Kalla Group melalui Kalla Land mengembangkan perumahan baru di Tanjung Bunga, Makassar, untuk segmen menengah, dengan groundbreaking pada Juni 2026. [234] url asal
Bisnis.com, MAKASSAR — Unit usaha propertiKalla Group, Kalla Land, memperluas ekspansi bisnisnya dengan merambah kawasan Tanjung Bunga di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Langkah tersebut diambil guna membidik pasar properti di segmen masyarakat kelas menengah yang dinilai masih sangat potensial.
Chief Operating Officer (COO) Kalla Land M. Natsir Mardan mengungkapkan bahwa proyek hunian baru tersebut akan memanfaatkan lahan sekitar 5 hektare yang merupakan eks lokasi pabrik PT Bumi Sarana Beton di sekitar Jalan Manunggal 22, kawasan Tanjung Bunga.
Pada tahap awal pengembangan, Kalla Land bakal menawarkan tiga varian tipe hunian yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasar, yakni tipe 55, tipe 72, dan tipe 130.
"Proyek ini dijadwalkan memulai peletakan batu pertama (groundbreaking) pada Juni 2026, dan kami targetkan dapat resmi diluncurkan pada November mendatang," ujar Natsir di sela-sela syukuran HUT ke-34 Bukit Baruga dan HUT ke-14 Bugis Waterpark Adventure di Makassar, Senin (25/5/2026).
Natsir menegaskan, ekspansi ke wilayah barat Makassar ini merupakan langkah perusahaan di tengah lanskap industri properti lokal yang semakin kompetitif. Saat ini, pasar properti di Ibu Kota Sulawesi Selatan tersebut terus diramaikan oleh penetrasi pengembang, baik skala lokal maupun developer raksasa nasional.
Ke depan, Kalla Land berkomitmen untuk terus memperkuat struktur manajemen internal demi memuluskan target korporasi bertransformasi menjadi pengembang skala nasional.
Guna mencapainya, Natsir menjamin seluruh portofolio produk properti yang dirilis melekat dengan standar kualitas tinggi, setara dengan proyek-proyek komersial garapan developer nasional terkemuka.
Bisnis.com, JAKARTA—Emiten properti PT Lippo Karawaci Tbk. (LPKR) mencatatkan marketing sales Rp1,95 triliun pada kuartal I/2026, atau setara 32% dari target setahun penuh sebesar Rp6 triliun.
CEO LPKR John Riady mengatakan momentum pertumbuhan penjualan properti berlanjut pada kuartal I/2026. Pra penjualan atau marketing sales LPKR mencapai Rp1,95 triliun atau setara 32% dari target tahunan.
“Permintaan tetap terkonsentrasi pada rumah tapak, khususnya produk di segmen terjangkau dan menengah, yang menjadi fokus utama strategi kami. Kami akan terus berfokus pada eksekusi di seluruh proyek township kami, sembari tetap menjaga pendekatan yang pruden dalam pengelolaan modal dan operasional,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (4/5/2026).
John Riady menjelaskan kinerja kuartal I/2026 terutama didorong oleh permintaan yang berkelanjutan terhadap rumah tapak, baik di segmen terjangkau maupun premium di berbagai wilayah. Produk rumah tapak menyumbang 84% dari total pra penjualan, mencerminkan tingginya minat pembeli rumah pertama (first-time homebuyers) dan end-user.
Pencapaian ini juga didukung oleh peluncuran Park Serpong Phase 7 di Park Serpong, serta Neo 5ense Collection di Cikarang. Pengembangan baru ini berhasil menangkap permintaan dari segmen pasar massal maupun menengah, sekaligus memperkuat posisi LPKR di pasar rumah tapak.
Di tingkat Lippo Karawaci (Holdco), penjualan residensial berkontribusi sebesar Rp1,22 triliun, didukung oleh penjualan unit komersial sebesar Rp156 miliar, kavling tanah Rp30 miliar, serta penjualan lahan pemakaman di San Diego Hills sebesar Rp33 miliar.
“Momentum penjualan juga diperkuat oleh peluncuran produk baru di Park Serpong Phase 7 pada kuartal I/2026, yaitu Goldtops, Gold, Silver, Bronze, Urban, dan Treetops, yang ditawarkan dengan harga terjangkau dan didorong oleh tingginya permintaan di segmen hunian terjangkau,” paparnya.
