JAKARTA, KOMPAS.com – Indonesia memasuki fase penting menuju visi Indonesia Emas 2045. Di balik ambisi besar itu, sektor pertambangan disebut menjadi “tulang punggung masa depan” yang menopang transformasi ekonomi dan perkembangan teknologi global.
Direktur Eksekutif Indonesia Mining Association (IMA), Hendra Sinadia, mengatakan bahwa komoditas mineral, baik emas, perak, nikel, hingga tembaga, akan menjadi fondasi strategis Indonesia dalam 100 tahun sejak kemerdekaan, atau 2045. Namun, ia mengingatkan bahwa meski Indonesia memiliki banyak mineral kritis, jumlahnya tidak bisa disebut melimpah.
Pengelolaan harus dilakukan secara bijak, tepat, dan berkelanjutan agar cadangan tetap terjaga.
“Kita memiliki banyak mineral kritis, tetapi tetap terbatas. Eksplorasi yang tepat dan bijak menjadi kunci untuk memastikan umur cadangannya panjang,” ujar Hendra, di kantor Kompas.com, sebagai tamu podcast Naratama bersama Pemimpin Redaksi Kompas.com, Amir Sodikin, Rabu (19/11/2025) lalu.
Mendesaknya Eksplorasi Jangka Panjang: “Kalau Tidak Sekarang, Terlambat”
Menurut Hendra, banyak wilayah tambang di Indonesia yang selama ini hanya mengandalkan deposit berkadar tinggi (high grade). Tanpa eksplorasi aktif, umur cadangan akan cepat menurun.
Eksplorasi menjadi kewajiban pemegang izin tambang dan menjadi salah satu indikator ketika mereka mengajukan rencana kerja serta anggaran tahunan.
Namun, eksplorasi juga terbuka bagi investor baru, khususnya yang fokus pada sektor hulu atau “junior mining companies”.
Di tengah tren global, Hendra menekankan bahwa tembaga adalah komoditas paling strategis dan paling berpotensi mengalami kelangkaan global.
“Tembaga akan mengalami shortage pada 2035. Mengembangkan tambang tembaga butuh belasan tahun, bukan hanya di Indonesia tapi di seluruh dunia. Momennya harus sekarang.”
Hendra mengakui adanya masalah struktural dalam industri tambang Indonesia: minimnya pendanaan untuk research & development (R&D).
Secara nasional, alokasi R&D Indonesia berada pada level terendah di kawasan Asia.
Di pertambangan, lemahnya investasi teknologi membuat Indonesia harus bergantung pada teknologi dari luar negeri, contohnya pada pengolahan nikel.
“Kalau tidak ada Tiongkok, kita tidak bisa memproses nikel sampai teroperasi. Ini menunjukkan teknologi hilir kita masih tertinggal.”
Ia menyoroti contoh menarik dari sektor batu bara. Dulu, pemegang PKP2B dikenai royalti 13,5 persen, dengan 6,5 persen dirancang khusus untuk dana pengembangan batu bara, termasuk teknologi bersih. Namun, dalam praktiknya dana tersebut masuk ke kas negara untuk kebutuhan operasional.
“Kalau saja skema itu konsisten, seharusnya kita sudah punya teknologi batu bara bersih. Tapi kenyataannya tidak terjadi.”
Hendra menyebut bahwa kebijakan fiskal yang konsisten sangat diperlukan untuk memperkuat pengembangan teknologi pertambangan dalam negeri.
Teknologi Digital jadi "Game Changer": dari AI hingga "Precision Mining"
Perkembangan teknologi digital, termasuk AI, sensor cerdas, drone, hingga automasi, disebut telah menjadi “game changer” dalam dunia pertambangan.
Dampaknya muncul dalam dua sisi.
Pertama, membuat cadangan mineral menjadi lebih ekonomis
AI membantu memetakan cadangan dengan lebih akurat, menurunkan risiko eksplorasi, hingga merancang rencana tambang yang lebih efisien.
Kedua, mendorong eksplorasi dan operasi yang lebih aman dan presisi
Beberapa perusahaan tambang global kini dapat mengoperasikan alat tambang bawah tanah menggunakan remote, layaknya bermain gim.
Di Indonesia, teknologi AI mulai dipakai untuk eksplorasi dan operasi perusahaan-perusahaan yang sudah berjalan.
“AI dapat meningkatkan akurasi cadangan, menekan risiko kecelakaan, meningkatkan produktivitas, dan mengurangi limbah. Precision mining juga membuat operasi lebih ekonomis sekaligus lebih ramah lingkungan.”
Selain itu, perkembangan digital ekonomi, termasuk data center, Internet of Things, hingga Artificial General Intelligence (AGI), akan meningkatkan permintaan energi dan mineral kritis. Indonesia memiliki keduanya.
“Indonesia punya mineralnya, punya energinya. Ini membuka peluang besar bagi masa depan industri tambang kita,” lanjut Hendra.
Publik Perlu Melihat Pertambangan secara Lebih Objektif
Hendra mengajak publik untuk meningkatkan rasa ingin tahu dan pemahaman mengenai praktik pertambangan modern.
Menurutnya, persepsi negatif terhadap pertambangan sering muncul tanpa melihat praktik di lapangan.
“Mindset-nya jangan benci, tetapi curiosity. Banyak praktik pertambangan kita yang sudah beyond compliance dan bertaraf world class.”
Namun, ia mengakui bahwa tidak semua masyarakat mendapat kesempatan melihat langsung praktik pertambangan yang baik. Karena itu, edukasi publik perlu ditingkatkan agar masyarakat memahami peran strategis sektor tambang.
Menutup dialog, Hendra menekankan bahwa dunia kini memasuki fase geopolitik mineral. Banyak konflik global dilatarbelakangi perebutan sumber daya mineral kritis.
Indonesia, dengan cadangan dan industri yang terus berkembang, memiliki posisi strategis.
“Kalau masyarakat, perusahaan, dan pemerintah bersama-sama menjaga sektor ini, saya yakin pertambangan bisa jadi backbone yang kuat untuk Indonesia. Ini sektor strategis di tengah transisi energi dan dinamika geopolitik global.”
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang