#30 tag 24jam
IHSG Dibuka Menguat 0,29% Balik ke 8.200, OTW Happy Weekend?
IHSG dibuka menguat 0,29% di level 8.206,73, melanjutkan tren positif. Optimisme pasar didorong rilis kinerja keuangan dan pertemuan Trump-Xi. [482] url asal
#pasar-saham #ihsg #indeks-saham #kinerja-keuangan #perdagangan-saham #donald-trump #xi-jinping #ketegangan-dagang #asia-pasifik #data-pmi
(CNBC Indonesia - Market) 31/10/25 08:53
v/22435/
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali dibuka di zona hijau pagi ini, Jumat (31/10/2025). Kenaikan ini melanjutkan penguatan signifikan yang dicatatkan indeks dalam dua hari terakhir, setelah sempat melemah tajam di awal pekan.
Indeks pagi ini dibuka naik 0,29% atau menguat 22,67 poin ke level 8.206,73. Sebanyak 275 saham naik, 152 turun, dan 202 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 3704 miliar yang melibatkan 789 juta saham dalam 72.844 kali transaksi.
Pasar saham kembali optimis dengan menguat selama dua hari beruntun. Musim rilis kinerja keuangan menjadi salah satu pendorong penguatan IHSG. Selain itu kabar baik juga datang dari pemimpin besar dunia Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Korea Selatan.
Pasar saham Asia-Pasifik dibuka menguat pada perdagangan Jumat (31/10/2025) seiring meredanya ketegangan antara Washington dan Beijing. Kenaikan terjadi setelah pertemuan antara Presiden Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menghasilkan semacam kesepakatan dagang di Korea Selatan pada Kamis.
Pertemuan tersebut menandai gencatan perselisihan mengenai logam tanah jarang yang sempat mengancam dua ekonomi terbesar dunia ke arah perang dagang penuh.
"Kedua pihak tampaknya masih mempertahankan sejumlah langkah sebagai kartu tawar dalam negosiasi selanjutnya," kata Chaoping Zhu, ahli strategi pasar global di JPMorgan Asset Management.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 naik lebih dari 1% dan mencetak rekor tertinggi baru, sementara Topix bertambah 0,79% dan juga mencapai puncak baru. Sebaliknya, indeks Kospi Korea Selatan melemah 0,19% setelah mencatat rekor tertinggi pada Kamis, sedangkan Kosdaq naik 0,47%.
Indeks S&P/ASX 200 Australia dibuka naik 0,45%, menunjukkan sentimen positif di pasar regional. Namun, indeks Hang Seng Hong Kong diperkirakan melemah setelah kontrak berjangka HSI berada di 26.256, lebih rendah dari penutupan terakhir di 26.282,69.
Saham Panasonic Holdings anjlok lebih dari 8% setelah perusahaan memangkas proyeksi laba operasional tahunannya sebesar 13,5%. Penurunan tersebut dikaitkan dengan turunnya ekspektasi keuntungan dari divisi energi utama yang memasok baterai untuk Tesla dan produsen mobil lain.
Sementara itu, China akan merilis data Purchasing Managers' Index (PMI) untuk Oktober pada hari ini. Data tersebut akan memberikan gambaran aktivitas manufaktur dan jasa yang menjadi sorotan investor global.
Dari Amerika Serikat, ketiga indeks utama ditutup melemah setelah investor mencerna laporan keuangan dari sejumlah raksasa teknologi. Indeks S&P 500 turun 0,99% ke 6.822,34, Nasdaq Composite merosot 1,57% ke 23.581,14, dan Dow Jones Industrial Average terkoreksi 109,88 poin atau 0,23% ke 47.522,12.
(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]
Harga Minyak Dunia Melemah Tipis Jelang Pertemuan AS-China
Harga minyak dunia melemah tipis menjelang pertemuan Trump-Xi. Pasar menanti hasil yang dapat meredakan ketegangan dagang dan mempengaruhi permintaan energi. [444] url asal
#harga-minyak #minyak-dunia #pertemuan-as-china #brent #wti #ketegangan-dagang
(CNBC Indonesia - Market) 30/10/25 10:14
v/21583/
Jakarta, CNBC Indonesia- Harga minyak dunia terpantau bergerak melemah tipis pada awal perdagangan Kamis (30/10/2025), setelah menguat di sesi sebelumnya. Pelaku pasar menahan aksi beli sambil menunggu hasil pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Busan, Korea Selatan.
Mengutip Refinitiv pukul 10.10 WIB, harga minyak Brent tercatat di levelUS$64,54 per barel, turun dari posisi sebelumnyaUS$64,92 per barel. Sementara harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) berada diUS$60,13 per barel, melemah dariUS$60,48 per barel.
Pelemahan tipis ini terjadi di tengah ekspektasi pasar terhadap pertemuan Trump-Xi yang diharapkan dapat meredakan ketegangan dagang kedua negara. Konflik perdagangan yang berkepanjangan selama ini membayangi prospek pertumbuhan ekonomi global dan permintaan energi dunia.
Trump sebelumnya menyatakan keinginannya untuk menurunkan tarif impor terhadap barang-barang China, dengan imbalan komitmen Beijing untuk menekan ekspor bahan prekursor pembuatan fentanyl-narkotika sintetis yang banyak memicu kasus overdosis di AS. Pasar menilai langkah ini berpotensi membuka ruang dialog baru antara dua ekonomi terbesar dunia tersebut.
Selain isu geopolitik, pasar juga merespons kebijakanFederal Reserve (The Fed)yang memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Rabu malam, sejalan dengan ekspektasi pasar. Pemangkasan ini memberi sentimen positif bagi aset berisiko dan komoditas, termasuk minyak. Namun, The Fed mengisyaratkan bahwa pemangkasan lanjutan belum tentu terjadi dalam waktu dekat karena terbatasnya data ekonomi akibat penutupan sebagian aktivitas pemerintahan AS.
Claudio Galimberti, Kepala Ekonom Rystad Energy, menyebut kebijakan The Fed kali ini menunjukkan arah yang lebih mendukung reflasi dan pertumbuhan ekonomi. "Ini memberi angin segar bagi komoditas yang sensitif terhadap aktivitas ekonomi seperti minyak," ujarnya dalam catatan riset, dikutip dari Reuters.
Sementara itu, dukungan harga juga datang dari laporan penurunan stok minyak mentah AS yang lebih besar dari perkiraan. Berdasarkan dataEnergy Information Administration (EIA), persediaan minyak mentah AS turun6,86 juta barelmenjadi416 juta barelpada pekan yang berakhir 24 Oktober 2025, jauh di bawah proyeksi analis yang memperkirakan penurunan sekitar 211.000 barel.
Meski demikian, tren harga minyak dunia masih rentan fluktuasi jangka pendek. Pasar kini menantikan hasil konkret dari pertemuan di Busan yang dapat menentukan arah kebijakan perdagangan global ke depan-sekaligus menjadi penentu sentimen utama bagi harga minyak di pekan terakhir Oktober ini.
CNBC Indonesia
(emb/emb)
[Gambas:Video CNBC]
Warga China Pengguna iPhone Ramai-ramai Mengeluh, Ada Apa?
Apple bangkit berkat iPhone 17, penjualan meningkat di AS dan China. Namun, 55 pengguna di China ajukan keluhan terkait monopoli Apple. [405] url asal
#iphone-17 #keluhan-pengguna #antimonopoli #app-store #china #pembelian-dalam-aplikasi #komisi-tinggi #ketegangan-dagang #teknologi-as
(CNBC Indonesia - Tech) 21/10/25 17:13
v/11263/
Jakarta, CNBC Indonesia - Apple akhirnya bangkit dari keterpurukan berkat seri iPhone 17 teranyar. Firma riset Counterpoint melaporkan penjualan awal iPhone 17 dalam 10 hari pertama melampaui kinerja generasi pendahulunya di China dan Amerika Serikat (AS).
Laporan firma riset IDC mencatat pengiriman iPhone di kuartal-III (Q2) 2025 naik 2,9% secara tahun-ke-tahun. Agaknya Apple berhasil menggenjot minat beli masyarakat berkat desain baru, serta kemampuan kamera yang jauh meningkat.
Bersamaan dengan kabar baik tersebut, Apple kembali diterpa keluhan pengguna di China. Sebanyak 55 orang yang tergabung dalam kelompok pengguna iPhone dan iPad mengajukan keluhan ke regulator pasar China terkait bisnis Apple.
Mereka menuduh Apple menyalahgunakan dominasinya dengan membatasi distribusi dan pembayaran aplikasi ke platform miliknya. Hal itu dilakukan sembari mematok komisi tinggi yang dianggap merugikan pengguna.
Keluhan yang diajukan ke Administrasi Negara untuk Regulasi Pasar China bersamaan dengan ketegangan dagang antara Beijing dan Washington yang kian memanas. Kedua negara masih terlibat 'perang' tarif tinggi dan pembatasan teknologi satu sama lain.
Adapun pengajuan ini dipimpin oleh pengacara Wang Qiongfei. Secara garis besar, Apple dinilai melakukan 3 pelanggaran utama terhadap Undang-Undang Anti-Monopoli China. Pertama, memaksa konsumen untuk membeli barang digital secara eksklusif melalui sistem Pembelian Dalam Aplikasi Apple.
Kedua, membatasi unduhan aplikasi iOS ke App Store. Terakhir, membebankan komisi hingga 30% pada pembelian dalam aplikasi.
Apple tak segera menanggapi permintaan komentar dari Reuters.
Ini menandai gugatan kedua terhadap Apple yang dipimpin oleh Wang. Kasus serupa yang diajukan pada tahun 2021 telah ditolak oleh pengadilan Shanghai tahun lalu.
Wang mengatakan kepada Reuters bahwa ia memperkirakan gugatan administratif ini akan diproses lebih cepat oleh regulator dibandingkan gugatan perdata sebelumnya, yang putusannya sedang ia ajukan banding ke Mahkamah Agung Rakyat China.
Pengadilan tersebut telah mendengarkan argumen banding tersebut pada Desember 2024 dan putusannya masih tertunda, menurut Wang.
