#30 tag 24jam
Usia Pensiun Meningkat, Manulife Rekomendasi Atur Ulang Strategi Investasi
Masa pensiun dapat berlangsung selama 30 hingga 40 tahun sehingga membutuhkan perencanaan yang lebih matang untuk menjamin ketahanan finansial jangka panjang. [1,628] url asal
#dana-pensiun #manulife #investasi-rutin #reksa-dana #sip #investasi-berkala #dollar-cost-averaging #the-power-of-compounding #investasi-jangka-panjang #diversifikasi-investasi #investasi-reksa-dana
(Bisnis.Com - Finansial) 10/06/26 05:59
v/245415/
Bisnis.com, JAKARTA — Konsep pensiun di berbagai negara tengah mengalami perubahan mendasar seiring dengan meningkatnya harapan hidup, perubahan pola karier, dan ketidakpastian ekonomi yang semakin tinggi. Kondisi ini mendorong perlunya transformasi sistem pensiun agar mampu menjawab tantangan masa depan.
Dalam laporan terbaru bertajuk Securing Retirement: What Builds a Strong Pension System, Manulife menilai bahwa pensiun kini bukan lagi fase singkat setelah masa kerja berakhir. Sebaliknya, masa pensiun dapat berlangsung selama 30 hingga 40 tahun sehingga membutuhkan perencanaan yang lebih matang untuk menjamin keberlanjutan pendapatan dan ketahanan finansial jangka panjang.
Manulife mengungkapkan bahwa banyak sistem pensiun yang saat ini berlaku, baik di negara maju maupun berkembang, masih dibangun berdasarkan asumsi lama, yakni pekerjaan yang stabil, jalur karier yang dapat diprediksi, serta usia harapan hidup yang lebih pendek.
Akibatnya, sejumlah tantangan masih membayangi sistem pensiun global. Tingkat penggantian pendapatan saat pensiun (retirement replacement rate) dinilai masih rendah, sementara kesenjangan partisipasi program pensiun masih terjadi, terutama pada kelompok pekerja informal.
Selain itu, individu kini semakin dituntut mengambil keputusan finansial yang kompleks dengan panduan yang terbatas. Di sejumlah negara Asia, termasuk Indonesia, kesenjangan pendapatan pada masa pensiun juga masih menjadi persoalan yang memerlukan perhatian serius.
Dalam laporannya, Manulife mengidentifikasi lima elemen utama yang menjadi fondasi sistem pensiun yang tangguh, yaitu kecukupan (adequacy), akses (access), fleksibilitas (flexibility), nasihat (advice), dan akuntabilitas (accountability).
Kelima elemen tersebut dinilai mencerminkan pendekatan yang lebih progresif dalam membangun sistem pensiun, tidak hanya berfokus pada akumulasi aset, tetapi juga memperhatikan aspek inklusivitas, perilaku peserta, serta kepercayaan terhadap sistem.
Laporan ini menegaskan bahwa sistem pensiun yang kuat tidak terbentuk secara kebetulan, melainkan melalui desain kebijakan yang tepat, inovasi berkelanjutan, serta kolaborasi antarpemangku kepentingan.
Di tengah perubahan tersebut, Manulife menegaskan perannya tidak hanya sebagai penyedia solusi pensiun, tetapi juga sebagai kontributor dalam pengembangan sistem pensiun yang lebih berkelanjutan.
Melalui pengalaman global, riset, serta kapabilitas di bidang asuransi, manajemen aset, dan solusi kekayaan, perusahaan berupaya membantu masyarakat menjembatani kesenjangan antara kontribusi selama masa kerja dan kebutuhan pendapatan saat pensiun.
Elvin Tharm, Head of Emerging Markets Asia Retirement, Manulife, berbagi pandangannya mengenai tantangan, peluang, serta prioritas strategis dalam membangun sistem pensiun yang lebih kuat kepada Bisnis. Berikut petikannya:
Laporan terbaru Manulife menunjukkan bahwa ekosistem pensiun di Asia tengah berada pada titik infleksi yang krusial. Dengan tingkat pendapatan di masa pensiun (retirement replacement rate) yang umumnya berada di bawah 50% dari pendapatan sebelum pensiun, jutaan orang berisiko menghadapi ketidakcukupan finansial di masa tua. Dalam konteks ini, bagaimana membangun ekosistem pensiun yang lebih tangguh ke depan?
