Bisnis.com, JAKARTA — Jumlah emisi gas rumah kaca yang dilepas ke atmosfer dan memicu pemanasan global diperkirakan turun sebesar 12% pada 2035 dibandingkan tingkat 2019, menurut analisis terbaru yang dirilis pada Senin (10/11/2025) oleh Sekretariat Perubahan Iklim PBB (UNFCCC).
Mengutip Reuters, angka ini merevisi pengumuman UNFCCC sebelumnya dan menunjukkan sedikit kemajuan dibandingkan dengan proyeksi penurunan 10% yang diumumkan pada 28 Oktober. Angka terbaru telah mempertimbangkan komitmen iklim baru Second Nationally Determined Contribution (NDC) yang dibuat setelah batas waktu analisis sebelumnya.
Kendati demikian, proyeksi penurunan 12% tersebut masih jauh dari angka ideal penurunan 60% yang dibutuhkan pada 2035 untuk menjaga kenaikan suhu global tetap di bawah 1,5 derajat Celsius (°C) di atas tingkat praindustri. Para ilmuwan memandang ketidakseimbangan iklim Bumi akan makin parah jika ambang batas ini terlampaui.
Sekretaris Eksekutif UNFCCC Simon Stiell dalam pidato pembukaan COP30 di Belem Brasil pada Senin (10/11/2025) menyebutkan bahwa Perjanjian Paris telah memperlihatkan kemajuan nyata.
“Kita kini berhasil membelokkan kurva emisi ke arah penurunan untuk pertama kalinya dalam sejarah. Saya merujuk pada surat yang kami kirim kepada para pihak pagi ini, yang memuat angka terbaru dan memperbarui laporan NDC Synthesis kami. Komitmen NDC baru, termasuk yang diterima dalam beberapa hari terakhir, akan menurunkan emisi sebesar 12% pada 2035. Ini merupakan pencapaian penting,” kata Stiell.
Dia mengemukakan setiap kenaikan suhu yang berhasil dihindari akan menyelamatkan jutaan nyawa dan mencegah kerugian senilai miliaran dolar karena kerusakan yang disebabkan perubahan iklim. Meski demikian, Stiell menyoroti bahwa upaya yang ditempuh untuk mencegah kenaikan suhu planet masih jauh dari kata cukup.
Meski tantangan untuk mencapai target memperoleh berbagai tantangan, Stiell mengatakan upaya tersebut diiringi dengan dukungan pasar. Hal ini tecermin dari biaya energi terbarukan yang lebih murah dari 90% energi fosil.
“Itulah sebabnya investasi energi terbarukan kini telah melampaui bahan bakar fosil, dan pada tahun ini bahkan melampaui batu bara sebagai sumber energi utama dunia. Kebijakan-kebijakan yang dahulu dianggap mustahil kini mengguncang pasar,” ujarnya.
Namun, Stiell menambahkan bahwa investasi pada energi terbarukan saja tidaklah cukup. Pemanasan global telah memicu berbagai bencana berdaya rusak tinggi yang merenggut nyawa dan menimbulkan kerugian ekonomi, beberapa di antaranya bahkan terjadi mendekati pelaksanaan COP30, seperti topan yang menerjang Jamaika dan Kuba.
“Dan inilah alasan kita berada di sini: kita harus mempercepat langkah di Amazon, dengan mengesampingkan perbedaan dan mendorong kemajuan,” katanya.
Adapun KTT COP30 resmi dimulai pada Senin (10/11/2025) hingga 21 November 2025. Beberapa isu yang akan menjadi fokus pertemuan adalah komitmen pembiayaan iklim untuk negara miskin dan berkembang, serta mekanisme pasar karbon internasional.