Bisnis.com, JAKARTA — Pemulihan kinerja Garuda Indonesia Group kian menguat seiring perbaikan fundamental anak usahanya di lini maintenance, yang menjadi penopang utama kesiapan armada dan keberlanjutan operasional penerbangan.
PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk. (GMFI) mencatatkan pertumbuhan kinerja signifikan sepanjang 2025, menandai fase turnaround yang mulai terealisasi di tingkat grup.
Berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2025, GMFI membukukan pendapatan sebesar US$491,9 juta atau sekitar Rp8,25 triliun, tumbuh 16,8% secara tahunan.
Laba perusahaan penopang bisnis maskapai ini juga meningkat 26,3% menjadi US$33,9 juta atau sekitar Rp570 miliar, mencerminkan perbaikan kinerja operasional dan efisiensi yang lebih terjaga.
Dari sisi neraca, total aset GMFI naik menjadi US$813 juta atau sekitar Rp13,6 triliun. Struktur permodalan juga berbalik positif dengan ekuitas mencapai US$114,6 juta atau Rp1,92 triliun.
Penguatan ini turut ditopang aksi korporasi berupa inbreng lahan senilai Rp5,6 triliun yang memperkuat nilai aset tetap sekaligus memperbaiki posisi ekuitas perseroan.
Selain itu, kontribusi lini bisnis non-commercial aircraft menjadi sumber pertumbuhan baru. Segmen ini mencatat pendapatan US$36,7 juta atau Rp615,9 miliar, melonjak 59,9% secara tahunan.
Direktur Utama GMFI Andi Fahrurrozi mengatakan capaian tersebut mencerminkan konsistensi perusahaan dalam menjaga disiplin operasional dan finansial.
“Ini merupakan hasil dari upaya kami menjaga disiplin operasional dan finansial, sekaligus memperkuat peran GMF sebagai strategic enabler dalam ekosistem Garuda Indonesia Group,” ujarnya dalam keterangan, Jumat (3/4/2026).
Di sisi operasional, GMFI mampu menjaga turnaround time pesawat secara disiplin, meski masih dibayangi tantangan rantai pasok global.
Kondisi ini menjadi faktor kunci dalam mendukung program reaktivasi armada yang dijalankan sepanjang 2025 serta memastikan reliability dan serviceability pesawat tetap terjaga.
Penguatan fundamental tersebut juga tercermin di pasar modal. Saham GMFI resmi keluar dari daftar Efek Pemantauan Khusus per 31 Maret 2026, menyusul PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) yang lebih dahulu keluar pada 26 Maret 2026.
Andi menilai pencapaian ini menjadi refleksi pemulihan yang bersifat substansial, bukan sekadar administratif.
“Ini merupakan sinyal kembalinya momentum pertumbuhan GMFI serta meningkatnya kepercayaan pasar melalui kinerja yang lebih sehat dan disiplin eksekusi,” katanya.
Memasuki 2026, GMFI akan melanjutkan strategi ekspansi melalui optimalisasi reaktivasi armada, pengembangan pasar internasional, serta peningkatan kontribusi pada proyek sektor pertahanan.
Sejalan dengan penguatan tersebut, kinerja operasional Garuda Indonesia Group juga menunjukkan tren positif pada periode Lebaran 1447 Hijriah.
Maskapai Citilink mencatat rekor jumlah penumpang harian tertinggi sepanjang sejarah operasional, yakni 48.000 penumpang pada 29 Maret 2026.
Secara kumulatif, Citilink mengangkut lebih dari 600.000 penumpang selama periode 14–29 Maret 2026, berkontribusi terhadap total 1,1 juta penumpang Garuda Indonesia Group.
Di sisi lain, tingkat ketepatan waktu atau on-time performance (OTP) grup mencapai 92,08%, menjadi yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Capaian ini meningkat dibandingkan 87,12% pada 2025 dan 86,07% pada 2024, mencerminkan perbaikan konsisten dalam kesiapan armada dan disiplin operasional.
Penguatan kinerja GMFI dan operasional grup menegaskan bahwa transformasi yang dijalankan Garuda Indonesia Group telah menyasar perbaikan fundamental secara menyeluruh.