Di tengah ketegangan dengan Washington, China baru-baru ini meluncurkan serangkaian investigasi antimonopoli yang menargetkan perusahaan teknologi AS, termasuk produsen chip Qualcomm, yang menghadapi penyelidikan atas akuisisi perusahaan Israel, Autotalks.
(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]
Investor Borong Surat Utang RI, Purbaya: Yield Terendah dalam Sejarah
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan kepercayaan investor asing dan domestik meningkat, didorong oleh yield SBN 10 tahun yang mencapai 5,9%. [528] url asal
#yield-obligasi #investor-asing #surat-berharga-negara #pasar-obligasi #ekonomi-indonesia #imbal-hasil #ketegangan-dagang #flight-to-safety #permintaan-obligasi #volatilitas-pasar
(CNBC Indonesia - Market) 21/10/25 08:05
v/10605/
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, investor asing dan domestik kini makin percaya dengan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah.
Dia mengklaim minat investor ini dipicu oleh imbal hasil atau yield surat berharga negara (SBN) tenor 10 tahun yang menjadi acuan pasar, bergerak ke level terendahnya dalam sejarah. Rekor yield ini mencapai 5,9%.
"Ini sepanjang sejarah sekarang 5,9% untuk 10 tahun sejarah pemerintah, ya. Itu nunjukin orang percaya dengan fondasi ekonomi kita ke depan. Kalau enggak, enggak bisa turun seperti itu," kata Purbaya di Istana Negara, Jakarta, dikutip Selasa (21/10/2025).
Meski begitu, penting dicatat pasar surat utang pemerintah global tengah mengalami reli dalam beberapa waktu terakhir, termasuk di pasar obligasi Tanah Air.
Fenomena ini tercermin dari penurunan imbal hasil (yield) obligasi tenor 10 tahun di sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat (AS), Inggris, Prancis, Australia, dan Kanada.
Melansir data Refinitiv, yield US Treasury 10 tahun (US10Y) pada perdagangan Kamis (14/10/2025) tercatat turun 0,72% ke level 4,022% atau melemah 2,9 basis poin (bps) dalam sehari.
Penguatan harga obligasi juga terjadi di Inggris, di mana yield obligasi pemerintah (GB10Y) merosot 1,48% ke level 4,593%, atau turun 6,9 bps dibandingkan hari sebelumnya.
Kondisi serupa terjadi di beberapa negara maju lainnya. Imbal hasil obligasi Prancis (FR10Y) turun dari 3,478% menjadi 3,407%, atau melemah sekitar 7,1 bps.
Sementara yield obligasi Australia (AU10Y) anjlok dari 4,371% menjadi 4,258%, atau turun 11,3 bps, menjadi salah satu penurunan terdalam di antara yang lainnya. Adapun yield obligasi Kanada (CA10Y) juga bergerak lebih rendah, dari 3,169% ke 3,155%, atau turun 1,4 bps.
Reli di pasar obligasi global didorong oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah ketegangan dagang antara AS dan China yang kembali memanas. Hal ini membuat pelaku pasar berbondong-bondong mencari perlindungan di aset aman seperti obligasi pemerintah.
Lonjakan permintaan tersebut mendorong harga obligasi naik dan menekan yield ke level yang lebih rendah.
"Penurunan yield di pasar negara maju sangat luas dan menjadi cerminan flight to safety akibat meningkatnya volatilitas di aset berisiko," ujar Marc Ostwald, Kepala Ekonom dan Global Strategist di ADM Investor Services London, dikutip dari CNBC International.
Di dalam negeri, data juga menunjukkan lonjakan permintaan pada lelang Surat Berharga Negara (SBN), Selasa (7/10/2025) di mana pemerintah berhasil menjual Rp28 triliun obligasi, melampaui target Rp23 triliun.
Rasio bid-to-target tercatat menjadi yang tertinggi dalam dua bulan terakhir yang menunjukkan antusiasme investor lokal terhadap instrumen berbasis rupiah di tengah pelemahan dolar.
Kuatnya minat domestik ini juga membantu menyeimbangkan keluarnya dana asing dari pasar obligasi, di tengah kekhawatiran investor global terhadap dinamika fiskal dan politik di negara berkembang menjelang tahun pemilu.
(ras/haa)
[Gambas:Video CNBC]
Momentum Setahun Prabowo Diuji: Gaza Panas, Bunga BI Jadi Tanda Tanya
Pasar keuangan Indonesia melemah, IHSG turun 2,57%. Fokus investor kini pada keputusan suku bunga Bank Indonesia dan data ekonomi global. [3,904] url asal
#ihsg #rupiah #pasar-keuangan #sbn #ekonomi-global #wall-street #suku-bunga #investasi #data-ekonomi #ketegangan-dagang #newsletter
(CNBC Indonesia - Research) 19/10/25 18:26
v/9021/
- IHSG dan rupiah Indonesia bergerak kompak mengalami pelemahan, sementara yield SBN 10 Tahun terpantau berada di titik terendah.
- Wall Street mengalami rebound pasca kekhawatiran mengenai bank regional AS.
- Data indikator ekonomi global menjadi penentu arah pasar terutama China mengumumkan hasil GDP dan suku bunga acuan.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Tanah Air ditutup melemah pada perdagangan kemarin, Jumat (17/10/2025). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Surat Berharga Negara (SBN), dan nilai tukar rupiah ditutup melemah karena imbas dari keadaan makroekonomi yang belum kian memberikan titik terang.
Pasar keuangan Indonesia diharapkan bisa bergerak positif hari ini. Selengkapnya mengenai pergerakan pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Pasar keuangan Indonesia diharapkan mampu bergerak di zona positif pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (17/10/2025).
IHSG pada perdagangan Jumat kemarin melemah cukup dalam, turun sebesar 2,57% ke level 7.915,66 sekaligus mencatatkan level penutupan yang cukup terjal.
Nilai transaksi pun mencapai Rp28,54 Triliun dan melibatkan 26,21 miliar saham yang berpindah tangan sebanyak 2,15 juta kali. Sebanyak 248 saham menguat, 467 melemah, dan 241 saham tidak bergerak.
Saham emiten Grup Sinarmas PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menjadi biang kerok utama kejatuhan pasar, setelah ambles 13,78% dan sendirian membebani indeks hingga 58,13 poin.
Derita pasar diperparah oleh rontoknya saham-saham energi milik konglomerat Prajogo Pangestu. Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) anjlok 5,10% dan menekan indeks sebesar 20,49 poin, diikuti oleh induknya, PT Barito Pacific Tbk (BRPT), yang ambruk 7,12% dan menyumbang tekanan 16,64 poin.
Tidak berhenti di situ, tekanan jual juga melanda saham-saham blue-chip lainnya seperti PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dan PT Astra International Tbk (ASII) yang turut menyeret IHSG lebih dalam.
Dari pasar mata uang, nilai tukar Rupiah tengah mengalami pelemahan tipis sebesar 5 bps dari Rp16.570 ke Rp16.575 di akhir sesi pada Jumat pekan lalu.
Sementara DXY tengah mengalami penguatan. Dibuka di level 98.256 dan ditutup ke level 98.433 walau sempat menyentuh angka 98.554 di tengah sesi tersebut.
Pergerakan Rupiah yang cenderung mendatar ini merefleksikan sikap wait and see para pelaku pasar. Fokus utama investor kini tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang akan digelar pada pekan ini.
Keputusan suku bunga acuan BI, beserta pernyataan gubernur mengenai prospek ekonomi ke depan, menjadi katalis yang paling dinanti-nanti.
Selain itu, pasar juga menantikan rilis serangkaian data ekonomi domestik yang krusial, termasuk data neraca perdagangan.
Data-data ini akan memberikan gambaran lebih jelas mengenai denyut nadi perekonomian Indonesia dan menjadi pertimbangan utama bagi BI dalam merumuskan kebijakan moneternya.
Ketidakpastian menjelang pengumuman penting ini membuat investor enggan mengambil posisi besar, sehingga menahan pergerakan Rupiah dalam rentang yang terbatas.
Sebagai negara dengan hubungan dagang yang erat dengan China, Indonesia turut merasakan imbas dari ketegangan ini.
Eskalasi konflik dagang kedua raksasa ekonomi dunia tersebut menimbulkan kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global, sehingga investor cenderung beralih ke aset-aset aman (safe haven) seperti dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang seperti Rupiah.
Lanjut ke imbal hasil SBN 10 Tahun, yield terpantau mengalami sedikit kenaikan dari pembukaan di level 5,925% ke level 5,927%. Imbal hasil yang menanjak menandai harga SBN yang turun karena dijual investor.
Hal ini wajar mengingat adanya penurunan cukup tajam pada pekan lalu sehingga mengalami sedikit rebound di pasar SBN 10 Tahun ini. Penurunan diakibatkan adanya sentimen makroekonomi yang sedikit memburuk karean setelah penurunan signifikan tidak dibarengi dengan rebound yang cukup signifikan juga di pasar SBN.
Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, berhasil mengakhiri pekan yang volatil dengan catatan positif pada perdagangan Jumat (17/10/2025). Investor tampak mencerna kembali berbagai sentimen yang mewarnai pasar, mulai dari sinyal kebijakan moneter The Fed hingga awal musim laporan keuangan emiten.
Ketiga indeks utama kompak ditutup menguat. Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) naik 0,52%, begitu pula dengan indeks S&P 500 yang terapresiasi 0,53%. Kinerja terbaik dibukukan oleh indeks padat teknologi, Nasdaq Composite, yang juga berhasil menguat 0,52%.
Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, berhasil mengakhiri pekan yang volatil dengan catatan positif pada perdagangan Jumat (17/10/2025).
Kenaikan ini ditopang oleh optimisme investor setelah meredanya kekhawatiran perang dagang dan stabilnya sektor perbankan, dengan saham-saham teknologi raksasa tampil sebagai pemimpin.
Ketiga indeks utama kompak ditutup di zona hijau. Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) naik 0,52%, senada dengan indeks S&P 500 yang juga terapresiasi 0,53%. Kinerja terbaik dibukukan oleh indeks padat teknologi, Nasdaq Composite, yang berhasil menguat signifikan sebesar 0,52%.
