Bisnis.com, BENGKALIS - Kondisi pertanian di Kabupaten Bengkalis masih diwarnai berbagai tantangan, terutama akibat karakter geografisnya yang didominasi lahan gambut dan ancaman abrasi air laut.
“Untuk kebutuhan beras saja, produksi kita baru sekitar 20% dari total konsumsi masyarakat. Produksi padi masih terbatas di sekitar 2.900 hektare lahan, sebagian besar di lima desa di Pulau Bengkalis,” ungkap Kepala Dinas Ketahanan Pangan Bengkalis, Susy Hartati kepada tim Jelajah Ketahanan Pangan Riau, Bisnis Indonesia.
Menurutnya, tantangan utama pertanian di daerah pesisir ini adalah pasang besar dan intrusi air laut yang menyebabkan lahan pertanian tergenang dan sulit diolah.
Meski demikian, Susy menilai semangat petani lokal, terutama kelompok muda, menjadi kunci untuk menjaga ketahanan pangan daerah. Salah satu yang menjadi fokus saat ini adalah pengembangan cabai, komoditas yang memiliki pengaruh besar terhadap inflasi di Bengkalis.
“Jumlah petani yang menanam cabai di Bengkalis memang tidak terlalu besar, tapi ternyata tetap bisa dikembangkan dengan inovasi. Adanya dukungan Bank Indonesia melalui teknologi pemantauan digital sangat membantu petani dalam meningkatkan hasil panen,” katanya.
Razak, dari kelompok tani milenial di Desa Pambang Baru, Bengkalis adalah salah satu contoh semangat generasi muda yang terus beradaptasi dengan tantangan alam. Sejak bertani mulai 2008 silam, dia terus berusaha agar pertanian tanaman pangan di daerah itu berkembang di saat banyaknya tantangan yang dihadapi para petani.
Dia mengaku sempat mengalami kegagalan saat 12.000 tanaman cabainya rusak akibat intrusi air laut pada Februari 2025 lalu. Namun, pada penanaman berikutnya di bulan April, ia kembali bangkit dan kini sudah berhasil panen.
“Waktu itu cuaca panas luar biasa dan waduk penampungan air juga sempat kering. Tapi kami belajar dari pengalaman dan menanam tumpang sari dengan jagung agar cabai bisa bertahan,” ujarnya.
Razak bercerita, dengan dukungan teknologi smart farming dari Bank Indonesia dan Habibi Garden, produktivitas tanaman cabainya meningkat signifikan.
“Kalau dulu satu pohon hanya menghasilkan 2–3 kilogram, sekarang bisa 3–5 kilogram. Kami merasa seperti petani di Jepang, bekerja dengan sistem yang lebih modern,” katanya bangga.
Sementara itu Politeknik Negeri Bengkalis (Polbeng) menunjukkan komitmennya dalam mendukung pengembangan pertanian cabai di Kabupaten Bengkalis, khususnya di Desa Pambang Baru, melalui riset dan penerapan teknologi tepat guna (TTG).
Kepala Pusat Litbang Pengabdian kepada Masyarakat Polbeng, Syaiful Amri, mengatakan bahwa sebagai perguruan tinggi berbasis vokasi di Riau, pihaknya berkomitmen memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, terutama di sektor pertanian yang menjadi tumpuan ekonomi daerah.
“Sebagai kampus vokasi, kami fokus pada riset dan pengabdian masyarakat yang langsung menjawab kebutuhan warga. Melalui program internal maupun hibah dari kementerian, kami terus mendorong inovasi agar hasilnya bisa diterapkan di lapangan,” ujar Syaiful.
Dalam kerja sama dengan Bank Indonesia, Polbeng telah mengembangkan berbagai alat pertanian sederhana berbasis TTG, seperti mesin pencacah bahan organik, alat pembuat kompos, serta sistem irigasi efisien.
Peralatan tersebut kini telah diterapkan di kelompok tani milenial Desa Pambang Baru, yang menjadi salah satu sentra pengembangan cabai di Bengkalis.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Riau, Panji Achmad, menyampaikan bahwa upaya pengendalian inflasi di daerah dilakukan secara kolaboratif antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BI, dan sejumlah lembaga negara lainnya. Salah satu fokusnya adalah menjaga stabilitas harga komoditas pangan strategis, seperti cabai.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pengendalian inflasi yang dilakukan secara kolaborasi. Karena kita semua menyadari bahwa pengendalian inflasi adalah satu hal yang sangat penting untuk menjadi perhatian bersama,” ujar Panji.
Salah satu langkah konkret yang telah dilakukan adalah pembinaan klaster cabai di Kabupaten Bengkalis. Klaster ini menjadi contoh nyata kontribusi petani dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus pengendalian inflasi.
Awalnya, kelompok tani di wilayah tersebut masih mengandalkan sistem pertanian konvensional. Namun sejak 2023, BI memperkenalkan penerapan teknologi digital farming untuk meningkatkan produktivitas.
Melalui teknologi seperti rapid soil check dan smart irrigation, petani kini mampu memantau kelembapan tanah dan kebutuhan air secara real time. Hasilnya, produktivitas cabai meningkat signifikan dan efisiensi kerja petani semakin baik.
Dengan kolaborasi berbagai pihak dan penerapan inovasi teknologi pertanian, BI berharap Riau dapat memperkuat kemandirian pasokan pangan dan menjaga stabilitas harga cabai sebagai salah satu komoditas penyumbang utama inflasi daerah.