Wacana Bunga Deposito Valas Naik Berisiko Gerus NIM Bank Devisa
Bank Himbara berencana menaikkan suku bunga deposito valas, berisiko menggerus NIM bank devisa akibat peningkatan biaya dana.
(Bisnis.Com) 18/10/25 10:28 7952
Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja dari bank-bank devisa menjadi sorotan terkait dengan rencana bank Himbara menaikkan suku bunga deposito valuta asing (valas) dolar Amerika Serikat (AS) hingga 4% pada November 2025
Phintraco Sekuritas, Aditya Prayoga menyoroti akan adanya risiko peningkatan biaya atas dana (cost of fund/CoF) yang bisa menggerus marjin bunga bersih (net interest margin/NIM). Adapun, wacana untuk menaikkan suku bunga deposito valas digulirkan di tengah upaya untuk menarik likuiditas valas ke dalam negeri.
Menurutnya, bank-bank devisa yang juga memfasilitasi funding dan lending dalam bentuk valas hingga transaksi kurs asing menjadi sorotan karena juga harus mengatur suku bunga valas mereka untuk menjadi kompetitif.
Terlebih, lanjutnya, bank-bank yang berencana untuk menaikkan suku bunga valas adalah mereka yang memiliki skala besar dan dengan kemampuan menghimpun dana masyarakat dengan baik.
"Analis melihat bahwa dalam kondisi seperti sekarang ini bank-bank devisa tidak bisa serta merta hanya fokus pada mengatur pricing dari suku bunga tetapi juga melakukan diversifikasi pendanaan," kata Aditya dalam keterangannya, Sabtu (18/10/2025).
Dia menjelaskan salah satu contoh kasus adalah Bank Woori Saudara (BWS) yang telah mengamankan pendanaan dari induk sebagai sumber diversifikasi likuiditas sebesar US$500 juta. Hal tersebut menjadi keunggulan kompetitif dibandingkan dengan bank-bank devisa lain yang berada di Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) II.
Menurutnya, selain menambah likuiditas, pendanaan dari induk juga menunjukkan penguatan sinergi dan dampak terhadap CoF tentu diharapkan menjadi lebih manageable ketika persaingan menghimpun dana dari masyarakat semakin ketat.
Dia juga melihat portofolio Dana Pihak Ketiga (DPK) valas yang dimiliki BWS berada di level yang sehat. Dari total DPK BWS per Juni 2025 sebesar Rp26,8 triliun sebanyak 27% dalam bentuk valuta asing berdenominasi dolar AS atau setara Rp7,2 triliun.
“Tambahan likuiditas dari induk dalam bentuk valas ini jauh lebih dahulu diamankan sebelum wacana peningkatan suku bunga deposito valas digulirkan sehingga secara rate diharapkan tidak akan sampai menekan NIM” ujarnya.
Berdasarkan laporan keuangan semester I/2025, anak usaha Woori Bank Korea ini mencatat pertumbuhan pendapatan bunga bersih sebesar 4,1% menjadi Rp871,02 miliar.
Peningkatan ini didorong oleh penurunan beban bunga sebesar 4,86%, meskipun pendapatan bunga secara keseluruhan relatif stagnan di kisaran Rp1.985,76 miliar. Oleh sebab itu, NIM naik menjadi 3,29% pada semester I/2025.
Berdasarkan catatan Bisnis.com, Rabu (24/9/2025), BRI, Bank Mandiri, BNI, BTN, serta BSI kompak mengumumkan kenaikan suku bunga deposito valas dalam bentuk dolar AS menjadi 4,00% per tahun untuk semua tenor dan tiering, dari sebelumya yang berkisar antara 0,20% hingga 2,5% per tahun.
Suku bunga baru ini rencananya mulai efektif 5 November 2025. Suku bunga itu berada di atas tingkat bunga penjaminan LPS untuk simpanan valas yang saat ini sebesar 2,25% dan menjadi 2,00% mulai 1 Oktober 2025 hingga 31 Januari 2026.
#bank-devisa #suku-bunga-deposito #deposito-valas #bunga-deposito-valas #net-interest-margin #biaya-dana-bank #likuiditas-valas #suku-bunga-valas #diversifikasi-pendanaan #bank-woori-saudara #dana-piha