Ekspor Industri Pengolahan Naik 8,19% di Tengah Kinerja Pertanian yang Lesu
Ekspor industri pengolahan Indonesia naik 8,19% pada Januari 2026, mencapai US$18,51 miliar, menjadi penopang utama ekspor nonmigas di tengah penurunan sektor lain.
(Bisnis.Com) 02/03/26 17:16 152240
Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan peningkatan nilai ekspor industri pengolahan mencapai US$18,51 miliar pada Januari 2026 menjadi bantalan terhadap kinerja ekspor nonmigas.
Data BPS menunjukkan, nilai ekspor industri pengolahan tumbuh 8,19% secara tahunan (year-on-year/yoy) dari US$17,11 miliar menjadi US$18,51 miliar pada Januari 2026.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan pada awal 2026, ekspor industri pengolahan menunjukkan kinerja yang baik di tengah menurunnya ekspor pertanian/perkebunan dan pertambangan.
Jika dirinci, ekspor pertanian, kehutanan, dan pertanian mengalami penurunan hingga 20,36% yoy menjadi US$0,44 miliar pada Januari 2026. Pada periode yang sama, ekspor pertambangan dan lainnya juga turun 14,59% yoy menjadi US$2,32 miliar.
“Industri pengolahan menjadi bantalan kinerja ekspor Januari 2026 yang tumbuh sebesar 8,19% [yoy]. Produk industri yang tumbuhnya sangat tinggi antara lain adalah produk olahan minyak sawit, produk nikel, besi dan baja, semi konduktor, dan kendaraan bermotor,” kata Amalia dalam keterangan tertulis, Senin (2/3/2026).
Amalia menambahkan produk timah dan olahannya juga melonjak hingga 191,38% secara tahunan menjadi US$135,32 juta pada Januari 2026 dari periode yang sama tahun sebelumnya hanya di level US$46,44 juta.
“Produk olahan timah mampu tumbuh 191% karena larangan ekspor bijih timah yang berdampak terhadap tumbuhnya ekspor produk olahan timah,” lanjutnya.
Dari sisi tujuan, tiga negara utama penyerap ekspor nonmigas Indonesia pada Januari 2026 adalah China, Amerika Serikat (AS), dan India dengan kontribusi gabungan 43,77%.
Data menunjukkan, China menjadi pasar terbesar dengan nilai US$5,27 miliar (24,80%), diikuti AS US$2,51 miliar (11,82%), dan India US$1,52 miliar (7,15%).
Secara terperinci, Amalia menuturkan total ekspor nonmigas ke AS pada Januari 2026 adalah sebesar US$2,82 miliar atau tumbuh 13,60% dibandingkan dengan Januari 2025. Dari sisi impor, nilai impor Indonesia pada Januari 2026 mencapai US$21,20 miliar atau naik 18,21% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Dari sana, impor nonmigas tercatat US$18,04 miliar atau tumbuh 16,71% dibandingkan Januari 2025, sedangkan impor migas meningkat 27,52% menjadi US$3,17 miliar.
Jika ditinjau dari penggunaannya, kenaikan impor terutama didorong oleh bahan baku/penolong yang mencapai US$14,88 miliar atau naik 14,67% secara tahunan. Senada, impor barang modal juga melonjak 35,23% menjadi US$4,49 miliar.
“Peningkatan impor bahan baku/penolong dan barang modal tersebut mencerminkan meningkatnya aktivitas produksi domestik serta investasi pada sektor riil, karena kedua kelompok barang ini umumnya digunakan untuk mendukung proses produksi industri dan ekspansi usaha,” ujarnya.
Adapun tiga negara utama asal impor nonmigas Indonesia pada Januari 2026 adalah China, Australia, dan Jepang dengan total kontribusi 54,90%. China tercatat masih menjadi negara utama dengan nilai impor mencapai US$7,89 miliar (43,71%), disusul Australia US$1,07 miliar (5,93%) dan Jepang US$0,95 miliar (5,26%).
#ekspor-industri #industri-pengolahan #ekspor-nonmigas #bps-ekspor #peningkatan-ekspor #produk-olahan #ekspor-januari-2026 #produk-nikel #produk-timah #ekspor-china #ekspor-as #ekspor-india #impor-nonm