Teknologi Jadi Bintang, Investor Sambut Baik Meredanya Tensi Dagang
Berbeda dengan hari sebelumnya yang diwarnai aksi jual, penguatan pada hari Jumat tidak merata di semua sektor. Motor utama kebangkitan bursa kali ini adalah saham-saham teknologi berkapitalisasi pasar besar (megacaps).
Raksasa seperti Apple (+1,96%) dan Tesla (+2,46%) mencatatkan kenaikan solid, memberikan dorongan paling signifikan terhadap indeks S&P 500 dan Nasdaq. Selain itu, saham produsen chip Nvidia (+0,78%) dan Microsoft (+0,39%) juga turut berkontribusi pada sentimen positif.
Kenaikan ini dipicu oleh meredanya kekhawatiran investor terhadap tensi dagang. Pernyataan Presiden Donald Trump yang mengindikasikan bahwa ancaman tarif yang sangat tinggi terhadap China tidak akan berkelanjutan disambut baik oleh pasar.
Sektor teknologi, yang rantai pasoknya sangat bergantung pada China, menjadi yang paling diuntungkan dari sentimen ini.
Meskipun demikian, investor masih menaruh kewaspadaan pada sektor keuangan, khususnya perbankan regional, yang pada hari sebelumnya sempat goyang. Walaupun pada hari Jumat berhasil lebih stabil, sentimen di sektor ini masih rapuh.
Ancaman Ganda dari Yield 4%
Namun, di balik optimisme sesaat ini, investor tidak bisa mengabaikan satu angka keramat yang menjadi momok bagi pasar saham: imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun yang menancap kuat di level 4,0090%.
Level 4% ini bukanlah pertanda baik. Sebaliknya, ini adalah sebuah sinyal bahaya yang memukul pasar saham dari dua arah secara bersamaan.
Sebagai cerminan fondasi ekonomi yang rapuh. Yield yang tinggi adalah gejala dari ketidakpastian makroekonomi. Ini merefleksikan kekhawatiran pasar bahwa inflasi masih "lengket", sehingga memaksa The Fed untuk mempertahankan kebijakan suku bunga ketatnya lebih lama dari perkiraan (higher for longer).
Kebijakan yang dirancang untuk mendinginkan ekonomi ini secara inheren merupakan berita buruk bagi prospek pendapatan dan laba perusahaan, serta meningkatkan risiko resesi. Singkatnya, yield 4% adalah bayangan dari awan gelap yang sedang menaungi ekonomi AS.
Kini, Wall Street berada dalam sebuah pertarungan sengit, apakah sentimen positif dari meredanya tensi dagang dan harapan laba emiten cukup kuat untuk melawan tekanan ganda dari yield 4%? Jawabannya akan sangat menentukan tren pasar ke depan.
Musim Laporan Kinerja Jadi Harapan
Kini, fokus investor akan tertuju sepenuhnya pada musim rilis laporan keuangan kuartal ketiga yang akan semakin ramai pada pekan-pekan mendatang. Kinerja laba emiten, terutama dari sektor teknologi dan konsumer, akan menjadi ujian sesungguhnya bagi valuasi pasar saham saat ini.
Laporan kinerja yang solid dan panduan (guidance) yang optimistis dari para emiten raksasa diharapkan dapat menjadi bahan bakar baru bagi Wall Street untuk melanjutkan tren penguatannya. Sebaliknya, jika hasilnya mengecewakan, bukan tidak mungkin bursa akan kembali memasuki periode koreksi.
Investor harus memasang sabuk pengaman erat-erat memasuki pekan perdagangan yang krusial ini. Akhir pekan ditutup dengan drama geopolitik tingkat tinggi yang saling bertentangan dan berpotensi menciptakan volatilitas ekstrem di pasar keuangan global.
Dari runtuhnya gencatan senjata di Gaza yang kembali memanaskan tungku konflik Timur Tengah, hingga sinyal damai dagang yang secara tak terduga diembuskan oleh Washington. Di tengah badai eksternal yang kompleks ini, Indonesia justru berhasil menorehkan kabar gembira yang bisa menjadi penopang sentimen domestik.
Hari ini juga menjadi momentum penting setahun pemerintahan Prabowo -Gibran. Momentum ini diharapkan bisa menjadi angin positif di tengah masih banyaknya sentimen negatif dari luar negeri.
Momen 1 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka genap berusia satu tahun pada hari ini, 20 Oktober 2025. Dalam kurun waktu tersebut, berbagai kebijakan besar telah diluncurkan-mulai dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga reformasi struktural BUMN-yang menjadi penanda arah baru pembangunan ekonomi nasional.
Diluncurkan sejak Januari 2025, program Makan Bergizi Gratis menjadi simbol utama politik kerakyatan Prabowo. Program ini menargetkan 82,9 juta penerima manfaat, termasuk siswa sekolah, ibu hamil, dan balita. Tujuan utamanya adalah memperbaiki kualitas gizi generasi muda dan menekan angka stunting nasional.
Namun, pelaksanaannya tidak lepas dari tantangan. Infrastruktur dapur, rantai pasok bahan pangan, dan mekanisme distribusi di daerah terpencil masih menjadi pekerjaan rumah besar pemerintah. Sejumlah evaluasi tengah dilakukan untuk memperkuat koordinasi antar kementerian dan pemerintah daerah.
Selain MBG, Sekolah Rakyat menjadi program unggulan lain yang berfokus pada pemerataan pendidikan. Pemerintah telah meresmikan 165 Sekolah Rakyat Rintisan yang memanfaatkan gedung-gedung revitalisasi. Sementara pembangunan gedung permanen akan dimulai Oktober 2025 di 108 titik lokasi, dengan target rampung Juli 2026.
Di sisi korporasi negara, Prabowo melanjutkan langkah efisiensi dengan memangkas jumlah BUMN dan membentuk Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) sebagai lembaga baru pengelola investasi strategis. Tujuannya: memperkuat kinerja BUMN dan menarik investasi swasta dalam proyek nasional.
Untuk menopang daya beli dan menggerakkan ekonomi, pemerintah juga menggulirkan paket stimulus ekonomi 2025. Program ini mencakup subsidi listrik, bantuan sembako, Bantuan Subsidi Upah (BSU), diskon transportasi, hingga program magang bagi tenaga kerja muda. Stimulus tersebut diharapkan mampu mengimbangi tekanan perlambatan ekonomi global dan menjaga momentum pertumbuhan domestik.
Meski ambisius, tahun pertama pemerintahan Prabowo tidak lepas dari ujian politik. Gelombang demonstrasi besar pada Agustus 2025 menunjukkan bahwa sebagian kebijakan pemerintah masih menuai resistensi di publik. Isu transparansi anggaran, efektivitas pelaksanaan program, dan kebijakan keamanan menjadi perhatian utama berbagai kelompok masyarakat.
Memasuki tahun kedua, tantangan pemerintahan Prabowo-Gibran adalah memastikan implementasi kebijakan berjalan efektif, bukan hanya ambisius di atas kertas. Dengan kombinasi program sosial besar, reformasi kelembagaan, dan stimulus ekonomi berkelanjutan, pemerintahan ini berupaya menyeimbangkan antara stabilitas politik, pertumbuhan ekonomi, dan kesejahteraan rakyat.
Gencatan Senjata Diacuhkan! Israel Kembali Gempur Gaza, Dunia di Ujung Tanduk
Harapan akan perdamaian yang langgeng di Timur Tengah pupus seketika dalam sekejap mata. Pada hari Minggu (19/10/2025), militer Israel dilaporkan melancarkan serangan udara dan darat berskala signifikan ke berbagai titik di wilayah Gaza. Langkah ini secara efektif menghancurkan gencatan senjata yang dimediasi dengan susah payah oleh Amerika Serikat dan baru berumur sepekan.
Suara ledakan dan tembakan artileri berat dilaporkan mengguncang kota-kota padat penduduk di selatan seperti Rafah dan Khan Younis, dengan otoritas kesehatan setempat mengonfirmasi jatuhnya puluhan korban jiwa.
Drama saling tuding pun tak terhindarkan; Israel mengklaim serangan roket dan sniper dari Hamas terhadap pasukannya di area terkontrol sebagai pelanggaran berat yang memprovokasi respons militer.
Sebaliknya, Hamas menuduh Israel lebih dulu melakukan puluhan pelanggaran, termasuk penembakan terhadap warga sipil dan penangkapan.
"Ini adalah skenario terburuk yang ditakutkan pasar," ujar seorang analis geopolitik dari lembaga riset di Singapura. "Risiko utamanya sekarang bukan lagi hanya konflik terbatas, tetapi potensi eskalasi regional yang melibatkan proksi Iran di Lebanon dan Yaman, yang bisa mengancam stabilitas seluruh kawasan."
Bagi Indonesia, dampaknya jelas yaitu potensi arus modal asing keluar (capital outflow) dari pasar saham dan obligasi akan meningkat seiring investor global mencari tempat berlindung yang lebih aman.
Runtuhnya kesepakatan damai ini sontak mengirimkan gelombang kejutan ke pasar keuangan. Indeks acuan Bursa Efek Tel Aviv, TA-35, langsung anjlok 1,87% pada pembukaan perdagangannya, menjadi sinyal nyata bahwa investor global kini beralih ke mode risk-off (menghindari risiko).
Trump 'Jinakkan' Ancaman Tarif, Siapkan Pertemuan dengan Xi?
Di tengah suramnya kabar dari Timur Tengah, secercah harapan justru datang dari Washington, memberikan sentimen penyeimbang yang krusial.
Pada Jumat lalu, dalam sebuah langkah yang melegakan pasar global, Presiden AS mengisyaratkan akan membatalkan atau setidaknya menunda rencana pemberlakuan tarif hukuman baru sebesar 25% yang sebelumnya diancamkan kepada produk elektronik dan otomotif China senilai US$200 miliar.
