI di berbagai wilayah Indonesia, dengan memadukan kekuatan jaringan BRI dan pengalaman Syailendra Capital sebagai salah satu perusahaan manajer investasi dengan dana kelolaan terbesar di Indonesia.
“Bagi BRI, kerja sama ini memperkuat ekosistem layanan wealth management BRI sekaligus penyedia solusi keuangan terintegrasi yang relevan dengan kebutuhan nasabah yang terus berkembang. Melalui sinergi dengan Syailendra Capital, kami ingin menghadirkan akses investasi reksa dana yang semakin mudah dijangkau dan terpercaya, termasuk produk investasi berbasis syariah yang semakin diminati masyarakat,” ujar Aris.
Melalui kerja sama ini, masyarakat dapat mengakses dua produk unggulan Syailendra Capital, yaitu Syailendra Sharia Money Market Fund (SSMMF) dan Syailendra Sharia Fixed Income Fund (SSFIF). SSMMF merupakan reksa dana pasar uang syariah dengan komposisi investasi berupa instrumen pasar uang syariah dan obligasi syariah serta jangka waktu jatuh tempo di bawah satu tahun.
Dengan karakteristik risiko yang relatif rendah dan likuiditas tinggi, produk ini menjadi pilihan yang sesuai bagi investor pemula maupun nasabah yang membutuhkan instrumen penempatan dana jangka pendek dengan potensi imbal hasil yang kompetitif. Per 30 April 2026, SSMMF mencatatkan imbal hasil satu tahun sebesar 4,99% dengan minimum investasi mulai dari Rp50.000.
Sementara itu, SSFIF merupakan reksa dana pendapatan tetap syariah yang berfokus pada instrumen obligasi syariah, khususnya sukuk korporasi berperingkat layak investasi. Produk ini dikelola secara aktif dan selektif melalui strategi investasi pada sukuk korporasi dengan minimal rating A, sehingga risiko kredit relatif lebih terjaga. Selain itu, komposisi portofolionya didominasi oleh instrumen berdurasi relatif pendek, sehingga kinerjanya cenderung lebih stabil dan tidak terlalu sensitif terhadap perubahan suku bunga maupun inflasi.
Dengan karakteristik tersebut, SSFIF ditujukan bagi investor dengan profil risiko moderat yang menginginkan potensi pertumbuhan investasi jangka menengah hingga panjang dengan tetap mengedepankan prinsip syariah. Hingga 30 April 2026, SSFIF mencatatkan imbal hasil satu tahun sebesar 7,58% dengan minimum investasi mulai dari Rp10.000.
Kerja sama ini diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap investasi syariah sekaligus mendorong penetrasi produk investasi ke segmen ritel di berbagai daerah. Dukungan jaringan BRI yang luas diharapkan mampu menghadirkan alternatif investasi syariah yang lebih praktis dan terjangkau bagi masyarakat.
PT Bank KEB Hana Indonesia (Hana Bank) menghadirkan fitur investasi reksa dana melalui layanan digital LINE Bank by Hana Bank (LINE Bank). [448] url asal
JAKARTA, KOMPAS.com – Kemudahan berinvestasi semakin menjadi perhatian pelaku industri perbankan, seiring meningkatnya minat masyarakat, khususnya generasi muda, dalam mengelola keuangan secara digital.
Menjawab kebutuhan tersebut, PT Bank KEB Hana Indonesia (Hana Bank) menghadirkan fitur investasi reksa dana melalui layanan digital LINE Bank by Hana Bank (LINE Bank).
Melalui satu aplikasi, nasabah kini dapat melakukan pembelian, penambahan dana (top up), hingga penjualan reksa dana secara praktis.
SHUTTERSTOCK/KINGN Ilustrasi nilai tukar rupiah.
Fitur ini dirancang untuk memberikan kemudahan akses sekaligus membantu nasabah membangun kebiasaan investasi secara konsisten.
Chief Personal Banking Officer Hana Bank, Stefen Loekito, mengatakan bahwa tren peningkatan minat investasi terus terlihat, terutama di kalangan generasi muda yang semakin akrab dengan teknologi digital.