Di tengah kondisi makroekonomi global yang menantang dan penuh ketidakpastian, LPKR membukukan pendapatan Rp1,80 triliun pada kuartal I/2026, EBITDA Rp337 miliar, dan laba bersih sebesar Rp107 miliar.
Di samping itu, arus kas dari aktivitas operasional membaik sebesar 20% YoY menjadi Rp499 miliar, didukung oleh peningkatan penerimaan dari pelanggan. LPKR menutup kuartal I/2026 dengan posisi kas yang kuat sebesar Rp1,62 triliun.
Sementara itu, segmen lifestyle LPKR mencatatkan kinerja yang tetap solid pada kuartal I/2026 ini, dengan pendapatan sebesar Rp310 miliar, EBITDA Rp103 miliar, dan laba bersih sebesar Rp55 miliar.
Kinerja ini mencerminkan ketahanan segmen di tengah melemahnya permintaan, yang tetap didukung oleh berbagai inisiatif efisiensi operasional. Secara operasional, rata-rata tarif kamar hotel stabil di Rp639.000.
Dari bisnis mal, jumlah pengunjung meningkat 6% YoY menjadi 11,5 juta pengunjung per bulan, menunjukkan momentum pemulihan sektor ritel yang berkelanjutan.
Harga smartphone dan laptop diprediksi naik pada kuartal III/2026 akibat pelemahan rupiah dan pasokan global. Kenaikan lebih terasa di kuartal IV. [480] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Fluktuasi nilai tukar rupiah yang cenderung melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa waktu terakhir diperkirakan berdampak pada tekanan pada industri teknologi. Kondisi ini diperkirakan memicu kenaikan harga smartphone hingga laptop, dengan proyeksi mulai terasa pada kuartal III/2026 seiring masuknya stok baru berbiaya impor lebih tinggi.
Direktur ICT Institute Heru Sutadi menjelaskan, dampak pelemahan rupiah umumnya tidak langsung terasa di pasar. Pelaku industri masih cenderung menahan harga dengan memanfaatkan stok lama serta kontrak sebelumnya.
“Kenaikan harga umumnya mulai terlihat pada kuartal III 2026, saat stok baru masuk dengan biaya impor lebih tinggi,” kata Heru kepada Bisnis pada Senin (27/4/2026).
Dia menambahkan, apabila depresiasi rupiah berlanjut, maka penyesuaian harga akan semakin meluas pada kuartal IV, terutama untuk segmen menengah dan premium. Meski demikian, dalam praktiknya, sebagian pedagang kerap lebih cepat menaikkan harga dengan alasan penguatan dolar AS.
Menurut Heru, faktor global juga memiliki peran besar dalam pembentukan harga. Penurunan pengiriman smartphone secara global dapat menahan harga sementara akibat melemahnya permintaan. Namun, jika terjadi kelangkaan chipset atau komponen, biaya produksi akan meningkat dan pada akhirnya diteruskan ke konsumen.
Dia menekankan, strategi produsen sebaiknya tidak agresif dalam menaikkan harga. Efisiensi biaya, diversifikasi pemasok, hingga strategi promosi dinilai lebih efektif menjaga daya beli.
“Tak ketinggalan, pendekatan bertahap dalam penyesuaian harga juga akan membantu menjaga permintaan tetap stabil di tengah tekanan biaya,” katanya.
Senada, Ketua Umum Indonesian Digital Empowering Community Tesar Sandikapura menilai kenaikan harga akan mulai terasa pada kuartal III dan mencapai puncaknya di kuartal IV/2026.
“Karena Q3 masih gunakan stok lama, tapi Q4 untuk model baru langsung ikuti harga kurs,” kata Tesar.
Dia juga menyoroti kuatnya pengaruh faktor global, bahkan dalam beberapa kasus bisa melampaui dampak kurs. Kelangkaan chipset dan terbatasnya suplai dinilai berpotensi mendorong kenaikan harga lebih cepat dan lebih tinggi. Karena itu, dia meminta produsen tidak menaikkan harga secara agresif di tengah tekanan tersebut.
“Tahan harga, minim upgrade teknologi, perbanyak gimmick [bonus/cicilan], dan jaga segmen bawah tetap hidup,” katanya.
