UMKM di Medan, seperti Teri Bajak dan Kriken, alami peningkatan omzet hingga 50% jelang Lebaran berkat tingginya permintaan oleh-oleh dan camilan khas. [454] url asal
Bisnis.com, MEDAN - Berkah Ramadan dan Idulfitri turut dirasakan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Medan, Sumatra Utara. Menjelang momen mudik Lebaran, masyarakat yang akan mudik biasanya memburu oleh-oleh untuk keluarga di kampung halaman.
Berkembangnya UMKM yang memproduksi aneka camilan maupun makanan semakin menambah alternatif pilihan buah tangan bagi keluarga.
Windi Septia Dewi, pemilik usaha olahan teri khas Medan bermerek "Teri Bajak", menyebut momen Lebaran menjadi salah satu pendorong peningkatan omzet mereka selain momen libur sekolah.
"Dari tahun ke tahun, selalu ada peningkatan omzet selama momen mudik dan arus balik Lebaran. Di 10 hari jelang Lebaran tahun ini, sudah mulai ramai yang datang ke toko kami beli oleh-oleh," kata Windi.
Dikatakan Windi, omzet Teri Bajak bisa meningkat hingga 50% selama momen mudik dan arus balik. Apalagi, sejak 2019 Teri Bajak telah membuka gerai sendiri.
Lokasi toko yang strategis di Jalan Kruing, yang berhadap-hadapan langsung dengan toko oleh-oleh bolu ternama dari Medan, memberi keuntungan tersendiri bagi usaha yang dirintis Windi sejak 2013 ini.
Teri Bajak sendiri mendeklarasikan diri sebagai oleh-oleh khas dengan teri Medan asli sebagai bahan baku utamanya.
Target pasar yang konsisten sebagai buah tangan bagi orang di luar kota Medan berhasil mengantarkan Teri Bajak sebagai salah satu oleh-oleh yang cukup dicari lantaran praktis, enak, dan tahan lama. Mayoritas pelanggan Teri Bajak pun saat ini adalah orang di luar daerah Sumatra Utara.
Windi menyebut pemasaran Teri Bajak sejak awal dilakukan secara online dan offline. Selain toko oleh-oleh di Jalan Kruing yang ikut menjual aneka produk UMKM lainnya, Teri Bajak juga dapat ditemukan di rumah produksinya di Jalan Bajak V Kecamatan Medan Amplas yang menjadi inspirasi penamaan produknya.
Olahan teri khas Medan yang dapat dijadikan lauk ini juga bisa ditemukan di toko oleh-oleh Bandara Kualanamu Medan.
"Kami berharap Teri Bajak ini bisa menjadi pilihan utama oleh-oleh dari Medan yang simpel, praktis, enak, dan halal," ujarnya.
Berkah serupa juga dirasakan pengusaha keripik kentang "Kriken" yang diproduksi di Jalan Perwira Utama Kecamatan Medan Sunggal.
Pemilik usaha Kriken Medan Fifin Suprianti mengungkapkan di hari biasa dapur mereka membutuhkan sekitar 800 kilogram (kg) kentang per minggu untuk memenuhi kebutuhan pasar.
Selama Ramadan, permintaan keripik kentang buatan Fifin semakin meningkat.
"Kami sampai minta distributor mengirim 1.200 kg kentang per seminggu selama Ramadan ini karena yang order semakin banyak," ujar Fifin.
Keripik kentang yang renyah dan bisa dijadikan taburan di atas hidangan lebaran membuat permintaan Kriken selalu melonjak untuk Idulfitri.
Fifin bahkan menyebut sampai tak mampu lagi memenuhi permintaan pelanggan di hari Idulfitri yang telah di luar kapasitas produksi rumahan mereka.
"Penjualan kami secara online dan offline di toko-toko mitra. Tapi banyak juga reseller yang membantu pemasaran dengan penjualan ke hampir seluruh daerah di Indonesia selain Papua," tandasnya.
Fifin Suprianti, mantan bankir, sukses berbisnis keripik kentang "Kriken" di Medan sejak 2019, menjual ribuan bungkus per bulan secara offline dan online. [655] url asal
Bisnis.com, MEDAN - Profesi sebagai bankir tak membuat Fifin Suprianti mantap memutuskan untuk menjalani pekerjaan yang menghidupi dia dan keluarganya tersebut seumur hidup.
Pada 2019, dia dan suami nekat resign dari pekerjaan mereka untuk memulai bisnis keripik kentang ‘Kriken’ dengan hanya bermodalkan keyakinan bahwa keripik buatan mereka akan disukai banyak orang. Alasannya sederhana, yakni karena sang anak yang masih usia sekolah dasar tak bosan-bosan makan nasi hanya dengan lauk keripik kentang.
Semua bermula dari peran ganda yang disandang Fifin. Suami dan anak yang lebih senang makan masakan rumahan membuat Fifin yang juga bekerja harus memutar otak agar tak perlu memasak setiap hari. Pilihannya jatuh pada keripik kentang.