Urgensi tersebut semakin nyata di pasar seperti Indonesia. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tingkat penggantian pendapatan pensiun di Indonesia baru berada di kisaran 10–15% dari pendapatan sebelum pensiun. Ini jauh di bawah ambang kecukupan sekitar 40% yang diacu secara internasional, termasuk oleh ILO. Kesenjangan ini mencerminkan adanya kesenjangan struktural yang signifikan antara kebutuhan finansial di masa pensiun dan kemampuan sistem saat ini dalam memenuhinya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pembangunan ekosistem pensiun yang tangguh memerlukan pergeseran mendasar: dari sekadar fokus pada “akumulasi” aset menuju “keberlanjutan pendapatan”. Seiring dengan masa pensiun yang kini dapat berlangsung 30 hingga 40 tahun, langkah ke depan perlu difokuskan pada tiga prioritas utama.
Pertama, desain yang dirancang untuk menghadapi umur panjang. Sistem pensiun perlu keluar dari pendekatan lama yang didesain untuk karier linear dan usia harapan hidup yang lebih pendek.
Ke depannya, diperlukan strategi investasi “through-retirement” yang tetap mempertahankan eksposur pada pertumbuhan aset, bahkan setelah memasuki masa pensiun, alih-alih sepenuhnya beralih ke portofolio konservatif.
Kedua, integrasi nasihat investasi sebagai infrastruktur inti. Ketahanan finansial tidak hanya ditentukan oleh besaran kontribusi peserta program pensiun, tetapi juga oleh kualitas pengambilan keputusan.
Akses terhadap panduan profesional - baik melalui platform digital, penasihat manusia, maupun kombinasi keduanya - menjadi kunci untuk menyederhanakan kompleksitas dan menerjemahkan desain sistem menjadi hasil yang lebih optimal bagi individu.
Hal ini juga mencakup penetapan tujuan keuangan yang tepat, seperti membedakan antara kebutuhan jangka pendek dan aspirasi jangka panjang, agar perencanaan pensiun tetap menjadi prioritas.
Ketiga, percepatan agenda reformasi pensiun. Sistem pensiun yang tangguh perlu dikembangkan secara struktural untuk membantu masyarakat menghadapi risiko umur panjang dan ketidakpastian ekonomi.
Di Indonesia, sejumlah perkembangan positif mulai terlihat. Regulator dan pembuat kebijakan terus mendorong reformasi untuk memperkuat tabungan sukarela, termasuk langkah menuju perluasan cakupan wajib dan harmonisasi sistem pensiun.
Dekade mendatang akan mendefinisikan ulang makna pensiun, baik bagi individu, keluarga, maupun perekonomian secara luas. Kita memiliki peluang sekaligus tanggung jawab untuk membangun sistem yang tidak hanya memberikan pendapatan, tetapi juga menghadirkan ketahanan, keadilan, dan rasa percaya diri bagi generasi mendatang.

Bagaimana kecenderungan memilih portofolio konservatif dapat menurunkan pendapatan bulanan di masa pensiun?
Temuan ini menyoroti adanya opportunity cost yang signifikan ketika pendekatan investasi terlalu berhati-hati dalam horizon jangka panjang. Analisis kami menunjukkan beberapa hal berikut.
Pertama, kesenjangan imbal hasil (growth gap). Dalam tiga dekade terakhir, indeks S&P 500 mencatatkan imbal hasil rata-rata sekitar 9% per tahun, dibandingkan dengan sekitar 4% untuk obligasi AS.
Ketika sistem pensiun secara default menempatkan peserta pada portofolio yang terlalu konservatif - terutama di tahap awal - efek bunga-berbunga dari imbal hasil yang lebih rendah dapat secara signifikan menggerus hasil akhir investasi.
Kedua, kondisi di Indonesia. Dalam 20 tahun terakhir, baik saham maupun obligasi di Indonesia mencatatkan imbal hasil rata-rata di atas 10% per tahun, jauh lebih tinggi dibandingkan deposito bank sekitar 4,5% dan instrumen pasar uang di kisaran 4–5%.
Namun demikian, dengan profil demografi di mana 59% tenaga kerja berada pada usia produktif (15–44 tahun), sekitar 57% aset pensiun justru ditempatkan pada instrumen pasar uang, sementara 39% berada di obligasi dan hanya sekitar 4% di saham.
Ketiga, kesenjangan pendapatan pensiun (income shortfall). Dengan kinerja pasar modal Indonesia sebagai ilustrasi, seorang peserta program pensiun dengan horizon investasi 30 tahun dan kontribusi rutin sebesar Rp1 juta per bulan, melalui portofolio dengan alokasi saham dan obligasi yang seimbang sesuai siklus usia (glidepath), berpotensi mengumpulkan dana sekitar Rp2,6 miliar.