“Kami melihat kesadaran masyarakat untuk berinvestasi terus meningkat, terutama di segmen generasi muda yang semakin adaptif terhadap teknologi digital. Sejalan dengan tren tersebut, LINE Bank hadir dengan fitur investasi reksa dana untuk mendukung nasabah dalam mengelola, mengembangkan, dan mendiversifikasikan aset,” ujar Stefen dalam keterangan resmi, Kamis (7/5/2026).
Mulai investasi dengan nominal terjangkau
Fitur reksa dana di LINE Bank memungkinkan nasabah untuk mulai berinvestasi dengan nominal yang relatif rendah, yakni mulai dari Rp 100.000.
Nilai awal ini dinilai memberikan akses yang lebih luas bagi masyarakat yang baru memulai perjalanan investasinya.
SHUTTERSTOCK/A9 STUDIO Ilustrasi reksa dana, investasi reksa dana. Dividen reksa dana dapat dicairkan tunai atau diinvestasikan ulang jadi modal baru.
Selain itu, LINE Bank juga menyediakan fitur autodebet mingguan maupun bulanan. Skema ini memungkinkan nasabah untuk berinvestasi secara rutin tanpa harus melakukan transaksi manual setiap waktu.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Stefen menyebut bahwa masyarakat cenderung memilih instrumen investasi yang relatif lebih aman.
Reksa dana menjadi salah satu pilihan karena dikelola oleh manajer investasi profesional dan menawarkan diversifikasi aset.
Pilihan produk dan fitur digital
LINE Bank menawarkan empat jenis reksa dana, yaitu pasar uang, pendapatan tetap, campuran, dan saham. Seluruh produk tersebut tersedia dalam mata uang rupiah.
Secara keseluruhan, terdapat 39 produk reksa dana yang dikelola oleh tujuh manajer investasi yang bekerja sama dengan LINE Bank. Nasabah dapat memilih produk sesuai profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing.
Selain memilih secara mandiri, nasabah juga dapat memanfaatkan fitur Robo AIdvisor yang membantu memberikan rekomendasi produk investasi sesuai kebutuhan. Fitur ini melengkapi pengalaman digital dengan memberikan panduan berbasis teknologi.
Kehadiran fitur investasi ini juga memungkinkan nasabah memantau portofolio secara langsung melalui aplikasi, sehingga visibilitas terhadap perkembangan investasi dapat diakses dengan lebih mudah.
Untuk mulai berinvestasi, nasabah tidak hanya dapat mengakses fitur reksa dana melalui LINE Bank, tetapi juga melalui jaringan kantor cabang Hana Bank maupun aplikasi MyHana Mobile Banking.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Konsep SIP menggabungkan kekuatan compounding dan strategi dollar cost averaging, yakni investasi tetap secara berkala tanpa terpengaruh fluktuasi pasar. [506] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Strategi Systematic Investment Plan (SIP) atau investasi rutin dinilai cocok diterapkan dalam pasar modal, khususnya reksa dana, di tengah pertumbuhan investor yang telah mencapai 26 juta orang.
Momentum tersebut diperkuat melalui peluncuran Program Investasi Terencana dan Berkala (PINTAR) Reksa Dana oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (27/4/2026).
Program ini melibatkan pemerintah dan pelaku industri dalam mendorong masyarakat memahami investasi reksa dana sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang.
Sejumlah pejabat hadir dalam pencanangan tersebut, di antaranya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dan Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi.
Sejalan dengan itu, pelaku industri seperti Bibit.id menegaskan komitmennya dalam mengembangkan fitur SIP atau nabung rutin.
Direktur Bibit, Hilmawan Kusumajaya, menyebut investasi berkala menjadi pendekatan paling relevan bagi masyarakat karena tidak mensyaratkan modal besar, tetapi menekankan konsistensi dalam mencapai tujuan keuangan jangka panjang.
Hilmawan menjelaskan, konsep SIP menggabungkan kekuatan compounding dan strategi dollar cost averaging, yakni investasi dalam jumlah tetap secara berkala tanpa terpengaruh fluktuasi pasar. Dengan pendekatan ini, investor dapat membangun portofolio secara bertahap sekaligus mengurangi risiko akibat volatilitas.
“Metode ini mendorong disiplin karena investor menyisihkan dana secara rutin sesuai tujuan keuangan. Misalnya, untuk membeli rumah dalam 10 tahun, SIP membantu investasi dilakukan secara konsisten, fleksibel, dan terdiversifikasi,” ujarnya dalam siaran pers, Senin (27/4/2026).