Pernyataan ini langsung disambut euforia sesaat, terbukti dari rebound-nya indeks S&P 500 dan Nasdaq di akhir pekan. Sinyal de-eskalasi ini diperkuat dengan munculnya laporan bahwa para diplomat kedua negara tengah bekerja intensif di belakang layar untuk mengatur kemungkinan pertemuan tingkat tinggi antara Presiden AS dengan Presiden China, Xi Jinping, di sela-sela KTT G20 mendatang.
Langkah ini memberikan ruang napas bagi perusahaan raksasa seperti Apple, Tesla, dan Nvidia yang sangat bergantung pada rantai pasok dan akses pasar di China. Meski demikian, analis mengingatkan bahwa ini belum kemenangan penuh.
Wacana pertemuan ini sangat positif, tapi investor harus ingat, belum ada yang konkret. Ini bisa jadi hanya taktik negosiasi.
Namun untuk saat ini, pasar memilih untuk melihat gelas setengah penuh. Bagi Indonesia, stabilitas hubungan AS-China sangat vital karena akan menjaga permintaan global terhadap komoditas andalan seperti nikel, batu bara, dan CPO tetap kuat.
Imbas Konflik, Harga Minyak Dunia Kembali Mendidih
Konsekuensi dari runtuhnya gencatan senjata di Gaza ternyata tidak serta-merta memicu ledakan harga minyak mentah, sebuah reaksi yang mengejutkan sebagian pelaku pasar. Meskipun berita geopolitik dari Timur Tengah sangat serius, harga komoditas energi hanya menunjukkan kenaikan yang sangat tipis.
Pada penutupan perdagangan Jumat (17/10/2025), harga minyak acuan Brent ditutup menguat tipis 0,38% ke level US$ 61,29 per barel.
Sementara itu, harga minyak acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), naik lebih kecil lagi sebesar 0,14% ke level US$ 57,54 per barel. Kenaikan ini tidak bisa disebut "mendidih" dan menunjukkan bahwa ada faktor lain yang lebih kuat menekan pasar.
Analis berpendapat bahwa reaksi pasar yang teredam ini mencerminkan kekhawatiran yang lebih besar terhadap prospek permintaan (demand) global. Rilis data PDB China yang dinanti-nanti, inflasi di Eropa yang masih tinggi, dan ancaman suku bunga higher-for-longer dari The Fed tampaknya lebih mendominasi benak investor.
Pasar seolah-olah mengirimkan sinyal bahwa potensi perlambatan ekonomi global, yang akan menggerus konsumsi energi, adalah ancaman yang lebih nyata daripada potensi gangguan pasokan dari Timur Tengah saat ini.
Bagi Indonesia, kondisi ini memberikan sedikit ruang napas. Asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) dalam APBN 2025 yang dipatok di level US$82 per barel masih berada jauh di atas harga pasar saat ini.
Ini berarti tekanan terhadap beban subsidi energi belum separah yang ditakutkan, memberikan fleksibilitas fiskal yang lebih bagi pemerintah. Namun, harga komoditas yang rendah ini juga menjadi cerminan dari lemahnya permintaan global, yang dapat berdampak pada kinerja ekspor non-migas Indonesia.
Trade Expo Indonesia Tembus Target US$ 22,8 Miliar!
Di tengah ketidakpastian global yang pekat, angin segar berembus kencang dari dalam negeri, menjadi sebuah oase sentimen positif. Pameran dagang internasional terbesar di Indonesia, Trade Expo Indonesia (TEI) ke-40 tahun 2025, secara resmi ditutup dengan torehan prestasi yang sangat gemilang.
Kementerian Perdagangan mengumumkan total potensi transaksi yang berhasil dibukukan dari pameran ini mencapai US$ 22,8 miliar (sekitar Rp 378 triliun), sebuah angka yang secara signifikan melampaui target awal sebesar US$20 miliar.
Angka fantastis ini merupakan gabungan dari penandatanganan MoU, kontrak dagang jangka panjang, dan komitmen investasi baru.
Pencapaian luar biasa ini membuktikan bahwa produk-produk Indonesia masih memiliki daya saing dan diminati di panggung dunia. Menteri Perdagangan dalam pidato penutupannya menyatakan bahwa keberhasilan ini menunjukkan efektivitas strategi diversifikasi pasar ekspor ke negara-negara non-tradisional di Afrika, Asia Selatan, dan Amerika Latin.
Sektor-sektor seperti furnitur berkelanjutan, makanan dan minuman olahan, produk perikanan, hingga komponen baterai kendaraan listrik dilaporkan menjadi primadona bagi para pembeli asing. Keberhasilan TEI ini bukan hanya seremoni, melainkan fondasi penting bagi perekonomian.
Realisasi dari transaksi ini akan menjadi sumber pasokan valuta asing yang krusial untuk menopang neraca perdagangan dan memberikan amunisi bagi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah gempuran Dolar AS.
Foto: Pengunjung melihat produk UMKM pada hari terakhir gelaran Trade Expo Indonesia di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Minggu (19/10/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)Pengunjung melihat produk UMKM pada hari terakhir gelaran Trade Expo Indonesia di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Minggu (19/10/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman) |
Awas! Inflasi Eropa 'Bandel', Bunga Tinggi Bisa Bertahan Lebih Lama
Kewaspadaan pasar juga datang dari benua biru, yang bisa menjadi sumber tekanan eksternal tambahan. Data inflasi terbaru dari Jerman dan Prancis, dua motor ekonomi utama zona Euro, yang dirilis pada Jumat (17/10/2025) menunjukkan angka yang secara mengejutkan masih tinggi.
Inflasi tahunan Jerman tercatat di level 3,5%, di atas ekspektasi konsensus sebesar 3,2%. Angka yang masih "lengket" (sticky) ini memupus harapan bahwa Bank Sentral Eropa (ECB) akan segera memberi sinyal pelonggaran kebijakan moneternya.
Sebaliknya, data ini justru memberikan amunisi bagi Gubernur ECB, Christine Lagarde, dan para pejabat beraliran hawkish lainnya untuk terus mempertahankan suku bunga di level tertinggi dalam sejarah lebih lama dari perkiraan (higher for longer).
Bagi pasar keuangan global, termasuk Indonesia, ini adalah sentimen negatif yang tidak bisa diabaikan. Kebijakan bunga tinggi yang berkepanjangan di Eropa akan membuat imbal hasil (yield) obligasi pemerintah negara-negara Eropa tetap menarik. Hal ini menciptakan persaingan bagi Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia dalam menarik modal asing.
Selisih imbal hasil (yield spread) antara SBN dan obligasi negara maju menjadi semakin tipis, ini mengurangi daya tarik aset bagi investor global yang sensitif terhadap risiko. Selain itu, ekonomi Eropa yang tertekan oleh suku bunga tinggi juga dapat menurunkan permintaan mereka terhadap komoditas ekspor andalan Indonesia seperti CPO, kopi, alas kaki, dan tekstil.
Sentimen Satu Pekan ke Depan
Suku Bunga Bank Indonesia
Bank Indonesia akan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Selasa dan Rabu pekan ini (21-22/10/2025). Setelah memangkas suku bunga secara agresif, investor kini menunggu langkah kebijakan suku bunga berikutnya dari BI.
Sebagai catatan, BI sudah memangkas suku bunga secara agresif sebanyak lima kali pada tahun ini sebesar 125 bs menjadi 4,75% pada September 2025.
Gubernur BI Perry Warjiyo pada RDG bulan lalu menyampaikan pemangkasan suku bunga merupakan bagian dari upaya untuk mendongkrak pertumbuhan.
Secara khusus, suku bunga Deposit Facility diturunkan sebesar 50 bps menjadi 3,75% untuk memicu kredit bank.
Inflasi AS
Amerika Serikat akan mengumumkan data inflasi September pada Jumat pekan ini. Data ini sangat ditunggu karena bisa menjadi pegangan investor dan pelaku pasar mengenai kemungkinan kebijakan The Fed ke depan. Jika inflasi AS melandai maka pemangkasan suku bunga diharapkan bisa semakin besar.
Sebagai catatan, inflasi di Amerika Serikat naik sebesar 0,4% secara bulanan (month-over-month) pada Agustus 2025, meningkat dari kenaikan 0,2% pada Juli dan berada di atas ekspektasi pasar sebesar 0,3%. Ini merupakan kenaikan bulanan tertinggi sejak Januari.
Secara tahunan (year-over-year), tingkat inflasi AS meningkat menjadi 2,9% pada Agustus 2025, tertinggi sejak Januari, setelah stabil di level 2,7% pada Juni dan Juli, sesuai dengan perkiraan pasar.
Sementara itu, tingkat inflasi inti (core inflation) - yang tidak memasukkan komponen bergejolak seperti pangan dan energi - tetap stabil di 3,1% pada Agustus 2025, tidak berubah dari Juli dan sesuai dengan ekspektasi pasar.
PDB & Suku Bunga China Jadi Pertaruhan
Perhatian pasar pada hari Senin (20/10/2025) akan terpusat sepenuhnya ke Beijing. Dua agenda ekonomi raksasa akan dirilis hampir bersamaan: pengumuman suku bunga acuan (Loan Prime Rate/LPR) oleh People's Bank of China (PBoC) dan rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal ketiga.
Hasil dari kedua pengumuman ini akan menjadi katalis utama pergerakan harga komoditas dan aset berisiko global. Konsensus pasar yang dihimpun Reuters memperkirakan ekonomi China tumbuh sebesar 4,4% secara tahunan (YoY), sebuah angka yang dianggap moderat di tengah krisis properti yang berlarut-larut dan lemahnya sentimen konsumen.
Angka di atas ekspektasi akan menjadi sinyal pemulihan dan bahan bakar bagi harga komoditas, sementara angka di bawah 4,4% bisa memicu aksi jual global karena kekhawatiran perlambatan ekonomi.
Di sisi moneter, PBoC diperkirakan akan kembali memangkas suku bunga LPR tenor 1 tahun dan 5 tahun untuk memberikan stimulus. Pemangkasan LPR 5 tahun, yang menjadi acuan kredit pemilikan rumah (KPR), sangat dinanti sebagai upaya pemerintah untuk menopang sektor properti yang sekarat.