Sebaliknya, jika sejak awal seluruh dana hanya ditempatkan pada instrumen pasar uang yang sangat konservatif, nilai yang terkumpul hanya sekitar Rp1 miliar. Perbandingan ini menunjukkan hilangnya potensi hasil yang signifikan, khususnya bagi generasi pekerja muda di Indonesia.
Keempat, mitigasi melalui diversifikasi. Untuk mengatasi hal ini, penting untuk menerapkan diversifikasi lintas kelas aset dan sektor. Penyebaran investasi dapat membantu meredam fluktuasi pasar sekaligus tetap memberikan peluang pertumbuhan, sehingga risiko dapat dikelola tanpa mengorbankan hasil jangka panjang.
Bagaimana cara memperluas partisipasi pekerja lepas dan perempuan - yang selama ini masih kurang terakomodasi - ke dalam skema tabungan pensiun formal?
Inklusi merupakan fondasi dari ketahanan ekonomi. Untuk mendorong kelompok ini masuk ke dalam sistem, diperlukan upaya sistematis dalam mengurangi hambatan struktural, memperluas akses, serta memberdayakan individu agar dapat mulai menabung lebih dini dan secara konsisten.
Skema kontribusi sukarela. Program tabungan sukarela tambahan dapat membantu menutup kesenjangan di berbagai bentuk pekerjaan, terutama bagi pekerja yang berpindah-pindah antar perusahaan, industri, maupun platform.
Sebagai contoh, Employees Provident Fund (EPF) di Malaysia menyediakan inisiatif kontribusi sukarela yang lebih terarah, seperti i-Saraan untuk pekerja gig dan i-Suri untuk ibu rumah tangga, yang menawarkan cara fleksibel untuk mulai berpartisipasi dan membangun tabungan pensiun secara bertahap.
Perluasan cakupan jaminan sosial nasional. Pembuat kebijakan dan regulator memiliki peran kunci dalam memperluas partisipasi dalam sistem jaminan sosial nasional.
Beberapa negara, termasuk Indonesia dan Filipina, mulai memperluas cakupan agar mencakup pekerja mandiri dan sektor informal, sehingga membantu individu dengan riwayat kerja yang tidak kontinu tetap dapat membangun tabungan pensiun secara berkelanjutan.
Peningkatan kesadaran dan literasi. Banyak individu yang belum sepenuhnya memahami keberadaan skema sukarela maupun insentif pajak pada program pensiun.
Oleh karena itu, pemerintah bersama pelaku industri perlu memperkuat upaya edukasi keuangan, meningkatkan sosialisasi, serta membangun kepercayaan diri masyarakat dalam merencanakan masa depan finansial jangka panjang.

Mengapa industri dana pensiun perlu beralih dari fokus pada “saldo simpanan pensiun” menuju solusi “pendapatan berkelanjutan” yang mampu menopang masa pensiun hingga 40 tahun?
Saldo akun yang besar sejatinya hanyalah sarana, bukan tujuan akhir. Di era ketika masa pensiun dapat berlangsung hingga empat dekade, terlalu berfokus pada “lump sum” justru dapat menyesatkan karena beberapa alasan utama.
Tantangan fase dekumulasi. Pertama, ujian sesungguhnya dari sebuah sistem pensiun adalah kemampuannya mengubah tabungan menjadi aliran pendapatan rutin - atau retirement income - yang mampu mengikuti inflasi serta bertahan di tengah volatilitas pasar.
Mengelola risiko setelah pensiun. Kedua, risiko seperti usia panjang, inflasi, dan biaya kesehatan tidak berhenti saat seseorang pensiun. Oleh karena itu, pendekatan berbasis pendapatan berkelanjutan mendorong industri untuk merancang solusi sejak awal yang juga memperhitungkan fase dekumulasi, bukan hanya akumulasi.
Mendefinisikan ulang hasil akhir (outcome). Ketiga, kepercayaan merupakan fondasi dari setiap sistem pensiun. Individu menempatkan tabungan seumur hidup mereka dengan harapan bahwa sistem yang ada transparan, adil, dan selaras dengan kesejahteraan jangka panjang mereka.
Mendorong penggunaan alat dan kalkulator yang menerjemahkan tabungan menjadi proyeksi pendapatan pensiun dapat membantu individu memahami posisi keuangan mereka secara lebih akurat, serta mengambil keputusan yang lebih tepat terkait penganggaran, tingkat kontribusi, dan waktu pensiun.
Sistem yang dibangun di atas transparansi yang lebih baik dan ukuran berbasis hasil (outcome-based) pada akhirnya akan memperkuat kepercayaan dan keyakinan di setiap tahap perjalanan pensiun.
Apa saja syarat utama dari sistem pensiun yang kuat?
