Bank Indonesia menahan suku bunga di 4,75%, membuka peluang sektor saham konsumsi, ekspor, dan energi untuk cuan di tengah volatilitas pasar. [749] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Keputusan Bank Indonesia menahan suku bunga acuan di level 4,75% dinilai membuka peluang seleksi sektor saham yang berpotensi mencetak imbal hasil di tengah pasar yang cenderung bergerak volatil.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai keputusan tersebut pada dasarnya tidak mengubah peta sentimen domestik secara drastis. Menurutnya, reaksi pasar relatif terkendali karena keputusan tersebut sudah diantisipasi sebelumnya.
“Kalau kita perhatikan situasi dan kondisinya masih sama, berarti pelaku pasar dan investor juga masih dapat menerima hasil itu. Harapannya memang BI bisa memangkas suku bunga,” ujarnya, Kamis (19/2/2026).
Data perdagangan menunjukkan indeks saham domestik masih bergerak fluktuatif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) misalnya, ditutup melemah 0,44% ke level 8.274 dengan rentang pergerakan harian 8.251–8.376.
Aktivitas transaksi tercatat mencapai 49,25 miliar saham senilai Rp25,99 triliun dengan kapitalisasi pasar Rp14.969 triliun.
Nico menilai perhatian investor saat ini justru tertuju pada risalah kebijakan Federal Reserve yang membuka peluang kenaikan suku bunga acuan global. Perspektif tersebut muncul dari salah satu pejabat bank sentral AS dalam notulen rapat terbaru.
Meski demikian, indikator ekonomi Negeri Paman Sam masih memberi sinyal positif, mulai dari pertumbuhan ekonomi yang tetap ekspansif, inflasi yang berpotensi melandai, hingga kondisi ketenagakerjaan yang mulai stabil.
Data inflasi konsumen (CPI) terbaru bahkan menunjukkan tren penurunan, sementara pasar tenaga kerja mulai pulih.
Dalam proyeksinya, Nico melihat bank sentral AS berpotensi memangkas suku bunga hingga 50 basis poin tahun ini. Di sisi domestik, ruang pelonggaran juga masih tersedia meski terbatas.
“Di sisi lain, kita sebetulnya masih punya amunisi untuk memangkas tingkat suku bunga sebanyak 25 basis poin lagi,” tutur Nico.
Namun volatilitas nilai tukar rupiah membuat bank sentral domestik diperkirakan tetap berhati-hati dan memilih menahan suku bunga untuk sementara waktu.
IHSG
Dampak ke IHSG: Stabil tapi Belum Akseleratif
Pandangan senada disampaikan Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia. Ia menilai keputusan BI tidak menimbulkan guncangan bagi pasar, tetapi juga belum cukup kuat menjadi katalis reli.
”Surplus perdagangan dan proyeksi NPI yang tetap sehat menurunkan risiko eksternal sehingga downside IHSG relatif terbatas. Namun, tanpa penurunan suku bunga, akselerasi rally lebih bergantung pada pertumbuhan laba dan arus dana asing,” tegas Liza dalam risetnya.
Menurutnya, sikap BI yang menahan suku bunga sambil membuka peluang pelonggaran ke depan justru memperkuat fondasi kepercayaan investor. Kebijakan ini dipandang sebagai bantalan jika tekanan global mereda.
Liza juga melihat peluang indeks kembali menuju level psikologis 9.000 masih terbuka, terutama jika sejumlah katalis makro terealisasi.
”Momentum musiman Ramadhan—Lebaran, serta belanja pemerintah awal tahun dan potensi pelonggaran likuiditas global jika The Fed mulai quantitative easing [mampu mendorong IHSG ke level 9.000],” kata Liza.
Meski begitu, ia mengingatkan bahwa skenario tersebut tetap memiliki risiko. Sikap hawkish bank sentral global dapat menghambat aliran dana asing ke pasar berkembang, termasuk Indonesia, ditambah isu reformasi pasar dan persepsi premi risiko.
”Penahanan suku bunga BI bukan katalis rally, tetapi memperkuat fondasi stabilitas. Kunci menuju 9.000 ada pada kombinasi foreign flow, earnings, dan perbaikan sentimen global,” tegas Liza.