Bagi Indonesia, data ini bukan sekadar angka di layar. China adalah mitra dagang terbesar kita. Denyut nadi ekonomi China akan sangat menentukan nasib harga nikel, batu bara, CPO, dan pada akhirnya, kekuatan Rupiah dan IHSG.
Simak Rilis Data dan Agenda Hari Ini:
Berikut sejumlah agenda dan rilis data pada hari ini:
- PBoC Loan Prime Rate
- China GDP Growth
- Chinese Employment Rate September
Presiden menghadiri penyerahan uang pengganti kerugian negara dalam perkara tindak pidana korupsi pemberian fasilitas ekspor CPO dan turunannya pada industri kelapa sawit tahun 2025 di Gedung Utama Komplek Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan
Presiden memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat
Menteri Pertanian akan melaksanakan konferensi pers terkait Swasembada Pangan yang akan dilaksanakan di Ruang SAS, kantor pusat Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan
Menteri Pertanian menghadiri diskusi panel 'Pangan Mandiri, Negeri Berdikari' dalam rangkaian HIPMI-Danantara Indonesia Business Forum 2025 di Grand Ballroom Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta Pusat
Menteri Perindustrian akan melaksanakan konferensi pers terkait 1 tahun kinerja industri Kabinet Merah Putih di kantor Kemenperin, Widya Chandra, Jakarta Selatan
Menteri Investasi dan Hilirisasi/CEO Danantara Indonesia memberikan keynote speech dalam acara HIPMI-Danantara Indonesia Business Forum 2025 di Grand Ballroom Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta Pusat
Menteri Koordinator Bidang Pangan memimpin Rapat Koordinasi Terbatas Kick Off Komite Pengarah Penyelenggaraan Instrumen Nilai Ekonomi Karbon & Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca di Ruang Rapat Utama Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Gedung Graha Mandiri, Jakarta Pusat
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian akan mengadakan Forum Diskusi Capaian Satu Tahun Kinerja Kabinet Merah Putih di Bidang Perekonomian di Aroem Resto & Cafe, Gambir, Jakarta Pusat
DJP menggelar kegiatan media briefing terkait kinerja penerimaan perpajakan dan persiapan SPT Tahunan Tahun 2026
yang diselenggarakan di Aula Chakti Buddhi Bhakti KPDJP, Jakarta SelatanMenteri ESDM menghadiri diskusi panel 'Energi Berdaulat, Ekonomi Kuat'dalam rangkaian HIPMI-Danantara Indonesia Business Forum 2025 di Grand Ballroom Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta Pusat. Turut hadir Direktur Utama PLN, Direktur Utama PTBA, Direktur Utama PGN, dan Direktur Utama PGE
Kementerian Ketenagakerjaan akan meluncurkan program Pemagangan Nasional bagi lulusan perguruan tinggi batch I di Lobi A, kantor Kementerian Ketenagakerjaan, Jakarta Selatan
Media gathering Kementerian Luar Negeri terkait isu pelindungan WNI di Ciasem 12, Cikini, Jakarta Pusat.
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini :
- RUPS Samcro Hyosing Adilestari Tbk
- RUPS Victoria Insurance Tbk
- Tanggal ex Dividen Tunai Interim Cisarua Mountain Dairy Tbk
- Tanggal Akhir Perdagangan HMETD Wahana Interfood Nusantara Tbk
- RUPS Astra Otoparts Tbk
- RUPS Rencana Bank Bumi Arta Tbk
- RUPS Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
Hari Ini Jadi Pembuktian: Masihkah RI Jadi Surga Investasi?
Realisasi investasi dan kabar stimulus serta data ekonomi akan menjadi penggerak pasar hari ini [2,054] url asal
#ihsg #rupiah #newsletter #pasar-saham #amman-mineral #dolar-as #ketegangan-dagang #kebijakan-the-fed #sektor-kesehatan #investasi #ekonomi-indonesia
(CNBC Indonesia - Research) 16/10/25 15:58
v/6369/
- Pasar saham Indonesia bergerak beragam, IHSG menguat sementara rupiah melemah
- Wall Street ambruk karena kekhawatiran mengenai kredit macet
- Realisasi investasi dan kabar stimulus serta data ekonomi akan menjadi penggerak pasar hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan Indonesia bergerak beragam kemarin, Kamis (16/10/2025). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat sementara rupiah melemah.
Pasar keuangan Indonesia diharapkan kompak menguat pada perdagangan hari ini. Selengkapnya mengenai sentimen pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Pasar saham Indonesia akhirnya memutus tren pelemahan tiga hari beruntun dengan menguat 0,91% ke level 8.124,76 pada Kamis (16/10/2025).
Kenaikan ini didorong oleh lonjakan saham bahan baku dan kesehatan, terutama Amman Mineral (AMMN) dan PT Dian Swastatika Sentosa (DSSA), yang menjadi penopang utama indeks.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya bangkit dari tekanan setelah tiga hari berturut-turut berada di zona merah. Pada perdagangan Kamis (16/10/2025), IHSG ditutup menguat 0,91% atau 73,58 poin ke level 8.124,76.
Sebanyak 412 saham menguat, 250 melemah, dan 141 stagnan, dengan nilai transaksi mencapai Rp19,5 triliun. Kapitalisasi pasar ikut naik menjadi Rp15.227 triliun. Namun, investor asing masih mencatat net sell sebesar Rp 622,3 miliar.
Kenaikan IHSG ditopang kuat oleh sektor bahan baku yang melonjak 2,6%, diikuti sektor kesehatan (2,57%) dan utilitas (1,69%). Saham Amman Mineral Internasional (AMMN) dan Dian Swastatika Sentosa (DSSA) menjadi motor utama penguatan, menyumbang total lebih dari 36 poin terhadap indeks.
Dari sektor keuangan, saham perbankan besar seperti PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Bank Central Asia (BBCA), dan PT Bank Negara Indonesia (BBNI) juga ikut menguat, sementara saham konsumer terdorong oleh wacana pemangkasan tarif PPN yang digulirkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Di pasar valas, nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (16/10/2025).
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah terkoreksi tipis 0,03% ke level Rp16.565 per dolar AS, setelah sempat dibuka menguat ke Rp16.550.
Padahal, indeks dolar AS (DXY) justru tengah melemah 0,17% ke 98,63, tertekan oleh sinyal dovish dari Ketua The Fed Jerome Powell yang membuka peluang pemangkasan suku bunga lanjutan.
Kendati greenback terkoreksi, rupiah gagal memanfaatkan momentum itu karena investor masih menahan posisi di aset berisiko. Ketegangan dagang baru antara AS dan China kembali meningkat setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent menuding kebijakan ekspor logam tanah jarang Beijing mengancam rantai pasok global.
Kondisi tersebut membuat investor cenderung wait and see terhadap pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Pasar kini menantikan kejelasan arah kebijakan The Fed, di tengah tertundanya sejumlah rilis ekonomi akibat government shutdown yang belum berakhir.
Di pasar obligasi, Surat Berharga Negara (SBN terus turun ke 5,92% yang merupakan rekor terendah sejak Desember 2020 atau empat tahun lebih.
Imbal hasil yang melandai menandai investor tengah memburu SBN sehingga harga naik dan imbal hasil turun.
Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street ambruk berjamaah pada perdagangan Kamis atau Jumat dini hari.
Bursa ambruk karena adanya kekhawatiran mengenai saham bank terkait pinjaman macet. Investor juga harus menghadapi ketegangan perdagangan yang terus berlanjut serta penutupan sebagian pemerintah AS yang masih berlangsung.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 301,07 poin, atau hampir 0,7%, ke 45.952,24.
Indeks S&P 500 ditutup 0,6% lebih rendah di level 6.629,07 sementara Nasdaq Composite turun 0,5% dan berakhir di 22.562,54.
Saham bank regional seperti Zions dan Western Alliance mencapai titik terendah hari itu seiring indeks yang mulai melemah. Zions merosot 13% setelah mencatatkan beban besar akibat pinjaman macet dari beberapa debitur.
Western Alliance turun 11% setelah menuduh seorang debitur melakukan penipuan.
"Pasar benar-benar cemas terhadap kerugian terkait kredit," kata Jed Ellerbroek, manajer portofolio di Argent Capital Management, kepada CNBC International.
Dia menambahkan pasar tidak terlalu senang dengan komentar bank regional, sehingga sebagian besar saham keuangan skala kecil dan bank turun hari ini.
Industri perbankan belakangan ini berada dalam ketegangan setelah kebangkrutan dua perusahaan terkait industri otomotif yang menimbulkan kekhawatiran mengenai praktik pinjaman longgar, terutama di pasar kredit swasta yang kurang transparan.
"Kalau Anda melihat satu kecoa, kemungkinan ada lebih banyak lagi," kata CEO JPMorgan Jamie Dimon pada konferensi telepon laporan laba bank awal pekan ini, terkait kebangkrutan First Brands dan Tricolor Holdings.
Saham Jefferies, yang memiliki eksposur terhadap First Brands, turun 10% pada Kamis, sehingga kerugiannya untuk bulan ini mencapai 25%.
Penurunan saham terjadi bersamaan dengan lonjakan Cboe Volatility Index (VIX) dan pergerakan turun imbal hasil obligasi serta dolar AS. VIX melonjak ke level tertinggi sejak Mei, sementara imbal hasil Treasury 10-tahun turun menembus di bawah 4%. Indeks dolar AS turun hampir 0,5%.
Ketegangan perdagangan antara China dan AS baru-baru ini meningkat, menambah volatilitas di Wall Street.
Presiden Donald Trump minggu lalu mengancam akan mengenakan tarif tambahan 100% terhadap barang-barang dari China sebagai respons terhadap kontrol ekspor baru China terhadap mineral tanah jarang.
Nada perdagangan sempat melunak dalam beberapa hari berikutnya, tetapi ketegangan meningkat lagi pada Selasa, ketika Trump mengancam China dengan larangan perdagangan minyak goreng.
"Pemerintahan Trump ingin memengaruhi dan mengendalikan jauh lebih banyak hal dibandingkan pemerintahan sebelumnya... sehingga mereka terus mengguncang pasar dengan cara yang tak terduga," kata Ellerbroek.