Menurut laporan terbaru Manulife mengenai pensiun, sebuah sistem pensiun yang kuat memiliki lima karakteristik utama.
Pertama, kecukupan dan perlindungan terhadap usia panjang. Dirancang untuk menghasilkan pendapatan yang bertahan sepanjang masa pensiun, serta mampu menghadapi inflasi dan volatilitas pasar.
Kedua, akses dan inklusi. Menjangkau populasi seluas mungkin, termasuk mereka dengan pola kerja yang tidak linear atau terus berubah.
Ketiga, fleksibilitas yang disertai perlindungan. Menyeimbangkan kebebasan individu dalam mengambil keputusan dengan mekanisme perlindungan, seperti program default yang cerdas dan memberikan dorongan perilaku positif, untuk mencegah habisnya tabungan secara prematur.
Keempat, kepercayaan melalui nasihat. Memanfaatkan panduan berbasis digital, penasihat manusia, maupun kombinasi keduanya untuk menyederhanakan kompleksitas finansial menjadi langkah yang jelas dan dapat ditindaklanjuti.
Kelima, transparansi dan akuntabilitas. Membangun kepercayaan melalui tata kelola yang kuat serta pelaporan yang berfokus pada hasil nyata, terutama kesiapan pendapatan di masa pensiun.
Investasi Berkala Bisa Jadi Strategi Anak Muda Bangun Finansial
Strategi ini dinilai relevan bagi investor pemula. [359] url asal
#investasi-berkala #investasi-rutin #generasi-muda-investasi #literasi-keuangan-indonesia #strategi-investasi-pemula #dollar-cost-averaging #pinjol-indonesia #paylater-indonesia #kesehatan-finansial
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Investasi berkala dinilai bisa menjadi strategi menjaga kesehatan finansial generasi muda di tengah meningkatnya penggunaan pinjaman online dan layanan buy now pay later. Kemudahan akses kredit digital mendorong kebutuhan pengelolaan keuangan yang lebih disiplin sejak dini.
Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan 48,65 persen kredit macet pinjaman online per Maret 2026 berasal dari kelompok usia 19 hingga 34 tahun. Pada periode yang sama, outstanding pinjol nasional mencapai Rp101,03 triliun atau tumbuh 26,25 persen secara tahunan, sementara total utang buy now pay later menyentuh Rp28,3 triliun dari 30,81 juta pengguna.
Chief Marketing Officer Indodax, Aloysia Dian, mengatakan investasi berkala dapat menjadi pendekatan sederhana bagi generasi muda untuk mulai membangun aset secara konsisten. “Generasi muda saat ini sangat dekat dengan teknologi dan layanan keuangan digital. Namun di saat yang sama, banyak yang belum memiliki kebiasaan mengelola keuangan secara konsisten. Padahal, membangun kondisi finansial yang sehat tidak selalu harus dimulai dari nominal besar. Langkah sederhana seperti menyisihkan setidaknya 5 persen dana dingin dari penghasilan untuk investasi rutin dapat membentuk disiplin finansial dalam jangka panjang,” kata Aloysia, Rabu (20/5/2026).
Metode investasi berkala atau dollar-cost averaging (DCA) memungkinkan investor menempatkan dana secara rutin dengan nominal tetap sehingga risiko fluktuasi harga dapat lebih terkelola. Strategi ini dinilai relevan bagi investor pemula yang ingin membangun kebiasaan investasi tanpa harus menunggu modal besar.
Di tengah meningkatnya akses layanan kredit digital, perilaku konsumtif menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda. Data OJK mencatat rasio kredit bermasalah pinjol atau TWP90 per Maret 2026 mencapai 4,52 persen, menunjukkan pengelolaan utang konsumtif masih menjadi pekerjaan rumah dalam ekosistem keuangan digital.
Riwayat pembayaran dan kedisiplinan finansial juga berperan dalam menentukan akses pembiayaan di masa depan, mulai dari kredit rumah, kendaraan, hingga pembiayaan usaha. “Banyak generasi muda belum menyadari bahwa riwayat finansial hari ini dapat berdampak pada akses keuangan mereka di masa depan. Karena itu, penting untuk mulai membangun kebiasaan finansial yang lebih sehat, tidak hanya dalam mengelola konsumsi, tetapi juga dalam berinvestasi dan membangun aset secara konsisten,” lanjut Aloysia.
Pelaku industri menilai edukasi finansial dan pemanfaatan teknologi investasi otomatis menjadi faktor penting dalam memperkuat ketahanan finansial individu di era ekonomi digital.
