Fundamental Kian Solid, Pertumbuhan Aset dan DPK Perbankan Syariah Ungguli Industri
Perbankan syariah di Indonesia menunjukkan pertumbuhan aset dan DPK yang lebih tinggi dibandingkan bank konvensional.
(Bisnis.Com) 09/12/25 07:05 65697
Bisnis.com, JAKARTA — Perbankan syariah menyongsong fundamental pertumbuhan yang lebih solid dibandingkan industri nasional, terutama pada sisi aset dan dana pihak ketiga (DPK).
Ketua 1 Bisnis Asbisindo sekaligus Wakil Direktur BSI Bob Tyasika Ananta menyampaikan bahwa kinerja lima tahun terakhir menunjukkan laju yang konsisten di atas bank konvensional.
“Aset untuk perbankan syariah itu selama sekitar 5 tahun terakhir itu pertumbuhannya relatif di atas perbankan nasional. Mungkin di konteksnya itu di posisi terakhir perbankan nasional 8,63%, di perbankan syariah itu 9,39%,” ujarnya di dalam sesi diskusi bertajuk “Financial Deepening: Fungsi Intermediasi Sektor Keuangan dalam Memompa Pertumbuhan Ekonomi" di Bisnis Indonesia Group Conference, Hotel Raffles, Jakarta, Senin (8/12/2025).
Menurut Bob, tren tersebut juga tercermin pada pembiayaan yang pergerakannya mirip dengan bank konvensional. Namun, perkembangan paling mencolok justru terjadi pada pertumbuhan DPK. Dalam pemaparannya, Bob menyoroti bahwa DPK perbankan syariah pada 2024 berada di kisaran 10,09%, lebih tinggi dari perbankan nasional yang mencatatkan 4,8%.
Momentum berbeda terjadi pada September 2024 ketika DPK nasional melonjak ke 11,16% menyusul suntikan likuiditas pemerintah sebesar Rp200 triliun.
“Kebetulan di bank syariah cuma BSI yang dapat Rp10 triliun, tapi poinnya perbankan syariah secara DPK itu pertumbuhannya persistent,” katanya.
Meski demikian, Bob menekankan bahwa sejumlah tantangan struktural masih membatasi ruang akselerasi pembiayaan syariah. Salah satunya berasal dari rasio kecukupan modal.
“Satu adalah menjadi challenge juga pertama CAR, perbankan itu size does matter, CAR-nya bank syariah itu lebih rendah daripada perbankan nasional,” ujarnya.
Dari sisi intermediasi, perbankan syariah mencatat Financing to Deposit Ratio (FDR) yang masih tergolong sehat. “Kami cukup efektif di kisaran 88,6%, tetapi di bulan September itu kita turun ke 84% tapi masih di kisaran 80% ke atas,” kata Bob.
Namun, tingkat profitabilitas masih menjadi catatan karena return on asset (ROA), masih relatif lebih rendah dari perbankan nasional.
Bob menambahkan bahwa tantangan lain datang dari kondisi literasi dan inklusi keuangan syariah yang masih terbatas. Dia bilang bahwa literasi keuangan syariah 17% sekarang 40%, inklusi keuangan syariah 12% dan saat ini tumbuh sekitar 13,7%. "Last three years kenaikan inklusi keuangan syariah masih sedikit. Ini menjadi satu challenge,” jelasnya.
Selain itu, Bob memaparkan bahwa komposisi pembiayaan untuk syariah di Indonesia adalah 34% di real estate dan 32% rumah tangga.
”Sementara itu, porsi pembiayaan produktif seperti wholesale, konstruksi, manufaktur, dan pertanian masih relatif rendah," sebutnya. Bob menegaskan bahwa kondisi tersebut menunjukkan profil industri yang masih condong ke segmen ritel.
Namun demikian, hal ini juga menjadi perhatian bagi industri untuk mempercepat dorongan pembiayaan produktif agar perbankan syariah dapat menjadi katalis yang lebih kuat bagi pertumbuhan ekonomi di tahun-tahun mendatang.
#perbankan-syariah #pertumbuhan-aset #dana-pihak-ketiga #kinerja-bank-syariah #pembiayaan-syariah #literasi-keuangan-syariah #inklusi-keuangan-syariah #rasio-kecukupan-modal #return-on-asset #financing