#30 tag 24jam
Maskapai Murah AS Bangkrut, Dihantam Kenaikan Harga Avtur dan Turunnya Minat Liburan
Spirit Airlines tutup operasional usai harga avtur melonjak. Krisis biaya tekan maskapai murah AS dan tiket makin mahal. [1,149] url asal
(Kompas.com - Money) 26/05/26 06:50
v/232037/
KOMPAS.com - Kenaikan harga bahan bakar menekan berbagai sektor pariwisata, dan minat masyarakat di AS untuk berlibur pada musim panas tahun ini baik menggunakan pesawat maupun kendaraan pribadi.
Mengutip CNBC, harga tiket pesawat kini berada di level tertinggi sejak Mei 2022, ketika maskapai penerbangan bangkit dari pandemi Covid-19. Kala itu, dengan maskapai menghadapi tantangan keterbatasan armada dan tenaga kerja, namun terjadi lonjakan permintaan perjalanan akibat tren “revenge travel”.
Berdasarkan data, American Automobile Association (AAA), harga bensin di AS telah melampaui 4 dollar AS per galon dan berpotensi mendekati 5 dollar AS per galon selama musim panas.
Harga avtur bahkan melonjak dua kali lipat dalam kurun kurang dari tiga bulan terakhir, setelah AS dan Israel menyerang Iran, dan memicu konflik yang menyebabkan salah satu jalur pelayaran penting dunia praktis tertutup.
Data Airlines Reporting Corporation, penjualan tiket agen perjalanan domestik pulang-pergi pada April rata-rata mencapai 623 dollar AS, tertinggi dalam hampir empat tahun terakhir.
Bahan bakar jet juga menjadi komponen biaya terbesar kedua bagi maskapai setelah biaya gaji pekerja. Sejumlah operator penerbangan juga mulai membebankan kenaikan biaya tersebut kepada pelanggan.
Maskapai juga mulai memangkas rencana ekspansi akibat tingginya harga bahan bakar. Meski tidak semua rute dihentikan, pengurangan frekuensi penerbangan membuat jumlah kursi semakin terbatas.
Jadi, meskipun permintaan yang tetap tinggi, kondisi ini berpotensi mendorong harga tiket semakin mahal. Salah satu maskapai Low Cost Carrier (LCC) atau maskapai berbiaya rendah asal AS Spirit Airlines, resmi menghentikan operasional awal bulan ini dan menyalahkan mahalnya harga avtur sebagai salah satu penyebab kegagalannya keluar dari krisis kebangkrutan berulang.
Peristiwa itu menjadi tekanan terbesar bagi bisnis maskapai di AS dalam beberapa dekade terakhir. Sejumlah maskapai lain langsung berebut mengambil pangsa pasar Spirit. Namun, bangkrutnya maskapai tersebut juga mengurangi pilihan tiket murah bagi konsumen.
Lonjakan harga bahan bakar diperkirakan membuat biaya perjalanan musim panas tahun ini semakin mahal, baik untuk tiket pesawat maupun pengisian bahan bakar kendaraan.
Libur panjang Memorial Day atau hari pahlawan di AS juga menggambarkan seberapa besar masyarakat bersedia mengeluarkan uang untuk bepergian di tengah kenaikan harga kebutuhan lain seperti bahan makanan hingga pakaian.
Transportation Security Administration (TSA) memperkirakan jumlah penumpang pesawat pekan ini akan sebanyak 18,3 juta atau lebih rendah dibanding jumlah penumpang pada periode yang sama tahun lalu sebesar 18,5 juta.
Perjalanan darat menurun-minat bepergian turun
Sementara itu, perjalanan darat juga diperkirakan tidak lagi berbiaya murah. AAA memproyeksikan sekitar 39,1 juta orang akan melakukan perjalanan sejauh minimal 50 mil pekan ini atau hanya naik 0,1 persen dibanding libur Memorial Day tahun lalu. Angka itu menjadi pertumbuhan paling rendah dalam satu dekade terakhir.
Situs pemantau harga BBM GasBuddy juga memperkirakan harga bensin rata-rata nasional mencapai 4,48 dollar AS per galon saat Memorial Day, naik dari 3,14 dollar AS tahun lalu. Harga bahkan dapat menyentuh rata-rata 4,80 dollar AS per galon jika Selat Hormuz tetap tertutup dalam sebagian besar musim panas.
Di tengah kondisi tersebut, minat masyarakat untuk melakukan perjalanan wisata di AS sedikit lebih rendah pada bulan Maret yaitu 82,8 persen dibandingkan dengan 83,1 persen pada bulan yang sama tahun sebelumnya. UBS mengatakan, angka ini masih relatif tinggi, tapi melambat.