Investor juga terus mengamati situasi penutupan pemerintah AS yang kini memasuki minggu ketiga. Penutupan ini menyebabkan tertundanya rilis data ekonomi penting dari lembaga federal secara tidak terbatas.
Sentimen pasar hari ini akan beragam,baik dari kebijakan dalam negeri ataupun data ekonomi luar negeri. Salah satu yang paling ditunggu adalah realisasi investasi kuartal III-2025.
Berikut beberapa sentimen penggerak pasar hari ini:
Prabowo Panggil Menteri ke Kertanegara, Bahas DHE hingga Penerimaan Pajak
PresidenPrabowo Subiantomemanggil sejumlah menteri ke kediamannya diJalan Kertanegara, Jakarta, Kamis malam (16/10/2025). Dalam rapat terbatas tersebut, kepala negara menegaskan agaraturan Devisa Hasil Ekspor (DHE)dimaksimalkan pelaksanaannya guna memperkuat cadangan devisa dan stabilitas ekonomi nasional.
Agenda tersebut menjadi sorotan karena menyangkut keberlanjutan kebijakan strategis yang diatur dalamPeraturan Pemerintah (PP) Nomor 8 Tahun 2025, yang merupakan perubahan atasPP Nomor 36 Tahun 2023.
Regulasi ini mewajibkan eksportir non-migas-terutama dari sektor pertambangan, perkebunan, kehutanan, dan perikanan-menempatkan100% DHE di sistem keuangan nasional selama 12 bulan. Mandatori ini telah berlaku sejak Maret 2025, namun efektivitasnya masih menjadi bahan evaluasi pemerintah.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadimenjelaskan bahwa Presiden Prabowo ingin aturan tersebut terus disempurnakan agar manfaatnya terhadap perekonomian dapat optimal.
Dalam rapat yang juga dihadiriMenteri Keuangan Purbaya Yudhi SadewadanMenko Perekonomian Airlangga Hartarto, turut dibahas pula progres peningkatan penerimaan pajak dan optimalisasi pendapatan negara.
Rapat di Kertanegara bukan yang pertama membahas DHE. Sebelumnya, pada Minggu (12/10/2025), Prabowo juga menggelar pertemuan serupa di lokasi yang sama untuk mengevaluasi efektivitas kebijakan tersebut.
Purbayakala itu mengakui bahwa implementasi DHE hingga kinibelum berdampak signifikan terhadap peningkatan cadangan devisa. DataBank Indonesiamenunjukkan cadangan devisa pada akhir September 2025 turun menjadiUS$148,7 miliar, dariUS$150,7 miliar pada AgustusdanUS$152,0 miliar pada Juli.
Konferensi Pers Capaian Investasi Triwulan III 2025: Sinyal Baru dari Hilirisasi RI
Pasar akan menyoroti rilis resmidata realisasi investasi triwulan III 2025yang dijadwalkan berlangsungJumat, 17 Oktober 2025, pukul 09.00 WIB, di Kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Gedung Ismail Saleh, Jakarta.
Akan dipimpin langsung olehMenteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, akan memaparkan perkembangan investasi, arah hilirisasi, serta dampaknya terhadap penciptaan lapangan kerja menjelang akhir tahun.
Rilis ini menjadi momentum penting, terutama setelah pemerintah gencar mendorong transformasi industri berbasis sumber daya alam menuju hilirisasi berteknologi tinggi.
Selain itu, capaian investasi kuartal ketiga kerap dijadikan tolok ukur kestabilan arus modal di tengah kondisi global yang masih bergejolak, terutama akibat penyesuaian suku bunga dan permintaan komoditas dunia.
Sebelumnya, Menteri Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan realisasi investasi nasional hingga kuartal III-2025 mencapai Rp 1.400 triliun. Dengan demikian, capaian ini sudah setara 73,68% dari target investasi Rp 1.905,6 triliun pada tahun ini.
Sebagai pembanding,realisasi investasi triwulan II 2025mencapaiRp477,7 triliun, naik11,5% (yoy)dari periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp428,4 triliun. Kementerian Investasi mencatat, capaian ini menyerap665.764 tenaga kerjadi berbagai sektor produktif.
Dari sisi komposisi,penanaman modal dalam negeri (PMDN)mendominasi denganRp275,5 triliunatau57,7%dari total investasi, sementarapenanaman modal asing (PMA)berkontribusiRp202,2 triliunatau42,3%.
Rilis data hari ini akan memberikan gambaran arah investasi nasional menjelang kuartal akhir 2025 sekaligus satu tahun kinerja Prabowo. Sebagai catatan, Prabowo memimpin Indonesia sejak Oktober 2024 atau kuartal IV-2025. Jika dihitung maka realsiasi kuartal III-2025 akan menjadi kuartal ke empat atau satu tahun era Prabowo.
Pasar menantikan apakah tren kenaikan dua kuartal terakhir dapat dipertahankan, sekaligus mengukur seberapa kuat program hilirisasi mampu menjaga arus modal asing di tengah dinamika ekonomi global.
Data Perizinan & Konstruksi Perumahan AS (Building Permits & Housing Starts)
Dua data penting sektor properti Amerika Serikat akan menjadi sorotan pasar pada Jumat, 17 Oktober 2025. Malam ini waktu Indonesia, Washington akan merilis dataizin mendirikan bangunan (building permits)dankonstruksi rumah baru (housing starts)untuk periode September 2025 dua indikator utama yang mencerminkan arah sektor perumahan AS, salah satu motor penting ekonomi Paman Sam.
Data ini akan diuji setelah laporan bulan Agustus menunjukkan pelemahan tajam di tengah tekanan pasokan dan permintaan. MenurutU.S. Census Bureau, jumlah izin bangunan pada Agustus 2025 turun 2,3% menjadi laju tahunan musiman sebesar 1,33 juta unit. Angka ini direvisi naik dari estimasi awal 1,312 juta unit, namun tetap menjadi level terendah sejak Mei 2020.
Simak Rilis Data dan Agenda Hari Ini:
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
Press background dengan tema "Langkah Maju SDM Perhubungan Laut di Kancah Global, Dukungan Pendidikan dan Pelatihan Pengembangan SDM Sektor Maritim untuk Pelaut Afrika" di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran, Cilincing, Jakarta Utara.
Capital Market Summit & Expo 2025 (CMSE 2025) dengan tema "Pasar Modal untuk Rakyat, Satu Pasar Berjuta Peluang" di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta Selatan.
Konferensi pers capaian realisasi investasi triwulan III tahun 2025 yang akan disampaikan langsung oleh Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM di Gedung Ismail Saleh, kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Jakarta Selatan.
Media Briefing Menteri Keuangan di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat.
Kemenko Perekonomian akan menyelenggarakan media briefing tentang Hasil Kajian Penguatan Tata Kelola Listrik Nasional menuju Aksesi OECD di Media Center, Gedung Ali Wardhana, Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat. Narasumber: Chairperson Purnomo Yusgiantoro Center dan Ketua Pusat Studi Energi UGM
Forum Talenta Digital Komdigi "Sinergi Data Pelatihan untuk Penguatan Talenta Digital Indonesia" yang akan dilaksanakan di Media Center KemkomdigiGedung Utama Kemkomdigi, Jakarta Pusat. Narasumber: Menkomdigi/Wamenkomdigi.
Talkshow Pasar Modal oleh 3 Pemuka Agama "Muda Kaya, Tua Bahagia, Mati Bagaimana?" dalam rangkaian Capital Market Summit & Expo 2025 di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta Selatan. Pembicara Habib Ja'far, Pastor Marcel, dan Bhante Dira.
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
RUPS Rencana Sidomulyo Selaras Tbk
RUPS PT Urban Jakarta Propertindo Tbk.
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Hexindo Adiperkasa Tbk
RUPS Menara Capital Nusantara Tbk
CNBC INDONESIA RESEARCH
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
China & AS Siaga: Gebrakan Danantara-Purbaya Jadi Tumpuan IHSG Rupiah?
Kebijakan pemerintah dan data ekonomi global akan menjadi penggerak pasar hari ini [2,566] url asal
#newsletter #ihsg #rupiah #kebijakan-moneter #dolar-as #the-fed #investasi #analisis-pasar #ketegangan-dagang #ekonomi-global
(CNBC Indonesia - Research) 15/10/25 15:19
v/5324/
- Pasar keuangan Indonesia berakhir beragam kemarin, IHSG melemah tetapi rupiah menguat
- Wall Street berakhir beragam, Dow Jones melemah
- Kebijakan pemerintah dan data ekonomi global akan menjadi penggerak pasar hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya melemah pada perdagangan Rabu (15/10/2025), seiring investor global yang memilih bersikap hati-hati menjelang pertemuan dua pemimpin ekonomi terbesar dunia-Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping-serta mencermati arah kebijakan suku bunga The Fed.
Sementara itu, rupiah justru mampu berbalik menguat, memanfaatkan jeda pelemahan dolar AS usai pidato Ketua The Fed Jerome Powell dini hari tadi waktu Indonesia.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan bergerak volatile hari ini. Selengkapnya mengenai pergerakan pasar global bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Ketidakpastian global yang meningkat setelah gelombang kebijakan proteksionisme baru AS dan revisi proyeksi ekonomi Dana Moneter Internasional (IMF) membuat pelaku pasar cenderung melakukan aksi ambil untung. IHSG yang sempat menembus level 8.000 pun terkoreksi, meski nilai tukar rupiah berhasil menahan pelemahannya berkat tekanan DXY yang mulai mereda.
IHSG ditutup turun 15,34 poin atau 0,19% ke level 8.051,18. Sebanyak 449 saham melemah, 232 naik, dan 122 stagnan, dengan nilai transaksi mencapai Rp30 triliun.
Investor asing mencatat net sell sebesar Rp 1,4 triliun pada perdagangan kemarin.
Sektor teknologi turun paling dalam, diikuti utilitas dan bahan baku. Koreksi saham-saham big cap, termasuk milik konglomerat Prajogo Pangestu, turut menekan indeks.
