Bisnis.com, CIREBON- Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Barat merespons merebaknya istilah superflu yang ramai diperbincangkan publik menyusul temuan puluhan kasus influenza H3N2 subclade K di Indonesia.
Ketua IDI Jawa Barat dr Moh Lutfhi menegaskan, istilah tersebut tidak dikenal dalam terminologi medis dan berpotensi menimbulkan kekhawatiran berlebihan di masyarakat.
Menurut Lutfhi, berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan, tercatat 62 kasus influenza H3N2 subclade K secara nasional. Dari jumlah tersebut, 10 pasien berasal dari Jawa Barat dan telah menjalani pemeriksaan lanjutan menggunakan metode whole genome sequencing (WGS) untuk memastikan karakteristik virus secara mendalam.
“Pemeriksaan WGS dilakukan untuk mengetahui secara pasti jenis virus dan mutasinya. Dari hasil yang kami terima, 10 pasien di Jawa Barat terkonfirmasi positif influenza H3N2 subclade K,” ujar Lutfhi, Kamis (8/1/2026).
Meski demikian, IDI Jawa Barat belum dapat menyampaikan informasi rinci terkait lokasi persebaran kasus tersebut. Lutfhi menjelaskan bahwa pemetaan wilayah, surveilans epidemiologi, dan pelacakan penularan merupakan kewenangan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat bersama Kementerian Kesehatan.
“Kami tidak memegang data sebaran wilayah secara detail. Biasanya itu menjadi ranah Dinas Kesehatan dan Kemenkes karena menyangkut pemantauan epidemiologi,” katanya.
Di tengah maraknya penyebutan superflu, Lutfhi menekankan pentingnya pelurusan informasi kepada publik. Ia menyebut, dalam dunia medis, kondisi tersebut lebih tepat dikategorikan sebagai influenza like illness (ILI), yakni sekumpulan gejala mirip flu yang dapat disebabkan oleh berbagai virus pernapasan, tidak terbatas pada virus influenza saja.
“ILI itu bisa disebabkan banyak virus, termasuk influenza, rhinovirus, parainfluenza, dan virus pernapasan lainnya. Jadi tidak tepat jika disederhanakan menjadi satu istilah seolah-olah ini virus baru yang sangat berbahaya,” jelasnya.
Lutfhi juga menerangkan, virus influenza A, termasuk H3N2, bukanlah hal baru di Indonesia. Bahkan, tipe H3N2 tergolong cukup sering ditemukan dalam kasus influenza musiman. Subclade K yang saat ini terdeteksi merupakan hasil mutasi, namun tidak menunjukkan perubahan ekstrem dibandingkan varian sebelumnya.
“Mutasi pada virus influenza itu wajar. Subclade K ini tidak menunjukkan tingkat keganasan yang jauh berbeda dari virus flu lain yang selama ini kita kenal,” ujarnya.
Dari sisi tingkat keparahan, IDI menilai influenza H3N2 subclade K tidak memiliki perbedaan signifikan dengan flu pada umumnya. Namun, virus ini dinilai memiliki kemampuan penularan yang relatif lebih cepat, sehingga kewaspadaan tetap diperlukan.
IDI Jawa Barat mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga daya tahan tubuh, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta menggunakan masker saat mengalami gejala flu. Masyarakat juga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan berat atau berkepanjangan.
“Dengan kewaspadaan yang proporsional dan informasi yang benar, risiko penyebaran dapat ditekan tanpa menimbulkan kepanikan yang tidak perlu,” pungkasnya.