Sektor Saham yang Berpotensi Cuan
Di tengah kondisi suku bunga yang ditahan, Nico melihat sektor konsumsi, baik consumer non-cyclical maupun cyclical, berpotensi menarik seiring meningkatnya aktivitas belanja masyarakat pada periode musiman yang biasanya mendorong kinerja emiten ritel, makanan-minuman, dan distribusi.
Sementara itu, Liza Camelia menilai sektor berbasis ekspor dan komoditas memiliki prospek positif karena ditopang surplus perdagangan serta ketahanan eksternal ekonomi nasional. Ia juga menilai sektor energi tetap menarik karena menawarkan visibilitas arus kas kuat sekaligus narasi struktural jangka panjang.
”Energi dan hilirisasi memiliki narasi struktural dan visibilitas arus kas. Sementara konsumsi cenderung selektif, didorong momentum Ramadhan—Lebaran dan realisasi APBN awal tahun,” kata Liza.
Masih menurut Liza, sektor infrastruktur dan telekomunikasi turut dipandang defensif berkat karakter pendapatan berulang (recurring income) dan sensitivitas rendah terhadap perubahan suku bunga jangka pendek, sehingga relatif tahan terhadap volatilitas pasar. Ia juga menilai sektor perbankan tetap stabil, meski ekspansi kredit berpotensi berlangsung bertahap apabila tidak ada penurunan suku bunga agresif.
Adapun sektor properti menjadi salah satu yang paling sensitif terhadap arah kebijakan moneter. Nico menilai sektor ini menarik dicermati karena berpotensi memperoleh katalis kuat ketika pelonggaran suku bunga mulai terjadi.
“Kami juga masih suka dengan properti, ini juga bisa diperhatikan. Jadi kami pikir hal ini merupakan salah satu yang sangat dinantikan oleh sektor properti terkait dengan pemangkasan BI Rate,” pungkas Nico.
_______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI Rate pada level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) hari ini, Kamis (19/2/2026). BI Rate yang tidak berubah ini memberikan kepastian bagi IHSG.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menjelaskan keputusan BI menahan suku bunga acuan pada level 4,75% ini merupakan langkah yang hati-hati, tetapi tepat. Hal ini karena risalah terbaru Federal Open Market Committee (FOMC) masih menahan suku bunga di kisaran 3,5%—3,75% dan belum memberikan sinyal penurunan suku bunga.
“Bagi IHSG, kondisi ini memberikan kepastian, khususnya dari sisi stabilitas nilai tukar rupiah,” tutur Wafi, Kamis (19/2/2026).
Dia melanjutkan pasar sebelumnya juga telah mengantisipasi bahwa BI belum akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat, mengingat volatilitas global yang masih tinggi.
Pelaku pasar menilai keputusan ini sudah priced-in. Namun, lanjut Wafi, narasi BI yang tetap membuka ruang penurunan suku bunga pada paruh kedua 2026 menjadi katalis positif tersendiri.
“Investor suka kejelasan arah,” ucapnya.
Selain itu, kata Wafi, kepastian bahwa suku bunga ditahan untuk sementara waktu akan memberi ruang bagi emiten untuk merencanakan belanja modal atau capital expenditure (capex) secara lebih terukur.
Adapun dengan BI Rate yang tetap ini, dari sisi sektoral, KISI Sekuritas menilai saham perbankan besar tetap menarik, terutama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI).
Selanjutnya yaitu sektor properti dan otomotif, dengan sejumlah emiten seperti PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE), PT Ciputra Development Tbk. (CTRA), serta PT Astra International Tbk. (ASII) menjadi pilihan utama.
KISI Sekuritas juga melihat sektor konsumer menjadi sektor pilihan, khususnya saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT).
Lebih lanjut, Wafi juga melihat peluang IHSG menuju level 9.000 masih bisa dicapai, dengan asumsi pertumbuhan earning per share 8%, serta kondisi makro yg stabil atau kondusif.
“Katalisnya ada dari sisi fiskal terutama penyerapan anggaran, momentum lebaran, dan normalisasi cost of fund,” ujar Wafi, Rabu (18/2/2026).
Sebagai informasi, Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga acuan alias BI Rate di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 18—19 Februari 2026. Keputusan itu disampaikan langsung oleh Gubernur BI Perry Warjiyo saat mengumumkan Hasil RDG pada hari ini, Kamis (18/2/2026).