“Kami yakin moderasi niat bepergian dari tahun ke tahun tahun ini kemungkinan disebabkan oleh harga bahan bakar jet yang lebih tinggi dan kekhawatiran geopolitik lainnya,” tulis analis maskapai penerbangan UBS, Atul Maheswari.
Maheswari, menilai perlambatan tersebut kemungkinan dipicu tingginya harga bahan bakar jet dan kekhawatiran geopolitik. Namun, ia menyebut minat bepergian masyarakat masih mendekati level tertinggi dalam sembilan tahun terakhir.
Sejauh ini, para eksekutif maskapai mengatakan pelanggan masih aktif melakukan pemesanan tiket dan tetap optimistis terhadap musim liburan musim panas.
Mereka juga memperkirakan adanya dorongan permintaan dari ajang Piala Dunia FIFA yang berlangsung di AS, Kanada, dan Meksiko pada Juni-Juli, serta konser besar seperti tur Harry Styles di Amsterdam dan London.
United Airlines memperkirakan akan mengangkut 53 juta penumpang sepanjang Juni hingga Agustus, naik 3 juta dibanding tahun lalu. Sementara American Airlines memproyeksikan melayani 75 juta pelanggan sepanjang 21 Mei hingga 8 September, melampaui rekor sebelumnya pada 2019.
Manfaatkan promo dan poin perjalanan
Meski harga tiket mahal, wisatawan masih bisa mendapatkan penawaran menarik jika fleksibel menentukan jadwal dan destinasi perjalanan. Pendiri situs Thrifty Traveler, Kyle Potter, menyarankan penggunaan fitur “Explorer” di Google Flights untuk mencari destinasi berdasarkan durasi perjalanan dan bulan keberangkatan.
Ia juga menyarankan masyarakat bepergian pada Selasa atau Rabu karena tarif dan tingkat kepadatan biasanya lebih rendah. Menurut Potter, strategi tersebut bisa menghemat uang, terutama untuk perjalanan keluarga.
Ia juga mendorong masyarakat memanfaatkan poin frequent flyer atau poin kartu kredit yang selama ini disimpan.
“Sekarang adalah waktu terbaik menggunakan miles atau poin kartu kredit,” katanya.
“Banyak orang menumpuk miles karena ingin pergi ke Eropa pada 2027, padahal belum tentu nilainya tetap sama,” tegas dia.
Harga Avtur Tembus Rp 29.116 per Liter, Maskapai RI Mulai Efisiensi
Tak jauh berbeda, industri penerbangan nasional tengah menghadapi tekanan berat akibat lonjakan harga avtur. Adapun harga avtur menyumbang sekitar 40 persen dari total biaya operasional maskapai.
Kondisi tersebut membuat pemerintah dan pelaku industri melakukan berbagai penyesuaian agar operasional penerbangan tetap berjalan di tengah tingginya biaya bahan bakar.
Berdasarkan data periode Mei 2026, rata-rata harga avtur nasional tercatat mencapai Rp 29.116 per liter. Di Bandar Udara Internasional Soekarno–Hatta, harga avtur untuk penerbangan domestik mencapai Rp 27.357 per liter dan sekitar 162,9 dollar AS per liter untuk penerbangan internasional.
Sementara di Bandar Udara Halim Perdanakusuma, harga avtur domestik berada di level Rp 28.581 per liter dan 170,1 dollar AS per liter untuk rute internasional. Adapun di Bandar Udara Internasional Kualanamu, harga avtur domestik tercatat Rp 28.626 per liter dengan tarif internasional sekitar 170,4 dollar AS per liter.
Kenaikan harga bahan bakar tersebut berdampak langsung terhadap tarif penerbangan. Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan pun memberikan ruang bagi maskapai domestik untuk mengenakan biaya tambahan atau fuel surcharge hingga maksimal 50 persen dari tarif batas atas sebagai langkah menjaga keberlangsungan industri penerbangan.
Namun, kenaikan tarif tiket pesawat akibat tingginya komponen avtur dikhawatirkan akan memicu keluhan masyarakat. Dalam rapat bersama Komisi V DPR RI, Kementerian Perhubungan diminta mencari solusi jangka panjang, termasuk kemungkinan pemberian insentif atau subsidi agar harga tiket tetap terjangkau.
Di sisi lain, sejumlah maskapai nasional seperti Garuda Indonesia dan Pelita Air mulai melakukan berbagai strategi efisiensi, mulai dari optimalisasi operasional hingga pengurangan frekuensi penerbangan pada beberapa rute tertentu guna menjaga kondisi keuangan perusahaan di tengah tekanan biaya yang terus meningkat.