Strategi the power of compounding adalah konsep di mana hasil investasi yang ditanamkan dapat ikut diinvestasikan kembali, sehingga menghasilkan keuntungan baru di atas keuntungan sebelumnya. Jadi, bukan hanya uang awal yang bertumbuh, tapi juga hasilnya ikut berkembang.
Adapun, Dollar Cost Averaging (DCA) adalah strategi investasi di mana investor menanamkan dana dalam jumlah yang sama secara rutin (misalnya tiap bulan) di suatu aset, tanpa melihat kapan harga pasar sedang murah atau mahal.
Menurut Hilmawan, kunci keberhasilan investasi tidak hanya terletak pada pemilihan instrumen, tetapi juga pada konsistensi dan komitmen jangka panjang.
SIP mengedepankan kebiasaan menabung investasi secara berkala serta menahan godaan untuk mencairkan dana sebelum target tercapai. Ia juga menekankan pentingnya diversifikasi dalam berinvestasi guna menekan risiko.
“SIP bukan soal investasi besar, melainkan disiplin. Ini strategi jangka panjang yang relatif aman dan terbukti efektif,” tambahnya.
Pengalaman India menjadi salah satu referensi keberhasilan penerapan strategi ini. Kampanye “Mutual Fund Sahi Hai” yang digagas Association of Mutual Funds in India sejak 2017 berhasil mendorong lonjakan signifikan pada industri reksa dana.
Chief Executive AMFI Venkat N. Chalasani mengungkapkan bahwa dalam periode Februari 2017 hingga Maret 2019, rata-rata dana kelolaan (AAUM) tumbuh 33%, bahkan meningkat hingga 600% sejak kampanye tersebut dimulai.
Keberhasilan tersebut dinilai tidak lepas dari dukungan teknologi finansial yang mempermudah akses masyarakat terhadap produk investasi, termasuk penerapan SIP secara digital. Model serupa dinilai memiliki potensi besar untuk direplikasi di Indonesia.
Hilmawan optimistis, dengan jumlah investor pasar modal yang kini telah melampaui 26 juta, strategi investasi rutin dapat menjadi pendorong utama pertumbuhan berikutnya.
Melalui sinergi regulator, industri, dan platform digital, SIP diharapkan mampu memperdalam pasar keuangan sekaligus membangun basis investor yang lebih kuat dan berorientasi jangka panjang.
JAKARTA, KOMPAS.com - PT Sucor Asset Management (Sucor AM) menggandeng PT Bank KEB Hana Indonesia (Hana Bank) sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) untuk memperluas akses solusi investasi reksa dana bagi nasabah.
Kerja sama itu diresmikan melalui penandatanganan kerja sama di Kantor Hana Bank, Mangkuluhur City Tower I oleh Direktur Sales & Distribution Sucor AM Upik Susiyawati dan Chief Personal Banking Officer Hana Bank Stefen Loekito.
Melalui kolaborasi ini, nasabah Hana Bank dapat mengakses empat produk reksa dana yang dikelola Sucor AM, yakni Sucorinvest Money Market Fund, Sucorinvest Bond Fund, Sucorinvest Premium Fund, dan Sucorinvest Equity Fund.
SHUTTERSTOCK/KINGN Ilustrasi nilai tukar rupiah.
Menurut Upik, kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses masyarakat terhadap instrumen investasi yang dikelola secara profesional.
“Kerja sama ini merupakan bagian dari komitmen kami untuk terus menghadirkan solusi investasi yang relevan dan mudah diakses oleh masyarakat. Melalui jaringan dan basis nasabah Hana Bank, kami berharap semakin banyak investor yang dapat mengakses produk reksa dana yang dikelola secara profesional,” ujar Upik dalam keterangan tertulis, Senin (27/4/2026).
Empat produk yang didistribusikan itu mencakup pilihan instrumen mulai dari pasar uang, obligasi, hingga saham, yang dapat disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan investasi nasabah.
“Melalui produk-produk yang dipasarkan Hana Bank, investor memiliki fleksibilitas untuk memilih instrumen investasi mulai dari pasar uang, obligasi, hingga saham sesuai dengan tujuan investasinya,” lanjut Upik.
Pilihan produk sesuai profil risiko
Sucor AM menilai kolaborasi dengan Hana Bank diharapkan memberi nilai tambah bagi nasabah dalam merencanakan investasi jangka pendek maupun jangka panjang.
