Gubernur Jabar Dedi Mulyadi dorong industri ekspor via Patimban, optimalkan infrastruktur dan konektivitas untuk tingkatkan daya saing dan manfaat ekonomi lokal. [404] url asal
Bisnis.com, BANDUNG — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan penguatan konektivitas infrastruktur menjadi prioritas pemerintah provinsi untuk meningkatkan daya saing investasi dan industri di Jawa Barat.
Hal tersebut disampaikan Dedi usai mengukuhkan jajaran pengurus Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jabar 2026-2031 di El Royal, Bandung, Jumat (26/6/2026).
Menurutnya, pembangunan infrastruktur harus mampu menghubungkan kawasan industri dengan pusat-pusat logistik sehingga distribusi barang menjadi lebih efisien.
"Concern Pemerintah Provinsi Jawa Barat adalah mengonektivitaskan infrastruktur, mulai dari jalan tol, jalan nasional, jalan provinsi hingga jalan kabupaten yang nantinya harus terkoneksi dengan pelabuhan," ujar Dedi.
Dia menilai keberadaan Pelabuhan Patimban harus dioptimalkan sebagai pintu ekspor industri Jawa Barat. Selama ini, banyak produk industri asal Jawa Barat diekspor melalui pelabuhan di daerah lain sehingga nilai ekspor tercatat bukan berasal dari Jawa Barat.
"Kalau kita punya industri tetapi tidak memiliki pelabuhan yang optimal, maka ekspornya akan tercatat sebagai produk dari daerah lain, bukan dari Jawa Barat," katanya.
Selain itu, Dedi juga meminta perusahaan yang beroperasi di Jawa Barat menggunakan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) yang terdaftar di Jawa Barat.
Menurutnya, daerah telah menanggung berbagai dampak aktivitas industri, mulai dari penggunaan infrastruktur, pencemaran lingkungan, hingga biaya pengamanan.
"Jangan industrinya di sini, penggunaan infrastrukturnya di sini, menghadapi berbagai persoalan di sini, tetapi bagi hasil pajaknya justru masuk ke daerah lain," tegasnya.
Dedi menambahkan, aktivitas industri juga harus memberikan manfaat ekonomi bagi desa-desa di sekitar kawasan industri agar pertumbuhan ekonomi lebih merata.
Di sisi lain, Pemprov Jabar juga akan memperkuat konektivitas air bagi kawasan industri. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi ketergantungan industri terhadap penggunaan air tanah.
Menurutnya, jaringan distribusi air baku akan dikembangkan dengan memanfaatkan sumber air seperti Sungai Citarum maupun Waduk Jatigede sehingga kebutuhan industri dapat dipenuhi secara berkelanjutan.
Tak hanya infrastruktur fisik, pemerintah juga akan memperkuat konektivitas teknologi informasi sebagai bagian dari upaya meningkatkan daya saing industri di Jawa Barat.
Setelah seluruh konektivitas tersebut terbangun, fokus berikutnya adalah menyiapkan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan industri melalui penguatan program link and match di sekolah.
Dedi mengungkapkan, Pemprov Jabar tengah mengkaji skema agar porsi praktik industri bagi siswa sekolah menengah kejuruan dapat diperpanjang. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah siswa kelas XII menjalani praktik industri selama satu tahun penuh.
Dengan skema tersebut, siswa tidak hanya menjalani praktik kerja lapangan, tetapi juga berstatus sebagai calon karyawan. Apabila selama masa praktik menunjukkan kinerja yang baik, mereka berpeluang langsung direkrut perusahaan setelah lulus tanpa harus melalui proses rekrutmen dari awal.
Berbagai peristiwa bidang ekonomi terjadi selama sepekan (8-13 Juni 2026), mulai dari penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hingga upaya pemerintah ... [396] url asal
Jakarta (ANTARA) - Berbagai peristiwa bidang ekonomi terjadi selama sepekan (8-13 Juni 2026), mulai dari penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hingga upaya pemerintah meningkatkan porsi pasar ekspor industri manufaktur.
Berikut rangkuman berita ekonomi sepekan yang disusun LKBN ANTARA, Minggu.
Rupiah menguat dipicu kombinasi sentimen domestik
Nilai tukar (kurs) rupiah pada penutupan perdagangan Jumat sore menguat 129 poin atau 0,71 persen menjadi Rp17.860 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.989 per dolar AS.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai penguatan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen domestik yang meredakan kekhawatiran pasar terhadap fiskal.