"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 18 dan 19 Februari 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 4,75%," ujar Perry.
Sejalan dengan itu, bank sentral juga tetap mempertahankan suku bunga Deposit Facility di level 3,75% dan suku bunga Lending Facility 5,5%.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah sentimen positif mendorong kinerja produk investasi reksa dana. Faktor pendorongnya meliputi stimulus pertumbuhan ekonomi yang mulai digulirkan, perbaikan likuiditas perbankan, hingga pelonggaran kebijakan moneter.
Director & Chief Investment Officer Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Ezra Nazula menilai meskipun data ekonomi belum menunjukkan perbaikan secara aktual, pasar yang bersifat forward-looking sudah mencerminkan sentimen yang lebih positif.
"Sentimen terhadap ekonomi domestik yang di tiga kuartal pertama 2025 cenderung diwarnai ketidakpastian, di November ini mulai menunjukkan optimisme terhadap kebijakan pemerintah yang pro-growth dengan diluncurkannya berbagai stimulus," ujar Ezra kepada Bisnis, Kamis (20/11/2025).
Dari sisi moneter, Ezra melihat selisih antara inflasi dan suku bunga Bank Indonesia (BI) yang masih cukup lebar memberi ruang bagi bank sentral untuk kembali menurunkan suku bunga pada 2026.
Pada pasar obligasi, perbaikan likuiditas perbankan, penurunan suku bunga deposito, serta imbal hasil SRBI dinilai berpotensi meningkatkan permintaan terhadap Surat Berharga Negara (SBN). Dominasi investor domestik pada pasar SBN, menurut Ezra, dapat meredam volatilitas akibat gejolak global maupun keluarnya dana asing. Kondisi tersebut membuat preferensi investor bergeser ke instrumen berjangka menengah-panjang.
Pada pasar saham, Ezra melihat valuasi berada pada level menarik, tercermin dari dividend yield yang tinggi dan tetap kompetitif dibandingkan SBN.
"Untuk prospek reksa dana, dengan sentimen yang mulai berbalik positif kami perkirakan pasar modal Indonesia berpeluang mencatatkan pertumbuhan lebih baik lagi ke depannya. Bagi segmen investor yang mengedepankan diversifikasi dan pengelolaan aktif untuk menangkap peluang pasar, tentunya reksa dana masih akan menjadi pilihan utama," katanya.
Ke depan, reksa dana pendapatan tetap dan pasar uang diperkirakan semakin diminati. Ekspektasi penurunan suku bunga The Fed dan BI dinilai dapat menekan yield obligasi serta memperkuat kinerja reksa dana berbasis obligasi. Adapun reksa dana saham berpotensi tumbuh dari masuknya dana baru, terutama apabila IHSG stabil dan ekonomi domestik mendukung sepanjang 2026.
Data Invovesta Utama menunjukkan seluruh indeks reksa dana mencatat kenaikan. Indeks Reksa Dana Saham (IRDSH) per Rabu (19/11) naik 0,25 persen atau 8,32 persen dalam tiga bulan terakhir. Indeks Reksa Dana Pendapatan Tetap (IRDPT) menguat 0,03 persen dalam sehari atau 2,66 persen dalam tiga bulan terakhir. Sementara itu, Indeks Reksa Dana Campuran (IRDCP) meningkat 0,37 persen atau 6,41 persen dalam tiga bulan terakhir.
Kinerja tersebut turut mendongkrak dana kelolaan MAMI. Ezra merinci, total dana kelolaan MAMI per Oktober 2025 mencapai Rp116,8 triliun, terdiri dari dana kelolaan reksa dana sebesar Rp57,3 triliun dan dana kelolaan kontrak pengelolaan dana (KPD) sebesar Rp59,5 triliun.
Ezra menyebut MAMI sebagai manajer investasi terbesar di Indonesia dengan pangsa pasar 12,3 persen dari 85 manajer investasi. Total asset under management (AUM) MAMI tumbuh sekitar 5 persen secara bulanan (month on month/MoM) atau 15,6 persen secara tahunan (year on year/YoY).
"Untuk pertumbuhan AUM reksa dana sekitar 8,6% MoM dan 29% YoY. Pertumbuhan AUM reksa dana hingga November 2025 masih dimotori reksa dana kelas pendapatan tetap yang tumbuh sekitar 38% YoY," ujarnya.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56