Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) berencana mengalihkan fokus strategi digitalisasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Tidak lagi sekadar mendorong pelaku usaha untuk masuk ke ekosistem daring (go online), pemerintah kini berupaya menciptakan keadilan pasar melalui penjajakan model Open Network for Digital Commerce (ONDC) seperti di India.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengatakan transisi dari go online menuju go produktif dan go kompetitif menjadi harga mati bagi UMKM. Menurutnya, UMKM nasional saat ini menghadapi tekanan berat dari serbuan produk impor murah yang difasilitasi oleh platform global.
Untuk mengatasi masalah tersebut, salah satu cara yang tengah dikaji Komdigi adalah dengan mendorong ONDC seperti yang diterapkan di India.
"UMKM kita perlu mendapat posisi yang setara agar bisa bersaing. Kami sedang mengeksplorasi model satu platform yang bisa terhubung ke banyak kanal, seperti yang dilakukan India," ujar Nezar dalam keterangannya, Rabu (8/4/2026).
Open Network for Digital Commerce (ONDC) merupakan sebuah protokol terbuka yang mendemokratisasi ekosistem perdagangan elektronik. Berbeda dengan model platform tertutup (walled garden) seperti Shopee, Tokopedia, atau Amazon—di mana pembeli dan penjual harus berada di aplikasi yang sama—ONDC memisahkan peran antara aplikasi pembeli, aplikasi penjual, dan penyedia logistik.
Secara sederhana, ONDC memungkinkan seorang penjual di aplikasi A ditemukan oleh pembeli yang menggunakan aplikasi B. Ini menciptakan jaringan terintegrasi yang tidak dikontrol oleh satu entitas tunggal, melainkan berfungsi sebagai infrastruktur publik digital.
Implementasi model open network menawarkan sejumlah keunggulan komparatif dibandingkan model marketplace tradisional. Sebab, penjual tidak perlu mendaftar di banyak platform untuk menjangkau pasar luas. Sekali terhubung ke jaringan, produk mereka terlihat di seluruh ekosistem.
ONDC berpotensi memangkas biaya komisi tinggi yang biasanya dibebankan platform besar kepada mitra UMKM.
Tidah hanya itu, algoritma platform global sering kali menguntungkan penjual besar atau produk. Dalam jaringan terbuka, UMKM lokal memiliki visibilitas yang lebih adil tanpa diskriminasi algoritma platform tertentu.
Pemerintah menilai perubahan pendekatan menjadi kunci. Dari sebelumnya berbasis program, kini diarahkan menjadi berbasis masalah yang dihadapi UMKM secara nyata, seperti logistik, standar produk, akses pembiayaan, hingga penetrasi pasar global.
Dengan arah kebijakan baru ini, transformasi digital diharapkan tidak hanya memperluas akses, tetapi juga benar-benar meningkatkan kesejahteraan pelaku UMKM serta memperkuat posisi ekonomi nasional di tengah persaingan global
“Yang perlu kita ukur bukan berapa banyak UMKM masuk digital. Tapi apakah mereka naik kelas, produktif, dan kompetitif,” kata Nezar.
Bisnis E-Commerce
Adapun platform e-commerce raksasa yang berjualan di Indonesia terus menikmati kue ekonomi digital.
Dalam laporan keuangan tahunan yang dirilis Sea Limited, sepanjang 2025 nilai transaksi bruto atau gross merchandise value (GMV) Shopee mencapai US$127,4 miliar atau sekitar Rp2.150,13 triliun (kurs Rp16.877 per dolar AS). Angka tersebut meningkat 27% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan US$100,5 miliar atau sekitar Rp1.696,14 triliun pada 2024.
“GMV tumbuh 27% YoY untuk tahun penuh 2025, bersamaan dengan peningkatan profitabilitas yang signifikan,” tulis manajemen Sea Ltd.
Pertumbuhan transaksi juga tercermin dari peningkatan jumlah pesanan. Sepanjang 2025, jumlah pesanan bruto atau gross orders mencapai 13,9 miliar, meningkat dari 10,9 miliar pesanan pada 2024, atau naik sekitar 27,5% YoY.
Peningkatan aktivitas transaksi tersebut turut mendorong pertumbuhan pendapatan perusahaan. Sepanjang 2025, pendapatan Shopee berdasarkan standar akuntansi GAAP tercatat mencapai US$16,6 miliar atau sekitar Rp280,16 triliun, meningkat dari US$12,4 miliar atau sekitar Rp209,27 triliun pada 2024. Dengan demikian, pendapatan Shopee tumbuh 33,9% YoY.
Dalam laporan tersebut juga disebutkan Shopee mencatat EBITDA lebih dari US$880 juta atau sekitar Rp14,85 triliun pada 2025. Kinerja yang kuat juga terlihat pada periode Kuartal IV/2025.
Pada periode ini, pendapatan GAAP Shopee mencapai sekitar US$5 miliar atau sekitar Rp84,39 triliun, meningkat dari US$3,7 miliar atau sekitar Rp62,45 triliun pada kuartal IV 2024, atau naik sekitar 35,1% secara tahunan.
Dari sisi transaksi, GMV Shopee pada kuartal IV/2025 saja mencapai sekitar US$36,7 miliar atau sekitar Rp619,38 triliun, meningkat dari US$28,6 miliar atau sekitar Rp482,69 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Dengan demikian, GMV kuartal/IV meningkat sekitar 28,3% secara tahunan.
Sementara itu PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) mengantongi pendapatan sebesar Rp820 miliar dari imbal jasa e-commerce Tokopedia sepanjang 2025.
Adapun imbal jasa e-commerce GOTO pada 2024 tercatat sekitar Rp690 miliar untuk periode 11 bulan sejak skema fee Tokopedia/Tokopedia Shop mulai berjalan. Manajemen menjelaskan angka Rp690 miliar tersebut setara Rp622 miliar setelah dikurangi PPN, dengan kontribusi kuartal IV/2024 sekitar Rp204 miliar (Rp183 miliar bersih).
Imbal jasa e-commerce adalah pos pendapatan berupa fee layanan yang dibayarkan Tokopedia, pasca diakuisisi TikTok Shop. GOTO sebagai pemilik minoritas dan penyedia ekosistem masih mendapat pemasukan.
Fee ini dihitung berdasarkan persentase berjenjang dari GMV Tokopedia/Tokopedia Shop, dan dibayarkan secara kuartalan