Bisnis.com, JAKARTA - Harga emas kembali mencetak rekor baru di tengah ketegangan politik dagang baru AS Vs China. Reli harga juga terjadi pada perak dan logam mulia lain setelah aksi short squeeze di London.
Berdasarkan data Bloomberg pada Senin (13/10/2025), harga emas sempat naik 1,1% menjadi US$4.060,01 per troy ounce dan terakhir diperdagangkan di level US$4.028,28 per troy ounce. Indeks Dolar Bloomberg relatif stabil setelah naik sekitar 1% pada pekan lalu.
Pada pukul 08.16 WIB hari ini, harga emas di pasar spot bertengger pada level US$4.043,02 atau masih di zona hijau dengan kenaikan 0,64%.
Adapun, harga perak naik hingga 1,1% mendekati US$51 per ons, sedangkan platinum dan paladium sama-sama menguat lebih dari 2% masing-masing pada kisaran US$1,630 per ounce dan US$1,445 per ounce.
Harga logam mulia telah melesat antara 50% hingga 80% sepanjang tahun ini, menjadikannya salah satu sektor paling dominan di pasar komoditas global. Reli emas didukung oleh aksi beli bank sentral, peningkatan kepemilikan di reksa dana berbasis emas (ETF), serta kebijakan pemangkasan suku bunga The Federal Reserve.
Selain itu, permintaan terhadap aset aman meningkat akibat ketegangan dagang AS–China, ancaman terhadap independensi The Fed, dan penutupan sebagian pemerintahan AS.
Pada Minggu (12/10/2025), China mendesak Washington untuk menghentikan ancaman tarif dan kembali ke meja perundingan, sembari memperingatkan akan melakukan pembalasan jika AS tetap melanjutkan kebijakan baru tersebut.
Presiden AS Donald Trump, yang sebelumnya mengancam akan memberlakukan tarif tambahan 100% terhadap produk China, mulai melunak dalam pernyataannya akhir pekan lalu.
“Ketika risiko geopolitik dan perdagangan sempat mereda bagi emas, kini kembali muncul ketegangan baru antara AS dan China,” ujar Kyle Rodda, analis di Capital.com.
Menurutnya, meski kedua pihak terbuka untuk bernegosiasi, “volatilitas perdagangan mungkin mereda, tapi tidak akan pernah hilang sepenuhnya. Hal tersebut justru menjadi kabar baik bagi emas.
Sementara itu, pelaku pasar masih menantikan hasil investigasi pemerintah AS terkait Section 232 atas mineral strategis termasuk perak, platinum, dan paladium.
Kekhawatiran bahwa logam-logam tersebut akan dikenai tarif tambahan telah memperburuk kondisi pasar yang ketat dan menjadi salah satu pemicu aksi short squeeze di pasar perak setelah penurunan tajam pasokan bebas di London.
Minimnya likuiditas di pasar London membuat harga perak mendekati rekor US$52,50 per ons yang tercatat pada 1980 di kontrak lama Chicago Board of Trade.
Lonjakan harga acuan di London yang jauh melampaui New York mendorong sebagian pedagang menyewa ruang kargo penerbangan lintas Atlantik untuk mengirim batangan perak demi memanfaatkan premi harga besar di pasar London.