Prabowo terima hasil kajian DEN soal MBG, dampaknya positif untuk UMKM
Presiden Prabowo Subianto menerima hasil survei Dewan Ekonomi Nasional (DEN) yang secara khusus mengkaji dampak program Makan Bergizi Gratis atau MBG terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam pertemuan di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Selasa sore.
Jajaran DEN yang menghadap Presiden Prabowo dipimpin Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan, kemudian ada Septian Hario Seto selaku anggota sekaligus Sekretaris Eksekutif DEN, Mochammad Firman Hidayat selaku anggota DEN, dan ada pula ekonom senior sekaligus eks menteri keuangan Chatib Basri.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan bahwa minyak goreng rakyat atau Minyakita tidak lagi menjadi bagian dari program bantuan pangan pemerintah.
Menurut Budi, seluruh pasokan Minyakita akan difokuskan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat melalui distribusi di pasar rakyat.
Pertamina naikkan harga Pertamax dan Pertamax Green mulai 10 Juni
Pertamina Patra Niaga mengumumkan kenaikan harga produk bahan bakar minyak jenis Pertamax dan Pertamax Green mulai 10 Juni 2026.
Menurut siaran pers perusahaan yang diterima di Jakarta pada Selasa, mulai 10 Juni 2026 harga bahan bakar non-subsidi Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter dan Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Kemenperin upayakan porsi pasar ekspor industri meningkat ke 30 persen
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengupayakan porsi pasar ekspor industri manufaktur meningkat dari semula 20 persen menjadi 30 persen, tanpa mengurangi kemampuan memenuhi kebutuhan nasional.
Dalam keterangan dikonfirmasi di Jakarta, Selasa, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan bahwa komposisi penjualan produk manufaktur saat ini masih didominasi pasar domestik, dengan sekitar 80 persen untuk kebutuhan dalam negeri dan 20 persen untuk ekspor.
Ekspor industri tertekan, terutama mebel dan kerajinan. Indonesia beralih dari perang harga ke nilai tinggi dengan desain, budaya, & craftsmanship, seperti ukir Jepara. [623] url asal
JAKARTA, KOMPAS.com - Kinerja ekspor sejumlah sektor industri nasional mulai menunjukkan tekanan.
Hal ini tecermin dari rilis Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang mencatat sektor berorientasi ekspor berada di level 52,28, melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 52,73 pada Maret 2026.
Dalam periode tersebut, terdapat tujuh sektor industri yang mengalami kontraksi.
Salah satunya adalah industri kayu, barang dari kayu dan gabus di luar furnitur serta anyaman bambu dan rotan (KBLI 16). Pelaku industri mebel dan kerajinan mengakui industri kriya nasional masih terjebak dalam pola persaingan berbasis harga dan volume produksi.
Kondisi tersebut dinilai menyulitkan Indonesia untuk bersaing dengan negara seperti China dan Vietnam.
Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia, Abdul Sobur, mengatakan kekuatan Indonesia ada pada desain, budaya, dan craftsmanship.
"Kita bisa naik kelas ke high value market. “Kita tidak bisa terus bermain di volume. Kekuatan Indonesia ada pada desain, budaya, dan craftsmanship. Kita bisa naik kelas ke high value market,” ujar Sobur, Kamis (30/4/2026).
Industri berbasis kayu dipandang tidak lagi bisa mengandalkan strategi lama yang bertumpu pada produksi massal dengan harga murah.
Model tersebut semakin sulit dipertahankan, terutama ketika berhadapan dengan negara-negara yang unggul dalam efisiensi dan skala produksi.
Ia menegaskan produk kriya Indonesia memiliki keunggulan tidak hanya dari sisi fungsi, tetapi juga nilai filosofis yang mampu memperkuat daya saing industri di pasar global.
Penguatan aspek seni dan desain dalam produk kriya menjadi strategis untuk mendorong industri mebel dan kerajinan nasional naik kelas, terutama di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Mengacu pada data Badan Pusat Statistik, subsektor fesyen dan kriya menjadi kontributor utama ekonomi kreatif dengan nilai ekspor mencapai 28,4 miliar dollar AS atau sekitar Rp 476 triliun pada periode Januari-November 2025.
Menurutnya, capaian tersebut perlu terus didorong melalui pendekatan yang lebih terintegrasi.
