Bisnis.com, JAKARTA – Badan Perdagangan dan Pembangunan PBB atau UN Trade and Development Agency (UNCTAD) memperingatkan ketidakpastian terkait tarif yang terus berlangsung dapat memperlambat arus investasi, terutama bagi usaha kecil dan menengah (UKM) serta negara-negara berkembang.
“Kami khawatir akan ada lebih banyak perlambatan dalam hal investasi,” ujar Sekretaris Jenderal UNCTAD Rebeca Grynspan dalam wawancara dikutip dari Reuters, Selasa (14/10/2025).
Dia menambahkan, dampak terbesar kemungkinan akan dirasakan oleh UKM di seluruh dunia dan negara-negara kecil yang sangat bergantung pada perdagangan dan investasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Menurut Grynspan, meskipun teknologi kecerdasan buatan (AI) menjadi pendorong perdagangan dan investasi global tahun ini, manfaatnya masih terkonsentrasi pada segelintir negara dan belum menyentuh ekonomi kecil dan berkembang.
Laporan UNCTAD yang dirilis pada Juli lalu menunjukkan investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) global turun untuk tahun kedua berturut-turut pada 2024. Tahun ini, kekhawatiran meningkat karena ketegangan dagang diperkirakan semakin mengguncang kepercayaan investor.
Sejak menjabat pada Januari lalu, keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait kebijakan tarif telah mengguncang pasar keuangan dan memicu gelombang ketidakpastian di ekonomi global.
Grynspan menilai, proyeksi ekonomi 2026 akan sangat bergantung pada arah hubungan dagang AS dengan mitra-mitranya — apakah ketegangan saat ini berkembang menjadi perang dagang penuh, atau justru berlanjut dengan tarif tinggi di tengah negosiasi yang berlarut.
“Ada ketidakpastian, tetapi ke depan akan muncul lebih banyak kepastian. Pasar akan beradaptasi dengan situasi baru ini,” ujarnya.
Dia menyoroti negara-negara kurang berkembang di Afrika serta negara kepulauan kecil berada dalam posisi yang lebih rentan karena menghadapi tarif lebih tinggi dibandingkan negara maju.
Sementara Uni Eropa telah mencapai kesepakatan dengan AS untuk menetapkan tarif sebesar 15% atas sebagian besar barang ekspor, negara-negara kurang berkembang menghadapi beban yang jauh lebih besar. Sebagai contoh, Laos dikenakan tarif hingga 40%.
Grynspan mendesak AS agar memberikan keringanan tarif bagi negara-negara rentan.
Pada Juli lalu, Lesotho—sebuah negara kecil di Afrika—mendapat tarif modifikasi sebesar 15% setelah sebelumnya terancam dikenakan tarif hingga 50% oleh pemerintahan Trump.