Bisnis.com, JAKARTA — Studi terbaru oleh WRI Indonesia mengungkapkan bahwa investasi energi bersih dan efisiensi energi dapat mendorong dua target utama Indonesia, yakni mempertahankan pertumbuhan ekonomi 8% hingga 2029 dan mencapai emisi nol bersih pada 2026.
Studi ini disusun dengan menggunakan adaptasi model Indonesia Vision to 2045 (IV2045), yakni sebuah model dinamika sistem yang membantu perumusan kebijakan untuk melihat dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan dari pilihan kebijakan.
Penggunaan model ini memungkinkan peneliti WRI menerapkan simulasi terhadap beberapa skenario jika Indonesia menerapkan peningkatan bauran energi bersih dan efisiensi energi yang tercantum dalam Rencana Investasi dan Kebijakan Komprehensif Indonesia 2023 (CIPP).
CIPP sendiri berfungsi sebagai peta jalan Indonesia untuk beralih dari batu bara di bawah Kemitraan Transisi Energi yang Adil (Just Energy Transition Partnership/JETP), sebuah kesepakatan antara Indonesia dan mitra internasional dalam melakukan transisi yang adil dan inklusif menuju energi bersih.
Skenario JETP dalam studi ini memproyeksikan bahwa investasi energi baru yang bersih dan efisien akan mendorong pertumbuhan PDB sebesar 8% sekaligus mengurangi emisi.
Emisi sektor listrik diproyeksikan mencapai puncaknya sebesar 324 juta ton ekuivalen karbon dioksida (MtCO₂e) pada 2034 dan kemudian turun tajam menjadi 13,2 MtCO₂e pada 2050. Level emisi ini hampir enam kali lebih rendah dibandingkan dengan emisi yang timbul jika menggunakan skenario bisnis seperti biasa (business as usual/BAU).
Studi ini juga menemukan bahwa setiap investasi US$1 miliar pada energi terbarukan diproyeksikan menghasilkan pengembalian ekonomi sebesar US$1,41 miliar, sehingga berpeluang menciptakan rantai nilai baru dalam pemasangan, operasi, dan pemeliharaan energi bersih. Selain itu, lebih dari 2,8 juta pekerjaan dapat tercipta dalam konstruksi dan pembangkit energi terbarukan.
Impor minyak dapat berkurang sebesar 1,23 juta barel per hari. Kondisi ini berpeluang memperkuat kemandirian energi Indonesia dan ketahanan terhadap lonjakan harga bahan bakar global.
WRI Indonesia juga menemukan bahwa penerapan energi terbarukan juga akan memberikan manfaat besar bagi kesehatan masyarakat. Hal ini akan secara signifikan mengurangi polusi udara berbahaya, menurunkan biaya perawatan kesehatan, dan meningkatkan produktivitas pekerja.
Pemodelan WRI menunjukkan bahwa mencapai tujuan energi bersih Indonesia dapat menyelamatkan hingga 62.000 nyawa per tahun dibandingkan dengan jalur bisnis seperti biasa.
“Studi ini memberikan dasar yang kuat bagi pembuat kebijakan untuk segera bertindak dalam transisi energi yang adil di Indonesia,” kata Egi Suarga, Senior Manager for Climate, WRI Indonesia dalam siaran pers, Selasa (14/10/2025).
Egi menambahkan bahwa bahwa adopsi energi bersih tidak menghalangi kemakmuran, tetapi justru mendorong usaha tersebut. Dampak positif ini terutama akan dirasakan oleh negara dengan ekonomi yang tengah berkembang seperti Indonesia.
“Adopsi energi terbarukan menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesehatan masyarakat, mengurangi ketergantungan pada impor, dan membangun ekonomi berkelanjutan yang bekerja untuk semua orang,” katanya.
Untuk mewujudkan potensi ini, studi WRI Indonesia menyerukan peningkatan cepat energi bersih dan efisiensi energi yang didukung oleh kebijakan ambisius, kemitraan strategis, dan investasi berkelanjutan.
Tindakan prioritas mencakup perluasan kapasitas energi terbarukan untuk memenuhi target energi bersih, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, mereformasi subsidi, menegakkan standar efisiensi, dan modernisasi jaringan untuk menangani pembangkit energi terbarukan yang bervariasi.
Studi ini juga menekankan perlunya pembiayaan inovatif, seperti pembiayaan campuran, obligasi hijau, dan kemitraan publik-swasta, untuk menarik investasi swasta berskala besar di luar komitmen JETP yang ada saat ini.
“Menjamin transisi yang adil melalui program peningkatan keterampilan dan perlindungan sosial akan sangat penting untuk mendukung komunitas dan pekerja saat negara beralih dari bahan bakar fosil. Prioritas-prioritas ini juga harus tercermin dalam pembaruan Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia yang akan datang,” kata Egi.