SHUTTERSTOCK/A9 STUDIO Ilustrasi reksa dana, investasi reksa dana. Dividen reksa dana dapat dicairkan tunai atau diinvestasikan ulang jadi modal baru.
“Kami berharap kerja sama ini tidak hanya memperluas akses investasi, tetapi juga mendorong semakin banyak masyarakat untuk mulai berinvestasi secara terencana melalui instrumen reksa dana,” kata Upik.
Sementara itu, Stefen mengatakan kerja sama ini menjadi bagian dari upaya Hana Bank menghadirkan pilihan produk investasi yang lebih beragam bagi nasabah.
Menurut dia, ketersediaan berbagai instrumen investasi memungkinkan nasabah menyesuaikan pilihan dengan tujuan keuangan serta profil risikonya.
“Melalui kolaborasi ini, kami berharap dapat membantu nasabah membuat perencanaan keuangan. Di tengah kondisi pasar yang dinamis, reksa dana dapat menjadi pilihan investasi karena memiliki portofolio yang terdiversifikasi dan dikelola oleh Manajer Investasi yang berlisensi/bersertifikasi,” jelas Stefen.
Nasabah dapat mengakses produk reksa dana tersebut melalui jaringan kantor Hana Bank maupun aplikasi MyHana Mobile Banking.
Di aplikasi tersebut, tersedia fitur Hana AIdvisor yang disebut dapat membantu memberikan gambaran portofolio investasi kepada nasabah.
Dorong kolaborasi di industri pasar modal
Sucor AM menyatakan kerja sama ini juga menjadi bagian dari komitmen perseroan memperkuat kolaborasi distribusi produk investasi melalui mitra perbankan.
Ke depan, perusahaan menyebut akan terus memperkuat kolaborasi untuk menghadirkan produk dan layanan investasi yang inovatif guna mendukung pertumbuhan industri pasar modal Indonesia.
Adapun Hana Bank merupakan bank campuran dengan investor mayoritas asal Korea Selatan yang beroperasi di Indonesia sejak 2008.
Bank ini memiliki layanan digital antara lain MyHana Mobile Banking, MyHana Internet Banking, Corporate Banking System, dan LINE Bank by Hana Bank, serta jaringan kantor dan ATM yang tersebar di Sumatera, Jawa, Bali, dan Sulawesi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Reksa dana saham dan campuran memimpin penguatan di awal April 2026, didorong rebound IHSG. Pinnacle Dana Prima dan Danapathi Balance Fund catat return tertinggi. [456] url asal
Bisnis.com, JAKARTA – PT Infovesta Utama melaporkan kinerja reksa dana pada periode awal April 2026 menunjukkan pemulihan yang solid setelah sebelumnya sempat tertekan oleh sentimen pasar.
Berdasarkan data Infovesta Utama periode 2 April 2026 –10 April 2026, mayoritas jenis reksa dana mencatatkan kinerja positif, dengan reksa dana saham menjadi pendorong utama penguatan.
Reksa dana saham mencatat kenaikan tertinggi sebesar 2,59% dalam sepekan mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap instrumen berisiko seiring membaiknya sentimen pasar. Di posisi berikutnya, reksa dana campuran turut menguat sebesar 1,59%, didukung kombinasi kinerja saham dan obligasi yang lebih stabil.
Sementara itu, reksa dana pendapatan tetap mencatat pertumbuhan moderat sebesar 0,50%, menunjukkan kinerja yang tetap terjaga di tengah dinamika pasar obligasi.
Adapun reksa dana pasar uang relatif stabil dengan kenaikan tipis 0,09%, mencerminkan karakter defensif instrumen ini di tengah ketidakpastian.
“Pergerakan ini sejalan dengan lonjakan dengan lonjakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang mengindikasikan mulai masuknya kembali aliran dana asing ke pasar domestik,” tulis hasil riset Infovesta tersebut dikutip, Selasa (14/4/2026).
Arus modal tersebut turut mendorong optimisme investor dalam jangka pendek. Namun demikian, risiko global masih membayangi.
