Teri Bajak, olahan teri Medan oleh Windi Septia Dewi, sukses menembus pasar internasional dengan kemasan travel-friendly yang lolos imigrasi Australia. [552] url asal
Bisnis.com, MEDAN — Teri Medan dikenal luas sebagai salah satu oleh-oleh khas dari Medan, Sumatra Utara.
Ukuran ikan ini lebih kecil dibandingkan ikan teri pada umumnya dengan warna putih bersih. Teri Medan kerap dijadikan topping bubur dan lontong, maupun campuran sambal goreng bersama tempe atau kacang karena teksturnya yang renyah setelah digoreng.
Tak sedikit pula yang mengolah teri Medan dengan tumisan daun atau bunga pepaya, hingga bunga kecombrang, yang membuat seporsi nasi terasa kurang.
Namun, meski populer sebagai buah tangan khas Medan, membawa ikan teri ke luar daerah bukan perkara mudah. Aroma menyengat membuat ikan teri menjadi salah satu barang yang dilarang masuk ke kabin pesawat.
Karena itu, dibutuhkan pengemasan khusus dan berlapis agar produk khas Medan tersebut tetap bisa dinikmati di berbagai daerah di Indonesia.
Peluang inilah yang dimanfaatkan Windi Septia Dewi dengan menghadirkan olahan teri Medan yang lebih travel friendly. Sejak 2013, Windi bersama rekannya mendirikan usaha Teri Bajak, produk olahan teri Medan dengan varian sambal maupun non-sambal yang praktis dibawa bepergian jauh.
“Sejak awal buka usaha Teri Bajak, target pasar kami memang orang-orang dari luar Medan karena untuk oleh-oleh. Makanya, pengemasan menjadi perhatian utama kami di samping rasa,” kata Windi.
Upaya tersebut membuahkan hasil. Penjualan Teri Bajak yang dilakukan secara hybrid, baik online maupun offline, disebut terus meningkat dari tahun ke tahun. Selain menawarkan cita rasa khas Medan, kepraktisan produk juga menjadi alasan wisatawan memilih Teri Bajak sebagai oleh-oleh.
Windi bahkan mengaku pernah memiliki reseller hingga Papua, meski kerja sama tersebut terhenti pascapandemi.
Kede Oleh-Oleh Medan Jalan Kruing, Medan, Sumatra Utara./Bisnis-Delfi Rismayeti
Kebanggaannya bertambah ketika produk Teri Bajak disebut lolos pemeriksaan imigrasi di Bandara Australia.
“Itu pengakuan dari pelanggan kami yang tinggal di Australia. Kalau ke Medan dan bawa Teri Bajak kembali ke sana, tidak pernah tertahan di imigrasi karena kemasannya kami bikin seaman mungkin agar baunya tidak keluar, apalagi untuk teri mentah,” ujarnya bangga.
Rumah produksi sekaligus toko pertama Teri Bajak berada di Jalan Bajak V, Kecamatan Medan Amplas. Di lokasi tersebut, sedikitnya 100 kemasan Teri Bajak berbagai varian, baik sambal maupun original, diproduksi setiap hari. Mereka juga menyediakan kemasan teri dan baby cumi mentah.
Untuk memperluas pasar, Windi kemudian menyewa toko di kawasan yang lebih mudah dijangkau konsumen. Kede Oleh-Oleh Medan yang berada di Jalan Kruing, berseberangan dengan toko bolu terkenal asal Medan, dibuka pada 2019.
Tak hanya menjual produknya sendiri, Kede Oleh-Oleh Medan juga dijadikan wadah bagi produk-produk UMKM lainnya. Beragam produk UMKM kini tersedia di sana, mulai dari kopi, bolu, camilan, hingga fashion dan aksesori.
Menurut Windi, pasar Teri Bajak saat ini didominasi konsumen dari Pulau Jawa. Namun, permintaan dari dalam Sumatra Utara juga terus meningkat.
“Mungkin karena produk kami praktis juga, bisa tahan hingga 3 bulan untuk yang varian original sedangkan yang varian sambal tahan sampai 30 hari. Mengolah teri Medan ini, kan, gampang-gampang sulit juga,” katanya.
Selain tersedia di Jalan Bajak dan Jalan Kruing, produk Teri Bajak juga dijual di toko oleh-oleh Bandara Kualanamu serta marketplace.
