Bisnis.com, JAKARTA — Suntikan modal sebesar Rp23,7 triliun yang digelontorkan Danantara Indonesia disebut menjadi penopang utama proses pemulihan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) sepanjang 2025.
Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia Thomas Sugiarto Oentoro memerinci bahwa suntikan modal itu terdiri atas shareholder loan (SHL) sebesar US$405 juta dan penyertaan modal tunai US$1 miliar. Dana ini dialokasikan untuk tiga kebutuhan kritikal yang berdampak langsung pada operasional GIAA.
Pertama, sebesar 47% atau sekitar Rp11,2 triliun bakal digunakan untuk penyehatan dan pemeliharaan armada PT Citilink Indonesia.
Kedua, sekitar 37% atau Rp8,7 triliun dialokasikan untuk pemeliharaan pesawat Garuda Indonesia. Ketiga, sebagian injeksi modal digunakan untuk memenuhi kewajiban utang Citilink kepada Pertamina dengan nilai US$225 juta.
“Aksi korporasi ini juga memperkuat struktur permodalan dan free float saham yang di publik tetap terjaga di 8%, sejumlah saham beredar meningkat menjadi 407 miliar saham, dan modal dasar kami diperkuat menjadi Rp100 triliun,” ujarnya dalam rapat dengar pendapat di Komisi VI DPR, Senin (1/12/2025).
Menurutnya, suntikan modal yang tersebut menjadi titik balik bagi perseroan untuk menstabilkan operasional dan memperbaiki struktur keuangan.
Di samping itu, alokasi dana tersebut juga difokuskan pada sektor yang secara langsung mendorong reliabilitas layanan dan pemulihan kapasitas produksi.
“Dengan dukungan dari pemerintah dan pemegang saham, transformasi Garuda ini memiliki ruang bertumbuh yang memadai, baik untuk menjaga keberlanjutan operasional maupun ruang pertumbuhan yang lebih baik,” tuturnya.
Di sisi lain, perbaikan armada memberi dampak terhadap jumlah pesawat yang dapat beroperasi. Hingga November 2025, Garuda mengoperasikan 58 pesawat dan Citilink 32 pesawat, meningkat dari 21 pesawat Citilink pada Juli 2025.
Sebelumnya, Direktur Teknik Garuda Indonesia Mukhtaris menyampaikan bahwa fokus operasional utama emiten maskapai pelat merah ini adalah menyelesaikan perawatan armada yang dimiliki.
“Fokus operasional kami diarahkan untuk menyelesaikan perawatan pesawat, karena pesawat-pesawat ini harus segera kami kembalikan ke status serviceable dalam waktu dekat,” pungkasnya.
Sementara itu, PT Danantara Asset Management (Persero) menargetkan seluruh pesawat milik Garuda Indonesia dapat mengudara pada 2026.
Managing Director Danantara Asset Management Febriany Eddy menyatakan bahwa langkah tersebut menjadi prioritas utama karena efektivitas operasional maskapai sangat bergantung pada jumlah armada yang aktif.
Dia menuturkan bahwa pesawat yang berhenti beroperasi atau grounded memberikan pukulan ganda bagi maskapai lantaran pendapatan bakal menurun, sementara biaya sewa, leasing, serta operasional tetap berjalan.
Jika kondisi berlarut, kerugian yang dialami maskapai diperkirakan semakin dalam. Oleh karena itu, Danantara mendorong Garuda untuk mengoperasikan seluruh armada pesawatnya secara bertahap mulai tahun depan.
“Prioritas pertama itu return toservice [RTS]. Target kami adalah tahun depan semua yang hari ini grounded aircraft itu semua bisa terbang. Tentunya secara gradual,” ujarnya di Wisma Danantara, beberapa waktu lalu.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.