Lonjakan harga minyak dunia berpotensi menekan kondisi fiskal serta memicu kenaikan inflasi energi. Situasi ini membuat pelaku pasar tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
Dengan kondisi tersebut, investor cenderung bersikap selektif. Momentum penguatan dimanfaatkan pada reksa dana saham dan campuran, namun tetap diimbangi dengan strategi defensif melalui penempatan dana pada instrumen yang lebih stabil seperti obligasi pemerintah dan reksa dana pasar uang.
Berikut Kinerja Reksa Dana dengan Return Tertinggi secara year to date per 10 April 2026:
Reksa Dana Saham:
Pinnacle Dana Prima dengan return sebesar 7,08%
Cipta Saham Unggulan Syariah dengan return sebesar 6,85%
Cipta Saham Unggulan dengan return 3,35%
Reksa Dana Treassure Saham Mantap return sebesar 1,54%
Valbury Prime Dynamic Equity return sebesar 1,07%
Reksa Dana Pendapatan Tetap
Insight Elite Fund sebesar 1,93%
MNC Dana Likuid sebesar 1,89%
MNC Dana Syariah sebesar 1,85%
Semesta Dana Obligasi sebesar 1,69%
Capital Sharia Fixed Income sebesar 1,59%
Reksa Dana Campuran
Danapathi Balance Fund return sebesar 9,73%
Star Balanced dengan return 5,62%
Lif Balanced Optima dengan return4,38%
Pinnacle Winner Balanced Fund 4,09%
Syailendra Balanced Opportunity Fund kelas A return 3,58%
Reksa Dana Pasar uang
Juara Money Market Fund dengan return sebesar 1,51%
BMI Indo Pasar Uang dengan return sebesar 1,50%
Lif Money Market dengan return sebesar 1,50%
MNC Dana Syariah Barokah dengan return sebesar 1,48%
Insight Money Syariah dengan return sebesar 1,46%
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
OJK mengingatkan investor muda untuk waspada terhadap investasi ilegal di tengah lonjakan partisipasi. Edukasi dan pemahaman risiko investasi sangat penting. [506] url asal
Bisnis.com, JAKARTA— Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan pelaku pasar untuk mewaspadai maraknya investasi ilegal di tengah pesatnya pertumbuhan jumlah investor domestik, yang didominasi oleh kalangan muda.
Jumlah investor saham, obligasi, reksa dana telah mencapai 24,52 juta single investor identification (SID) per Maret 2026. Sebanyak 54% investor pasar modal tercatat berasal dari kelompok usia di bawah 30 tahun.
Di investasi kripto, jumlah investor juga terus bertumbuh. Hingga akhir 2025, OJK mencatat sebanyak 20,19 juta investor, yang mayoritas berasal dari kelompok usia muda.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan lonjakan partisipasi investor, khususnya dari kalangan muda, perlu diimbangi dengan kewaspadaan terhadap penawaran investasi tidak berizin.
“Minat tinggi berinvestasi harus diiringi pemahaman agar tidak terjebak investasi ilegal,” ujarnya dalam kegiatan Sosialisasi dan Edukasi Pasar Modal Terpadu 2026 di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Kamis (9/4/2026).
Penguatan kewaspadaan ini menjadi penting mengingat maraknya aktivitas keuangan ilegal. Berdasarkan data Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI), sejak Januari hingga Maret 2026 telah dihentikan 953 entitas keuangan ilegal, yang didominasi pinjaman online ilegal.
Secara kumulatif, sejak 2017 hingga Maret 2026, jumlah entitas ilegal yang telah ditindak bahkan mencapai sekitar 14.959 entitas, mencerminkan masih tingginya potensi penipuan di sektor keuangan digital.
Hasan menegaskan masyarakat tidak boleh tergiur iming-iming keuntungan tinggi dalam waktu singkat tanpa memahami risiko. Dia menyoroti fenomena fear of missing out (FOMO) dan you only live once (YOLO) yang kerap dimanfaatkan pelaku investasi bodong.
“Jangan langsung masuk hanya karena iming-iming return besar,” katanya.
Hasan mengatakan, OJK mengingatkan masyarakat untuk menerapkan prinsip “2L”, yakni memastikan investasi legal—terdaftar dan diawasi otoritas—serta logis dari sisi imbal hasil.
Selain itu, investor juga diminta memahami profil risiko dan tujuan investasi. Kebutuhan jangka pendek, seperti membeli motor dalam 1 tahun, memerlukan strategi berbeda dibandingkan tujuan jangka panjang seperti pernikahan dalam 10 tahun ke depan.