Windi mengatakan pihaknya terus memperluas pasar, termasuk membidik kerja sama dengan travel umrah agar Teri Bajak dapat menjadi salah satu pilihan lauk bagi jamaah yang hendak beribadah ke Tanah Suci.
“Harapan kami semoga Teri Bajak jadi pilihan utama untuk oleh-oleh karena ini memang khas Medan, diolah dengan cita rasa Medan, dan sangat praktis,” tandasnya.
UMKM di Medan, seperti Teri Bajak dan Kriken, alami peningkatan omzet hingga 50% jelang Lebaran berkat tingginya permintaan oleh-oleh dan camilan khas. [454] url asal
Bisnis.com, MEDAN - Berkah Ramadan dan Idulfitri turut dirasakan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Medan, Sumatra Utara. Menjelang momen mudik Lebaran, masyarakat yang akan mudik biasanya memburu oleh-oleh untuk keluarga di kampung halaman.
Berkembangnya UMKM yang memproduksi aneka camilan maupun makanan semakin menambah alternatif pilihan buah tangan bagi keluarga.
Windi Septia Dewi, pemilik usaha olahan teri khas Medan bermerek "Teri Bajak", menyebut momen Lebaran menjadi salah satu pendorong peningkatan omzet mereka selain momen libur sekolah.
"Dari tahun ke tahun, selalu ada peningkatan omzet selama momen mudik dan arus balik Lebaran. Di 10 hari jelang Lebaran tahun ini, sudah mulai ramai yang datang ke toko kami beli oleh-oleh," kata Windi.
Dikatakan Windi, omzet Teri Bajak bisa meningkat hingga 50% selama momen mudik dan arus balik. Apalagi, sejak 2019 Teri Bajak telah membuka gerai sendiri.
Lokasi toko yang strategis di Jalan Kruing, yang berhadap-hadapan langsung dengan toko oleh-oleh bolu ternama dari Medan, memberi keuntungan tersendiri bagi usaha yang dirintis Windi sejak 2013 ini.
Teri Bajak sendiri mendeklarasikan diri sebagai oleh-oleh khas dengan teri Medan asli sebagai bahan baku utamanya.
Target pasar yang konsisten sebagai buah tangan bagi orang di luar kota Medan berhasil mengantarkan Teri Bajak sebagai salah satu oleh-oleh yang cukup dicari lantaran praktis, enak, dan tahan lama. Mayoritas pelanggan Teri Bajak pun saat ini adalah orang di luar daerah Sumatra Utara.
Windi menyebut pemasaran Teri Bajak sejak awal dilakukan secara online dan offline. Selain toko oleh-oleh di Jalan Kruing yang ikut menjual aneka produk UMKM lainnya, Teri Bajak juga dapat ditemukan di rumah produksinya di Jalan Bajak V Kecamatan Medan Amplas yang menjadi inspirasi penamaan produknya.
Olahan teri khas Medan yang dapat dijadikan lauk ini juga bisa ditemukan di toko oleh-oleh Bandara Kualanamu Medan.
"Kami berharap Teri Bajak ini bisa menjadi pilihan utama oleh-oleh dari Medan yang simpel, praktis, enak, dan halal," ujarnya.
Berkah serupa juga dirasakan pengusaha keripik kentang "Kriken" yang diproduksi di Jalan Perwira Utama Kecamatan Medan Sunggal.
Pemilik usaha Kriken Medan Fifin Suprianti mengungkapkan di hari biasa dapur mereka membutuhkan sekitar 800 kilogram (kg) kentang per minggu untuk memenuhi kebutuhan pasar.
Selama Ramadan, permintaan keripik kentang buatan Fifin semakin meningkat.
"Kami sampai minta distributor mengirim 1.200 kg kentang per seminggu selama Ramadan ini karena yang order semakin banyak," ujar Fifin.
Keripik kentang yang renyah dan bisa dijadikan taburan di atas hidangan lebaran membuat permintaan Kriken selalu melonjak untuk Idulfitri.
Fifin bahkan menyebut sampai tak mampu lagi memenuhi permintaan pelanggan di hari Idulfitri yang telah di luar kapasitas produksi rumahan mereka.
"Penjualan kami secara online dan offline di toko-toko mitra. Tapi banyak juga reseller yang membantu pemasaran dengan penjualan ke hampir seluruh daerah di Indonesia selain Papua," tandasnya.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56