Bisnis.com, JAKARTA — Pasar saham Amerika Serikat atau Wall Street mencatatkan penurunan harian terbesar dalam tiga bulan pada perdagangan Selasa (20/1/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap ancaman tarif baru dari Presiden AS Donald Trump yang kembali menargetkan Eropa dan memicu aksi jual luas di pasar global.
Ketiga indeks utama Wall Street ditutup melemah tajam dalam kondisi risk-off yang merata. Sentimen negatif tersebut mendorong harga emas menembus rekor tertinggi baru, sementara pasar obligasi tertekan sehingga biaya utang meningkat. Di sisi lain, aset kripto turut terseret, dengan Bitcoin turun lebih dari 3%.
Secara kinerja, seluruh indeks saham utama AS mencatatkan penurunan terburuk sejak 10 Oktober. Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite sama-sama turun menembus rata-rata pergerakan 50 hari, menandakan tekanan teknikal yang cukup signifikan.
Mengutip Reuters, Indeks S&P 500 tercatat turun 143,15 poin atau 2,06% ke level 6.796,86. Nasdaq Composite merosot 561,07 poin atau 2,39% ke posisi 22.954,32, sementara Dow Jones Industrial Average melemah 870,74 poin atau 1,76% ke level 48.488,59.
Tekanan pasar tersebut muncul seiring meningkatnya ketidakpastian kebijakan perdagangan AS. Selasa menjadi momen pertama bagi investor merespons pernyataan Trump pada akhir pekan, setelah pasar libur memperingati Hari Martin Luther King Jr.
Trump menyampaikan bahwa tarif impor tambahan sebesar 10% akan mulai diberlakukan pada 1 Februari terhadap produk dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris—negara-negara yang sebelumnya telah dikenai tarif AS.
Tarif tersebut direncanakan naik menjadi 25% pada 1 Juni dan akan terus diberlakukan hingga tercapai kesepakatan agar AS dapat membeli Greenland. Namun, para pemimpin Greenland—wilayah otonom Denmark—dan pemerintah Denmark menegaskan bahwa pulau tersebut tidak untuk dijual.
Kembalinya ancaman tarif ini mengingatkan pasar pada periode “Hari Pembebasan” pada April lalu, ketika kebijakan perdagangan agresif Trump sempat mendorong S&P 500 mendekati wilayah pasar bear.
Lonjakan ketidakpastian turut tercermin dari Indeks Volatilitas CBOE (VIX) yang dikenal sebagai indikator ketakutan Wall Street. Indeks tersebut melonjak ke level 20,09 poin, mencatatkan penutupan tertinggi sejak 24 November.
Aktivitas perdagangan juga meningkat signifikan. Sekitar 20,6 miliar saham berpindah tangan di bursa AS pada Selasa, lebih tinggi dibandingkan rata-rata 17,01 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir.
Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati apakah isu Greenland dan ancaman tarif ini hanya memicu aksi jual jangka pendek atau berpotensi membawa dampak yang lebih panjang terhadap pasar keuangan global.
Jamie Cox, managing partner di Harris Financial Group, menilai belum terlihat indikasi pelarian investor secara masif dari pasar saham.
“Saya belum sampai pada titik untuk mengatakan bahwa apa yang terjadi dengan Greenland, dan kembalinya ancaman tarif bolak-balik, akan memicu koreksi di pasar saham,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa ia akan terkejut jika terjadi penurunan 3% hingga 5% dalam pekan ini.
Dampak Menjalar ke Pasar Obligasi
Tekanan pasar saham juga menjalar ke pasar obligasi global. Menurut Cox, perhatian pelaku pasar kini tertuju pada kemungkinan intervensi otoritas Jepang di pasar keuangan.
Pada Selasa, obligasi pemerintah Jepang anjlok dan mendorong imbal hasil ke rekor tertinggi. Saham Tokyo dan yen turut melemah setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi menyerukan pemilu dadakan, yang mengguncang kepercayaan terhadap kondisi fiskal Jepang.
Pergerakan tersebut turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Eropa tenor panjang. Sementara itu, aksi jual obligasi pemerintah AS terlihat lebih tajam pada tenor panjang kurva imbal hasil.
Meski diwarnai volatilitas pasar dan kembali mencuatnya isu tarif, ekonomi AS secara fundamental dinilai masih berada dalam posisi yang kuat. Investor akan mencermati sejumlah data penting pekan ini, mulai dari pembaruan produk domestik bruto (PDB) kuartal III, rilis PMI Januari, hingga laporan Personal Consumption Expenditures (PCE) yang menjadi indikator inflasi pilihan bank sentral AS.
Selain itu, musim laporan keuangan juga mulai memasuki fase yang lebih padat. Sejumlah emiten besar dijadwalkan merilis kinerja kuartalan pekan ini, termasuk Netflix, yang sahamnya ditutup melemah 0,8% sebelum pengumuman laporan keuangan setelah penutupan pasar.
_______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.