Hasan juga menyoroti risiko lain seperti fluktuasi harga yang tajam serta potensi penyalahgunaan rekening untuk aktivitas ilegal, termasuk pencucian uang.
“Berinvestasilah sesuai kemampuan, jangan menggunakan utang. Kalau dipaksakan, saat harga turun bisa terpaksa jual rugi,” ujarnya.
Melalui edukasi ini, OJK berharap pertumbuhan investor yang pesat dapat diimbangi dengan literasi keuangan yang memadai, sehingga masyarakat tidak mudah terjebak dalam berbagai modus investasi ilegal.
Hasan menyoroti praktik spekulatif seperti membeli aset hanya karena rekomendasi pihak lain, termasuk tren “kripto micin”, sebagai perilaku yang berbahaya bagi investor ritel.
“Jangan ikut-ikutan. Jangan karena teman bilang bagus, langsung beli,” katanya.
Koin micin adalah istilah populer di komunitas kripto Indonesia untuk menggambarkan aset kripto dengan kapitalisasi pasar kecil, likuiditas rendah, dan sering kali volatilitas yang sangat tinggi.
Nama “micin” digunakan karena koin ini dianggap “ringan” atau murah, mirip seperti bumbu penyedap makanan. Namun, bukan berarti koin ini tidak memiliki potensi. Banyak koin micin yang mampu memberikan keuntungan besar dalam waktu singkat jika dipilih dengan strategi yang tepat.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Dana kelolaan reksa dana diprediksi mencapai Rp679,24 triliun pada 2025, naik 35,06% dari 2024. Pertumbuhan didorong oleh investor muda dan stabilitas pasar. [415] url asal
Bisnis.com, SURABAYA — Dana kelolaan (Asset Under Management/AUM)reksa dana melonjak 35,06% menjadi Rp679,24 triliun pada 2025 dibandingkan posisi akhir 2024 yang sebesar Rp502,92 triliun.
Ketua Presidium Dewan Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) Lolita Liliana mengatakan secara keseluruhan, total dana kelolaan investasi nasional juga naik 25,19% menjadi Rp1.007,65 triliun pada 2025.
"Pertumbuhan ini merupakan yang tertinggi dalam 5 tahun terakhir setelah sempat mengalami stagnasi," kata Lolita Liliana dalam Road to Pekan Reksa Dana 2026 di Surabaya, Selasa (7/4/2026).
Menurutnya, pertumbuhan AUM tertinggi pada 2025 dicatatkan oleh jenis reksa dana pendapatan tetap, disusul reksa dana pasar uang terproteksi, dan reksa dana saham.
"Kinerja reksa dana saham mencapai 17,23%, sejalan dengan pertumbuhan IHSG sebesar 22,13% pada 2025," ujarnya.
Dia menjelaskan, pertumbuhan dana kelolaan juga dibarengi dengan ekspansi jumlah investor. Hingga akhir 2025, jumlah Single Investor Identification (SID) reksa dana mencapai 19,2 juta, tumbuh 3,23% secara tahunan.
"Menariknya, demografi investor didominasi oleh generasi muda di bawah usia 30 tahun yang mencakup 54,24% dari total investor," katanya.
Meski industri reksa dana mencatatkan rekor AUM Rp679,24 triliun pada akhir 2025, Lolita menegaskan adanya tantangan dari sisi makroekonomi, terutama fluktuasi suku bunga dan ketegangan geopolitik global.
Namun, sinergi melalui task force bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejak tahun lalu mulai membuahkan hasil dengan identifikasi hambatan regulasi, seperti aturan investasi pada produk unit link.
"Kondisi pasar saat ini dinilai mulai stabil seiring tren penurunan suku bunga yang membuat reksa dana kembali menarik. Fenomena ini juga didorong oleh masuknya investor muda yang cenderung memiliki profil risiko konservatif-moderat, sehingga memicu pertumbuhan signifikan pada jenis reksa dana pendapatan tetap dan pasar uang," jelasnya.
Di tingkat regional, Kepala Kantor OJK Provinsi Jawa Timur Yunita Linda Sari menyebutkan transaksi reksa dana di wilayahnya tumbuh pesat sebesar 54,60% (YoY) dengan total nilai Rp4,96 triliun selama 2025. Jumlah investor ritel di Jawa Timur juga meningkat 13,52% menjadi 141.861 SID.
