#30 tag 24jam
Dubes RI: AI, Startup, hingga Diplomasi Kuliner Jadi Agenda Baru Hubungan RI-Swiss (Bagian Ketiga)
AI, startup, hingga kuliner dinilai menjadi babak baru hubungan Indonesia-Swiss setelah 75 tahun kerja sama diplomatik. [1,354] url asal
#startup #kuliner #swiss #ai #75-tahun-indonesia-swiss #bern
(Kompas.com - Money) 30/06/26 17:00
v/264000/
BERN, KOMPAS.com — Selain memperkuat perdagangan, investasi, dan pengembangan sumber daya manusia, Indonesia dan Swiss juga mulai membuka ruang kerja sama di sektor-sektor baru.
Hal itu disampaikan Duta Besar RI untuk Swiss Ngurah Swajaya dalam wawancara khusus dengan tim jurnalis Kompas Gramedia Grup (KG Media), termasuk Kompas.com, di KBRI Bern, Swiss, pada Senin (30/6/2026).
Dalam kesempatan wawancara tersebut, Ngurah menilai ekonomi digital, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), hingga ekosistem startup akan menjadi salah satu mesin pertumbuhan hubungan bilateral pada masa mendatang.
Menurut Ngurah, Swiss selama ini dikenal sebagai salah satu negara paling inovatif di dunia. Namun, Indonesia memiliki keunggulan berupa pasar digital yang besar, bonus demografi, dan tingkat adopsi teknologi yang berkembang pesat. Kedua keunggulan tersebut dinilai dapat saling melengkapi.
Di sisi lain, diplomasi ekonomi tidak hanya dilakukan melalui investasi dan perdagangan. Promosi produk Indonesia, restoran, pariwisata, hingga pembelajaran bahasa Indonesia juga menjadi bagian dari upaya memperluas kehadiran Indonesia di Swiss.
Berikut bagian akhir wawancara Kompas.com dan tim jurnalis KG Media dengan Duta Besar RI untuk Swiss Ngurah Swajaya, dalam format tanya-jawab.
Untuk membaca bagian pertama dan kedua artikel ini, klik link ini dan link ini.
Setelah kerja sama hilirisasi mineral dan logam, sektor apa lagi yang berpotensi dikembangkan?
Menurut saya, sektor yang sangat potensial adalah ekonomi digital.
Selama ini Indonesia belum banyak melihat Switzerland sebagai mitra ekonomi digital. Sebaliknya, Swiss juga belum banyak melihat Indonesia sebagai pasar maupun mitra strategis di sektor tersebut.
Padahal Swiss memiliki ekosistem startup yang sangat kuat. Saat ini ada sekitar 15 hingga 24 startup yang telah mencapai status unicorn. Selain itu, terdapat sekitar 250 startup yang berpotensi berkembang menjadi unicorn.
Saya sering menyampaikan kepada pelaku startup di Swiss, kalau ingin menguji pasar, Indonesia merupakan tempat yang sangat ideal. Indonesia memiliki pasar yang besar dengan berbagai segmen konsumen sehingga menjadi lokasi yang tepat untuk mengembangkan berbagai inovasi digital.
KOMPAS.com/APRILLIA IKA Duta Besar RI untuk Swiss Ngurah Swajaya, Ketua Komite Hubungan Bilateral Swiss dan Liechtenstein Kadin Indonesia Francis Wanandi, serta Dominic Gorecky berbincang di sela International Smart Factory Summit di depan demonstrasi teknologi physical AI di Swiss Smart Factory, Bern, Swiss, Kamis (25/6/2026). #RICH_75indonesiaswissMengapa ekonomi digital menjadi fokus baru kerja sama Indonesia-Swiss?
Pada Business Forum Indonesia-Swiss tahun ini, kami memang memilih ekonomi digital sebagai tema utama.
Diskusinya difokuskan pada tiga bidang.
Pertama adalah infrastruktur digital, termasuk data center dan seluruh ekosistem pendukungnya.
Kedua adalah financial technology. Indonesia memiliki perkembangan yang sangat baik, misalnya melalui QRIS. Saya melihat Indonesia bahkan lebih maju dibandingkan Swiss dalam adopsi pembayaran digital.
Namun Swiss memiliki keunggulan pada aspek keamanan sistem, perlindungan data, dan trust. Dua kekuatan tersebut bisa saling melengkapi.
Ketiga adalah artificial intelligence.
Semua negara sekarang berbicara mengenai AI. Yang paling penting bukan sekadar membicarakan istilahnya, tetapi bagaimana AI benar-benar diterapkan dalam industri dan kehidupan sehari-hari.
Bagaimana Bapak melihat perkembangan AI di Swiss?
Teman-teman sudah melihat langsung Smart Factory ketika berkunjung ke Swiss.
Di sana AI bukan lagi konsep, tetapi sudah diterapkan dalam robotika, cobot, maupun pengelolaan ekosistem industri.
Swiss bahkan sudah mulai berbicara mengenai Industry 5.0, ketika kecerdasan buatan menjadi bagian dari proses produksi.
Kalau Indonesia mampu memanfaatkan perkembangan ini melalui kerja sama teknologi dan pengembangan sumber daya manusia, manfaatnya akan sangat besar.
Bagaimana KBRI mendorong lebih banyak produk Indonesia masuk ke Swiss?
Kami tentu mengapresiasi langkah Eiger yang membuka toko di Swiss.
Menurut saya, kalau sebuah produk Indonesia mampu bertahan di pasar Swiss, maka produk tersebut juga akan lebih percaya diri memasuki pasar negara-negara lain di Eropa karena standar pasar Swiss cukup tinggi.
Selain itu, ekspor kopi Indonesia ke Swiss juga meningkat sangat signifikan, bahkan hampir dua kali lipat.
Yang menarik, kami tidak hanya mempromosikan kopi. Saat Coffee Festival, kami juga membawa pelaku UMKM yang memproduksi mesin kopi dan kapsul buatan Indonesia.
Kapsul tersebut bukan hanya untuk kopi, tetapi juga untuk jamu. Inovasi seperti itu kami perkenalkan kepada pasar Swiss.
Selain kopi, kami terus mendorong produk alas kaki, makanan olahan, seafood, hingga berbagai produk UMKM lainnya selama memenuhi standar yang berlaku.
Kalau suatu produk sudah diterima di pasar Swiss, peluang masuk ke pasar Eropa lainnya akan jauh lebih besar.
Bagaimana peluang produk sawit Indonesia di Swiss?
Produk sawit Indonesia dapat masuk ke Swiss selama memenuhi standar sertifikasi yang berlaku, termasuk sertifikasi keberlanjutan.
Sebagai minyak nabati, kebutuhan sawit sebenarnya cukup besar, terutama untuk industri makanan dan cokelat.
Namun saat ini sebagian besar impor sawit Swiss masih melalui Belanda atau negara lain di Eropa. Jadi belum banyak yang masuk langsung dari Indonesia.
Ke depan saya melihat peluang tersebut masih bisa dikembangkan.
Selain perdagangan, bagaimana diplomasi kuliner berperan dalam hubungan kedua negara?
Kuliner adalah salah satu bentuk diplomasi yang paling efektif.
Melalui makanan, masyarakat bisa langsung mengenal budaya Indonesia.
Kami terus mendorong diaspora yang ingin membuka restoran Indonesia di Swiss.
Menurut saya, pemerintah juga dapat memberikan bentuk penghargaan atau pengakuan kepada restoran Indonesia di luar negeri yang konsisten memperkenalkan kuliner Indonesia.
Penghargaan seperti itu mungkin sederhana, tetapi memiliki arti besar bagi pelaku usaha.
Di Swiss sendiri sudah ada beberapa restoran Indonesia yang bertahan lebih dari sepuluh bahkan dua puluh tahun.
Kami juga berusaha membantu mempromosikan mereka melalui berbagai kegiatan dan media sosial.
Bagaimana dengan sektor pariwisata?
Jumlah wisatawan Swiss ke Indonesia memang tidak sebesar negara lain.
Namun mereka memiliki karakteristik yang berbeda.
Wisatawan Swiss rata-rata tinggal lebih lama di Indonesia dan memiliki tingkat pengeluaran yang lebih tinggi.
Mereka juga umumnya datang karena benar-benar tertarik menikmati alam dan budaya Indonesia.
Menariknya, ketika saya bertemu pelaku industri di Swiss, banyak yang pernah berlibur ke Bali, Raja Ampat, atau Labuan Bajo.
Saya selalu bertanya, mengapa belum berinvestasi di Indonesia?
Artinya, pariwisata bisa menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan peluang bisnis Indonesia kepada masyarakat Swiss.
Bagaimana KBRI memperkuat hubungan antarmasyarakat?
Kami memiliki berbagai program people-to-people contact.
Salah satunya adalah program BIPA atau Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing.
Minat masyarakat Swiss belajar bahasa Indonesia cukup tinggi.
Ketika kami bertanya alasan mereka belajar, sebagian ingin berwisata ke Indonesia, sementara sebagian lainnya ingin mengenal peluang bisnis di Indonesia.
Kami juga rutin mengadakan kegiatan seni budaya, bekerja sama dengan berbagai institusi di Swiss, mulai dari pertunjukan tari hingga pameran seni rupa.
Semua itu bertujuan memperkenalkan Indonesia lebih luas kepada masyarakat Swiss.
Bagaimana KBRI mengantisipasi maraknya penipuan tawaran kerja di Swiss?
Kami selalu mengingatkan masyarakat agar berhati-hati.
Memang kebutuhan tenaga kerja di Swiss ada, tetapi aturan untuk bekerja di sini sangat ketat.
Persetujuan bekerja berada pada tingkat kanton, sehingga prosesnya tidak mudah.
Karena itu masyarakat jangan mudah percaya terhadap tawaran pekerjaan yang menjanjikan proses cepat atau tanpa prosedur resmi.
Saya melihat solusi jangka panjang justru mendorong perusahaan Swiss berinvestasi di Indonesia sehingga lapangan kerja tercipta di dalam negeri.
KOMPAS.com/APRILLIA IKA Imbauan kewaspadaan heatwave di Swiss oleh KBRI Bern.
Bagaimana perlindungan WNI di tengah gelombang panas yang melanda Eropa?
Heatwave memang mulai sering terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Namun di Swiss masyarakat sudah mulai beradaptasi.
Sejauh ini kami belum menerima laporan WNI yang terdampak serius akibat gelombang panas.
KBRI tetap menyiapkan layanan perlindungan selama 24 jam untuk membantu warga negara Indonesia apabila menghadapi keadaan darurat.
Kami juga terus mengimbau WNI agar melakukan lapor diri. Dengan begitu, ketika terjadi keadaan darurat atau bencana, KBRI dapat lebih cepat memberikan informasi maupun bantuan.
Selain itu, kami juga berharap ke depan layanan penerbitan paspor elektronik dapat dilakukan di KBRI Bern sehingga pelayanan kepada masyarakat Indonesia menjadi lebih mudah.
Apa harapan Bapak terhadap hubungan Indonesia dan Swiss setelah 75 tahun?
Saya melihat Indonesia memiliki peluang yang sangat besar.
Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah dan sumber daya manusia yang besar.
Kalau kedua kekuatan itu dipadukan dengan teknologi, inovasi, pendidikan vokasi, dan investasi dari Swiss, saya optimistis hubungan kedua negara akan semakin kuat.
Yang terpenting adalah bagaimana kita memanfaatkan setiap peluang yang muncul di tengah tantangan global.
Bagi saya, hubungan Indonesia dan Swiss bukan lagi sekadar hubungan diplomatik yang sudah berlangsung selama 75 tahun, tetapi kemitraan yang dapat saling melengkapi untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan bagi kedua negara.
#RICH_75indonesiaswiss
(Selesai)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Dubes RI: Investasi Swiss Tak Sekadar Bawa Modal, tapi Juga Transfer Teknologi (Bagian Kedua)
Dubes RI menilai peluang terbesar kerja sama Indonesia-Swiss bukan hanya investasi, tetapi juga transfer teknologi dan vokasi. [1,468] url asal
#swiss #75-tahun-indonesia-swiss #bern
(Kompas.com - Money) 30/06/26 16:00
v/264108/
BERN, KOMPAS.com — Setelah 75 tahun menjalin hubungan diplomatik, Indonesia dan Swiss mulai melihat ruang kerja sama yang lebih luas, terutama di bidang perdagangan, investasi, transfer teknologi, dan penguatan sumber daya manusia.
Kompas.com bersama tim jurnalis Kompas Gramedia Grup (KG Media) berkesempatan melakukan wawancara khusus dengan Ngurah Sanjaya di kantornya, di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Swiss di Bern, Swiss, pada Senin (30/6/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Duta Besar RI untuk Swiss Ngurah Swajaya mengatakan, hubungan ekonomi kedua negara memiliki fondasi yang cukup kuat. Salah satunya terlihat dari tren perdagangan yang meningkat setelah berlakunya Indonesia-European Free Trade Association Comprehensive Economic Partnership Agreement atau IE-CEPA.
Pada Januari-Oktober 2025, Indonesia mencatat surplus perdagangan sekitar 4,97 miliar dollar AS terhadap Swiss. Menurut Ngurah, angka tersebut menunjukkan bahwa pasar Swiss tetap penting bagi produk Indonesia, meskipun jumlah penduduk negara itu relatif kecil, sekitar 9,1 juta orang.