Ia menilai kolaborasi antara perajin, seniman, dan desainer menjadi kunci agar kriya Indonesia tidak hanya diposisikan sebagai produk komersial, tetapi juga sebagai representasi budaya yang memiliki nilai global.
“Ke depan, kita perlu mendorong integrasi antara perajin, seniman, dan desainer agar kriya Indonesia dapat berkembang tidak hanya sebagai produk, tetapi juga sebagai ekspresi budaya yang diakui secara global,” ujar Sobur.
Salah satu contoh yang menunjukkan kekuatan fungsional sekaligus filosofis industri kriya nasional adalah pameran Tatah Ukir Jepara yang digelar pada 29 April hingga awal Juli 2026 di Museum Nasional Indonesia (Monas), Jakarta.
Pameran tersebut menjadi momentum penting dalam memperkuat posisi kriya Indonesia sebagai bagian dari warisan budaya bernilai tinggi.
Sobur melihat pameran sebagai momentum untuk membaca ulang posisi ukir Jepara, bukan sekadar sebagai kerajinan, tetapi sebagai bagian dari identitas budaya yang hidup. “Jepara itu bukan sekadar sentra produksi. Ia adalah ekosistem budaya yang sudah tumbuh ratusan tahun. Ukiran di sana bukan hanya teknik, tetapi warisan pengetahuan,” ungkap dia.
Sejarah mencatat, lanjut Sobur, tradisi ukir Jepara telah berkembang sejak masa kerajaan-kerajaan pesisir Jawa, kemudian mencapai puncak pengaruhnya pada masa R.A. Kartini yang mendorong pengembangan ukir sebagai identitas lokal sekaligus sumber penghidupan masyarakat.
Dari generasi ke generasi, keterampilan ini diwariskan, bukan melalui institusi formal, tetapi melalui praktik hidup sehari-hari, dari rumah ke rumah, dari bengkel ke bengkel.
Dalam perjalanannya, ukir Jepara tidak berhenti sebagai simbol budaya. Ia tumbuh menjadi kekuatan ekonomi.
Hari ini, industri mebel dan kerajinan di Jepara menjadi tulang punggung kehidupan masyarakat, melibatkan ratusan ribu orang dalam satu ekosistem yang saling terhubung, dari perajin, pengusaha, pekerja produksi, hingga pelaku ekspor.
Namun, di balik kekuatan itu, Sobur melihat adanya tantangan besar, yakni bagaimana menjaga kedalaman nilai di tengah tuntutan pasar global. “Ketika kriya masuk ke galeri, kita tidak hanya menaikkan nilai ekonomi, tetapi juga mengembalikan martabatnya sebagai ekspresi budaya,” ucapnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Industri pengolahan Indonesia melambat pada April 2026 dengan IKI 51,75. Sektor minuman dan tekstil mengalami kontraksi, sementara kertas dan tembakau tumbuh kuat. [1,053] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja industri pengolahan nasional pada April 2026 menunjukkan perlambatan di tengah dinamika global dan domestik. Hal ini tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang tercatat sebesar 51,75 atau turun tipis 0,11 poin dibandingkan Maret 2026 yang sebesar 51,86. Secara tahunan, IKI juga melemah 0,15 poin dari posisi April 2025 yang mencapai 51,90.
Secara struktur, dari 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis, sebanyak 16 subsektor berada pada fase ekspansi dan 7 subsektor mengalami kontraksi.
Subsektor yang masih tumbuh ini memiliki kontribusi dominan, yakni sekitar 78,9% terhadap PDB industri pengolahan nonmigas, mencerminkan bahwa basis utama industri nasional masih relatif kuat.
Dua subsektor dengan kinerja tertinggi pada April 2026 berasal dari industri pengolahan tembakau dan industri kertas serta barang dari kertas. Kinerja industri kertas dinilai sejalan dengan tren substitusi kemasan dari plastik ke material berbasis kertas.
Sementara itu, subsektor yang mengalami kontraksi antara lain industri minuman, tekstil, industri kayu dan produk turunannya, bahan kimia, barang galian nonlogam, barang logam nonmesin, serta alat angkut lainnya.
