Live Timeline
Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang berbalik menguat menuju kisaran 9.030–9.077 pada perdagangan akhir pekan, Jumat (9/1/2026). Sejumlah saham pun masuk dalam daftar rekomendasi analis pada hari ini.
Tim Analis MNC Sekuritas mencatat IHSG ditutup melemah 0,22% ke level 8.925 pada perdagangan Selasa (21/10/2025), setelah sempat menyentuh level all time high (ATH) secara intraday di posisi 9.002. Pelemahan tersebut terjadi seiring dominasi tekanan jual, di mana area penguatan terdekat yang sebelumnya diproyeksikan telah tercapai.
Saat ini, posisi IHSG diperkirakan berada pada bagian wave (v) dari wave [iii], sehingga peluang penguatan lanjutan masih dapat dicermati pada rentang 9.030–9.077.
"Namun, waspadai akan adanya koreksi yang diperkirakan menguji 8.843–8.904," tulis Tim MNC Sekuritas dalam risetnya, Jumat (9/1/2026).
Untuk perdagangan hari ini, level support IHSG diperkirakan berada di kisaran 8.916–8.776, sementara level resistance berada di rentang 8.996–9.030. Adapun saham-saham yang direkomendasikan MNC Sekuritas antara lain CDIA, MINA, ULTJ, hingga TLKM.
Sebelumnya, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mengatakan bahwa IHSG untuk mencapai level penutupan 9.000 hanya tinggal menunggu waktu. Dalam perdagangan intraday Kamis (8/1), indeks komposit bahkan sempat menyentuh level tersebut, meskipun akhirnya ditutup terkoreksi 0,22% ke 8.925,48.
"Semua membutuhkan waktu, tidak ada suatu saham yang terus mengalami kenaikan, karena pasti akan ada titik jenuh. Oleh sebab itu, dibutuhkan koreksi sebelum mengalami kenaikan kembali," ujar Nico kepada Bisnis, Kamis (8/1/2026).
Nico menilai sentimen pasar saat ini masih cukup kuat untuk menopang laju IHSG, meskipun di sisi lain terdapat gejolak volatilitas akibat tensi geopolitik. Seiring peluang IHSG menembus level psikologis baru di 9.000, ia menilai terdapat sejumlah sektor yang berpotensi mencatatkan penguatan.
"Sejauh ini sektor yang masih berpeluang menguat adalah transportasi, industri, basic materials, properti dan energi. Ini setidaknya untuk bulan Januari. Sebaliknya, yang berpotensi mengalami penurunan adalah teknologi, finance, dan healthcare," kata Nico.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks saham sektor energi pada perdagangan Kamis (8/1) menguat 0,49% atau naik 8,51% year to date (YtD). Sementara itu, sektor basic materials terkoreksi 3,22%, meski masih mencatatkan kenaikan 6,61% secara YtD.
Adapun sektor industri melemah 0,19%, tetapi tetap menguat 8,37% YtD. Sektor transportasi dan logistik mencatatkan kenaikan 1,75% atau 7,63% YtD, sedangkan sektor properti dan real estate menguat 1,50% atau 3,82% YtD.
Lebih lanjut, Nico menyebut investor saat ini masih bersikap wait and see sambil mencermati sejumlah rilis data ekonomi global. Dari Amerika Serikat (AS) dan Eropa, pasar menantikan data consumer price index (CPI) serta gross domestic product (GDP).
Di kawasan regional, perhatian pasar tertuju pada rilis data GDP kuartal IV/2025 dan penjualan ritel China. Sementara di dalam negeri, investor menanti keputusan kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI) yang dijadwalkan pada 21 Januari 2026.
Di tengah penantian tersebut, Nico mengingatkan bahwa kondisi ekonomi global berisiko tertahan oleh eskalasi konflik geopolitik Amerika Serikat–Venezuela yang berpotensi meluas ke kawasan lain.
"Adanya potensi hal yang sama akan dilakukan oleh China terhadap Taiwan. Di mana Jepang juga sudah bersiap membantu Taiwan. Dan Jepang merupakan sekutu dekat Amerika. Amerika juga akan membantu Jepang. Sedangkan, China juga tidak sendiri, ada Rusia dan Korea Utara yang siap membantu. Oleh sebab itu, apa yang dilakukan oleh Amerika menjadi trigger bagi negara lain untuk melakukan hal yang sama," pungkasnya.
________
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.