RI Minta Kontrak Jangka Panjang Pasokan Minyak dari Rusia, Teddy: Rusia Punya SDA Besar

RI Minta Kontrak Jangka Panjang Pasokan Minyak dari Rusia, Teddy: Rusia Punya SDA Besar

Indonesia dan Rusia menjajaki kontrak jangka panjang pasokan minyak bumi, memperkuat kerja sama energi di tengah dinamika global.

(Bisnis.Com) 14/04/26 15:10 190930

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah Rusia dan Indonesia tengah menjajaki kerja sama strategis di sektor energi, khususnya terkait pasokan produk minyak bumi melalui skema kontrak jangka panjang.

Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilyov mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima permintaan resmi dari Indonesia untuk suplai produk minyak, dan saat ini pembahasan teknis sedang berlangsung.

“Kami telah menerima permintaan dari mitra Indonesia untuk pasokan produk minyak bumi. Saat ini kami bekerja secara serius untuk menyusun kontrak jangka panjang dengan harga yang saling menguntungkan,” ujar Tsivilyov dalam wawancara dengan media nasional Rusia Tass, dikutip Selasa (14/4/2026).

Menurut Tsivilyov, kerja sama yang tengah dibangun tidak bersifat jangka pendek, melainkan dirancang sebagai kemitraan sistemik dengan kesepakatan jangka panjang.

“Langkah ini mencerminkan upaya kedua negara untuk memperkuat hubungan di sektor energi, sekaligus menciptakan stabilitas pasokan di tengah dinamika pasar global,” tuturnya.

Sekadar informasi, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto melakukan pertemuan dengan Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin setibanya di Moskow, pada Senin (13/4/2026) siang hari waktu setempat.

Pertemuan yang berlangsung di Istana Kremlin tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kerja sama strategis kedua negara di tengah dinamika global yang terus berkembang.

Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menjelaskan bahwa pertemuan kedua pemimpin berlangsung selama lima jam. Diawali dua jam pertemuan bilateral, dilanjutkan dengan tiga jam pertemuan empat mata antara kedua pemimpin.

Pada pertemuan tersebut, kedua negara menyepakati sejumlah poin penting kerja sama strategis, khususnya di sektor energi dan sumber daya mineral yang menjadi prioritas jangka panjang kedua negara.

“Disepakati beberapa poin, antara lain kerja sama di sektor ESDM jangka panjang, termasuk ketahanan energi migas dan hilirisasi,” jelas Teddy dalam keterangan tertulisnya, Selasa (14/4/2026).

Selain sektor energi, Teddy menuturkan bahwa kedua negara juga menegaskan komitmen untuk melanjutkan dan memperluas kerja sama di berbagai bidang lainnya yang dinilai memiliki dampak langsung terhadap pembangunan nasional.

“Keberlanjutan beberapa kerja sama di bidang pendidikan riset teknologi, bidang pertanian, dan bidang investasi di berbagai sektor terutama pembangunan industri di Indonesia,” tuturnya.

Lebih lanjut, Teddy menekankan bahwa Rusia memiliki posisi yang sangat strategis dalam percaturan global, sehingga kemitraan dengan Indonesia menjadi semakin relevan dan penting.

“Kita ketahui bahwa posisi Rusia sangat strategis di dunia global, selain sebagai salah satu negara pemegang hak veto PBB dan pendiri BRICS,” ucapnya.

Menurutnya, Rusia juga merupakan salah satu kekuatan besar dunia dengan potensi sumber daya alam yang sangat besar, yang dapat menjadi mitra penting bagi Indonesia dalam mendorong pembangunan jangka panjang.

“Rusia merupakan salah satu kekuatan besar dunia yang mempunyai sumber daya alam terbesar di dunia,” lanjutnya.

Teddy menjelaskan bahwa pertemuan ini juga menunjukkan intensitas hubungan bilateral yang semakin erat antara kedua pemimpin dalam satu tahun terakhir.

“Presiden Prabowo dan Presiden Putin tercatat terakhir kali bertemu pada bulan Desember lalu di Moskow dan sudah lima kali bertemu di berbagai kesempatan dalam satu tahun terakhir,” pungkas Teddy.

#minyak-bumi #kontrak-jangka-panjang #pasokan-minyak #energi-rusia #kerja-sama-energi #indonesia-rusia #stabilitas-pasokan #hubungan-bilateral #sektor-energi #sumber-daya-alam #ketahanan-energi #hiliri

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260414/44/1966522/ri-minta-kontrak-jangka-panjang-pasokan-minyak-dari-rusia-teddy-rusia-punya-sda-besar