Dari sisi komponen pembentuk IKI, variabel pesanan baru tercatat melambat 0,77 poin menjadi 51,43. Variabel produksi juga turun 0,21 poin ke level 51,34. Sebaliknya, persediaan produk justru meningkat 1,66 poin menjadi 53,13, mengindikasikan adanya penumpukan stok di tengah permintaan yang melambat.
Berdasarkan orientasi pasar, industri berorientasi ekspor masih mencatatkan ekspansi dengan IKI sebesar 52,28, meski turun 0,45 poin dibandingkan bulan sebelumnya. Adapun industri yang berfokus pada pasar domestik menunjukkan perbaikan dengan IKI naik menjadi 50,90 dari sebelumnya 50,44.
Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arief menerangkan, beberapa subsektor memang memanfaatkan dinamika global untuk meningkatkan pesanan dan produksi yang berorientasi ekspor. Subsektor dengan kinerja ekspor paling menonjol antara lain industri pengolahan tembakau dan industri pakaian jadi (garment).
Febri menjelaskan, kondisi tersebut terjadi karena industri pakaian jadi yang beroperasi di kawasan berikat memperoleh kemudahan akses bahan baku impor sehingga mampu menjaga keberlanjutan produksi dan ekspor. Berbeda dengan industri tekstil yang saat ini ditantang kesulitan bahan baku.
“Subsektor hilirnya, industri pakaian jadi, justru kinerjanya sangat bagus. Nomor dua terbaik di antara 23 subsektor industri,” jelasnya di Kantor Kemenperin, Jakarta, Rabu (29/4/2026).
Pabrik tekstil
Selain tembakau dan garmen, subsektor lain yang mencatatkan kinerja ekspor positif adalah industri kertas dan barang dari kertas. Kinerja ekspor juga terpantau kuat pada industri farmasi, produk obat kimia, dan obat tradisional.
Lebih lanjut, subsektor industri barang logam bukan mesin dan peralatannya, industri komputer, barang elektronik dan optik, serta industri peralatan listrik turut menunjukkan peningkatan ekspor pada periode yang sama.
Febri menilai, capaian ini menunjukkan bahwa sebagian industri nasional mampu beradaptasi dan menangkap peluang di tengah ketidakpastian global. Pemerintah pun mendorong pelaku industri untuk memanfaatkan momentum tersebut guna memperkuat basis ekspor nasional.
“Sesuai dengan arahan Bapak Menteri bahwa kita harus memanfaatkan kesulitan, tantangan gejolak geopolitik ini untuk memperkuat basis ekspor kita,” tutur Febri.
Kertas Solid....
Kinerja Industri Kertas Solid
Subsektor industri kertas dan barang dari kertas mencatatkan kinerja paling solid pada April 2026 dengan nilai Indeks Kepercayaan Industri (IKI) tinggi, ditopang lonjakan permintaan kemasan berbasis kertas di tengah tren substitusi dari plastik serta penguatan pasar ekspor.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika menjelaskan, industri kertas semakin strategis seiring pergeseran penggunaan material kemasan dari plastik ke kertas.
Dia memaparkan, dalam struktur industri kemasan nasional, kemasan berbahan plastik jenis flexible packaging masih mendominasi sekitar 48%. Namun, porsi kemasan berbasis kertas terus meningkat dan kini mencapai kisaran 32% hingga 35%.
Oleh karena itu, pemerintah akan mendorong substitusi bahan kemasan melalui berbagai inisiatif, termasuk kegiatan business matching antara produsen dan pengguna. Upaya ini mulai menunjukkan hasil, tercermin dari meningkatnya minat pelaku industri untuk beralih ke kemasan berbasis kertas.
“Jadi banyak perusahaan industri yang berminat dan ini mungkin akan terus berproses. Kita juga sudah ada investasi untuk yang namanya aseptic packaging,” sebut Putu.
Dia menerangkan, kemasan aseptik menjadi pilihan lantaran memungkinkan produk minuman disimpan pada suhu ruang dengan daya tahan hingga sekitar 11 bulan tanpa mengalami kerusakan, sehingga membuka peluang pasar yang lebih luas.
Tidak hanya itu, pemerintah juga tengah menjajaki pemanfaatan material alternatif lain seperti kaca untuk kemasan, sebagai bagian dari upaya diversifikasi dan substitusi.
