Indonesia Resmi Serahkan Dokumen Second NDC ke UNFCCC
Indonesia menyerahkan Second NDC ke UNFCCC, menargetkan penurunan emisi karbon lebih ambisius hingga 2035, sejalan dengan Dubai Climate Pact.
(Bisnis.Com) 28/10/25 15:24 18663
Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup resmi menyerahkan dokumen Second Nationally Determined Contribution (NDC) ke Sekretariat United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq memastikan dokumen yang berisi rencana penurunan emisi karbon Indonesia hingga 2035 ini lebih ambisius dari Enhanced NDC.
“Kami pekan lalu, tepatnya pada 17 Oktober 2025, telah mensubmisi Second NDC atau NDC 3.0 yang merupakan suatu komitmen nasional kepada global dalam rangka penurunan emisi gas rumah kaca,” kata Hanif dalam A Multi-Stakeholder Dialogue: Plastic, Climate and Biodiversity Nexus Forum di Jakarta, Selasa (28/10/2025).
Hanif mengemukakan bahwa target iklim dalam Second NDC ini telah sejalan dengan mandat yang tertuang dalam Dubai Climate Pact tentang Global Stocktake Agreement. Dalam kesepakatan tersebut, negara-negara dalam UNFCCC sepakat untuk memperbarui rencana iklim 5 tahunan.
Second NDC sendiri memuat rencana iklim untuk periode 2031–2035, memperbarui dokumen sebelumnya Enhanced NDC untuk periode 2026–2030.
Hanif memastikan Second NDC lebih ambisius daripada Enhanced NDC. Dia mengemukakan dalam skenario rendah karbon yang sejalan dengan target 1,5 derajat Celsius Perjanjian Paris (LCCP) yang rendah (LCCP_L), emisi karbon pada 2030 diperkirakan mencapai 1,34 juta Gg CO2e dan 1,49 juta Gg CO2e pada skenario tinggi (LCCP_H).
Emisi tersebut diperkirakan 8–17,5% lebih rendah daripada Enhanced NDC. Dokumen iklim sebelumnya mengestimasi emisi pada 2030 dalam skenario bersyarat dengan dukungan internasional mencapai 1,63 juta Gg CO2e.
“Second NDC lebih ambisius dibandingkan dengan Enhanced NDC, meski angkanya dalam skenario high emission mencapai 1,49 juta Gg CO2e, di atas baseline 2019 1,14 juta Gg CO2e,” sambungnya.
Oleh karena itu, Hanif mengemukakan upaya untuk mencapai target penurunan emisi pada 2060 memerlukan langkah akselerasi dan upaya keras bersama.
Mengutip dokumen Second NDC yang telah diserahkan Indonesia dan tercatat dalam registri UNFCCC, tingkat emisi Indonesia diestimasi dengan mengacu pada tiga skenario. Dalam skenario pertama dengan mengacu pada kebijakan saat ini (current policy scenario/CPOS), pertumbuhan ekonomi diasumsikan mencapai 6% pada 2030 dan 6,7% pada 2035. Adapun tingkat emisi pada masing-masing tahun tersebut mencapai 1,78 juta Gg CO2e.
Adapun dalam skenario kedua yakni LCCP_L, pertumbuhan ekonomi memiliki asumsi yang serupa dengan CPOS. Namun proyeksi emisi ini didukung dengan peningkatan aksi mitigasi melalui pendanaan, teknologi dan peningkatan kapasitas. Sehingga emisi yang dihasilkan diperkirakan mencapai 1,34 juta Gg CO2e pada 2030 dan 1,2 juta Gg CO2e pada 2035.
Terakhir melalui skenario emisi tinggi atau LCCP_H di mana pertumbuhan ekonomi diperkirakan mencapai 8% seperti Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2025–2029, tingkat emisi pada 2030 diperkirakan mencapai 1,49 juta ton CO2e pada 2035 dan 1,25 juta Gg CO2e.
#indonesia-second-ndc #unfccc-submission #emisi-karbon-indonesia #penurunan-emisi-gas #enhanced-ndc #dubai-climate-pact #global-stocktake-agreement #rencana-iklim-2035 #skenario-rendah-karbon #perjanji