“Kami semua sibuk, harus berangkat pagi. Saya dan suami bekerja, anak-anak sekolah. Keripik kentang inilah yang sering saya bikin sebagai penyelamat menu makanan kami,” tutur Fifin.
Dari dapur kecil di kediaman mereka di Kecamatan Medan Sunggal, Fifin dan suami mulai memproduksi keripik kentang dalam skala yang lebih besar untuk memenuhi pesanan konsumen. Saat itu, kata dia, pesanan sudah mulai ramai datang dari orang-orang terdekat. Namun Fifin tak mau hanya menunggu konsumen datang. Pasca resign, dia aktif mengikuti berbagai kelompok pengajian hingga ke luar wilayah tempat tinggalnya. Di dalam tas, tak ketinggalan sekotak keripik kentang sebagai tester kepada kenalan-kenalan baru di pengajian, beserta kartu nama sebagai penyambung orderan.
Fifin mengaku merambah segala cara untuk memasarkan keripik kentang ‘Kriken’ yang dia produksi. Dia menyadari, keripik kentang sering dianggap cemilan ‘kuno’ dan identik dengan orang tua meski rasanya enak dan bisa dinikmati semua usia. Kegagapannya terhadap fitur jualan online (daring) saat itu justru memunculkan ide pemasaran Kriken yang tak biasa. Dia menggandeng anak-anak muda untuk ikut memasarkan Kriken.
“Kebetulan keponakan saya saat itu masih mahasiswa. Setiap akhir pekan, saya ajak dia dan teman-temannya jualan Kriken di Merdeka Walk ke orang-orang yang olahraga dengan sistem bagi hasil. Ternyata, laku keras,” ujarnya.
Tempat-tempat keramaian seperti taman kota maupun taman terbuka hijau adalah target pasar Fifin. Perempuan berdarah Sunda-Minang ini bahkan mengaku jadi sering berobat ke rumah sakit-rumah sakit besar untuk sakit ringan seperti flu yang dideritanya demi dapat menawarkan tester Kriken yang selalu dibawa kepada calon konsumen di sana.
Aksi jemput bola Fifin sempat terhenti saat pandemi mewabah. Tak hilang akal, dia mengubah strategi pemasaran Kriken. Puluhan bungkus keripik kentang dibawanya ke rumah sakit sebagai penyemangat bagi tenaga kesehatan yang sibuk menangani pasien COVID-19 di Instalasi Gawat Darurat (IGD).
“Saya titip ke satpam rumah sakit untuk dibagikan kepada nakes (tenaga kesehatan) di IGD. Tentu saja lengkap dengan stiker dan kontak yang bisa dihubungi untuk pemesanan,” kenangnya sambil tertawa.
Usaha keras Fifin tak berkhianat. Saat ini, ribuan bungkus Kriken kemasan 230 gram seharga Rp30.000 per bungkus berhasil terjual setiap bulan, baik secara offline maupun online melalui marketplace. Dia mengatakan pesanan berdatangan hampir di seluruh wilayah di Indonesia, termasuk dari para pejabat dan instansi/ lembaga yang kerap memesan dalam jumlah besar. Fifin pun mengaku tak lagi memiliki data pasti reseller Kriken seiring membludaknya permintaan menjadi reseller.
Kegigihan membesarkan Kriken membuat Fifin hampir dengan mudah diterima menjadi mitra sejumlah instansi/ lembaga yang semakin membawanya ke pusaran konsumen. Kesempatan mengikuti pameran dia ambil, hingga Kriken mampu berpameran di Penang Malaysia.
Dari 30 kilogram (kg) kentang di awal produksi, saat ini dia menyebut sebanyak 800 kg kentang rutin dipasok distributor dari ‘Tanah Karo’ setiap minggu ke dapur produksi Kriken di Jalan Perwira No.50 Kecamatan Medan Sunggal. Fifin pun kini memiliki 6 (enam) orang pekerja di dapur yang merupakan warga sekitar komplek.
Tak hanya itu, Fifin juga mendapat makna lain nama Kriken dari pertemuannya dengan petani-petani kentang di Berastagi Kabupaten Karo Sumut, selain hanya singkatan dari keripik kentang.
“Mereka bilang, kriken dalam Bahasa Karo artinya habiskan. Makna ini yang sekarang selalu saya bawa setiap kali mengenalkan Kriken terutama di pameran-pameran,” tandasnya.
1772718395_4543711c-db6b-49d4-9df0-77760f0dd555.
Fifin Suprianti, owner Kriken berpose di depan produk keripik kentang yang siap jual di rumah produksinya./ Delfi Rismayeti
Fifin Suprianti, mantan bankir, sukses berbisnis keripik kentang "Kriken" di Medan sejak 2019, menjual ribuan bungkus per bulan secara offline dan online. [655] url asal
Bisnis.com, MEDAN - Profesi sebagai bankir tak membuat Fifin Suprianti mantap memutuskan untuk menjalani pekerjaan yang menghidupi dia dan keluarganya tersebut seumur hidup.