Dari catatan kementerian, kebutuhan nasional akan kemasan aseptik diperkirakan mencapai sekitar 8,3 miliar kemasan per tahun, dengan sekitar 4,8 miliar di antaranya berasal dari segmen susu dan produk dairy, serta sisanya dari minuman berbasis teh dan kopi dan tanaman berbasis tumbuhan seperti santan, oat milk, kacang hijau dll (plant based).
Sementara itu, industri pulp dan kertas nasional memiliki fondasi kuat untuk mendukung transformasi kemasan. Pada 2025, industri ini didukung 113 perusahaan dengan kapasitas produksi pulp mencapai 14,48 juta ton per tahun dan kertas 25,37 juta ton per tahun. Nilai ekspornya mencapai US$8,2 miliar, sekaligus menyerap sekitar 1,48 juta tenaga kerja.
Waspada Berbalik Kontraksi
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, perlambatan industri pengolahan bisa terus berlanjut bila harga energi masih bertahan tinggi dan belum ada deeskalasi konflik geopolitik.
Tidak dipungkiri, kenaikan harga energi global terus meningkatkan beban biaya produksi di sektor industri, terutama sektor logam dan tekstil. Kondisi ini memaksa pelaku usaha melakukan penyesuaian, yang pada akhirnya menahan ekspansi.
“Jika harga energinya itu masih relatif tinggi, maka ada potensi perlambatan lebih lanjut di bulan-bulan berikutnya,” sebut Yusuf.
Selain faktor biaya, dia juga menyoroti melemahnya sisi permintaan. Pada kuartal I/2026, industri masih ditopang momentum musiman seperti Ramadan dan Idulfitri. Namun, memasuki April dan seterusnya, dorongan permintaan tersebut mulai mereda.
Kondisi ini dinilai akan menekan kinerja industri secara keseluruhan, mengingat sektor manufaktur memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional.
Di sisi lain, Yusuf menilai kinerja positif sejumlah subsektor seperti garment, tembakau, dan beberapa industri hilir lainnya belum tentu sepenuhnya dipicu oleh peluang ekspor akibat konflik global. Menurutnya, ketahanan subsektor tersebut bisa jadi ditopang oleh kuatnya permintaan domestik atau kemampuan pelaku industri menyerap kenaikan biaya tanpa menaikkan harga secara signifikan.
Meski demikian, perbaikan kinerja industri berpotensi terjadi pada paruh kedua tahun ini, terutama jika konflik geopolitik mereda dan harga energi kembali stabil. “Ini sangat akan tergantung dari seberapa lama konflik ini akan terjadi dan eskalasi dari kenaikan harga minyaknya,” tuturnya.
Di sisi lain, Yusuf menilai langkah pemerintah melonggarkan bea masuk impor bahan baku, seperti plastik, merupakan sinyal positif untuk menjaga daya tahan industri. Namun, dia mengingatkan ruang fiskal pemerintah yang terbatas dapat menjadi kendala dalam memberikan stimulus lanjutan.
Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyatakan peningkatan kinerja ekspor Indonesia pada Januari 2026 didorong oleh sektor industri pengolahan di antaranya ... [470] url asal
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyatakan peningkatan kinerja ekspor Indonesia pada Januari 2026 didorong oleh sektor industri pengolahan di antaranya produk olahan minyak sawit dan nikel, yang mencapai 18,51 miliar dolar AS, meningkat dibandingkan Januari 2025 yang sebesar 17,11 miliar dolar AS.
Berdasarkan keterangan tertulis di Jakarta, Kamis, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyebut kontribusi industri pengolahan mencapai 83,53 persen terhadap total ekspor pada Januari 2026.
Adapun produk-produk industri pengolahan yang mengalami pertumbuhan adalah produk olahan minyak sawit, nikel, besi dan baja, semi konduktor serta kendaraan bermotor. Khusus untuk produk olahan timah, pertumbuhannya tercatat hingga 191 persen yang dipengaruhi oleh larangan ekspor bijih timah.
"Tiga komoditas nonmigas utama dengan kenaikan ekspor tertinggi pada Januari 2026 adalah timah dan barang daripadanya yang naik hingga 191,38 persen, lemak dan minyak hewani atau nabati naik 46,05 persen, serta nikel dan barang daripadanya naik 42,04 persen (YoY). Hal ini didorong oleh peningkatan harga ketiga komoditas tersebut di pasar internasional," kata Budi.