Namun, bagi Ngurah, kerja sama Indonesia-Swiss tidak cukup hanya dilihat dari sisi perdagangan barang. Peluang yang lebih besar justru terletak pada investasi, transfer teknologi, pengembangan industri kecil dan menengah berbasis inovasi, serta pendidikan vokasi yang meniru sistem Swiss.
Berikut lanjutan petikan wawancara Kompas.com dengan Duta Besar RI untuk Swiss Ngurah Swajaya di Bern, Swiss, bagian kedua, dalam bentuk tanya-jawab.
Bagaimana tren perdagangan Indonesia dan Swiss saat ini?
Setelah berlakunya perjanjian perdagangan, kita melihat tren perdagangan kedua negara selalu naik.
Kalau kita melihat data Januari sampai Oktober 2025, surplus perdagangan Indonesia dengan Swiss mencapai sekitar 4,97 miliar dollar AS. Ini surplusnya saja. Artinya, Indonesia menjual ke Swiss lebih banyak daripada membeli dari Swiss.
Ini indikator yang sangat positif dan bisa kita manfaatkan. Memang, kalau melihat komoditas yang kita ekspor ke Swiss, kita masih perlu meningkatkan diversifikasinya.
Komoditas yang paling banyak kita ekspor ke Swiss masih berupa batu mulia dan emas. Tetapi ada juga minyak atsiri, kopi, alas kaki, tekstil dan garmen, serta mesin-mesin industri.
Di luar itu, saya melihat potensi produk perikanan, frozen food, frozen shrimp, dan makanan olahan juga cukup besar. Swiss ini negara yang tidak punya laut, sehingga produk perikanan laut punya peluang.
Memang jumlah penduduk Swiss sekitar 9,1 juta, sehingga dari sisi volume mungkin tidak sebesar pasar lain. Tetapi kalau kita bisa meningkatkan ekspor dalam bentuk produk bernilai tambah, misalnya mesin industri atau makanan olahan, perdagangan kedua negara masih bisa tumbuh.
Apa arti surplus perdagangan hampir 5 miliar dollar AS itu bagi Indonesia?
Surplus itu menunjukkan bahwa produk Indonesia punya daya saing di pasar Swiss. Total perdagangan kedua negara pada periode Januari-Oktober 2025 sudah di atas 6 miliar dollar AS.
Swiss juga tidak pernah komplain meskipun surplus Indonesia hampir 5 miliar dollar AS. Ini penting karena menunjukkan hubungan perdagangan berjalan sehat dan saling diterima.
Namun, kita tidak boleh puas hanya dengan komoditas yang ada sekarang. Diversifikasi perlu terus dilakukan agar produk yang masuk ke Swiss tidak hanya berbasis komoditas, tetapi juga produk bernilai tambah.
Bagaimana dengan investasi Swiss ke Indonesia?
Untuk periode yang sama, investasi Swiss ke Indonesia sekitar 110 juta dollar AS.
Kalau kita bandingkan dengan investasi Swiss ke luar negeri, potensi untuk menarik investasi ke Indonesia masih sangat besar. Pada 2023, investasi Swiss ke Amerika sekitar 15 miliar dollar AS. Ke seluruh Asia sekitar 7 miliar dollar AS. Indonesia baru 110 juta dollar AS.
Artinya, ruang pertumbuhannya masih signifikan.
Tetapi satu hal yang perlu dipahami, sekitar 99 persen industri Swiss adalah micro, small, and medium enterprises. Jadi sebagian besar adalah industri kecil dan menengah. Namun, mereka memiliki teknologi dan inovasi yang unggul.
Kalau mereka ingin berinvestasi ke Indonesia, mereka perlu pendampingan dan fasilitasi. Sumber daya manusia mereka terbatas. Karena itu, kita mencoba berkoordinasi dengan pemerintah terkait di Indonesia agar ketika perusahaan Swiss ingin masuk, prosesnya bisa dibantu.
KOMPAS.com/APRILLIA IKA Dubes RI untuk Swiss Ngurah Swajaya dan Ketua Komite Hubungan Bilateral Swiss dan Liechtenstein Kadin Indonesia Francis Wanandi mengikuti International Smart Factory Summit di Swiss Smart Factory, Bern, Swiss, Kamis (25/6/2026), yang membahas pengembangan Industry 5.0 berbasis kecerdasan buatan.
Mengapa perusahaan kecil dan menengah Swiss penting bagi Indonesia?
Karena meskipun skalanya kecil, teknologi mereka unggul.
Kalau mereka masuk dengan investasi 5 juta dollar AS, 10 juta dollar AS, atau 20 juta dollar AS, yang perlu kita lihat bukan hanya nilai investasinya. Yang lebih penting adalah bagaimana investasi itu membentuk ekosistem industri yang kuat di Indonesia.
Kalau ekosistem industrinya tumbuh, Indonesia bisa mendorong penggunaan komponen lokal lebih besar dan menjadi basis produksi yang menarik, terutama untuk kawasan Asia Pasifik.
Bahkan kalau dikombinasikan dengan pasar Amerika dan Eropa, potensinya jauh lebih besar.
Ini bukan sekadar rencana. Sudah ada beberapa contoh pengusaha kecil dan menengah Swiss yang masuk ke Indonesia. Di awal memang tidak mudah, tetapi ada yang cukup sukses, antara lain di bidang commodity trading, pertanian, perkebunan, dan produksi mesin-mesin presisi.
Bagaimana transfer teknologi dari Swiss bisa terjadi?
Transfer teknologi bisa terjadi melalui investasi dan pendidikan vokasi.
Ada satu perusahaan Swiss berskala kecil-menengah di kawasan Tangerang yang sudah memproduksi dan mengekspor mesin-mesin presisi. Seratus persen engineer-nya adalah orang Indonesia.
Di level manajemen, mungkin masih ada orang Swiss karena mereka pemiliknya. Tetapi dari sisi teknis, tenaga kerja dan engineer-nya orang Indonesia. Di situ kita melihat transfer teknologi benar-benar terjadi.
Kalau model seperti ini diperbanyak, apalagi dikombinasikan dengan lembaga pendidikan vokasi yang bekerja sama langsung dengan industri, akselerasinya akan lebih cepat.
Tanpa dukungan sektor industri, percepatan pertumbuhan ekonomi tidak akan bisa secepat yang diharapkan.
Bagaimana peran pendidikan vokasi dalam kerja sama Indonesia-Swiss?
Swiss sangat kuat dalam pendidikan vokasi dengan sistem ganda atau dual system.
Di Indonesia, lembaga pendidikan vokasi yang menggunakan sistem Swiss sudah ada di Solo, Cikarang, dan Bandung. Model ini memiliki success story yang sangat baik.
Kalau ingin ditingkatkan, peluangnya adalah mereplikasi model yang sama ke luar Jawa. Misalnya, di Sulawesi fokusnya untuk hilirisasi. Di Kalimantan fokus pada energi. Di Sumatera fokus pada pertanian.
Jadi pendidikan vokasi harus dikaitkan dengan kebutuhan industri di masing-masing daerah.
Saya sering mengatakan, tidak perlu reinvent the wheel. Kalau model di Bandung, Solo, dan Cikarang sudah berhasil, tinggal direplikasi dan disesuaikan dengan kebutuhan provinsi atau sektor industri tertentu.
KOMPAS/EVY RACHMAWATI Presiden Konfederasi Swiss Guy Parmelin memberikan keterangan kepada delegasi jurnalis Kompas Gramedia di sela Industry Day Swissmem di Basel, Swiss, Selasa (23/6/2026).Apa kunci dari dual system Swiss?
Kuncinya adalah keterhubungan dengan industri.
Dalam sistem Swiss, sekitar 60 persen proses pembelajaran dilakukan di industri. Jadi siswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga langsung bekerja dan belajar di lingkungan industri.
Kalau industri terlibat, industri juga tidak kekurangan sumber daya manusia yang cakap. Di sisi lain, lulusan vokasi menjadi lebih siap kerja.
Ini berbeda dengan pendidikan yang hanya akademik. Kalau lulus tetapi tidak siap kerja, maka angka pengangguran tetap tinggi.
Di Swiss, lebih dari 60 persen siswa setelah jenjang SMP diarahkan ke pendidikan vokasi yang ditempuh sekitar dua sampai tiga tahun. Setelah itu, mereka tetap memiliki jenjang untuk melanjutkan ke pendidikan akademik.
Menurut saya, kalau Indonesia ingin mempercepat industrialisasi dan hilirisasi, penguatan pendidikan vokasi ini sangat penting.
Bagaimana peluang Training for Trainers?
Untuk mengirim banyak siswa Indonesia ke Swiss, tantangannya adalah biaya hidup. Tuition fee di Swiss mungkin relatif tidak terlalu mahal, tetapi living cost sangat tinggi.
Karena itu, yang paling realistis adalah Training for Trainers.
Kita sudah memfasilitasi, misalnya, Nongsa Digital Park dengan ATMI Solo untuk menandatangani kerja sama dengan Smart Factory yang kemarin dikunjungi.
Programnya adalah mengirim trainer ke Swiss selama enam bulan sampai satu tahun. Mereka mengikuti pelatihan hingga berkualifikasi menjadi trainer, lalu kembali ke Indonesia untuk melatih lebih banyak orang.
Kalau program ini berjalan, modelnya bisa direplikasi.
Saya punya mimpi, mengapa tidak setiap tahun ada satu atau dua provinsi yang mengembangkan pendidikan vokasi berbasis kebutuhan industrinya masing-masing?
Ini investasi yang luar biasa bagi sumber daya manusia Indonesia.
Mengapa vokasi menjadi penting untuk hilirisasi?
Hilirisasi tidak cukup hanya bicara pabrik, mineral, atau investasi. Hilirisasi juga membutuhkan sumber daya manusia yang mampu mengoperasikan teknologi dan meningkatkan produktivitas.
Kalau kita bicara nikel, baterai, energi, atau industri berbasis teknologi lain, dampaknya akan sangat besar kalau sumber daya manusianya dilatih dengan baik.
Swiss pada 1930 masih merupakan negara pertanian. Sekarang, Swiss menjadi salah satu negara industri paling unggul di dunia karena kekuatan inovasinya.
Artinya, penguatan sumber daya manusia merupakan kunci. Indonesia memiliki sumber daya alam yang besar dan sumber daya manusia yang besar. Kalau keduanya dikombinasikan dengan teknologi dan pendidikan vokasi, potensinya sangat kuat.
Pengalaman investor Swiss di Indonesia juga menunjukkan bahwa mereka mengagumi keseriusan, komitmen, dan etos kerja orang Indonesia.
Karena itu, saya melihat kerja sama dengan Swiss bukan hanya soal menarik investasi, tetapi juga bagaimana membangun kemampuan industri dan sumber daya manusia Indonesia agar bisa naik kelas.
#RICH_75indonesiaswiss
(Berlanjut ke Bagian Tiga)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Dubes RI: Investasi Swiss Tak Sekadar Bawa Modal, tapi Juga Transfer Teknologi (Bagian Kedua)
Dubes RI menilai peluang terbesar kerja sama Indonesia-Swiss bukan hanya investasi, tetapi juga transfer teknologi dan vokasi. [1,463] url asal
#swiss #75-tahun-indonesia-swiss #bern
(Kompas.com - Money) 30/06/26 16:00
v/263925/
BERN, KOMPAS.com — Setelah 75 tahun menjalin hubungan diplomatik, Indonesia dan Swiss mulai melihat ruang kerja sama yang lebih luas, terutama di bidang perdagangan, investasi, transfer teknologi, dan penguatan sumber daya manusia.
Kompas.com bersama tim jurnalis Kompas Gramedia Grup (KG Media) berkesempatan melakukan wawancara khusus dengan Ngurah Sanjaya di kantornya, di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Swiss di Bern, Swiss, pada Senin (30/6/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Duta Besar RI untuk Swiss Ngurah Swajaya mengatakan, hubungan ekonomi kedua negara memiliki fondasi yang cukup kuat. Salah satunya terlihat dari tren perdagangan yang meningkat setelah berlakunya Indonesia-European Free Trade Association Comprehensive Economic Partnership Agreement atau IE-CEPA.
Pada Januari-Oktober 2025, Indonesia mencatat surplus perdagangan sekitar 4,97 miliar dollar AS terhadap Swiss. Menurut Ngurah, angka tersebut menunjukkan bahwa pasar Swiss tetap penting bagi produk Indonesia, meskipun jumlah penduduk negara itu relatif kecil, sekitar 9,1 juta orang.
Namun, bagi Ngurah, kerja sama Indonesia-Swiss tidak cukup hanya dilihat dari sisi perdagangan barang. Peluang yang lebih besar justru terletak pada investasi, transfer teknologi, pengembangan industri kecil dan menengah berbasis inovasi, serta pendidikan vokasi yang meniru sistem Swiss.
Berikut lanjutan petikan wawancara Kompas.com dengan Duta Besar RI untuk Swiss Ngurah Swajaya di Bern, Swiss, bagian kedua, dalam bentuk tanya-jawab.
Bagaimana tren perdagangan Indonesia dan Swiss saat ini?
