Investor Global Lari dari Pasar Saham RI, Malaysia hingga Thailand
Investor global menarik dana dari pasar saham Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, dan Thailand, karena meningkatnya risiko ekonomi. Sebaliknya, dana mengalir ke pasar saham negara maju sepert
(Bisnis.Com) 21/10/25 15:30 11047
Bisnis.com, JAKARTA — Pasar saham Indonesia mencatkan arus keluar atau outflow dana asing dengan deras pada tahun ini. Namun, kondisi serupa juga terjadi di sejumlah negara lainnya, terutama di Asia Tenggara.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pasar saham Indonesia memang mencatatkan nilai beli bersih atau net buy asing sebesar Rp529,77 miliar pada perdagangan kemarin, Senin (20/10/2025). Namun, sepanjang 2025 berjalan (year to date/YtD), pasar saham Indonesia masih mencatatkan nilai jual bersih atau net sell asing tinggi sebesar Rp51,01 triliun.
Di sisi lain, larinya dana dari investor global terjadi pula di pasar saham negara-negara tetangga. Pasar saham Malaysia, misalnya, mencatatkan larinya dana investor global sebesar US$3,81 miliar sepanjang 2025 berjalan sampai 8 Oktober 2025.
Kemudian, pasar saham Filipina mencatatkan larinya dana investor global mencapai US$684 juta. Dana asing di pasar saham Thailand juga keluar sebesar US$2,87 miliar. Pasar saham Vietnam pun mencatatkan net sell asing sebesar US$0,3 miliar.
Bahkan, pasar saham India mencatatkan larinya dana investor global sebesar US$17,59 miliar sepanjang 2025 berjalan sampai 7 Oktober 2025.
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto mengatakan larinya dana investor global dari pasar saham sejumlah negara berkembang didorong oleh persepsi risiko ekonomi dilihat dari credit default swap (CDS) yang meningkat di masing-masing negara.
“Gambarannya, baik di pasar saham dan obligasi, investor global banyak meninggalkan negara-negara seperti Malaysia, Filipina, Indonesia, Thailand, bahkan India. Ini menunjukkan persepsi risiko sudah sedemikian besar,” ujar Rully dalam Media Day Mirae Asset Sekuritas pada beberapa waktu lalu.
Sementara itu, investor global kemudian banyak menyasar pasar saham negara-negara maju. China misalnya mencatatkan masuknya dana dari investor global ke pasar sahamnya sebesar US$27,39 miliar. Lalu, Jepang mencatatkan masuknya dana dari investor global ke pasar sahamnya sebesar US$12,45 miliar.
“Ini karena ada growth story di negara maju. Jadi ke depan, sepertinya pertumbuhan ekonomi global akan didorong oleh manufaktur hingga teknologi. Jadi, equity market banyak larinya ke negara-negara tersebut,” kata Rully.
Meskipun, menurut Rully, di tengah larinya dana asing, kondisi indeks komposit seperti di Indonesia tetap kinclong. Indeks harga saham gabungan (IHSG) menanjak 2,19% pada perdagangan kemarin, Senin (20/10/2025) ke level 8.088,97. IHSG pun kokoh di zona hijau, naik 14,25% YtD.
Menurut Rully, di Indonesia, kondisi pasar sahamnya saat ini digerakan oleh investor ritel domestik. Kokohnya IHSG pun menurutnya didorong oleh saham-saham multibagger besutan konglomerat. Sejumlah saham seperti bank jumbo yang biasa menjadi penopang indeks pun tidak terlalu berkinerja baik pada tahun ini.
"Saham-saham penggerak valuasinya sudah mahal, dari saham-saham konglomerat Prajogo Pangestu, Sinarmas, hingga Salim. PE [price to earning] ratio sudah ratusan kali. Sementara fundamental stagnan," ujar Rully.
Sebelumnya, Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan mengatakan jika arus dana asing terus keluar dari pasar saham Indonesia, tentu dampaknya akan cukup signifikan. Saham-saham big caps, terutama yang memiliki porsi kepemilikan asing yang besar, akan menjadi yang paling tertekan.
"Secara keseluruhan, indeks IHSG juga bisa turun lebih dalam, karena sentimen negatif yang menyebar luas akan mendorong investor untuk mengamankan dana mereka ke instrumen yang lebih defensif,” kata Ekky.
Selain tekanan pada pasar saham, outflow asing juga akan menekan nilai tukar rupiah, dan dalam kondisi ekstrem dapat menguras cadangan devisa Bank Indonesia karena intervensi untuk menjaga stabilitas.
"Namun, penting dicatat bahwa dampak tersebut akan menjadi lebih besar jika tren outflow ini berlangsung terus-menerus tanpa diimbangi sentimen positif baru,” ujar Ekky.
#pasar-saham #investor-global #dana-asing #outflow-dana #net-sell #net-buy #pasar-saham-indonesia #pasar-saham-malaysia #pasar-saham-thailand #pasar-saham-filipina #pasar-saham-vietnam #pasar-saham-ind