Strategi SIP Jadi Andalan Investor Mengembangkan Aset
Konsep SIP menggabungkan kekuatan compounding dan strategi dollar cost averaging, yakni investasi tetap secara berkala tanpa terpengaruh fluktuasi pasar. [506] url asal
#investasi-rutin #reksa-dana #sip #investasi-berkala #dollar-cost-averaging #the-power-of-compounding #investasi-jangka-panjang #diversifikasi-investasi #investasi-reksa-dana #program-investasi-pintar
(Bisnis.Com - Market) 28/04/26 04:50
v/204628/
Bisnis.com, JAKARTA — Strategi Systematic Investment Plan (SIP) atau investasi rutin dinilai cocok diterapkan dalam pasar modal, khususnya reksa dana, di tengah pertumbuhan investor yang telah mencapai 26 juta orang.
Momentum tersebut diperkuat melalui peluncuran Program Investasi Terencana dan Berkala (PINTAR) Reksa Dana oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (27/4/2026).
Program ini melibatkan pemerintah dan pelaku industri dalam mendorong masyarakat memahami investasi reksa dana sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang.
Sejumlah pejabat hadir dalam pencanangan tersebut, di antaranya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dan Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi.
Sejalan dengan itu, pelaku industri seperti Bibit.id menegaskan komitmennya dalam mengembangkan fitur SIP atau nabung rutin.
Direktur Bibit, Hilmawan Kusumajaya, menyebut investasi berkala menjadi pendekatan paling relevan bagi masyarakat karena tidak mensyaratkan modal besar, tetapi menekankan konsistensi dalam mencapai tujuan keuangan jangka panjang.
Hilmawan menjelaskan, konsep SIP menggabungkan kekuatan compounding dan strategi dollar cost averaging, yakni investasi dalam jumlah tetap secara berkala tanpa terpengaruh fluktuasi pasar. Dengan pendekatan ini, investor dapat membangun portofolio secara bertahap sekaligus mengurangi risiko akibat volatilitas.
“Metode ini mendorong disiplin karena investor menyisihkan dana secara rutin sesuai tujuan keuangan. Misalnya, untuk membeli rumah dalam 10 tahun, SIP membantu investasi dilakukan secara konsisten, fleksibel, dan terdiversifikasi,” ujarnya dalam siaran pers, Senin (27/4/2026).
Strategi the power of compounding adalah konsep di mana hasil investasi yang ditanamkan dapat ikut diinvestasikan kembali, sehingga menghasilkan keuntungan baru di atas keuntungan sebelumnya. Jadi, bukan hanya uang awal yang bertumbuh, tapi juga hasilnya ikut berkembang.
Adapun, Dollar Cost Averaging (DCA) adalah strategi investasi di mana investor menanamkan dana dalam jumlah yang sama secara rutin (misalnya tiap bulan) di suatu aset, tanpa melihat kapan harga pasar sedang murah atau mahal.
Menurut Hilmawan, kunci keberhasilan investasi tidak hanya terletak pada pemilihan instrumen, tetapi juga pada konsistensi dan komitmen jangka panjang.
SIP mengedepankan kebiasaan menabung investasi secara berkala serta menahan godaan untuk mencairkan dana sebelum target tercapai. Ia juga menekankan pentingnya diversifikasi dalam berinvestasi guna menekan risiko.
“SIP bukan soal investasi besar, melainkan disiplin. Ini strategi jangka panjang yang relatif aman dan terbukti efektif,” tambahnya.
Pengalaman India menjadi salah satu referensi keberhasilan penerapan strategi ini. Kampanye “Mutual Fund Sahi Hai” yang digagas Association of Mutual Funds in India sejak 2017 berhasil mendorong lonjakan signifikan pada industri reksa dana.
Chief Executive AMFI Venkat N. Chalasani mengungkapkan bahwa dalam periode Februari 2017 hingga Maret 2019, rata-rata dana kelolaan (AAUM) tumbuh 33%, bahkan meningkat hingga 600% sejak kampanye tersebut dimulai.
Keberhasilan tersebut dinilai tidak lepas dari dukungan teknologi finansial yang mempermudah akses masyarakat terhadap produk investasi, termasuk penerapan SIP secara digital. Model serupa dinilai memiliki potensi besar untuk direplikasi di Indonesia.
Hilmawan optimistis, dengan jumlah investor pasar modal yang kini telah melampaui 26 juta, strategi investasi rutin dapat menjadi pendorong utama pertumbuhan berikutnya.
Melalui sinergi regulator, industri, dan platform digital, SIP diharapkan mampu memperdalam pasar keuangan sekaligus membangun basis investor yang lebih kuat dan berorientasi jangka panjang.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56