Setelah berlakunya perjanjian perdagangan, kita melihat tren perdagangan kedua negara selalu naik.
Kalau kita melihat data Januari sampai Oktober 2025, surplus perdagangan Indonesia dengan Swiss mencapai sekitar 4,97 miliar dollar AS. Ini surplusnya saja. Artinya, Indonesia menjual ke Swiss lebih banyak daripada membeli dari Swiss.
Ini indikator yang sangat positif dan bisa kita manfaatkan. Memang, kalau melihat komoditas yang kita ekspor ke Swiss, kita masih perlu meningkatkan diversifikasinya.
Komoditas yang paling banyak kita ekspor ke Swiss masih berupa batu mulia dan emas. Tetapi ada juga minyak atsiri, kopi, alas kaki, tekstil dan garmen, serta mesin-mesin industri.
Di luar itu, saya melihat potensi produk perikanan, frozen food, frozen shrimp, dan makanan olahan juga cukup besar. Swiss ini negara yang tidak punya laut, sehingga produk perikanan laut punya peluang.
Memang jumlah penduduk Swiss sekitar 9,1 juta, sehingga dari sisi volume mungkin tidak sebesar pasar lain. Tetapi kalau kita bisa meningkatkan ekspor dalam bentuk produk bernilai tambah, misalnya mesin industri atau makanan olahan, perdagangan kedua negara masih bisa tumbuh.
Apa arti surplus perdagangan hampir 5 miliar dollar AS itu bagi Indonesia?
Surplus itu menunjukkan bahwa produk Indonesia punya daya saing di pasar Swiss. Total perdagangan kedua negara pada periode Januari-Oktober 2025 sudah di atas 6 miliar dollar AS.
Swiss juga tidak pernah komplain meskipun surplus Indonesia hampir 5 miliar dollar AS. Ini penting karena menunjukkan hubungan perdagangan berjalan sehat dan saling diterima.
Namun, kita tidak boleh puas hanya dengan komoditas yang ada sekarang. Diversifikasi perlu terus dilakukan agar produk yang masuk ke Swiss tidak hanya berbasis komoditas, tetapi juga produk bernilai tambah.
Bagaimana dengan investasi Swiss ke Indonesia?
Untuk periode yang sama, investasi Swiss ke Indonesia sekitar 110 juta dollar AS.
Kalau kita bandingkan dengan investasi Swiss ke luar negeri, potensi untuk menarik investasi ke Indonesia masih sangat besar. Pada 2023, investasi Swiss ke Amerika sekitar 15 miliar dollar AS. Ke seluruh Asia sekitar 7 miliar dollar AS. Indonesia baru 110 juta dollar AS.
Artinya, ruang pertumbuhannya masih signifikan.
Tetapi satu hal yang perlu dipahami, sekitar 99 persen industri Swiss adalah micro, small, and medium enterprises. Jadi sebagian besar adalah industri kecil dan menengah. Namun, mereka memiliki teknologi dan inovasi yang unggul.
Kalau mereka ingin berinvestasi ke Indonesia, mereka perlu pendampingan dan fasilitasi. Sumber daya manusia mereka terbatas. Karena itu, kita mencoba berkoordinasi dengan pemerintah terkait di Indonesia agar ketika perusahaan Swiss ingin masuk, prosesnya bisa dibantu.
KOMPAS.com/APRILLIA IKA Dubes RI untuk Swiss Ngurah Swajaya dan Ketua Komite Hubungan Bilateral Swiss dan Liechtenstein Kadin Indonesia Francis Wanandi mengikuti International Smart Factory Summit di Swiss Smart Factory, Bern, Swiss, Kamis (25/6/2026), yang membahas pengembangan Industry 5.0 berbasis kecerdasan buatan.
Mengapa perusahaan kecil dan menengah Swiss penting bagi Indonesia?
Karena meskipun skalanya kecil, teknologi mereka unggul.
Kalau mereka masuk dengan investasi 5 juta dollar AS, 10 juta dollar AS, atau 20 juta dollar AS, yang perlu kita lihat bukan hanya nilai investasinya. Yang lebih penting adalah bagaimana investasi itu membentuk ekosistem industri yang kuat di Indonesia.
Kalau ekosistem industrinya tumbuh, Indonesia bisa mendorong penggunaan komponen lokal lebih besar dan menjadi basis produksi yang menarik, terutama untuk kawasan Asia Pasifik.
Bahkan kalau dikombinasikan dengan pasar Amerika dan Eropa, potensinya jauh lebih besar.
Ini bukan sekadar rencana. Sudah ada beberapa contoh pengusaha kecil dan menengah Swiss yang masuk ke Indonesia. Di awal memang tidak mudah, tetapi ada yang cukup sukses, antara lain di bidang commodity trading, pertanian, perkebunan, dan produksi mesin-mesin presisi.
Bagaimana transfer teknologi dari Swiss bisa terjadi?
Transfer teknologi bisa terjadi melalui investasi dan pendidikan vokasi.
Ada satu perusahaan Swiss berskala kecil-menengah di kawasan Tangerang yang sudah memproduksi dan mengekspor mesin-mesin presisi. Seratus persen engineer-nya adalah orang Indonesia.
Di level manajemen, mungkin masih ada orang Swiss karena mereka pemiliknya. Tetapi dari sisi teknis, tenaga kerja dan engineer-nya orang Indonesia. Di situ kita melihat transfer teknologi benar-benar terjadi.
Kalau model seperti ini diperbanyak, apalagi dikombinasikan dengan lembaga pendidikan vokasi yang bekerja sama langsung dengan industri, akselerasinya akan lebih cepat.
Tanpa dukungan sektor industri, percepatan pertumbuhan ekonomi tidak akan bisa secepat yang diharapkan.
Bagaimana peran pendidikan vokasi dalam kerja sama Indonesia-Swiss?
Swiss sangat kuat dalam pendidikan vokasi dengan sistem ganda atau dual system.
Di Indonesia, lembaga pendidikan vokasi yang menggunakan sistem Swiss sudah ada di Solo, Cikarang, dan Bandung. Model ini memiliki success story yang sangat baik.
Kalau ingin ditingkatkan, peluangnya adalah mereplikasi model yang sama ke luar Jawa. Misalnya, di Sulawesi fokusnya untuk hilirisasi. Di Kalimantan fokus pada energi. Di Sumatera fokus pada pertanian.
Jadi pendidikan vokasi harus dikaitkan dengan kebutuhan industri di masing-masing daerah.
Saya sering mengatakan, tidak perlu reinvent the wheel. Kalau model di Bandung, Solo, dan Cikarang sudah berhasil, tinggal direplikasi dan disesuaikan dengan kebutuhan provinsi atau sektor industri tertentu.
KOMPAS/EVY RACHMAWATI Presiden Konfederasi Swiss Guy Parmelin memberikan keterangan kepada delegasi jurnalis Kompas Gramedia di sela Industry Day Swissmem di Basel, Swiss, Selasa (23/6/2026).Apa kunci dari dual system Swiss?
Kuncinya adalah keterhubungan dengan industri.
Dalam sistem Swiss, sekitar 60 persen proses pembelajaran dilakukan di industri. Jadi siswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga langsung bekerja dan belajar di lingkungan industri.
Kalau industri terlibat, industri juga tidak kekurangan sumber daya manusia yang cakap. Di sisi lain, lulusan vokasi menjadi lebih siap kerja.
Ini berbeda dengan pendidikan yang hanya akademik. Kalau lulus tetapi tidak siap kerja, maka angka pengangguran tetap tinggi.
Di Swiss, lebih dari 60 persen siswa setelah jenjang SMP diarahkan ke pendidikan vokasi yang ditempuh sekitar dua sampai tiga tahun. Setelah itu, mereka tetap memiliki jenjang untuk melanjutkan ke pendidikan akademik.
Menurut saya, kalau Indonesia ingin mempercepat industrialisasi dan hilirisasi, penguatan pendidikan vokasi ini sangat penting.
Bagaimana peluang Training for Trainers?
Untuk mengirim banyak siswa Indonesia ke Swiss, tantangannya adalah biaya hidup. Tuition fee di Swiss mungkin relatif tidak terlalu mahal, tetapi living cost sangat tinggi.
Karena itu, yang paling realistis adalah Training for Trainers.
Kita sudah memfasilitasi, misalnya, Nongsa Digital Park dengan ATMI Solo untuk menandatangani kerja sama dengan Smart Factory yang kemarin dikunjungi.
Programnya adalah mengirim trainer ke Swiss selama enam bulan sampai satu tahun. Mereka mengikuti pelatihan hingga berkualifikasi menjadi trainer, lalu kembali ke Indonesia untuk melatih lebih banyak orang.
Kalau program ini berjalan, modelnya bisa direplikasi.
Saya punya mimpi, mengapa tidak setiap tahun ada satu atau dua provinsi yang mengembangkan pendidikan vokasi berbasis kebutuhan industrinya masing-masing?
Ini investasi yang luar biasa bagi sumber daya manusia Indonesia.
Mengapa vokasi menjadi penting untuk hilirisasi?
Hilirisasi tidak cukup hanya bicara pabrik, mineral, atau investasi. Hilirisasi juga membutuhkan sumber daya manusia yang mampu mengoperasikan teknologi dan meningkatkan produktivitas.
Kalau kita bicara nikel, baterai, energi, atau industri berbasis teknologi lain, dampaknya akan sangat besar kalau sumber daya manusianya dilatih dengan baik.
Swiss pada 1930 masih merupakan negara pertanian. Sekarang, Swiss menjadi salah satu negara industri paling unggul di dunia karena kekuatan inovasinya.
Artinya, penguatan sumber daya manusia merupakan kunci. Indonesia memiliki sumber daya alam yang besar dan sumber daya manusia yang besar. Kalau keduanya dikombinasikan dengan teknologi dan pendidikan vokasi, potensinya sangat kuat.
Pengalaman investor Swiss di Indonesia juga menunjukkan bahwa mereka mengagumi keseriusan, komitmen, dan etos kerja orang Indonesia.
Karena itu, saya melihat kerja sama dengan Swiss bukan hanya soal menarik investasi, tetapi juga bagaimana membangun kemampuan industri dan sumber daya manusia Indonesia agar bisa naik kelas.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Dubes RI: Indonesia dan Swiss Tak Bersaing, tapi Saling Melengkapi (Bagian Pertama)
Petikan wawancara khusus Kompas.com dengan Dubes RI untuk Swiss Ngurah Swajaya bagian 1 soal 75 tahun hubungan RI-Swiss di tengah situasi geopolitik. [1,340] url asal
#swiss #ngurah-swajaya #wawancara-khusus #dubes-ri #75-tahun-indonesia-swiss #bern
(Kompas.com - Money) 30/06/26 13:57
v/263649/
BERN, KOMPAS.com — Hubungan diplomatik Indonesia dan Swiss memasuki usia ke-75 pada 2026. Pada momen ini, hubungan kerja sama dua negara ini meningkat menjadi lebih serius, dengan ditekennya Memorandum of Understanding (MoU) pada acara Industry Day di Basel, Swiss, 23 Juni 2026. Salah satu poin kesepakatan bahwa Swiss dan RI akan mempererat kerja sama bidang hilirisasi.
Untuk mengupas kerja sama RI-Swiss tersebut, Kompas.com Bersama tim jurnalis Kompas Gramedia Grup (KG Media) berkesempatan melakukan wawancara khusus dengan Ngurah Sanjaya di kantornya, di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Swiss di Bern, Swiss, pada Senin (30/6/2026).
Bagi Ngurah Swajaya, tonggak MoU tersebut bukan sekadar perayaan hubungan bilateral yang telah terjalin sejak 1951, melainkan momentum untuk membawa kerja sama kedua negara ke level yang lebih strategis. Untuk menandai pentingnya kerja sama RI-Swiss ke 75, KBRI membuat hashtag khusus, yakni #RICH_75indonesiaswiss.
Saling Melengkapi
Menurut Ngurah, selama tujuh setengah dekade terakhir Indonesia dan Swiss telah membangun fondasi kerja sama yang kuat melalui berbagai perjanjian, mulai dari perdagangan, investasi, hingga bantuan hukum timbal balik.
Fondasi tersebut menjadi modal penting ketika dunia kini menghadapi ketidakpastian akibat meningkatnya persaingan dan konflik geopolitik.
Di tengah situasi tersebut, Indonesia dan Swiss dinilai memiliki karakteristik yang saling melengkapi. Indonesia menawarkan sumber daya alam, pasar yang besar, dan bonus demografi, sedangkan Swiss memiliki keunggulan dalam teknologi, inovasi, investasi, dan jaringan perdagangan global.
Karena itu, hubungan kedua negara tidak dipandang sebagai hubungan yang saling bersaing, melainkan saling mengisi kebutuhan masing-masing.
Momentum 75 tahun hubungan diplomatik juga ditandai dengan lahirnya kerja sama baru di bidang pengolahan mineral dan logam yang dinilai membuka babak baru kemitraan ekonomi kedua negara. Bagi Ngurah, kerja sama itu menunjukkan bahwa Indonesia dan Swiss mampu melihat peluang di tengah tantangan global.