Sepanjang sesi pertama, investor asing tercatat melakukan net sell Rp587 miliar, menandakan sikap defensif terhadap prospek ekonomi global yang masih dibayangi ketegangan dagang dan arah kebijakan moneter AS. Dari dalam negeri, ekspektasi insentif fiskal diharapkan dapat menjadi penopang IHSG pada akhir pekan.
Rupiah menutup perdagangan di level Rp16.560/US$, menguat 0,06% dan mematahkan tren pelemahan tiga hari beruntun.
Indeks dolar AS (DXY) terkoreksi 0,27% ke 98,79 setelah Powell menegaskan bahwa pasar tenaga kerja AS mulai melemah dan inflasi cenderung melandai.
Nada dovish dalam pidato Powell memunculkan ekspektasi pasar bahwa The Fed akan memangkas suku bunga lagi sebesar 25 basis poin pada pertemuan 28-29 Oktober mendatang. Harapan pelonggaran lanjutan ini menekan dolar dan memberi ruang bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah, untuk bernafas.
Kondisi ini sekaligus menunjukkan bahwa arah kebijakan moneter global masih menjadi faktor utama yang akan membentuk sentimen pasar keuangan domestik dalam beberapa hari ke depan.
Dari pasar Surat Berharga Negara, imbal hasil SBN melandai ke 6,015% yang menjadi level terendah sejak Januari 2021. Imbal hasil yang melandai menandai harga SBN tengah naik karena diburu investor.
Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street kembali ditutup beragam pada perdagangan Rabu atau Kamis dini hari nanti.
Indeks S&P 500 kembali menguat pada Rabu, didorong oleh laporan laba luar biasa dari Bank of America dan Morgan Stanley.
Namun, ada Kekhawatiran yang terus berlanjut mengenai negosiasi perdagangan AS-China dan kemungkinan penutupan pemerintah sempat menekan sentimen investor, tetapi hal itu tersingkir oleh antusiasme terhadap awal musim laporan laba yang lebih baik dari perkiraan.
Indeks Dow Jones Industrial Average mengakhiri perdagangan hampir tidak berubah, turun hanya 17,15 poin atau 0,04% ke 46.253,31.
Indeks S&P 500 ditutup naik 0,4% ke 6.671,06, setelah sempat menguat hingga 1,2% di perdagangan intraday. Nasdaq Composite menguat 0,7% menjadi 22.670,08, setelah sempat rally hingga 1,4%.
Saham-saham mendapat dorongan awal dari laba kuat Bank of America dan Morgan Stanley. Saham Bank of America ditutup naik 4,4%, sementara saham Morgan Stanley menguat 4,7% pada akhir sesi.
"Sepertinya bank-bank ini berhasil melampaui ekspektasi, baik dalam hal laba maupun pendapatan," kata Sam Stovall, kepala strategi investasi di CFRA Research, kepada CNBC International.
Dia menambahkan kenaikan menjadi indikasi bahwa ekonomi tetap kuat dan ditambah kemungkinan The Fed akan menurunkan suku bunga lagi pada akhir bulan ini,
Namun, kenaikan volatilitas belakangan ini masih berlanjut.
Investor tampak waspada dalam beberapa hari terakhir karena ketegangan perdagangan global meningkat.
Cboe Volatility Index (VIX), yang dikenal sebagai "indikator ketakutan" Wall Street, sempat memuncak lebih tinggi pada sore hari, ditutup di level 20,6. Indeks ini telah menunjukkan tren naik sepanjang minggu lalu, naik hingga lebih dari 21,6 pada hari Jumat, atau level tertinggi sejak akhir Mei.
Saham teknologi unggulan AI, Nvidia, turun tipis 0,1% pada penutupan, setelah sempat naik hingga 2,7%.
Penutupan pemerintah AS, yang kini memasuki minggu ketiga, menambah ketidakpastian saat ini. Akibat penutupan ini, rilis data ekonomi penting dari lembaga federal terhenti tanpa batas waktu, menciptakan "blind spot" bagi para pedagang.
"Investor tampaknya belum siap untuk mengirimkan saham kembali ke rekor baru pada tahap ini, karena mereka menunggu lebih banyak laporan laba dan komentar dari Washington atau Beijing sebelum bergerak naik," kata Jose Torres, ekonom senior di Interactive Brokers.
Dia menambahkan level volatilitas tetap tinggi dan itu menunjukkan potensi pergerakan tiba-tiba ke arah manapun saat para pelaku mencari berita penting yang bisa memengaruhi sentimen dan perilaku pengambilan risiko.
Sejumlah data ekonomi penting dari dalam dan luar negeri tengah menjadi sorotan pasar. Dari Asia, tekanan deflasi China berlanjut dengan penurunan Indeks Harga Konsumen (CPI) sebesar 0,3% (yoy) pada September 2025, menandakan rapuhnya permintaan domestik di ekonomi terbesar kedua dunia itu.
Sementara di dalam negeri, posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia naik menjadi US$431,9 miliar per Agustus, disertai pelemahan penerimaan pajak yang mendorong pemerintah menimbang penurunan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk menjaga daya beli masyarakat.
Dari sisi korporasi, Danantara mengumumkan efisiensi besar lewat pemangkasan jumlah komisaris BUMN dan penghapusan bonus tahunan, langkah yang diklaim mampu menghemat hingga Rp8,28 triliun per tahun.
Di saat bersamaan, Kementerian Keuangan meluncurkan kanal pengaduan "Lapor Pak Purbaya" untuk memperkuat transparansi fiskal. Sementara dari Amerika Serikat, pasar global menanti rilis data inflasi produsen (PPI) dan penjualan ritel untuk September yang akan menjadi petunjuk arah inflasi dan kebijakan suku bunga The Fed selanjutnya
China Catat Deflasi Lagi
Biro Statistik Nasional China melaporkan, memperpanjang periode kontraksi harga konsumen dan menegaskan lemahnya permintaan domestik.
Indeks Harga Konsumen (IHK) di China kembali turun 0,3% (yoy) atau deflasi pada September 2025, lebih dalam dari perkiraan pasar yang memproyeksikan deflasi 0,1%, namun sedikit lebih ringan dibandingkan penurunan 0,4% pada bulan sebelumnya.
Menurut dataNational Bureau of Statistics of China, harga bahan makanan merosot lebih tajam sebesar 4,4% dibandingkan 4,3% pada Agustus menjadi kontraksi terdalam sejak Januari 2024. Penurunan ini terjadi secara luas di berbagai kategori, terutama harga daging babi yang terus anjlok akibat pasokan melimpah menjelang liburGolden Week, biaya produksi yang menurun, serta lemahnya permintaan.
Sebaliknya, inflasi non-pangan justru meningkat menjadi 0,7% dari sebelumnya 0,5%, didorong oleh programtrade-inpemerintah untuk mendorong konsumsi rumah tangga. Kenaikan tercatat di sektor perumahan (0,1%), pakaian (1,7%), kesehatan (1,1%), dan pendidikan (0,8%). Sementara itu, biaya transportasi turun lebih lambat, yakni 2,0% dibandingkan 2,4% pada Agustus.
Jika dilihat dari sisi inti, inflasi inti yang tidak memasukkan harga pangan dan energi-naik 1,0% (yoy), menjadi level tertinggi dalam 19 bulan terakhir setelah kenaikan 0,9% pada Agustus. Secara bulanan, IHKChina naik tipis atau mengalami inflasi 0,1%, di bawah ekspektasi pasar sebesar 0,2%, setelah sebelumnya stagnan pada Agustus.
Utang Luar Negeri RI Tembus US$431,9 Miliar per Agustus 2025, Masih Didominasi Jangka Panjang
PosisiUtang Luar Negeri (ULN)Indonesia kembali meningkat. Bank Indonesia (BI) melaporkan total ULN nasional mencapaiUS$431,9 miliarpada Agustus 2025, naik 2% secara tahunan (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan Juli 2025 yang tercatat sebesarUS$430,7 miliar.
Dalam keterangan resmi BI, Rabu (15/10/2025), rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berada di level30,0%, relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 29,9%. Struktur utang pun masih didominasi olehutang jangka panjangyang mencapai85,9% dari total ULN, menunjukkan risiko pembiayaan eksternal yang tetap terjaga.
Secara rinci,utang luar negeri pemerintahtercatat sebesarUS$213,9 miliarpada Agustus 2025, tumbuh 6,7% (yoy). Namun, pertumbuhan ini melambat dibandingkan Juli yang naik 9,0%. Perlambatan tersebut dipengaruhi oleh melemahnya arus masuk modal asing ke instrumenSurat Berharga Negara (SBN)di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi.
Sementara itu,utang luar negeri swastaberada di posisiUS$194,2 miliar, mencatat kontraksi 1,1% (yoy), lebih dalam dibandingkan penurunan 0,2% pada Juli. Penurunan utang swasta terutama berasal dari sektorbukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations)yang terkontraksi 1,6%, sementaralembaga keuangan (financial corporations)hanya tumbuh tipis 0,8%.
Purbaya Luncurkan 'Lapor Pak Purbaya' untuk Aduan Pajak dan Bea Cukai
Menteri KeuanganPurbaya Yudhi Sadewameluncurkan layanan pengaduan baru bertajuk"Lapor Pak Purbaya", yang menjadi saluran langsung bagi masyarakat dan pelaku usaha untuk melaporkan dugaan penyimpangan atau keluhan terkait pajak dan bea cukai.
"Nomornya 082240406600. Silakan digunakan kalau ada masalah dengan pajak, pegawai pajak, atau pegawai cukai yang tidak sesuai prosedur," ujar Purbaya di kantor Direktorat Jenderal Pajak, Rabu (15/10/2025).
Purbaya menjelaskan, layanan ini dibentuk untuk memperkuattransparansidan memastikan aparat fiskal bekerja sesuai aturan. Sebuah tim khusus telah disiapkan untuk menampung laporan masyarakat, yang kemudian akan disortir dan ditindaklanjuti secara berkala oleh Kementerian Keuangan.
Ia menegaskan, setiap aduan akan diproses melalui mekanisme resmi agar dapat memperbaiki tata kelola dan pelayanan publik di sektor fiskal. "Kami ingin ada saluran langsung ke menteri, supaya keluhan dunia usaha atau publik bisa segera ditangani," kata Purbaya.