Budi menambahkan, berdasarkan World Bank Commodity Price Data, harga timah pada Januari 2026 melonjak 67,29 persen, nikel naik 15,42 persen, dan minyak kernel kelapa sawit (palm kernel oil) naik 8,36 persen dibandingkan Januari 2025.
Selain industri pengolahan, kinerja ekspor awal tahun ini juga ditopang oleh sektor pertambangan dan lainnya berkontribusi 10,48 persen, minyak bumi dan gas 4,03 persen, dan pertanian 1,97 persen secara tahunan.
Sebaliknya, ekspor sektor pertanian turun 20,36 persen serta sektor pertambangan dan lainnya turun 14,59 persen secara tahunan.
Dari sisi tujuan ekspornya, Tiongkok (5,27 miliar dolar AS), Amerika Serikat (2,51 miliar dolar AS), dan India (1,52 miliar dolar AS), masih menjadi pasar utama ekspor nonmigas Indonesia dengan total nilai mencapai 9,30 miliar dolar AS atau 43,77 persen dari total ekspor nonmigas nasional pada Januari 2026.
Sementara itu, tujuan ekspor nonmigas yang mencatatkan pertumbuhan tertinggi adalah Spanyol yang naik 74,65 persen, Mesir 59,23 persen, dan Pakistan 55,62 persen secara tahunan. Secara kawasannya, ekspor ke Asia Tengah lainnya tumbuh 112,88 persen, Afrika Utara 36,10 persen, dan Asia Selatan 26,55 persen.
Diketahui, neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2026 kembali mencatatkan surplus sebesar 0,95 miliar dolar AS. Surplus ini ditopang oleh kinerja surplus nonmigas sebesar 3,23 miliar dolar AS meskipun sektor migas defisit 2,27 miliar dolar AS.
Total ekspor Indonesia tercatat sebesar 22,16 miliar dolar AS, naik 3,39 persen dibandingkan Januari 2025. Peningkatan ini terutama didorong pertumbuhan ekspor nonmigas sebesar 4,38 persen (YoY) menjadi 21,26 miliar dolar AS dari 20,37 miliar dolar AS.
Sementara itu, total impor Indonesia tercatat 21,20 miliar dolar AS atau naik 18,21 persen dibandingkan Januari 2025 yang sebesar 17,94 miliar dolar AS.
Ekspor industri pengolahan Indonesia naik 8,19% pada Januari 2026, mencapai US$18,51 miliar, menjadi penopang utama ekspor nonmigas di tengah penurunan sektor lain. [476] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan peningkatan nilai ekspor industri pengolahan mencapai US$18,51 miliar pada Januari 2026 menjadi bantalan terhadap kinerja ekspor nonmigas.
Data BPS menunjukkan, nilai ekspor industri pengolahan tumbuh 8,19% secara tahunan (year-on-year/yoy) dari US$17,11 miliar menjadi US$18,51 miliar pada Januari 2026.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan pada awal 2026, ekspor industri pengolahan menunjukkan kinerja yang baik di tengah menurunnya ekspor pertanian/perkebunan dan pertambangan.
Jika dirinci, ekspor pertanian, kehutanan, dan pertanian mengalami penurunan hingga 20,36% yoy menjadi US$0,44 miliar pada Januari 2026. Pada periode yang sama, ekspor pertambangan dan lainnya juga turun 14,59% yoy menjadi US$2,32 miliar.
“Industri pengolahan menjadi bantalan kinerja ekspor Januari 2026 yang tumbuh sebesar 8,19% [yoy]. Produk industri yang tumbuhnya sangat tinggi antara lain adalah produk olahan minyak sawit, produk nikel, besi dan baja, semi konduktor, dan kendaraan bermotor,” kata Amalia dalam keterangan tertulis, Senin (2/3/2026).
Amalia menambahkan produk timah dan olahannya juga melonjak hingga 191,38% secara tahunan menjadi US$135,32 juta pada Januari 2026 dari periode yang sama tahun sebelumnya hanya di level US$46,44 juta.
“Produk olahan timah mampu tumbuh 191% karena larangan ekspor bijih timah yang berdampak terhadap tumbuhnya ekspor produk olahan timah,” lanjutnya.
Dari sisi tujuan, tiga negara utama penyerap ekspor nonmigas Indonesia pada Januari 2026 adalah China, Amerika Serikat (AS), dan India dengan kontribusi gabungan 43,77%.