KONTAN/TRI YUWONO Duta Besar RI untuk Swiss Ngurah Swajaya dan Andrea Rauber Saxer menandatangani MoU kerja sama mineral dan logam yang disaksikan Guy Parmelin dan Presiden Swissmem Martin Hirzel di Basel, Swiss, Selasa (23/6/2026).Berikut petikan wawancara Kompas.com bersama tim KG Media dengan Duta Besar RI untuk Swiss Ngurah Swajaya di Bern, Swiss, dalam format tanya-jawab.
Apa makna 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Swiss?
Tahun ini kita memang merayakan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Switzerland. Hubungan diplomatik dimulai pada 1951, sehingga ini merupakan perjalanan yang cukup panjang.
Selama kurun waktu tersebut, hubungan bilateral berjalan stabil dan kedua negara memiliki hubungan yang sangat baik. Namun, peringatan 75 tahun ini tidak ingin kami jadikan sekadar seremoni. Kami ingin menjadikannya momentum untuk mengoptimalkan seluruh potensi kerja sama yang masih bisa dikembangkan.
Dalam perjalanan itu, kedua negara telah menandatangani sejumlah perjanjian yang menjadi fondasi hubungan bilateral.
Yang pertama adalah perjanjian perdagangan melalui Indonesia-European Free Trade Association Comprehensive Economic Partnership Agreement (IE-CEPA). Swiss merupakan bagian dari European Free Trade Association (EFTA), dan perjanjian tersebut memberikan kepastian hukum untuk meningkatkan perdagangan maupun investasi.
Selain itu, Indonesia dan Swiss juga telah memiliki Bilateral Investment Treaty (BIT) yang menjadi dasar perlindungan investasi kedua negara.
Di luar bidang ekonomi, kedua negara juga memiliki Mutual Legal Assistance in Criminal Matters, sehingga terdapat mekanisme kerja sama apabila diperlukan bantuan hukum dalam perkara pidana.
Kami juga mempunyai Young Professionals Exchange Programme, yaitu program yang memungkinkan profesional muda Indonesia bekerja di Swiss dan profesional muda Swiss bekerja di Indonesia selama 18 bulan. Tujuannya memberikan pengalaman mengenai dunia usaha dan perekonomian masing-masing negara.
Kuotanya mencapai 100 orang setiap tahun, meskipun hingga kini belum seluruhnya dimanfaatkan. Sebagian besar pesertanya berasal dari sektor jasa, terutama perhotelan.
Mengapa 75 tahun ini disebut sebagai momentum?
Karena kondisi dunia sekarang berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Ketegangan dan konflik geopolitik memang menjadi tantangan, tetapi pada saat yang sama juga membuka peluang baru bagi Indonesia maupun Swiss.
Saya melihat ada tiga momentum besar yang bisa dimanfaatkan.
Pertama adalah kerja sama pengolahan sumber daya mineral dan logam yang ditandatangani dalam rangkaian peringatan 75 tahun hubungan diplomatik.
Kerja sama ini menurut saya bersifat saling melengkapi. Indonesia memiliki sumber daya mineral yang besar, sementara Swiss memiliki teknologi, inovasi, investasi, jaringan global commodity trading, dan sumber daya manusia yang dapat mendukung hilirisasi industri di Indonesia.
Dengan demikian, Indonesia memperoleh nilai tambah dari pengolahan sumber daya alam, sedangkan Swiss dapat berkontribusi melalui teknologi dan investasi.
Apa yang membuat kerja sama mineral dan logam ini istimewa?
Kerja sama tersebut merupakan langkah yang sangat penting.
Bagi Indonesia, kerja sama ini memberikan alternatif sumber teknologi untuk mendukung program hilirisasi nasional.
Artinya, Indonesia tidak hanya bergantung pada satu sumber teknologi dari satu negara, tetapi memiliki lebih banyak pilihan mitra.
Teknologi Swiss selama ini identik dengan inovasi, efisiensi, serta upaya mengurangi emisi karbon. Selain itu, teknologi mereka selalu diarahkan untuk menghasilkan nilai tambah terhadap suatu produk.
Karena itu, kami melihat kerja sama ini sebagai peluang yang sangat besar dan harus dimanfaatkan secara optimal.
Selain hilirisasi, apa momentum kedua yang Bapak maksud?
Momentum kedua berkaitan dengan posisi kedua negara dalam geopolitik dunia.
Swiss memiliki prinsip politik luar negeri yang netral, sedangkan Indonesia menganut politik luar negeri bebas aktif.
Posisi tersebut membuat kedua negara sama-sama tidak memiliki hambatan untuk berkomunikasi dengan berbagai pihak yang saat ini berada dalam kubu-kubu yang saling berkompetisi.
Indonesia memiliki keunggulan karena mampu bekerja sama dengan berbagai negara tanpa harus terjebak dalam blok tertentu. Di sisi lain, Swiss memiliki reputasi sebagai negara netral dengan penguasaan teknologi yang sangat maju.
Kombinasi tersebut menurut saya menjadi modal penting untuk memperkuat kerja sama kedua negara.
Apa momentum ketiga yang melihat peluang baru hubungan Indonesia-Swiss?
Selama ini hubungan bilateral memang berjalan sangat baik, tetapi saya melihat Indonesia dan Swiss belum sepenuhnya menempatkan satu sama lain dalam global mindset masing-masing.
Indonesia belum benar-benar melihat Swiss sebagai mitra strategis dalam banyak sektor. Sebaliknya, Swiss juga belum sepenuhnya memandang Indonesia sebagai salah satu prioritas utama.
Padahal situasi geopolitik saat ini membuat banyak negara Eropa, termasuk Swiss, mulai melakukan diversifikasi mitra.
Mereka tidak lagi hanya bergantung pada mitra tradisional, tetapi mulai melihat Asia sebagai kawasan yang sangat penting.
Dalam konteks itu, Indonesia memiliki posisi yang sangat menarik.
Apa yang membuat Indonesia menarik bagi Swiss?
Indonesia adalah bagian dari pasar ASEAN yang jumlah penduduknya sekitar 700 juta jiwa.
Selain itu, Indonesia berada di kawasan yang relatif stabil dari sisi keamanan maupun politik dibandingkan beberapa kawasan lain di dunia.
Indonesia juga memiliki bonus demografi. Penduduk usia mudanya besar dan siap dilatih untuk memenuhi kebutuhan industri masa depan.
Saya melihat ketiga faktor tersebut menjadi daya tarik yang mulai dipahami oleh Swiss.
Salah satu contohnya terlihat ketika Indonesia menjadi satu-satunya negara yang diundang dalam Swissmem Industry Day, sebuah agenda tahunan yang dihadiri sekitar 2.000 pelaku industri Swiss.
Sepanjang penyelenggaraannya, belum pernah ada negara ASEAN lain yang memperoleh undangan seperti Indonesia.
Menurut saya, itu menunjukkan perhatian Swiss terhadap Indonesia semakin besar.
Lalu apa yang dimiliki Swiss sehingga penting bagi Indonesia?
Swiss selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu negara paling inovatif di dunia.
Mereka juga merupakan sumber investasi yang sangat besar bagi berbagai negara.
Keunggulan Swiss bukan hanya pada teknologi, tetapi juga kemampuan melakukan inovasi secara berkelanjutan.
Di sisi lain, ukuran negaranya relatif kecil sehingga ketika perusahaan-perusahaan Swiss ingin meningkatkan skala produksi, mereka membutuhkan mitra di luar negeri.
Indonesia dapat menjadi salah satu tujuan karena memiliki pasar, tenaga kerja, dan sumber daya yang dibutuhkan.
Kalau investasi Swiss masuk ke Indonesia, maka bukan hanya modal yang datang, tetapi juga peluang alih teknologi dan peningkatan kemampuan sumber daya manusia.
Karena itulah saya selalu menekankan bahwa Indonesia dan Swiss memiliki hubungan yang saling melengkapi.
Kita tidak bersaing dengan Swiss. Justru masing-masing memiliki keunggulan yang bisa dipadukan untuk menciptakan nilai tambah bagi kedua negara.
Melalui rangkaian kegiatan sepanjang peringatan 75 tahun hubungan diplomatik, kami berharap pemahaman masyarakat Swiss terhadap Indonesia semakin baik, demikian pula pemahaman masyarakat Indonesia terhadap Swiss.
Di tengah tantangan geopolitik yang dihadapi dunia saat ini, saya melihat hubungan Indonesia dan Swiss justru memiliki peluang yang sangat besar untuk berkembang menjadi kemitraan ekonomi yang lebih strategis pada masa mendatang.
Lanjut ke Bagian Kedua.
#RICH_75indonesiaswiss
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangRedmi Note 17 Series Meluncur Bulan Depan, Andalkan Layar 1,5K dan Kamera 200 MP
Redmi Note 17 Series meluncur bulan depan dengan layar 1,5K dan kamera 200 MP, menawarkan tiga model: Note 17, Note 17 Pro, dan Note 17 Pro Max. [515] url asal
#redmi-note-17 #redmi-note-17-pro #redmi-note-17-pro-max #redmi-note-17-series #layar-1 #kamera-200-mp #ponsel-pintar-cina #xiaomi-redmi-note #snapdragon-6-gen-4 #mediatek-dimensity-7500 #baterai-10
(Bisnis.Com - Teknologi) 30/06/26 08:55
v/263382/
Bisnis.com, JAKARTA — Produsen ponsel pintar asal Cina, Redmi, bersiap menggebrak pasar kelas menengah lewat peluncuran generasi terbaru Redmi Note 17 Series pada bulan depan.
Lini produk anyar ini memicu perhatian industri teknologi global menyusul bocoran spesifikasi premium yang mencakup adopsi layar beresolusi 1,5K pada seluruh varian serta integrasi kamera utama beresolusi hingga 200 megapiksel untuk model tertingginya.
Kehadiran seri ini diproyeksikan menjadi standar baru bagi kompetisi ponsel pintar kelas menengah, terutama dalam menawarkan perpaduan visual tajam, kemampuan fotografi tingkat tinggi, dan daya tahan baterai ekstrem. Langkah strategis ini dinilai sebagai upaya agresif Xiaomi untuk mempertahankan dominasinya di pasar ponsel pintar global yang kian kompetitif.
Dilansir dari Gizmochina Selasa (30/6/2026) waktu setempat, jajaran Redmi Note 17 disebut akan terdiri atas tiga model, yakni Redmi Note 17, Redmi Note 17 Pro, dan Redmi Note 17 Pro Max. Pembocor teknologi Experience More mengungkapkan bocoran spesifikasi ketiga ponsel tersebut.
Untuk model reguler, Redmi Note 17 akan dibekali layar OLED datar berukuran 6,83 inci dengan resolusi 1,5K. Ponsel itu ditenagai chipset Snapdragon 6s Gen 4 dan mendukung pengisian daya cepat 67 watt meski belum diketahui berapa kapasitas baterainya.
Langkah menyamaratakan resolusi 1,5K ke seluruh lini menandai pergeseran besar, di mana konsumen varian standar tidak lagi dikorbankan dari aspek kualitas visual.
Di sektor fotografi, Redmi Note 17 disebut mengandalkan kamera utama 50 megapiksel. Ponsel ini juga dikabarkan akan dilengkapi sensor sidik jari optik yang tertanam di bawah layar untuk memberikan kemudahan akses keamanan digital.
Melangkah pada varian di atasnya, Redmi Note 17 Pro menawarkan spesifikasi yang lebih bertenaga untuk menopang aktivitas harian maupun produktivitas intensif pengguna. Peningkatan performa pada model ini berpusat pada aspek efisiensi daya dan pemrosesan data yang lebih responsif.
Sementara itu, Redmi Note 17 Pro akan membawa peningkatan performa melalui penggunaan chipset generasi baru Snapdragon 6 Gen 5. Model ini juga dikabarkan memiliki baterai berkapasitas 9.000mAh, jauh lebih besar dibandingkan mayoritas ponsel kelas menengah saat ini. Kapasitas baterai raksasa tersebut diprediksi menjadi daya tarik utama bagi konsumen dengan mobilitas tinggi.
Selain itu, Redmi Note 17 Pro tetap mengusung layar datar beresolusi 1,5K, kamera utama 50 megapiksel, speaker ganda, serta bodi dengan kemampuan tahan air. Kombinasi fitur ini membuat varian Pro tampil seimbang di semua lini, baik dari aspek ketahanan fisik maupun fitur hiburan.
Kasta tertinggi dari seri ini diwakili oleh varian Pro Max yang membawa lompatan spesifikasi paling masif di sektor pemrosesan, fotografi, dan kapasitas daya. Sektor ini sengaja dirancang untuk menantang performa beberapa ponsel di kelas premium.
Adapun varian tertinggi Redmi Note 17 Pro Max disebut akan hadir dengan chipset MediaTek Dimensity 7500. Salah satu daya tarik utama ponsel tersebut adalah baterai berkapasitas 10.100mAh yang berpotensi menjadi salah satu yang terbesar di segmen ponsel pintar arus utama. Kapasitas ini mencetak rekor baru dalam sejarah lini Redmi Note.
Untuk kebutuhan fotografi, Redmi Note 17 Pro Max mengandalkan kamera utama 200 megapiksel. Ponsel ini juga disebut akan dibekali speaker stereo ganda dan bodi tahan air. Kombinasi kamera resolusi ultra-tinggi dan kapasitas baterai di atas 10.000mAh ini diperkirakan memperkuat posisi Redmi Note sebagai seri paling kompetitif di kelasnya.