Selain itu, Purbaya juga menegaskan tidak ada kebijakanpengetatan jalur hijaudi pelabuhan, jalur yang diperuntukkan bagi arus barang berisiko rendah. Namun, pemeriksaan acak tetap akan dilakukan untuk memastikan tidak ada penyalahgunaan.
Melalui layanan "Lapor Pak Purbaya", pemerintah berharap kepercayaan publik terhadap sektor perpajakan dan kepabeanan semakin meningkat, sekaligus menekan praktik tidak transparan di lapangan.
Danantara Pangkas Komisaris BUMN, Hemat Rp8,28 Triliun Setahun
Danantara mencatat efisiensi besar dari kebijakan pengurangan jumlah komisaris dan penghapusan bonus (tantiem) di BUMN.
CEO Danantara Rosan Roeslani mengungkapkan langkah itu mampu menghemat sekitar US$500 juta atau setara Rp8,28 triliun per tahun.
"Dari 1.000 perusahaan, rata-rata ada lima komisaris. Dengan efisiensi ini, kita bisa hemat setengah miliar dolar setiap tahun," ujar Rosan dalamForbes Global CEO Conferencedi Jakarta, Rabu (15/10/2025).
Rosan menilai, kebijakan ini juga memperkuat tata kelola perusahaan pelat merah agar lebih efisien dan adil. Sebab, menurutnya, peran komisaris seharusnya fokus pada fungsi pengawasan, bukan bagian dari manajemen aktif.
Ia juga menegaskan, skema bonus hingga 45% dari bonus direktur tidak lagi relevan. "Tidak ada perusahaan di ASEAN atau dunia yang masih menerapkan tantiem untuk komisaris," pungkasnya.
Pemerintah Kaji Penurunan Tarif PPN di Tengah Pelemahan Penerimaan Pajak
Pemerintah tengah menimbang opsipenurunan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN)sebagai langkah menjaga daya beli masyarakat, seiring tren pelemahan penerimaan pajak di tahun berjalan.
Saat ini, tarif PPN masih berlaku11%, meski dalamUU HPP (Harmonisasi Peraturan Perpajakan)sebenarnya direncanakan naik menjadi12%pada 2025. Namun, karena adanya penolakan publik, kenaikan tersebut hanya diterapkan untuk barang-barang mewah, sementara tarif umum tetap 11% dengan skema dasar pengenaan pajak (DPP) 11/12.
Selain mempertimbangkan penyesuaian tarif, pemerintah juga memperpanjanginsentif PPN Ditanggung Pemerintah (DTP)untuk sektor properti. Stimulus berupa pembebasan PPN 100% atas penyerahan rumah tapak dan satuan rumah susun akan berlaku hingga31 Desember 2027, diperpanjang dari rencana semula 2026.
Menurut Purbaya, kebijakan ini diambil setelah mendengar masukan dari pelaku industri properti dan diharapkan mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. "Perpanjangan ini penting untuk mendorong sektor perumahan, sekaligus menopang konsumsi rumah tangga," ujarnya.
Data Inflasi Produsen (Producer Price Index/PPI), Penjualan Ritel AS (retail sales) & Klaim Pengangguran
Dua data penting ekonomi Amerika Serikat akan menjadi sorotan pasar pada Kamis, 16 Oktober 2025. Malam ini waktu Indonesia, Washington akan merilis datainflasi produsen (Producer Price Index/PPI)danpenjualan ritel (retail sales)untuk periode September-dua indikator kunci yang kerap dijadikan barometer arah inflasi dan daya beli konsumen AS.
Data ini krusial, terutama setelah laporan bulan Agustus menunjukkan sinyal campuran antara perlambatan harga di tingkat produsen dan ketahanan konsumsi masyarakat.
Pada Agustus 2025, inflasi produsen di AS tercatat turun 0,1% (mom), penurunan pertama dalam empat bulan terakhir, menurutU.S. Bureau of Labor Statistics. Koreksi ini jauh di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan 0,3%, seiring anjloknya biaya jasa sebesar 0,2%-penurunan terdalam sejak April.
Pasar kini menantikan hasil rilis terbaru September untuk melihat apakah tren tersebut berlanjut. Jika inflasi produsen tetap terkendali namun konsumsi bertahan kuat, The Fed mungkin akan memiliki ruang lebih besar untuk menahan suku bunga di level saat ini. Namun jika tekanan harga kembali meningkat, pasar bisa bersiap menghadapi narasi baru soal risiko inflasi yang kembali menguat di akhir tahun.
AS pada hari ini juga akan mengumumkan klaim pengangguran per 4 Oktober 2025.
Sebagai catatan, klaim pengangguran awal di Amerika Serikat menurun sebanyak 14.000 dari minggu sebelumnya menjadi 218.000 pada minggu ketiga September, jauh di bawah konsensus pasar yang memprediksi kenaikan kembali ke 235.000, menandai angka terendah dalam dua bulan terakhir.
Simak Rilis Data dan Agenda Hari Ini:
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
Presiden mengumumkan paket kebijakan terbaru stimulus perekonomian di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat (tentatif)
Agri Food Summit 2025 di Auditorium Menara Bank Mega, Jakarta Selatan. Turut hadir antara lain Menteri Koordinator Bidang Pangan, Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan, dan Rektor IPB
Hari kedua Trade Expo Indonesia ke-40 di Indonesia Convention Exhibition BSD, Tangerang
Media briefing survei HSBC: AI dan Tren Digitalisasi Keuangan Perusahaan Masa Depan di HSBC Indonesia, Gedung WTC 1,Jakarta Selatan
"1 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Optimism on 8% Economic Growth" di JS Luwansa Hotel, Jakarta Selatan. Turut hadir antara lain Menko Perekonomian, CEO Danantara Indonesia, Ketua Dewan Ekonomi Nasional dan Menteri Keuangan.
Hari kedua Mineral & Batubara Convention Expo di Jakarta International Convention Center, Jakarta Selatan
Media briefing dengan tema "Weight loss vs fat loss in Menopause" dan subtema "Menopause bukan akhir dari kebugaran, ayo kenali tubuh dengan lebih bijak!" yang akan diselenggarakan di Resto Seribu Rasa, Jakarta Selatan. Ketua Perhimpunan Menopause Indonesia Jakarta Raya.
Berikut agenda korporasi:
RUPS PT Sreeya Sewu Indonesia Tbk
RUPS PT Bank Neo Commerce Tbk.
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
CNBC INDONESIA RESEARCH
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
China Perketat Ekspor Logam Tanah Jarang, Trump Kebakaran Jenggot
Pemerintah China membela kebijakan pembatasan ekspor logam tanah jarang, menanggapi tuduhan Trump. Ketegangan kedua negara memanas. [426] url asal
#logam-tanah-jarang #ekspor-china #ketegangan-dagang #donald-trump #kebijakan-perdagangan #rare-earth-elements #hubungan-as-china #tarif-tambahan #perusahaan-global
(CNBC Indonesia - News) 12/10/25 18:11
v/964/
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah China membela kebijakan pembatasan ekspor logam tanah jarang (rare earth element/REE), setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menuduh langkah itu jadi penyebab ketegangan dagang antara dua negara. China menyebut justru AS yang memicu masalah dan menilai tuduhan Trump tidak masuk akal.
Memang, Trump baru-baru ini mengumumkan tarif tambahan 100% terhadap produk dari China dan rencana pengendalian ekspor baru untuk perangkat lunak penting mulai 1 November. Langkah ini langsung mengguncang pasar saham AS dan menekan nilai saham-saham teknologi besar.
Banyak perusahaan global khawatir lantaran perusahaan tersebut bergantung pada pasokan logam tanah jarang dari China. Ketegangan ini juga bisa mengganggu rencana pertemuan antara Trump dan Presiden China Xi Jinping yang dijadwalkan akhir bulan ini.
China pun menanggapi postingan Truth Social Trump pada Jumat (10/10/2025) lalu. Unggahan tersebut menuduh Beijing meningkatkan ketegangan perdagangan setelah gencatan senjata enam bulan lalu antara dua negara terbesar di dunia, yang memungkinkan mereka untuk memperdagangkan barang tanpa tarif tarif yang sangat tinggi.
"Hubungan kami dengan Tiongkok selama enam bulan terakhir telah menjadi hubungan yang sangat baik, sehingga membuat langkah Perdagangan ini menjadi lebih mengejutkan," kata Trump dilansir Reuters, Minggu (12/10/2025).
Kementerian Perdagangan China mengatakan bahwa kebijakan ekspor mereka sepenuhnya sah dan wajar. Pemerintah menegaskan langkah ini merupakan reaksi terhadap tindakan Amerika yang sebelumnya telah memasukkan sejumlah perusahaan China ke daftar hitam dan memberlakukan biaya tambahan untuk kapal yang terkait dengan China.
Menurut Beijing, justru langkah-langkah tersebut yang merusak suasana pembicaraan ekonomi dua negara.
"Tindakan AS telah sangat merugikan kepentingan China dan merusak suasana pembicaraan ekonomi dan perdagangan bilateral, dan China dengan tegas menentangnya," kata kementerian itu.
Hal itu juga menunda pengumuman pungutan yang sesuai pada impor AS yang terikat oleh China, tidak seperti di awal tahun, ketika kedua negara adidaya secara progresif menaikkan tarif satu sama lain sampai tarif AS adalah 145% sementara China adalah 125%.
China juga menolak tuduhan bahwa kebijakan ekspornya bermotif politik. Pemerintah menegaskan kebijakan ini dibuat karena kekhawatiran logam tanah jarang bisa disalahgunakan untuk kepentingan militer, terutama di tengah meningkatnya konflik bersenjata di berbagai wilayah dunia.
Meski demikian, Beijing menegaskan bahwa pembatasan tersebut tidak berarti pelarangan total. Ekspor untuk penggunaan sipil tetap diperbolehkan selama sesuai dengan peraturan yang berlaku.
(wur)
[Gambas:Video CNBC]
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56
Foto: Pengunjung melihat produk UMKM pada hari terakhir gelaran Trade Expo Indonesia di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Minggu (19/10/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)