Pada 2019, dia dan suami nekat resign dari pekerjaan mereka untuk memulai bisnis keripik kentang ‘Kriken’ dengan hanya bermodalkan keyakinan bahwa keripik buatan mereka akan disukai banyak orang. Alasannya sederhana, yakni karena sang anak yang masih usia sekolah dasar tak bosan-bosan makan nasi hanya dengan lauk keripik kentang.
Semua bermula dari peran ganda yang disandang Fifin. Suami dan anak yang lebih senang makan masakan rumahan membuat Fifin yang juga bekerja harus memutar otak agar tak perlu memasak setiap hari. Pilihannya jatuh pada keripik kentang.
“Kami semua sibuk, harus berangkat pagi. Saya dan suami bekerja, anak-anak sekolah. Keripik kentang inilah yang sering saya bikin sebagai penyelamat menu makanan kami,” tutur Fifin.
Dari dapur kecil di kediaman mereka di Kecamatan Medan Sunggal, Fifin dan suami mulai memproduksi keripik kentang dalam skala yang lebih besar untuk memenuhi pesanan konsumen. Saat itu, kata dia, pesanan sudah mulai ramai datang dari orang-orang terdekat. Namun Fifin tak mau hanya menunggu konsumen datang. Pasca resign, dia aktif mengikuti berbagai kelompok pengajian hingga ke luar wilayah tempat tinggalnya. Di dalam tas, tak ketinggalan sekotak keripik kentang sebagai tester kepada kenalan-kenalan baru di pengajian, beserta kartu nama sebagai penyambung orderan.
Fifin mengaku merambah segala cara untuk memasarkan keripik kentang ‘Kriken’ yang dia produksi. Dia menyadari, keripik kentang sering dianggap cemilan ‘kuno’ dan identik dengan orang tua meski rasanya enak dan bisa dinikmati semua usia. Kegagapannya terhadap fitur jualan online (daring) saat itu justru memunculkan ide pemasaran Kriken yang tak biasa. Dia menggandeng anak-anak muda untuk ikut memasarkan Kriken.
“Kebetulan keponakan saya saat itu masih mahasiswa. Setiap akhir pekan, saya ajak dia dan teman-temannya jualan Kriken di Merdeka Walk ke orang-orang yang olahraga dengan sistem bagi hasil. Ternyata, laku keras,” ujarnya.
Tempat-tempat keramaian seperti taman kota maupun taman terbuka hijau adalah target pasar Fifin. Perempuan berdarah Sunda-Minang ini bahkan mengaku jadi sering berobat ke rumah sakit-rumah sakit besar untuk sakit ringan seperti flu yang dideritanya demi dapat menawarkan tester Kriken yang selalu dibawa kepada calon konsumen di sana.
Aksi jemput bola Fifin sempat terhenti saat pandemi mewabah. Tak hilang akal, dia mengubah strategi pemasaran Kriken. Puluhan bungkus keripik kentang dibawanya ke rumah sakit sebagai penyemangat bagi tenaga kesehatan yang sibuk menangani pasien COVID-19 di Instalasi Gawat Darurat (IGD).
“Saya titip ke satpam rumah sakit untuk dibagikan kepada nakes (tenaga kesehatan) di IGD. Tentu saja lengkap dengan stiker dan kontak yang bisa dihubungi untuk pemesanan,” kenangnya sambil tertawa.
Usaha keras Fifin tak berkhianat. Saat ini, ribuan bungkus Kriken kemasan 230 gram seharga Rp30.000 per bungkus berhasil terjual setiap bulan, baik secara offline maupun online melalui marketplace. Dia mengatakan pesanan berdatangan hampir di seluruh wilayah di Indonesia, termasuk dari para pejabat dan instansi/ lembaga yang kerap memesan dalam jumlah besar. Fifin pun mengaku tak lagi memiliki data pasti reseller Kriken seiring membludaknya permintaan menjadi reseller.
Kegigihan membesarkan Kriken membuat Fifin hampir dengan mudah diterima menjadi mitra sejumlah instansi/ lembaga yang semakin membawanya ke pusaran konsumen. Kesempatan mengikuti pameran dia ambil, hingga Kriken mampu berpameran di Penang Malaysia.
Dari 30 kilogram (kg) kentang di awal produksi, saat ini dia menyebut sebanyak 800 kg kentang rutin dipasok distributor dari ‘Tanah Karo’ setiap minggu ke dapur produksi Kriken di Jalan Perwira No.50 Kecamatan Medan Sunggal. Fifin pun kini memiliki 6 (enam) orang pekerja di dapur yang merupakan warga sekitar komplek.
Tak hanya itu, Fifin juga mendapat makna lain nama Kriken dari pertemuannya dengan petani-petani kentang di Berastagi Kabupaten Karo Sumut, selain hanya singkatan dari keripik kentang.
“Mereka bilang, kriken dalam Bahasa Karo artinya habiskan. Makna ini yang sekarang selalu saya bawa setiap kali mengenalkan Kriken terutama di pameran-pameran,” tandasnya.
1772718395_4543711c-db6b-49d4-9df0-77760f0dd555.
Fifin Suprianti, owner Kriken berpose di depan produk keripik kentang yang siap jual di rumah produksinya./ Delfi Rismayeti
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56