Swiss Kena "Heatwave", Warga Lokal Pilih "Ngadem" di Sungai Aare
Heatwave melanda Swiss. Saat suhu menembus 35 derajat, warga Bern memilih 'ngadem' dengan berenang di Sungai Aare yang berarus deras. [1,104] url asal
#swiss #sungai-aare #75-tahun-indonesia-swiss #bern
(Kompas.com - Money) 29/06/26 06:22
v/262247/
BERN, KOMPAS.com - Gelombang panas atau heatwave yang melanda Eropa seminggu terakhir turut menyengat Swiss, negara yang terletak berbatasan dengan Perancis dan Jerman. Tim Kompas Gramedia (KG) Media Grup yang bertugas di negara ini, sejak tiba pada 20 Juni 2026, pun merasakan "panas" luar biasa, yang berbeda dari panasnya Kota Jakarta.
Misalnya saja, di Kota Bern, Swiss, tempat tim KG Media menginap. Suhu di paparan temperatur bisa saja 35 derajat, tapi "feels like" atau seolah 40 derajat ke atas. Sejumlah peringatan via ponsel juga memperingatkan agar warga Swiss, tak terlalu beraktivitas pada siang hari.
Mengutip Reuters, gelombang panas kali ini bukan peristiwa biasa. Otoritas meteorologi Swiss, MeteoSwiss, menaikkan peringatan gelombang panas ke level tinggi di sejumlah wilayah.
Suhu di beberapa kota mencapai 34-38 derajat celsius, bahkan Basel mencatat rekor suhu tertinggi untuk bulan Juni di Swiss.
Para ilmuwan menyebut heatwave yang melanda Eropa kali ini dipicu pola atmosfer "Omega Block" yang memerangkap udara panas selama berhari-hari. Perubahan iklim juga dinilai membuat kejadian panas ekstrem seperti ini menjadi lebih sering terjadi.
Sebagai gambaran, rumah, apartemen, toko, bahkan restoran dan hotel di Swiss jarang yang menggunakan AC. Sebab, dulunya panas di Swiss ya tak benar-benar panas, masih di bawah 30 derajat celcius.
Walhasil, tim KG Media benar-benar harus "berjuang" ekstra mengatasi panasnya si "heatwave" yang melanda Eropa kali ini.
"Kalau di Indonesia, kita bisa ngadem, pakai AC, " kata Evy, salah satu jurnalis KG, dari Harian Kompas (Kompas.id).
Ada pemandangan menarik di Kota Bern. Warga lokal, memiliki solusi jitu menghadapi teriknya cuaca, yakni berenang di Sungai Aare, yang letaknya "membelah" Swiss. Jumlah warga lokal (warlok) yang berenang akan makin banyak di akhir pekan.
Sebagai informasi, pada hari Minggu, di Swiss, rata-rata toko dan kantor tutup. Toko atau restoran yang buka biasanya memiliki izin khusus, misal di lokasi wisata ramai.
"Biasanya warga lokal itu, pulang kerja, pulangnya "nyemplung" saja ke Aare. Dia ikuti arus. Pakaian kerjanya dilipat, dimasukkan tas yang juga jadi pelampung," ujar Ngurah Swajaya, Duta Besar RI untuk Swiss, menceritakan soal Sungai Aare, kepada tim KG Media yang berkunjung ke Wisma KBRI Bern.
"Bahkan buat warga lokal, ada aplikasi khusus buat mengecek keadaan Aare sebelum berenang. Nama aplikasinya Aare Guru. Warga lokal tahu kapan berenang, di titik mana yang aman, serta suhu dan kondisi cuaca," lanjut Ngurah, yang menjabat sejak Juni 2023.
Schönausteg
Pada Minggu (28/6/2026) siang, tim KG Media berkesempatan mengunjungi Museum Einstein di Bern. Tak jauh dari museum, sekitar 10 menit berkendara, ada lokasi jembatan yang terkenal bagi warga lokal untuk "terjun" ke Sungai Aare. Di bawah jembatan, tersedia tangga batu bagi warga yang ingin berenang dari tepian.
Jembatan tersebut bernama Schönausteg. Lebarnya sekitar dua hingga 3 meter dengan dasar kayu, serta bentangnya hingga 55 meter. Jembatan dengan rangka baja kokoh tersebut, tampak sangat ramai dikunjungi warga lokal, tentu saja dengan "outfit" siap berenang.
Sebagian warga, terutama laki-laki, memilih melompat dari pinggir jembatan ke dalam sungai. Mereka memilih waktu yang tepat, agar tak terjun mengenai warga lain yang berenang di bawahnya. Sebagian lainnya memilih memulai berenang dari tangga batu di pinggir sungai. Sebagian warga, memilih menggunakan perahu karet untuk menyeberangi Sungai Aare.
Dari atas jembatan, terlihat betapa jernih dan bersihnya Sungai Aare. Tak terlihat ada sampah. Tim KG Media yang turun ke sisi sungai, pada sore sekitar pukul 17.00 waktu Swiss, merasakan betapa dingin temperatur Sungai Aare sore itu.
Rizka, staf lokal KBRI Bern, menemani tim KG Media menikmati air Sungai Aare. Air yang dingin benar-benar terasa sebagai "obat" suhu panas luar biasa yang melanda Swiss.
Rizka memperingatkan agar berhati-hati, sebab arus Sungai Aare sangat deras. Rizka sendiri merupakan WNI yang sudah tinggal selama 18 tahun di Bern. Kepada tim KG Media, lulusan Satra Jerman Universitas Indonesia (UI) ini bercerita, Schönausteg adalah tempat bagi warga lokal yang ingin berenang.
"Saya juga dan keluarga senang berenang di sini, tapi harus hati-hati karena sebetulnya cukup dalam dan arusnya kencang. Kedalamannya bisa sampai 3 meter," ujar Rizka.
Menurut dia, Sungai Aare memiliki panjang sekitar 280 kilometer (km) dan akan bergabung dengan Sungai Rhein di Basel sebelum bermuara di Laut Utara.
Sungai Aare merupakan sungai terpanjang yang seluruh alirannya berada di wilayah Swiss. Airnya berasal dari gletser Pegunungan Alpen sebelum akhirnya bergabung dengan Sungai Rhein di Basel menuju Laut Utara.
Rizka juga mengatakan banyak warga menggunakan dry bag yang berfungsi sebagai tempat menyimpan pakaian sekaligus pelampung saat berenang. Ia menyarankan, warga Indonesia jangan asal berenang di Sungai Aare.
"Banyakan sih yang berenang kalau sudah mengetahui arusnya, kemudian turunnya dari mana, dan nanti keluarnya dari mana, supaya aman karena arusnya juga bisa kencang," katanya.
Bagi warga Bern, berenang di Sungai Aare bukan sekadar aktivitas rekreasi saat musim panas, tetapi sudah menjadi bagian dari budaya kota selama bertahun-tahun. Tidak sedikit pekerja yang memanfaatkan arus sungai sebagai cara unik untuk pulang setelah jam kantor.
Salah satu warlok, yang berbincang dengan tim KG Media, mengatakan bahwa ia terbiasa pulang kerja dengan berenang di Sungai Aare. Jadi, rata-rata kantor atau toko di Swiss, tutup sekitar jam 16.00 waktu setempat. Menurut warlok tersebut, ia bisa hemat waktu pulang, dipangkas jadi beberapa menit saja.
Pengamatan tim KG Media, karakter Sungai Aare yang memiliki arus cukup deras. Dari informasi yang dihimpun, pada musim panas, kecepatan arus sungai umumnya berkisar 3 hingga 5 km per jam, atau bisa mencapai 12 km per jam usai hujan lebat. Sehingga, warga lokal yang berenang biasanya telah memahami titik masuk dan keluar sungai.
Di tengah cuaca panas luar biasa, tim KG Media menghabiskan sekitar 1 jam untuk menikmati air dan suasana Sungai Aare. Melihat pemandangan suka cita warga lokal berenang, tim KG Media pun turut gembira. Bermain air Sungai Aare saat heatwave melanda, benar-benar seperti oase. Dingin dan menyegarkan.
Sebagai tambahan informasi, lokasi Schönausteg bisa diakses secara gratis. Di sisi sungai juga ada pemandian, bagi warga lokal yang usai berenang, yang free of charge.
Di tengah gelombang panas yang membuat suhu Swiss mencetak rekor baru pada Juni 2026, Sungai Aare seolah menjadi ruang publik sekaligus "pendingin alami" bagi warga Bern.
Bukan sekadar tempat berenang, sungai ini telah menjadi bagian dari ritme hidup masyarakat setempat, dari pulang kerja hingga menghabiskan akhir pekan bersama keluarga.
Bagi tim KG Media, pengalaman menikmati dinginnya air Sungai Aare di tengah heatwave menjadi penutup kegiatan yang sulit dilupakan.
Di Swiss, negara yang selama puluhan tahun lebih dikenal karena udara sejuk dan pegunungannya, musim panas 2026 ini menghadirkan cerita berbeda, yakni ketika sungai menjadi tempat warga mencari kesejukan sekaligus merayakan musim panas.
#RICH_75indonesiaswiss
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
WNI di Swiss Bertambah, KBRI Bern Perkuat Layanan Digital
Jumlah WNI di Swiss terus bertambah. KBRI Bern membangun smart embassy untuk mempercepat layanan dan menjangkau warga. [1,108] url asal
#wni #swiss #kbri-bern #75-tahun-indonesia-swiss #bern
(Kompas.com - Money) 28/06/26 18:42
v/262100/
BERN, KOMPAS.com — Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Bern, Swiss, membangun ekosistem layanan digital atau Smart Embassy Service Ecosystem untuk meningkatkan pelayanan bagi warga negara Indonesia (WNI) di Swiss dan Liechtenstein. Transformasi ini dilakukan seiring bertambahnya jumlah WNI di Swiss yang berdasarkan data resmi State Secretariat for Migration (SEM) mencapai 2.685 orang per 31 Maret 2026.
Data KBRI Bern juga mencatat jumlah WNI yang melakukan registrasi mencapai 2.782 orang per Januari 2026. Namun, KBRI menggunakan data SEM sebagai acuan karena mencatat WNI yang memiliki izin tinggal aktif di Swiss.
"WNI kita itu sebanyak 2.685, ini data terbaru. Tapi memang menurut catatan lapor diri itu lebih banyak, 2.782. Tapi yang jadi pegangan adalah yang dari SEM," ujar Koordinator Fungsi Protokol dan Konsuler KBRI Swiss Purnowidodo kepada delegasi jurnalis Kompas Gramedia (KG) Grup, termasuk Kompas.com di Bern, Swiss, Jumat (26/6/2026).
"Karena kalau lapor diri itu kadang-kadang lapor diri pas masuk, tapi pulangnya enggak lapor diri," lanjutnya.
Berdasarkan data KBRI Bern, jumlah WNI di Swiss meningkat dari 2.250 orang pada 2021 menjadi 2.685 orang pada Maret 2026, atau tumbuh 19,3 persen dalam periode tersebut dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 3,8 persen per tahun.
Sebagian besar WNI di Swiss merupakan pemegang izin tinggal B sebanyak 1.665 orang atau 62,0 persen, disusul izin tinggal permanen C sebanyak 690 orang atau 25,7 persen, izin tinggal jangka pendek L sebanyak 212 orang atau 7,9 persen, izin lintas batas F sebanyak 80 orang atau 3,0 persen, serta kategori izin lainnya sebanyak 38 orang atau 1,4 persen.
Dilihat dari persebarannya, komunitas WNI terbesar berada di Zurich sebanyak 809 orang atau 30,1 persen, disusul Kanton (Provinsi) Vaud atau Lausanne 412 orang (15,3 persen), Jenewa 371 orang (13,8 persen), Bern 246 orang (9,2 persen), Basel-Stadt 167 orang (6,2 persen), dan kanton lainnya 680 orang (25,4 persen).
Menurut profil umum KBRI Bern, komunitas Indonesia di Swiss didominasi kalangan profesional dan tenaga ahli, akademisi, peneliti, mahasiswa, pegawai organisasi internasional, tenaga kesehatan, pelaku usaha dan UMKM, serta keluarga hasil perkawinan Indonesia-Swiss.
Purnowidodo mengatakan, secara umum permasalahan WNI di Swiss tidak tergolong berat karena mayoritas mematuhi hukum. Namun, lebih dari 50 persen layanan kekonsuleran yang ditangani berkaitan dengan kehilangan paspor.
"Bukan berarti Swiss itu negara yang tidak aman, tetapi kecerobohan kita juga kadang-kadang mengundang permasalahan buat kita," katanya.
Inovasi Layanan Digital, dari BINA hingga SIGAP
Untuk menjawab tingginya kebutuhan informasi masyarakat di tengah keterbatasan jumlah staf, KBRI Bern membangun Smart Embassy Service Ecosystem yang mengintegrasikan layanan digital, akses informasi, hingga pembayaran dalam satu ekosistem.
Salah satu inovasinya adalah BINA (Bern Intelligent Assistant), chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) yang memberikan layanan informasi selama 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu melalui WhatsApp.