Mengutip laman Direktorat Jendral Perhubungan Udara Kemenhub, hingga Mei 2026 jumlah penumpang domestik secara keseluruhan sebanyak 28,6 juta penumpang untuk kedatangan, sementara keberangkatan sebanyak 29,3 juta. Pada 2025, jumlah penumpang mencapai 82,6 juta untuk kedatangan, dan 83,2 juta untuk keberangkatan. Sementara itu, pada 2024, jumlah kedatangan mencapai 80,9 juta, dan jumlah keberangkatan mencapai 81,3 juta.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Maskapai Ini Tutup Usai 34 Tahun Beroperasi, 17.000 Karyawan Terdampak
Maskapai berbiaya rendah asal Amerika Serikat (AS), Spirit Airlines, resmi menghentikan operasional setelah 34 tahun beroperasi. [492] url asal
#amerika-serikat #maskapai-murah #spirit-airlines #maskapai-penerbangan #maskapai-as #maskapai-spirit-airlines
(Kompas.com - Money) 03/05/26 15:18
v/209593/
KOMPAS.com – Maskapai berbiaya rendah asal Amerika Serikat (AS), Spirit Airlines, resmi menghentikan operasional setelah 34 tahun beroperasi. Penutupan ini menandai berakhirnya salah satu pelopor model penerbangan murah yang sempat mengubah industri aviasi global.
Dikutip dari AFP, Minggu (3/5/2026), penerbangan terakhir Spirit lepas landas dari Detroit dan mendarat dengan selamat di Dallas.
Penutupan ini terjadi setelah maskapai tersebut menghadapi tekanan keuangan berkepanjangan. Dalam dua tahun terakhir, perusahaan bahkan dua kali mengajukan kebangkrutan.
CEO Spirit Airlines, Dave Davis, menyatakan perusahaan telah memainkan peran penting dalam membuka akses perjalanan udara dengan tarif terjangkau selama lebih dari tiga dekade.
Namun, ia mengakui keputusan menghentikan operasi menjadi hasil yang tidak diharapkan.
“Ini sangat mengecewakan dan bukan hasil yang diinginkan oleh siapa pun dari kami,” ujar Davis dalam pernyataan resmi.
Sebelum menghentikan operasional, Spirit sempat melakukan berbagai langkah penyelamatan. Upaya tersebut meliputi pemangkasan rute, penekanan biaya tenaga kerja, hingga penjajakan pendanaan baru, termasuk potensi dukungan dari pemerintah AS.
Namun, langkah tersebut tidak mampu membendung tekanan keuangan yang semakin berat. Lonjakan harga bahan bakar jet akibat konflik Iran menjadi faktor utama yang mempercepat krisis likuiditas perusahaan.
Spirit Airlines memulai bisnisnya pada awal 1980-an sebagai Charter One Airlines yang melayani paket wisata. Maskapai ini kemudian berkembang pesat dengan mengusung konsep “unbundled fares”.
Skema ini menawarkan tarif dasar murah, sementara layanan tambahan seperti bagasi, pemilihan kursi, hingga pencetakan tiket dikenakan biaya terpisah.
Model bisnis tersebut sempat menuai kritik karena dianggap membebani penumpang. Namun, pendekatan ini terbukti berpengaruh besar dan kemudian diadopsi maskapai besar melalui tarif “basic economy”.
Di balik model hemat biaya tersebut, Spirit juga dikenal dengan strategi pemasaran yang provokatif dan kontroversial. Sejumlah iklan yang dirilis bahkan menuai kritik karena dianggap tidak sensitif terhadap isu publik.
Pada hari terakhir operasional, Spirit masih menerbangkan lebih dari 50.000 penumpang secara aman. Perusahaan juga berupaya memulangkan lebih dari 1.300 awak pesawat ke kota asal masing-masing.
Namun, sekitar 17.000 karyawan kehilangan pekerjaan akibat penutupan ini. Sebagian di antaranya diketahui baru mendapatkan informasi tersebut melalui pemberitaan media.
Serikat pramugari Spirit Airlines dalam pernyataannya menyebut penutupan ini sebagai pukulan berat bagi para pekerja. Meski demikian, mereka tetap menyoroti solidaritas yang telah terbangun selama bertahun-tahun.
Meski pernah menjadi inovator dalam industri penerbangan murah, Spirit pada akhirnya menghadapi persaingan ketat. Sejumlah maskapai lain mulai mengadopsi model serupa dan menggerus pangsa pasar perusahaan.
Dalam beberapa tahun terakhir, Spirit juga dibebani kerugian finansial yang terus meningkat. Sejak 2020, perusahaan tercatat merugi lebih dari 2,5 miliar dollar AS. Kondisi ini dipicu dampak pandemi Covid-19, lonjakan biaya operasional, serta beban utang.
Penutupan mendadak maskapai Spirit sempat mengejutkan penumpang. Sejumlah pelanggan yang terdampak pembatalan penerbangan harus mencari alternatif perjalanan di tengah keterbatasan pilihan tarif murah.