Guna menjaga momentum pertumbuhan, APRDI bersama OJK dan Self Regulatory Organization (SRO) meluncurkan program Sosialisasi dan Edukasi Reksa Dana 2026 (SOSEDU APRDI 2026).
Rangkaian kegiatan dimulai dengan roadshow di 5 kota besar yakni Surabaya, Semarang, Medan, Makassar, dan Bandung.
Puncak acara akan dilaksanakan pada 27 April 2026 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, dengan peluncuran kampanye #ReksaDanaAja dan program PINTAR (Program Investasi Terencana dan Berkala) Reksa Dana.
"Melalui pendekatan edukasi kreatif, kami ingin mendorong partisipasi masyarakat secara aktif untuk menyadari pentingnya investasi terencana melalui reksa dana," tambah Lolita.
Bank Indonesia menahan BI Rate di 4,75%, mendukung reksa dana pendapatan tetap. Potensi penurunan suku bunga bisa jadi katalis positif bagi pasar obligasi. [400] url asal
Bisnis.com, JAKARTA – Keputusan Bank Indonesia menahan suku bunga acuan atau BI Rate di 4,75% menjadi penopang sentimen pasar sekaligus menjaga prospek pertumbuhan reksa dana pendapatan tetap solid pada 2026.
Direktur dan Chief Investment Officer Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia Ezra Nazula menilai permintaan pasar terhadap reksa dana pendapatan tetap masih tetap kuat. Menurutnya dengan kondisi turunnya suku bunga deposito perbankan berpotensi mendorong minat investor terhadap reksa dana pendapatan tetap untuk mencari potensi yield lebih menarik.
Meski saat ini suku bunga masih bertahan di level 4,75%, peluang pelonggaran ke-depan masih terbuka.
“Kami melihat masih ada ruang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga tahun ini, menjadi potensi katalis lanjutan bagi pasar obligasi dan reksa dana pendapatan tetap,” ujarnya, Jumat (20/2/2026).
Ezra menyebut, dengan mengacu pada data Januari 2026, kinerja dan dana kelolaan Reksa Dana Pendapatan Tetap Manulife terpantau tetap terjaga. Secara historis, kinerjanya memang fluktuatif dalam jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang mampu mengungguli tolok ukur masing-masing.
Sejauh ini dia juga memandang sentimen penurunan outlook oleh lembaga pemeringkat internasional seperti Moody’s lebih sebagai pelemahan sentimen sementara, bukan sinyal krisis fundamental. Manajer investasi menilai pasar obligasi domestik masih resilien dan tidak menunjukkan gejala panic selling.
“Penurunan outlook Moody’s ini lebih berarah ke pelemahan sentimen yang biasanya hanya bersifat temporer selama tindakan korektif dijalankan dalam waktu yang dekat,” terangnya.
Dia melanjutkan kekuatan utama pasar SBN Indonesia saat ini terletak pada dominasi investor domestik. Sekitar 86% kepemilikan SBN berada di tangan investor dalam negeri, sehingga volatilitas akibat sentimen eksternal relatif lebih terkendali.
Pengalaman pada 2020 sebelumnya juga menjadi referensi. Saat itu, Indonesia sempat mengalami penurunan outlook dari S&P Global Ratings dari stable menjadi negatif. Namun rating tetap bertahan di level BBB, bahkan outlook kembali direvisi menjadi stable pada 2022.
Meski prospek jangka panjang dinilai positif, manajer investasi mengakui pasar masih tentatif dalam jangka pendek sambil menanti respons kebijakan pemerintah.
Sejauh ini, Manulife menyesuaikan strategi portofolio defensif dengan mengurangi alokasi pada obligasi tenor panjang dan menaikkan porsi cash di portofolio sampai imbal hasil mencapai level equilibrium baru yang dapat menjadi level masuk yang menarik.
Mengacu pada data Otoritas Jasa Keuangan atau OJK, dana kelolaan industri reksa dana mencapai Rp706,37 miliar per Januari 2026 atau tumbuh 3,99% dibandingkan dengan bulan sebelumnya yak mencapai Rp679,24 miliar. Dana kelolaan terbesar pada Januari 2026 masih dicatatkan oleh reksa dana pendapatan tetap senilai Rp706,37 miliar.