"Kita buat BINA, Bern Intelligent Assistant. Itu AI chatbot layanan 24 jam seminggu untuk melengkapi hotline yang memang sudah ada," ujar Purnowidodo.
"Cukup beberapa klik di nomor WhatsApp, mereka dapat semua informasi yang mereka butuhkan," lanjutnya.
Melalui layanan tersebut, WNI yang kehilangan paspor dapat mengetahui dokumen yang harus disiapkan, mengirimkan persyaratan melalui surat elektronik, hingga membuat janji kedatangan ke KBRI.
Selain BINA, KBRI Bern menghadirkan PINTAR (Pusat Informasi Terpadu Akses RI) berupa kios layar sentuh yang mengintegrasikan informasi kekonsuleran, keimigrasian, perdagangan, investasi, pariwisata, hingga layanan lapor diri dalam satu titik pelayanan.
KBRI Bern juga menjalankan SIGAP (Sistem Gerak Cepat Pelayanan Kekonsuleran) melalui layanan jemput bola ke berbagai kota di Swiss. Menurut Purnowidodo, layanan tersebut ditujukan bagi WNI yang tinggal jauh dari Bern maupun mereka yang sudah lanjut usia dan tidak lagi mudah bepergian.
"Kita yang datangin, selain untuk menjemput bola dan juga bagaimana KBRI bisa hadir di tengah-tengah mereka mengayomi masyarakat," ujarnya.
Di sisi pembayaran, KBRI Bern menerapkan TEPAT (Transaksi Elektronik Pembayaran yang Akurat dan Transparan) berupa sistem pembayaran digital, real time, dan cashless.
"Jangan dilihat bahwa inovasi itu harus yang high tech. Tapi kita membuat inovasi itu hal-hal yang memang dibutuhkan oleh masyarakat kita di sini," kata Purnowidodo.
Inovasi Akses Informasi: Media Sosial hingga Podcast
Koordinator Fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya KBRI Swiss Dahlia Kusuma Dewi mengatakan inovasi tersebut dibuat untuk menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus memperluas akses pelayanan publik.
"Tujuannya juga adalah untuk memberikan kemudahan akses sebenarnya kepada masyarakat, baik itu kemudahan tidak hanya akses tetapi juga pelayanan," ujar Dahlia.
Menurut dia, media sosial menjadi salah satu kanal utama penyampaian informasi kepada masyarakat. Jumlah pengikut Instagram KBRI Bern meningkat dari 6.883 pada September 2025 menjadi sekitar 14.400 pada awal Juni 2026.
KBRI Bern juga menyiapkan podcast INSIS (Indonesia Swiss Stories) yang melibatkan warga Swiss dan warga asing peserta program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) sebagai pembawa acara.
"Harapannya adalah dengan menjadi host ini langsung kawan-kawan pelajar BIPA mendapatkan informasi dari kami mengenai hal-hal yang ingin mereka ketahui," kata Dahlia.
Selain pelayanan kepada masyarakat, KBRI Bern juga membangun sistem administrasi internal SIAP (Sistem Inovasi untuk Pelayanan Perkantoran) yang mendukung proses pengajuan cuti, lembur, peminjaman kendaraan dinas, hingga pengelolaan arsip secara digital dan paperless.
"Harapannya adalah kita bisa juga membangun integritas dari staf-staf KBRI itu sendiri, profesionalitasnya, integritasnya," ujar Dahlia.
Purnowidodo mengatakan, berbagai inovasi tersebut turut mendorong peningkatan penilaian masyarakat terhadap pelayanan KBRI Bern. Skor Google Review KBRI Bern naik dari 3,8 menjadi 4,2 dalam satu tahun terakhir.
Selain itu, KBRI Bern secara berkala juga melakukan survei kepuasan masyarakat, survei persepsi antikorupsi, survei pelayanan kekonsuleran dan keimigrasian, serta survei citra Indonesia.
Dahlia menjelaskan, hasil survei menunjukkan sektor pariwisata memperoleh penilaian sekitar 4,3 dari skala 5. Sementara aspek good governance serta ekonomi dan perdagangan masih berada di kisaran 3,5 hingga 3,6.
Menurut dia, persepsi masyarakat Swiss terhadap Indonesia tidak terlepas dari pemberitaan media yang mereka konsumsi. Karena itu, KBRI Bern terus memperbanyak penyebaran informasi positif melalui media sosial, kegiatan budaya, resepsi diplomatik, podcast, hingga kerja sama dengan media lokal.
Dalam promosi pariwisata, Dahlia mengatakan wisatawan Swiss umumnya membutuhkan informasi yang jelas mengenai akses menuju destinasi serta kepastian biaya perjalanan.
"Orang Swiss ini tipikalnya adalah mereka ingin tahu kalau saya mau ke Labuan Bajo berapa sih budget yang harus saya siapkan," ujarnya.
Sementara itu, untuk layanan visa, KBRI Bern menerapkan standar waktu penyelesaian selama lima hari kerja. Selain melalui KBRI, pengajuan visa juga dapat dilakukan melalui e-visa maupun visa on arrival, dengan masa berlaku visa on arrival selama 30 hari.
Adapun untuk paspor elektronik, KBRI Bern menyatakan belum memperoleh akses pencetakan e-paspor dari Direktorat Jenderal Imigrasi, meski kebutuhan masyarakat dinilai semakin tinggi seiring mobilitas WNI di kawasan Schengen.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Jika Indonesia Ingin Hilirisasi Berhasil, CSEM Swiss Menunjukkan Mata Rantai yang Hilang
Indonesia dinilai perlu memperkuat jembatan antara riset dan industri agar inovasi tidak berhenti di laboratorium. [949] url asal
#swiss #hilirisasi #hiliisasi-mineral #75-tahun-indonesia-swiss #csem #neuchatel
(Kompas.com - Money) 27/06/26 13:41
v/261558/
NEUCHATEL, KOMPAS.com — Di tengah upaya pemerintah mempercepat hilirisasi sebagai salah satu prioritas nasional, Indonesia dinilai masih perlu memperkuat satu mata rantai penting agar sumber daya alam tidak hanya diolah menjadi produk bernilai tambah, tetapi juga melahirkan ekonomi berbasis teknologi.
Untuk mempelajari model tersebut, serta dalam rangka memperingati 75 tahun Indonesia-Swiss, delegasi jurnalis Kompas Gramedia (KG) Media, termasuk Kompas.com, mengunjungi Centre Suisse d'Electronique et de Microtechnique (CSEM) di Neuchatel, Swiss, Jumat (26/6/2026).
CSEM (Pusat Elektronika dan Mikroteknologi Swiss) merupakan pusat inovasi teknologi Swiss yang berperan menjembatani hasil riset akademik dengan kebutuhan industri.
Menurut CSEM, mata rantai yang perlu diperkuat adalah transfer teknologi, yakni proses menjembatani hasil riset agar tidak berhenti di laboratorium, melainkan berkembang menjadi produk yang diproduksi industri dan menciptakan nilai tambah ekonomi.
"Saya pikir Indonesia banyak berinvestasi dalam pendidikan dan riset. Indonesia juga memiliki banyak perusahaan dan banyak produksi. Tetapi banyak perusahaan gagal karena mereka berinvestasi besar di fase awal dan memiliki sistem industri, tetapi lupa berinvestasi pada teknologi," kata VP Marketing and Business Development CSEM Bahaa Roustom.
"Bagi Indonesia, itu akan menjadi nilai tambah yang bagus, bukan hanya riset, tetapi transfer teknologi dan pengembangan teknologi," lanjut Bahaa.
Menurut Bahaa, pelajaran tersebut lahir dari pengalaman Swiss menghadapi krisis industri jam pada era teknologi quartz. Saat itu Swiss menjadi salah satu negara pertama yang mengembangkan teknologi quartz, tetapi gagal mengubahnya menjadi produk industri.
Sebaliknya, Jepang berhasil mengindustrialisasi dan mengomersialkan teknologi tersebut sehingga industri jam Swiss mengalami krisis besar yang menyebabkan sekitar 90.000 pekerjaan hilang.
"Pertanyaannya saat itu, bagaimana memastikan apa yang ditemukan di Swiss tetap berada di Swiss, menghindari valley of death, lalu masuk ke industrialisasi dan menciptakan dampak serta nilai," ujar Bahaa.
Menjembatani riset hingga industri
DOK. KBRI BERN Delegasi jurnalis Kompas Gramedia (KG) Group saat mengunjungi CSEM di Neuchâtel, Swiss, Jumat (26/6/2026).Menurut Bahaa, status privat membuat CSEM lebih lincah mengikuti perubahan teknologi yang siklusnya hanya sekitar lima hingga enam tahun. Sementara status nirlaba membuat seluruh aktivitas organisasi berorientasi pada keberhasilan industri, bukan mengejar keuntungan perusahaan.
"Profit kami adalah ketika klien kami berhasil," kata Bahaa.
Ia menjelaskan, CSEM berada di antara universitas dan industri. Universitas bertugas menghasilkan riset dasar, sedangkan perusahaan memproduksi dan memasarkan produk. Adapun CSEM berfokus mematangkan teknologi agar siap diindustrialisasi.
Karena itu, komposisi pegawainya juga dibuat seimbang. Sebagian merupakan peneliti yang baru menyelesaikan pendidikan doktoral sehingga memahami perkembangan riset terbaru, sementara sebagian lainnya merupakan insinyur yang telah memiliki pengalaman 10 hingga 20 tahun di industri.
"CSEM harus berbicara dalam dua bahasa, bahasa riset dan bahasa industri," ujar Bahaa.
Saat ini CSEM memiliki sekitar 640 spesialis. Pada 2025, lembaga tersebut membukukan pendapatan 118 juta franc Swiss, memiliki 170 keluarga paten, serta telah melahirkan lebih dari 50 perusahaan rintisan berbasis teknologi.
Pendanaannya juga dibuat berimbang, yakni berasal dari proyek industri, kontribusi industri, pemerintah federal, pemerintah kanton, proyek Uni Eropa, Innosuisse, dan sumber lainnya.
Bahaa menyebut keseimbangan tersebut menjadi "golden rule" CSEM. Sepertiga anggaran digunakan untuk mengembangkan teknologi baru melalui pendanaan publik, sepertiga mematangkan teknologi melalui proyek kompetitif, dan sepertiga lagi mentransfer teknologi kepada industri.
"Kami mengembangkan hari ini apa yang akan dibutuhkan industri dalam lima tahun untuk menjadi produk dalam tiga sampai empat tahun," katanya.
Investasi inovasi saat krisis
KOMPAS.com/Aprillia Ika Gedung CSEM (Pusat Elektronika dan Mikroteknologi Swiss) di Neuchâtel, Swiss, yang dikunjungi delegasi jurnalis Kompas Gramedia (KG) Media untuk mempelajari model transfer teknologi, Jumat (26/6/2026).Bahaa mengatakan, salah satu pelajaran lain dari Swiss adalah tetap meningkatkan investasi inovasi ketika kondisi ekonomi sedang sulit.
Menurut dia, banyak negara justru memangkas anggaran riset saat krisis. Padahal, inovasi menjadi salah satu cara agar industri tetap kompetitif ketika ekonomi memburuk.
"Ketika ada krisis, berinvestasilah pada inovasi karena itu satu-satunya cara untuk bertahan," ujarnya.
Ia mencontohkan, perusahaan-perusahaan Swiss justru datang ke CSEM saat menghadapi tekanan ekonomi untuk mengembangkan produk baru, menekan biaya produksi, dan meningkatkan nilai tambah.
Pemerintah Swiss maupun pemerintah kanton juga memberikan dukungan pembiayaan agar perusahaan tetap menjalankan proyek inovasi.
Menurut Bahaa, pemerintah tidak menilai CSEM berdasarkan jumlah publikasi ilmiah ataupun faktor dampak penelitian. Yang dinilai adalah berapa banyak proyek transfer teknologi yang berhasil dilakukan dan dampak ekonominya bagi Swiss.
"Mereka hanya bertanya berapa banyak proyek transfer teknologi yang dilakukan di Swiss dan apa dampak ekonominya," kata Bahaa.
Target Hilirisasi Jadi Prioritas Pemerintah
GALIH PRADIPTA Presiden Prabowo Subianto memberi sambutan saat pembukaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) di Jakarta, Jumat (26/6/2026). Sarasehan Kebangsaan yang dihadiri 2.600 rektor, dekan dan dosen Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) se-Indonesia tersebut diselenggarakan dengan tema Strategi Kemandirian Ekonomi dan Kesejahteraan Indonesia. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/kyePemerintah menjadikan hilirisasi dan industrialisasi sebagai salah satu agenda pembangunan nasional.
Sebelumnya, dalam rapat terbatas di Hambalang, Bogor, Rabu (25/3/2026), Presiden Prabowo Subianto menegaskan percepatan hilirisasi sebagai bagian dari penguatan ekonomi nasional.
Selanjutnya, dalam pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Bandar Lampung, Rabu (10/6/2026), Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan Indonesia tidak boleh lagi hanya menjadi pemasok bahan mentah bagi negara lain.
"Yang paling penting kita akan melakukan industrialisasi. Kita akan melaksanakan industrialisasi melalui hilirisasi. Semua komoditas kita akan olah dan akan menjadi industri-industri di Indonesia," ujar Prabowo.