Diketahui meski nilai tukar rupiah ditutup menguat 0,10% atau 18 poin ke Rp17.211 per dolar AS pada perdagangan Senin (27/4/2026), namun dibandingkan dengan bulan lalu pada hari yang sama nilainya melemah.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah pada perdagangan Selasa (28/4) akan melemah, sejalan dengan sentimen global dan domestik yang menyertai pasar.
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.210 sampai Rp17.260 per dolar AS," ujarnya, Senin (27/4/2026).
Sentimen dari global tak lain datang dari gejolak perang AS-Iran. Ibrahim bilang, para pedagang kini mempertimbangkan gangguan pasokan terhadap potensi dimulainya kembali pembicaraan damai antara AS dan Iran yang dapat membantu membatasi gangguan tersebut.
"Iran dilaporkan telah mengajukan proposal baru kepada Amerika Serikat untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang. Dalam usulan tersebut, Teheran menawarkan untuk menunda negosiasi nuklir demi fokus pada penyelesaian konflik," kata Ibrahim.
Fenomena Rojali, konsumen melihat-lihat sebelum membeli, diprediksi terjadi di mal selama Ramadan 2026, tetap berkontribusi pada ekonomi, terutama sektor F&B. [910] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Fenomena Rojali alias rombongan jarang beli diprediksi mewarnai pergerakan konsumen di pusat perbelanjaan menjelang dan selama momentum Ramadan 2026. Meski demikian, mereka dianggap tetap memberi kontribusi terhadap pergerakan ekonomi.
Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah mengatakan perubahan perilaku belanja masyarakat saat ini lebih dipengaruhi oleh kehati-hatian konsumen dalam mengambil keputusan pembelian.
Budihardjo menjelaskan, konsumen kini cenderung datang ke mal untuk melihat-lihat terlebih dahulu, membandingkan harga, hingga mengecek ketersediaan produk di kanal online sebelum benar-benar melakukan transaksi.
“Fenomena Rojali memang saat ini orang beda ya cara belinya, dia nggak langsung beli, tetapi lihat-lihat dulu cek harga, foto-foto produk, cek di online, cek di mal-mal sebelah, sehingga memang itu [fenomena Rojali] wajar. Namun yang pasti mereka akan ke mal tuh pasti akan melakukan lifestyle,” kata Budihardjo kepada Bisnis, Selasa (3/2/2025).
Menurutnya, meskipun tidak langsung berbelanja, kehadiran pengunjung tetap memberikan kontribusi ekonomi, khususnya bagi tenant makanan dan minuman.
Hippindo menyebut tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan tetap terjaga lantaran mal masih menjadi destinasi pemenuhan kebutuhan gaya hidup, khususnya bagi konsumen dari segmen menengah ke atas.
Adapun, untuk pembelian pakaian, Budihardjo menyebut konsumen umumnya baru akan melakukan transaksi mendekati Hari Raya Idulfitri, sekitar dua minggu sebelum Lebaran. Hal ini seiring meningkatnya kepastian anggaran dan pencairan tunjangan hari raya (THR).
Meski demikian, Budihardjo menuturkan fenomena Rojali tidak menghilangkan optimisme pelaku ritel terhadap kinerja Ramadan tahun ini. Hippindo optimistis seluruh segmen konsumen tetap akan berbelanja sesuai kelas dan kebutuhan masing-masing, baik di ritel menengah ke bawah, menengah, hingga premium.
Di samping itu, dia menjelaskan pusat perbelanjaan premium tetap memiliki pasar tersendiri, sementara mal dengan segmen menengah dan bawah tetap ramai oleh konsumen yang berburu kebutuhan Lebaran dengan harga terjangkau.
Di tengah fenomena rojali, Budihardjo menilai sektor ritel makanan dan minuman (food and beverage/F&B) masih menjadi penopang utama pergerakan ekonomi di mal.
Dia bahkan menyebut masuknya sejumlah merek restoran baru, termasuk konsep premium, turut menjaga traffic pengunjung selama Ramadan.
Orang berbelanja makanan di pusat perbelanjaan
Permintaan Naik
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang mengatakan pada Ramadan permintaan akan mengalami kenaikan tiga hingga empat lipat dari hari biasannya untuk keperluan keluarga maupun katering, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Lonjakan permintaan ini harus di barengi dengan ketersediaan stok yang berlimpah guna menjaga psikologi pasar sehingga antara demand dan supply ada seimbang sehingga harga harga terjaga dan terjangkau oleh masyarakat,” kata Sarman.