Bagi sebagian penumpang, Spirit selama ini dikenal sebagai opsi perjalanan yang sederhana dan terjangkau. Namun, maskapai ini tidak menawarkan layanan premium.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Krisis BBM, Penerbangan Komersial AS Setop Operasional
Maskapai penerbangan AS, Spirit Airlines, resmi menghentikan operasional dan membatalkan seluruh penerbangan setelah menghadapi lonjakan harga bahan bakar. [442] url asal
#spirit-airlines #maskapai-penerbangan-as #harga-bbm-pesawat-naik #bbm #harga-bbm-naik #konflik-iran #jetblue #delta #donald-trump #sean-duffy #amerika-serikat #united #al-jazeera #lufthansa #kongr
(CNN Indonesia - Ekonomi) 03/05/26 10:20
v/209463/
Maskapai berbiaya rendah asal Amerika Serikat (AS), Spirit Airlines, resmi menghentikan operasional dan membatalkan seluruh penerbangan setelah menghadapi lonjakan harga bahan bakar yang menekan kondisi keuangan perusahaan.
Melansir Al Jazeera, keputusan ini diumumkan perusahaan pada Sabtu (2/5) dini hari waktu setempat, menyusul gagalnya rencana penyelamatan dari pemerintah AS.
"Spirit Aviation Holdings, Inc., induk perusahaan Spirit Airlines, dengan menyesal mengumumkan telah memulai penghentian operasi secara teratur, berlaku segera. Semua penerbangan Spirit dibatalkan, dan penumpang tidak perlu datang ke bandara," tulis perusahaan dalam pernyataan resmi.
Data Cirium mencatat Spirit sebelumnya menjadwalkan 4.119 penerbangan domestik pada periode 1 hingga 15 Mei, dengan kapasitas lebih dari 800 ribu kursi.
Krisis ini dipicu oleh lonjakan harga bahan bakar jet yang hampir dua kali lipat sejak pecahnya konflik Iran dalam dua bulan terakhir. Kondisi tersebut menggagalkan rencana restrukturisasi perusahaan untuk keluar dari kebangkrutan keduanya.
"Sayangnya, meskipun berbagai upaya telah dilakukan, kenaikan signifikan harga minyak dan tekanan bisnis lainnya telah berdampak besar pada prospek keuangan Spirit," demikian pernyataan perusahaan.
Rencana penyelamatan senilai US$500 juta yang sebelumnya diusulkan Presiden AS Donald Trump juga gagal mencapai kesepakatan di tengah penolakan dari sebagian anggota Kongres dan penasihat pemerintah.
"Jika kami bisa membantu, kami akan melakukannya, tetapi harus menguntungkan terlebih dahulu," kata Trump kepada wartawan.
Kenaikan harga bahan bakar jet menjadi pukulan telak bagi Spirit. Perusahaan sebelumnya memperkirakan harga bahan bakar berada di kisaran US$2,24 per galon pada 2026, namun melonjak hingga sekitar US$4,51 per galon pada akhir April.
Dampaknya, ribuan pekerja terancam kehilangan pekerjaan. Spirit juga tengah berupaya memulangkan lebih dari 1.300 awak ke basis masing-masing setelah penerbangan terakhir mendarat di Bandara Dallas Fort Worth.
Menteri Transportasi AS Sean Duffy menyatakan pemerintah telah berupaya mencari pembeli bagi Spirit, namun tidak ada pihak yang berminat.
"Jika tidak ada yang ingin membeli, mengapa kami harus melakukannya?" ujarnya.
Ia juga mengingatkan penumpang agar tidak datang ke bandara jika memiliki jadwal penerbangan dengan Spirit. Pemerintah, lanjutnya, telah menyiapkan dana cadangan untuk pengembalian dana bagi pelanggan yang membeli tiket langsung dari maskapai.
"Jika Anda memiliki penerbangan dengan Spirit Airlines, jangan datang ke bandara. Tidak akan ada petugas yang membantu," kata Duffy.
Sejumlah maskapai lain seperti United, Delta, JetBlue, dan Southwest dilaporkan menawarkan tiket pengganti seharga US$200 sekali jalan bagi penumpang terdampak.
Kebangkrutan Spirit menjadi yang pertama bagi maskapai besar di AS dalam dua dekade terakhir. Maskapai ini sebelumnya dikenal sebagai salah satu pemain utama yang menjaga tarif penerbangan tetap rendah di pasar domestik.
Lonjakan harga bahan bakar akibat konflik geopolitik juga mulai berdampak luas pada industri penerbangan global. Maskapai seperti Lufthansa dilaporkan membatalkan puluhan ribu penerbangan, sementara Air India menaikkan tarif bahan bakar dan memangkas frekuensi penerbangan.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56