Menurut Prabowo, seluruh kekayaan alam Indonesia harus diolah di dalam negeri agar menghasilkan nilai tambah, membuka lapangan kerja, dan memperkuat daya saing industri nasional.
Ia juga menyebut kebijakan hilirisasi akan membuka peluang bagi pengusaha muda untuk berkembang dan menjadi pelaku dalam pembangunan industri nasional.
#RICH_75indonesiaswiss
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Indonesian Finance Minister Purbaya Yudhi Sadewa attends a monthly media briefing on the state budget at the Finance Ministry in Jakarta on June 5, 2026. (Photo by YASUYOSHI CHIBA / AFP)
Menkeu Purbaya menetapkan penambahan investasi pemerintah ke tiga lembaga keuangan internasional sekitar Rp1,96 triliun. [411] url asal
#purbaya #menkeu #purbaya-yudhi-sadewa #apbn #anggaran #islamic-development-bank #keputusan-presiden-nomor-5-tahun-1975-tentang-pengesahan-agreement-establishing-the-islamic-development-bank #pasal
(CNN Indonesia - Ekonomi) 26/06/26 13:19
v/260626/
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menetapkan penambahan investasi pemerintah ke tiga lembaga keuangan internasional (LKI) senilai Rp1,96 triliun yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
Langkah tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 42 Tahun 2026 tentang Penambahan Investasi Pemerintah Republik Indonesia pada Lembaga Keuangan Internasional Tahun Anggaran 2026 yang telah berlaku sejak 24 Juni 2026.
Dalam peraturan itu dijelaskan, lembaga keuangan internasional yang dimaksud merupakan lembaga keuangan multilateral atau regional yang sebelumnya telah menerima investasi dari Pemerintah Indonesia.
PMK 42/2026 menjelaskan investasi pemerintah merupakan penempatan dana dan/atau aset keuangan dalam jangka panjang dalam bentuk saham, surat utang, dan/atau investasi langsung guna memperoleh manfaat ekonomi, sosial, maupun manfaat lainnya bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
"Penambahan Investasi Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2026," demikian bunyi Pasal 3 ayat (5) PMK Nomor 42 Tahun 2026.
Pertama, investasi digelontorkan kepada Islamic Development Bank (IsDB) sebesar Rp1,690 triliun atau setara 75,865 juta Islamic Dinar (ID) melalui pembayaran tunai.
Dana tersebut diberikan untuk pembayaran kenaikan saham umum keempat, saham umum keenam, dan saham khusus.
Indonesia sendiri menjadi anggota Islamic Development Bank sejak pengesahan Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 1975 tentang pengesahan Agreement Establishing The Islamic Development Bank di Jeddah.
Kedua, pemerintah menambah investasi pada International Fund for Agricultural Development sebesar Rp49,5 miliar atau setara US$3 juta dalam bentuk pembayaran tunai. Ini dilakukan untuk penambahan saham ketiga belas.
Keanggotaan Indonesia di International Fund for Agricultural Development disahkan melalui Keputusan Presiden Nomor 41 Tahun 1977 tentang Mengesahkan Agreement Establishing The International Fund for Agricultural Development yang telah ditandatangani oleh Perwakilan Tetap Republik Indonesia di New York, Amerika Serikat.
Ketiga, investasi digelontorkan kepada International Development Association (IDA) sebesar Rp220,275 miliar atau setara US$13,35 juta melalui pembayaran tunai.
Investasi pada IDA dilakukan untuk penambahan saham kesembilan belas, saham kedua puluh, dan saham kedua puluh satu.
Keanggotaan Indonesia pada IDA disahkan melalui Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1968 tentang Keanggotaan Republik Indonesia pada International Development Association.
Dalam Pasal 6 PMK tersebut dijelaskan, pelaksanaan penambahan investasi pemerintah pada ketiga lembaga keuangan internasional itu dilakukan oleh Direktur Kerja Sama Multilateral dan Keuangan Berkelanjutan Direktorat Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan selaku Kuasa Pengguna Anggaran Subbagian Anggaran Bendahara Umum Negara Investasi Pemerintah.
Sementara itu, Pasal 7 mengatur nilai investasi tersebut dapat melebihi nominal yang ditetapkan apabila terjadi selisih kurs sesuai ketentuan dalam undang-undang mengenai APBN tahun berjalan.
Bisakah Kripto Dipakai Bayar Pajak di RI? Ini Pandangan Praktisi
Praktisi blockchain menilai peluang pemanfaatan aset kripto di Indonesia terbuka, dengan tetap menjaga kedudukan rupiah sebagai alat pembayaran. [847] url asal
#swiss #75-tahun-indonesia-swiss #zug
(Kompas.com - Money) 26/06/26 07:14
v/260225/
ZUG, KOMPAS.com — Peluang pemanfaatan aset kripto dalam berbagai fungsi pemerintahan, termasuk terkait pembayaran pajak, dinilai terbuka di Indonesia. Namun, penerapannya tetap harus memperhatikan kedudukan rupiah sebagai satu-satunya alat pembayaran yang sah.
Direktur Blocksphere Teknologi Indonesia Pandu Sastrowardoyo menilai Indonesia telah mengenal aset kripto sebagai komoditas, dan menurut dia kini juga telah dikenali sebagai instrumen finansial.
Karena itu, menurut Pandu, terdapat peluang untuk memperluas pemanfaatan aset kripto di luar fungsi yang berjalan saat ini.
"Saya rasa bisa, karena dari dulu pun bahkan sebelum OJK mengambil alih, Bappebti kan sebenarnya sudah mengaplikasikan kripto sebagai komoditas," kata Pandu di sela Indonesia-Swiss Business Forum Series 2026 bertema Digital Economy: Enhancing Collaboration in the Fastest Emerging Market di Zug, Swiss, Kamis (24/6/2026)/
Menurut Pandu, dari yang ia ketahui, pencurian aset kripto juga telah diperlakukan sebagai tindak pidana karena aset digital tersebut telah dianggap sebagai aset di Indonesia.
Kripto Dinilai Bisa Dukung Berbagai Fungsi Pemerintahan
Pandu mengatakan, setelah kini dikenali sebagai instrumen finansial, aset kripto berpotensi dimanfaatkan untuk fungsi lain, misalnya sebagai agunan (collateral).
"Kalau sudah dikenali sebagai instrumen finansial, ya kenapa tidak dikenali juga sebagai collateral, misalnya sebagai agunan dan lain-lain," ujarnya.
Menurut dia, pemanfaatan tersebut dapat membuat berbagai fungsi pemerintah berjalan lebih cepat.
"Fungsi-fungsi pemerintah kita kan jadinya lebih cepat juga," kata Pandu.
PEXELS/RDNE STOCK PROJECT Ilustrasi aset kripto."Kalau sebagai pembayaran, enggak mungkin. Karena Indonesia punya rupiah yang memang peraturannya adalah satu-satunya medium pembayaran," ujarnya.
Karena itu, menurut Pandu, pendekatan yang memungkinkan bukan menjadikan Bitcoin atau Ethereum sebagai alat pembayaran langsung, melainkan melalui skema lain apabila diatur oleh regulator.
"Jadi enggak mungkin saya tiba-tiba bayar pakai Ethereum atau Bitcoin untuk bayar pajak saya."
"Tapi kalau misalnya itu dikenali sebagai hal lain, sebagai collateral, sebagai agunan dan lain-lain, itu mungkin sesuatu yang bisa jadi caranya," katanya.
Ia juga menyinggung kemungkinan penggunaan stablecoin berbasis rupiah apabila nantinya memiliki dasar hukum yang jelas.
"Kalau stablecoin itu rupiah, bagaimana status hukumnya? Kalau status hukumnya diperbolehkan untuk membayar, ya berarti kita bisa bayar pajak pakai kripto," ujarnya.
Meski demikian, Pandu menegaskan dirinya menyampaikan pandangan sebagai praktisi, bukan regulator.
"Saya bukan regulator, jadi saya enggak berani ngomong apa-apa soal itu."
"Tapi kalau dari segi saya sebagai praktisi, saya rasa akan mempercepat banyak sekali. Hanya diperbolehkan atau enggak oleh regulator, itu regulator yang bisa menjawab, bukan saya," katanya.
KOMPAS.com/APRILLIA IKA Beberapa peserta Indonesia-Swiss Business Forum Series 2026 bersama delegasi jurnalis Kompas Gramedia (KG) Group berfoto bersama usai diskusi mengenai penguatan kolaborasi ekonomi digital Indonesia dan Swiss di Zug, Swiss, Kamis (24/6/2026).Pandu menambahkan perkembangan teknologi tetap harus dilakukan secara bertanggung jawab dengan tetap menjaga kedudukan rupiah.
"Teknologi lebih cepat, tapi kita tetap harus dengan cara yang responsible."
"Kalau saya lihat memang masih harus ada mengenali juga kedaulatan rupiah. Karena kalau misalnya rupiah tidak didaulatkan nanti akan bermasalah untuk value-nya. Value-nya didedikasikan dari fungsi utamanya sebagai alat pembayaran," ujarnya.
Ia juga menilai Indonesia dan Swiss memiliki kemiripan karena sama-sama memiliki karakter yang terdesentralisasi, meski dalam bentuk yang berbeda.
"Swiss sama Indonesia itu mirip karena sama-sama decentralized country."
"Kalau di Swiss memang negara federasi, sementara Indonesia negara kepulauan dengan banyak provinsi. Tapi saya melihat Indonesia, kalau kita bisa sampai level yang diterapkan Swiss, nyambung banget," katanya.
Menurut Pandu, teknologi blockchain memungkinkan satu sistem nasional tetap berjalan dengan karakteristik yang berbeda di setiap daerah.
"Bisa saja satu blockchain untuk semuanya, kemudian masing-masing punya karakteristik lokalnya. DApp-nya Bandung sama DApp-nya Jakarta beda, misalnya."
Ia menilai pemanfaatan teknologi blockchain akan semakin mudah apabila ekosistemnya terus berkembang.
"Apalagi kalau kita sampai ke titik bahwa itu bakal jadi stablecoin, bakalan jauh lebih mudah untuk mengakses," ujar Pandu.
Belajar dari Kanton Zug Swiss
KOMPAS.com/APRILLIA IKA Head of Economic Affairs Kanton Zug Silvia Thalmann-Gut memberikan wawancara kepada delegasi jurnalis Kompas Gramedia di sela Indonesia-Swiss Business Forum Series 2026 di Zug, Swiss, mengenai pengembangan teknologi blockchain dan kebijakan penerimaan pembayaran pajak menggunakan aset kripto. #RICH_75indonesiaswissPandangan Pandu tersebut muncul setelah Pemerintah Kanton Zug, Swiss, lebih dahulu menerapkan kebijakan menerima pembayaran pajak menggunakan Bitcoin dan aset kripto lainnya sebagai bagian dari dukungan terhadap perkembangan teknologi blockchain.
Head of Economic Affairs Kanton Zug Silvia Thalmann-Gut mengatakan pemerintah tidak menyimpan aset kripto tersebut, melainkan langsung mengonversinya menjadi Swiss franc.
"Kami percaya bahwa teknologi blockchain adalah sesuatu yang baik," kata Silvia.
"Ketika kami menerimanya, kami langsung mengubahnya menjadi Swiss franc," ujarnya.
Silvia juga menjelaskan keberhasilan Crypto Valley tidak hanya ditopang oleh perkembangan teknologi, tetapi juga proses membangun komunikasi antara pemerintah, perusahaan blockchain, dan bank-bank tradisional yang pada awalnya masih memandang teknologi tersebut terlalu baru.
"Kami harus membawa mereka bersama untuk menjelaskan dan juga memahami kekhawatiran bank serta industri tradisional," kata Silvia.
Menurut Silvia, proses membangun kepercayaan tersebut membutuhkan waktu sekitar 10 tahun.
#RICH_75indonesiaswiss
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Bukan Sekadar Bangun Pabrik, Model Hilirisasi RI-Swiss Dibangun dari Vokasi hingga Pasar Global
Di usia 75 tahun hubungan bilateral, Indonesia dan Swiss menyiapkan kerja sama hilirisasi dari SDM, teknologi, pembiayaan hingga akses pasar global. [851] url asal
#vokasi #swiss #ngurah-swajaya #hilirisasi #basel #75-tahun-indonesia-swiss #francis-wanandi
(Kompas.com - Money) 25/06/26 14:58
v/259582/
BASEL, KOMPAS.com — Duta Besar RI untuk Swiss Ngurah Swajaya mengatakan kerja sama hilirisasi mineral dan metal antara Indonesia dan Swiss dirancang tidak hanya berfokus pada pembangunan pabrik, tetapi juga membangun ekosistem hilirisasi yang mencakup pengembangan sumber daya manusia (SDM), teknologi, pembiayaan, hingga akses pasar global.
Menurut Ngurah, nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MOU) yang telah disepakati kedua negara menjadi kerangka kerja sama pemerintah dengan pemerintah (government to government/G2G) untuk mengidentifikasi sektor prioritas hilirisasi sekaligus mempertemukan pelaku usaha Indonesia dan Swiss.