Menurutnya, perlu ada koordinasi antara Kementerian Pertanian (Kementan) dan Kementerian Perdagangan (Kemendag) dalam hal transparansi data stok pangan. Dia menyebut ketersediaan stok di lapangan dan gudang harus terjamin agar gejolak harga pangan bisa dihindari saat permintaan meningkat.
Sarman menambahkan, jika muncul isu keterbatasan salah satu bahan pokok, respons pasar akan negatif dan harga bisa melambung. Oleh karena itu, perhitungan stok harus matang dan berdasarkan data akurat, sehingga pasokan selalu siap memenuhi setiap permintaan pasar.
Di sisi lain, Sarman juga menyampaikan adanya program makan bergizi gratis (MBG) yang kini menjangkau lebih dari 60 juta penerima manfaat.
Sebagai gambaran, dia merincikan bahwa kebutuhan daging ayam untuk satu dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mencapai 200–350 kilogram per hari, daging sapi 20–25 kilogram, dan telur 1.500–3.000 butir setiap hari.
“Bisa dibayangkan jika permintaan meningkat menjelang bulan puasa dan Idulfitri, maka persediaan harus dipastikan mencukupi. Jika tidak, gejolak harga akan terjadi,” tuturnya.
Menurutnya, pemerintah harus mengantisipasi kebutuhan pokok pangan menjelang bulan puasa dan Idulfitri, lantaran situasinya yang berbeda dibanding tahun lalu.
Dia menjelaskan ketersediaan bahan pokok seperti daging sapi dan ayam, gula, bawang, telur, dan minyak goreng berpotensi bergejolak jika pasokan tersendat. Selain itu, stok pangan juga perlu diperiksa, begitu pula dengan jalur distribusi yang harus tepat waktu.
Di samping itu, sambung dia, pemerintah juga perlu melaksanakan operasi pasar dua pekan sebelum perayaan Idulfitri untuk menjaga harga tetap terjangkau dan meyakini pasokan pangan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Sarman menilai, dengan terpenuhinya berbagai kebutuhan pokok, maka konsumsi rumah tangga diperkirakan akan tumbuh positif.
“Dan pada akhirnya akan dapat memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi di kuartal I/2026 yang diharapkan di angka 5% lebih,” pungkasnya.
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai momentum Ramadan—Lebaran tetap menjadi peluang emas bagi sektor ritel, meski ada sejumlah tantangan yang harus diantisipasi.
“Saya masih menyakini, setiap Ramadan—Lebaran, konsumsi rumah tangga selalu menjadi titik tertinggi dalam satu tahun kalender,” kata Huda.
Menurutnya, dorongan masyarakat untuk berbelanja meningkat seiring sifat konsumtif dan kenaikan pendapatan, termasuk tunjangan hari raya (THR). Kondisi tersebut akan mendorong pertumbuhan produk domestik bruto (PDB).
Terlebih, sambung dia, faktor utama penggerak konsumsi tetap pada peningkatan pendapatan, meski inflasi turut memengaruhi pola belanja.
Namun, Huda menjelaskan bahwa pergeseran permintaan agregat biasanya memicu kenaikan harga, yang kemudian berdampak pada penurunan jumlah barang yang diminta.
“Ketika harga meningkat, maka terjadi pergeseran lagi barang yang diminta. Barang yang diminta cenderung berkurang,” jelasnya.
Untuk itu, Celios menilai pemerintah perlu memastikan inflasi tetap terkendali dengan menjaga pasokan agar tidak terjadi kelangkaan.
Huda menuturkan jika stok terjaga dan harga stabil, peningkatan pendapatan akan berdampak positif pada konsumsi rumah tangga, mendukung pertumbuhan ekonomi.
Namun demikian, Celios menyebut ritel juga menghadapi tantangan struktural dari meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK) pada 2025 dibandingkan 2024, yang menekan jumlah pekerja dengan pendapatan tambahan.
“Hal ini dapat memperlambat pertumbuhan konsumsi rumah tangga secara agregat,” terangnya.
Meski begitu, Huda menuturkan bahwa sepanjang Agustus 2025–Februari 2026 diharapkan terjadi penyerapan tenaga kerja yang signifikan. “Melihat PMI manufaktur yang ekspansif, seharusnya ada penyerapan tenaga kerja,” pungkasnya.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56