Data menunjukkan, China menjadi pasar terbesar dengan nilai US$5,27 miliar (24,80%), diikuti AS US$2,51 miliar (11,82%), dan India US$1,52 miliar (7,15%).
Secara terperinci, Amalia menuturkan total ekspor nonmigas ke AS pada Januari 2026 adalah sebesar US$2,82 miliar atau tumbuh 13,60% dibandingkan dengan Januari 2025. Dari sisi impor, nilai impor Indonesia pada Januari 2026 mencapai US$21,20 miliar atau naik 18,21% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Dari sana, impor nonmigas tercatat US$18,04 miliar atau tumbuh 16,71% dibandingkan Januari 2025, sedangkan impor migas meningkat 27,52% menjadi US$3,17 miliar.
Jika ditinjau dari penggunaannya, kenaikan impor terutama didorong oleh bahan baku/penolong yang mencapai US$14,88 miliar atau naik 14,67% secara tahunan. Senada, impor barang modal juga melonjak 35,23% menjadi US$4,49 miliar.
“Peningkatan impor bahan baku/penolong dan barang modal tersebut mencerminkan meningkatnya aktivitas produksi domestik serta investasi pada sektor riil, karena kedua kelompok barang ini umumnya digunakan untuk mendukung proses produksi industri dan ekspansi usaha,” ujarnya.
Adapun tiga negara utama asal impor nonmigas Indonesia pada Januari 2026 adalah China, Australia, dan Jepang dengan total kontribusi 54,90%. China tercatat masih menjadi negara utama dengan nilai impor mencapai US$7,89 miliar (43,71%), disusul Australia US$1,07 miliar (5,93%) dan Jepang US$0,95 miliar (5,26%).
Ekspor industri pengolahan Indonesia turun 1,46% YoY pada November 2025, pertama kali dalam 21 bulan, meski secara kumulatif Januari-November 2025 naik 14% YoY. [340] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja ekspor industri pengolahan mengalami kontraksi sebesar 1,46% secara tahunan (year on year /YoY) pada November 2025.
Kontraksi ini menandai pelemahan pertama ekspor industri pengolahan sejak Februari 2024 atau 21 bulan terakhir.
Pembalikan tren ini mengakhiri fase pertumbuhan positif hampir dalam dua tahun, yang mengindikasikan mulai meredanya permintaan eksternal terhadap produk manufaktur nasional.
Padahal, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini menjelaskan industri pengolahan merupakan sektor penyumbang nilai ekspor nonmigas terbesar. Pada November 2025, industri pengolahan menyumbang 83,7% dari total nilai ekspor nonmigas.
"Pada November 2025 total ekspor nonmigas sebesar US$21,64 miliar. Jika dirinci menurut sektor maka sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan berkontribusi sebesar US$0,54 miliar; kemudian Sektor Pertambangan dan Lainnya berkontribusi sebesar US$2,99 miliar; dan sektor Industri Pengolahan sebesar US$18,11 miliar," jelas Pudji dalam konferensi pers, Senin (5/1/2025).
Dia menjelaskan semua sektor memang mengalami kontraksi alias penurunan kinerja ekspor pada November 2025. Perinciannya, Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan turun 6,09% YoY; Pertambangan dan Lainnya turun 22,28% YoY; dan Industri Pengolahan turun 1,46%.
Alhasil, secara keseluruhan, BPS mencatat bahwa ekspor pada November 2025 tercatat mengalami kontraksi sebesar 6,6% YoY.
Kendati demikian, secara kumulatif alias Januari—November 2025, BPS mencatat industri pengolahan masih mengalami kenaikan ekspor sebesar 14% YoY, dengan nilai mencapai US$205,93 miliar. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, ekspor industri pengolahan hanya mencapai US$180,65 miliar.
Dalam catatan BPS, nilai ekspor nonmigas naik 7,07% YoY menjadi US$244,75 miliar pada Januari—November 2025. Nilai tersebut naik dari periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar US$228,59 miliar.
Pudji menerangkan bahwa sektor industri pengolahan menjadi pendorong utama atas peningkatan kinerja ekspor nonmigas pada periode Januari hingga November 2025 dengan andil sebesar 10,41%.
"Ekspor sektor industri pengolahan yang naik cukup besar yaitu minyak kelapa sawit, barang perhiasan dan barang berharga, kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian, logam dasar bukan besi, serta semikonduktor dan komponen elektronik lainnya," jelasnya.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56