"MOU ini memberikan kerangka aturan dan juga platform untuk kedua negara sebagai pemerintah duduk bersama. Nanti akan diidentifikasi kira-kira apa yang mau kita prioritaskan, sektornya, terkait dengan hilirisasi," ujar Ngurah, dalam wawancara khusus dengan delegasi jurnalis Kompas Gramedia (KG) Grup, termasuk Kompas.com, di Basel, Swiss, usai MoU.
Ia menjelaskan, setelah sektor prioritas disepakati, kedua pemerintah akan mempertemukan pelaku usaha dari masing-masing negara. Melalui mekanisme tersebut, persoalan yang muncul dalam pelaksanaan investasi juga dapat dibahas melalui jalur antarpemerintah.
"Apabila ada masalah di kemudian hari atau perlu didiskusikan lagi, paling tidak sudah ada kerangka dan platformnya bagi pemerintah untuk berbicara," katanya.
KONTAN/TRI YUWONO Duta Besar RI untuk Swiss Ngurah Swajaya dan Andrea Rauber Saxer menandatangani MoU kerja sama mineral dan logam yang disaksikan Guy Parmelin dan Presiden Swissmem Martin Hirzel di Basel, Swiss, Selasa (23/6/2026).Ngurah mengatakan mekanisme seperti itu belum dimiliki Swiss dengan negara lain, begitu pula Indonesia. Menurut dia, selama ini investasi umumnya berjalan langsung antarpelaku usaha tanpa platform tetap untuk menyelesaikan persoalan yang membutuhkan dukungan pemerintah.
Ia menambahkan, mekanisme tersebut akan diperkuat melalui Joint Economic and Trade Commission yang mempertemukan Indonesia dan Swiss setiap tahun untuk mengevaluasi sekaligus membahas tindak lanjut kerja sama.
"Yang penting bagi kita adalah ini akan memperkuat ekosistem industri hilirisasi di Indonesia," ujar Ngurah.
Meski demikian, ia menegaskan hingga kini belum ada komitmen nilai investasi maupun penetapan sektor prioritas karena seluruhnya masih akan diidentifikasi dalam pembahasan lanjutan.
"Komitmen investasinya berapa, kita belum ada. Bahkan untuk diidentifikasi sektornya itu apa, belum ada," kata Ngurah.
Hilirisasi Tak Berhenti di Investasi
Ngurah mengatakan kerja sama tersebut tidak sebatas pembangunan pabrik, melainkan juga mencakup pendidikan dan pelatihan, pembiayaan, teknologi, hingga perdagangan global.
"Enggak sebatas bikin pabrik saja. Karena ini sangat komprehensif. Ada pendidikan pelatihan, ada global trading, ada financing, segala macam," ujarnya.
Ia menuturkan, Swiss juga memiliki keunggulan dalam pengembangan teknologi industri yang memperhatikan keberlanjutan dengan menekan emisi karbon.
"Semua teknologi yang dikembangkan akan berusaha dikurangi adanya emisi karbon. Sampai dia menjadi nol. Itulah teknologi yang diminati oleh pasar sekarang," katanya.
Selain itu, Ngurah mengatakan Swiss melihat Indonesia sebagai mitra strategis karena kedua negara saling melengkapi, bukan saling bersaing.
"Indonesia adalah ikan yang besar. Indonesia termasuk salah satu negara besar. Kita saling melengkapi, bukan kompetitor," ujarnya.
Menurut dia, Indonesia juga dinilai menarik karena merupakan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, memiliki pasar tunggal ASEAN, basis produksi yang kompetitif, serta stabilitas politik dan keamanan yang menjadi pertimbangan investor.
Vokasi Jadi Fondasi Hilirisasi
Ngurah mengatakan pengembangan SDM menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun hilirisasi. Saat ini terdapat sekitar lima politeknik di Indonesia yang menerapkan sistem pendidikan Swiss, antara lain di Solo, Karawang, Cikarang, Politeknik Manufaktur Bandung, dan NHI Bandung.
Namun, ia menilai model tersebut perlu direplikasi ke wilayah pusat hilirisasi mineral di luar Pulau Jawa.
"Kalau kita bicara mengenai hilirisasi, sudah tentu kita perlu di Sulawesi, kita perlu di Halmahera. Bagaimana kita nanti mendorong supaya kita bisa replikasi saja," ujar Ngurah.
Menurut dia, lembaga vokasi tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan industri.
"Kesuksesan lembaga pendidikan vokasi bergantung pada kebutuhan. Kalau tidak ada kebutuhan, tidak ada demand dari industri," katanya.
KOMPAS/EVY RACHMAWATI Ketua Kadin Bidang Hubungan Luar Negeri Francis Wanandi menyampaikan pandangannya mengenai penguatan hilirisasi dan pengembangan pendidikan vokasi dalam kerja sama Indonesia-Swiss di Basel, Swiss, Selasa (23/6/2026).Ketua Komite Hubungan Bilateral Swiss dan Liechtenstein Kadin Indonesia Francis Wanandi menambahkan, kepastian regulasi dan kesiapan SDM menjadi syarat penting agar investasi dapat berkembang di Indonesia.
"Kalau suatu investasi yang cukup besar, kepastian terhadap regulasi dan hukum itu menjadi prasyarat utama dari kerja sama ini," ujar Francis.
Ia mengatakan Indonesia perlu memastikan hilirisasi mampu menciptakan nilai tambah di dalam negeri, bukan sekadar mengekspor bahan mentah.
"Jangan sampai lagi kita mengalami seperti minyak kita. Kita hanya bikin minyak mentahnya, kita kirim lagi, habis itu masuk lagi ke Indonesia," katanya.
Francis juga menilai kekuatan Swiss bukan hanya terletak pada teknologi, tetapi juga jaringan perdagangan internasional yang dapat membuka peluang bagi produk Indonesia.
"Swiss has already a lot of market access di dunia. Ditambah dengan kerja sama dengan Swiss, kepercayaan terhadap produk yang akan kita jual semakin tinggi lagi," ujar Francis.
Menurut dia, produk Indonesia, baik semi-finished goods maupun finished goods, akan memiliki peluang lebih besar diterima pasar internasional melalui jejaring perdagangan yang dimiliki Swiss.
Francis mengatakan pemerintah daerah juga perlu mulai melihat Swiss sebagai mitra strategis dalam pengembangan industri.
"Swiss is not just about beautiful country. Lihat konsep kerjanya seperti apa, filosofi perusahaannya seperti apa, kulturnya seperti apa," kata Francis.
#RICH_75indonesiaswiss
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Rahasia Sukses Industri Swiss: Vokasi Jadi Kunci, Talenta Disiapkan Sejak Sekolah
Model pendidikan vokasi ala Swiss dinilai menjadi salah satu kunci industri perkeretaapian menjaga pasokan tenaga kerja terampil. [760] url asal
#kereta-api #swiss #75-tahun-indonesia-swiss #bussnang
(Kompas.com - Money) 24/06/26 18:23
v/258777/
BUSSNANG, KOMPAS.com — Di tengah kebutuhan tenaga kerja terampil yang terus meningkat, perusahaan perkeretaapian Swiss, Stadler, memilih menyiapkan calon pekerjanya jauh sebelum mereka masuk ke dunia kerja penuh waktu. Melalui sistem pendidikan vokasi yang terintegrasi dengan industri, perusahaan ini membangun jalur regenerasi tenaga kerja sekaligus menjaga daya saing manufaktur berteknologi tinggi.
Model tersebut menjadi bagian dari strategi Stadler, produsen kereta asal Swiss yang saat ini mempekerjakan sekitar 18.000 pekerja di berbagai lokasi operasinya di dunia.
“Jadi itu adalah program pendidikan spesifik, program pendidikan, yang juga bisa menarik bagi Indonesia,” kata Area Marketing & Sales Director New Markets Stadler Rail Management AG, Stefan Rutishauser, saat memaparkan profil perusahaan di Bussnang, Swiss, Selasa (24/6/2026).
Saat ini Stadler aktif di 16 lokasi produksi berbeda, dengan dua fasilitas produksi utama berada di Swiss. Perusahaan juga memiliki 95 lokasi layanan dan beroperasi di 22 negara.
Menurut Stefan, kebutuhan tenaga kerja terampil menjadi semakin penting seiring pertumbuhan bisnis perusahaan. Stadler bergerak dalam tiga segmen utama, yakni rolling stock atau sarana perkeretaapian, layanan dan pemeliharaan, serta sistem persinyalan.
Sekitar 80 persen bisnis perusahaan berasal dari rolling stock, sementara hampir 20 persen berasal dari layanan dan pemeliharaan. Adapun bisnis persinyalan masih berkontribusi relatif kecil terhadap total usaha perusahaan.
Pertumbuhan bisnis tersebut, kata Stefan, didorong berbagai tren global, mulai dari pertumbuhan populasi hingga urbanisasi yang semakin tinggi.
“Penyelesaian untuk kemacetan seperti yang Anda lihat di Jakarta mungkin setiap hari, atau salah satu penyelesaiannya adalah transportasi publik berbasis rel,” ujarnya.
Ia menambahkan, transportasi berbasis rel juga dinilai lebih efisien secara energi dan menghasilkan emisi yang lebih rendah dibandingkan moda transportasi jalan raya.
“Jika Anda mengangkut penumpang atau tonase barang di jalur rel, Anda dapat mengurangi emisi CO2 secara umum dengan faktor 10,” kata Stefan.
Pendidikan Vokasi Jadi Tulang Punggung
Di balik pengembangan teknologi dan ekspansi bisnis tersebut, Stadler mengandalkan sistem pendidikan vokasi yang terhubung langsung dengan kebutuhan industri.
Perusahaan menjalankan program apprenticeship atau magang vokasi yang mengombinasikan pendidikan di sekolah dengan praktik langsung di lingkungan kerja.
Berdasarkan materi presentasi Stadler, perusahaan memiliki 266 peserta apprenticeship di Swiss yang tersebar dalam 15 profesi vokasi. Setiap tahun terdapat lebih dari 90 peserta baru yang mengikuti program tersebut.
Data perusahaan juga menunjukkan tingkat kelulusan ujian akhir mencapai 100 persen pada 2025, dengan tingkat penyerapan kerja lebih dari 75 persen sepanjang periode 2020-2025.
Stefan menjelaskan bahwa sistem tersebut berlandaskan model pendidikan Swiss yang menempatkan pendidikan vokasi sebagai salah satu jalur utama setelah pendidikan dasar.
“Yang berarti kami mendidik dan melatih pekerja langsung di tempat kerja,” ujarnya.
Program apprenticeship umumnya berlangsung selama empat tahun. Selama masa pendidikan, peserta memperoleh kombinasi pembelajaran akademik dan pelatihan praktik di perusahaan.
Menurut Stefan, pada dua tahun pertama perusahaan banyak berinvestasi untuk proses pelatihan. Setelah keterampilan peserta meningkat, kontribusi produktivitas mereka mulai bertambah pada tahun-tahun berikutnya.
“Biasanya dua tahun pertama perusahaan berinvestasi dan kemudian dua tahun kedua mereka sudah memiliki pekerjaan yang relatif tinggi nilainya karena sudah belajar,” kata Stefan.
Ia mengatakan, sebagian besar peserta apprenticeship kemudian tetap bekerja di perusahaan setelah menyelesaikan pendidikan.
“Setelah empat tahun, kami memiliki sistem pendidikan yang pada dasarnya netral dari sisi biaya, tetapi tentu saja kami telah menciptakan talenta sukses di perusahaan,” ujarnya.
Indonesia Masuk Radar Pengembangan
Selain membahas pendidikan vokasi, Stadler juga menyoroti peluang pasar perkeretaapian Indonesia yang dinilai masih memiliki ruang pengembangan besar.
Stefan mengatakan, Indonesia memiliki tingkat elektrifikasi jalur kereta yang masih relatif rendah dibandingkan sejumlah negara Eropa.
Dalam materi presentasi Stadler, tingkat elektrifikasi jaringan kereta Swiss tercatat mencapai 100 persen. Sementara Indonesia masih berada di kisaran 8 persen.
Menurut dia, kondisi tersebut membuka peluang penggunaan lokomotif hybrid yang dapat beroperasi menggunakan listrik pada jalur yang telah dielektrifikasi dan tetap menggunakan bahan bakar pada jalur yang belum memiliki jaringan listrik.
“Ada sekitar 600 lokomotif diesel di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera,” kata Stefan.
“Kami berbicara mengenai potensi penggantian lokomotif diesel ini, bukan hanya mengganti lokomotif diesel dengan lokomotif diesel baru, tetapi menggantinya dengan lokomotif hybrid,” lanjutnya.
Ia mengatakan, perusahaan memahami pemerintah Indonesia tengah menjalankan program pengembangan elektrifikasi perkeretaapian, terutama di Pulau Jawa.
“Di tempat yang ada elektrifikasi akan berjalan secara bebas CO2 dan di daerah yang belum ada elektrifikasi tentu masih perlu berjalan dengan diesel,” ujar Stefan.
Selain sarana perkeretaapian, Stadler juga mengembangkan teknologi persinyalan, termasuk sistem train protection, operasi tanpa masinis, hingga Communication-Based Train Control (CBTC) yang banyak digunakan pada jaringan metro modern.
Stefan mengatakan pengembangan teknologi tersebut dilakukan seiring meningkatnya kebutuhan efisiensi dan digitalisasi sistem transportasi rel di berbagai negara.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56