Bisnis.com, BANDUNG - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meluruskan kabar soal Pemprov Jabar bakal melepas saham Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Majalengka ke Pemerintah Pusat.
Dedi Mulyadi memastikan tidak ada rencana pihaknya melepas saham BIJB Kertajati, melainkan skema tukar guling aset dengan pemerintah pusat.
Wacana tersebut muncul dari pembahasan pihaknya bersama Presiden Prabowo. Presiden menurutnya melihat adanya beban fiskal cukup berat yang harus ditanggung APBD Provinsi Jawa Barat setiap tahun untuk menopang operasional BIJB Kertajati.
"Bukan saham BIJB Kertajati yang dilepas, bukan. Jadi begini, pemerintah pusat, Pak Presiden itu melihat ada beban fiskal APBD provinsi yang berat, di mana setiap tahun harus mengeluarkan biaya," katanya, Jumat (23/1/2026).
Di tengah fiskal yang berat, Kertajati belum beroperasi optimal dan menghasilkan pendapatan.
"Kepastian bahwa Kertajati itu bisa beroperasi dengan baik dan menghasilkan uang untuk operasional kan sampai sekarang belum bisa dilihat," ujarnya.
Kertajati juga dinilai menjadi korban kebijakan transportasi yang tidak sinkron. Di satu sisi, pemerintah mendorong aktivitas penerbangan ke Kertajati, namun di sisi lain Bandara Halim Perdanakusuma tetap beroperasi dengan adanya Whoosh.
"Ada sesuatu yang menurut saya aneh. Satu sisi kita ingin dorong ke Kertajati, tapi di sisi lain ada Whoosh dari Jakarta, dari Halim ke Bandung, kemudian Halimnya buka. Ya orang pasti pilih Halim dibanding Kertajati," tuturnya.
Berangkat dari kondisi tersebut, Dedi mengusulkan pada Presiden agar kawasan Kertajati dialihkan fungsinya menjadi pusat industri pertahanan dalam negeri.
"Saya waktu itu menyampaikan bahwa kawasan Kertajati saya mengusulkan untuk menjadi kawasan pusat industri pertahanan dalam negeri. Nah, ini mendapat respon presiden, sehingga presiden itu memiliki harapan untuk Kertajati menjadi pangkalan TNI Angkatan Udara," katanya.
Menurutnya, usulan ini juga sudah disampaikan kepada Menteri Sekretaris Negara dan Menteri Pertahanan. Saat ini, pembahasan tinggal menunggu keputusan opsi yang akan diambil.
"Saya sudah bertemu Mensesneg, Presiden juga sudah bertemu Menhan, tinggal opsinya saja," katanya.
Opsi yang ditawarkan Pemprov Jabar adalah skema tukar guling aset dimana Pemprov Jabar mengusulkan agar aset Bandara Husein Sastranegara, kawasan PT Dirgantara Indonesia (PT DI), dan sekitarnya diserahkan ke Pemprov, lalu BIJB Kertajati menjadi aset pemerintah pusat.
"Kalau opsi saya adalah tuker. Opsi Pemprov Jabar, Husein, PT DI dan sekitarnya itu diserahkan ke Pemprov, Kertajati diserahkan ke pemerintah pusat. Gitu loh," tegasnya.
Dengan pengelolaan Bandara Husein Sastranegara, Pemprov Jabar menilai pengembangan bisa dilakukan lebih cepat karena infrastruktur dan pasar sudah terbentuk.
"Sehingga nanti kita tinggal memperkuat, memodernisasi dari Husein. Enggak usah lama tuh waktunya, kita benahi, kemudian misalnya kalau dimungkinkan landasan pacunya ditambah, dan sehingga dalam waktu enggak terlalu lama pasti ramai," katanya.
Sementara perbedaan nilai aset antara BIJB Kertajati dan Bandara Husein Sastranegara bisa diselesaikan melalui mekanisme appraisal.
Pihaknya mengaku menunggu keputusan dari pemerintah pusat terkait tindaklanjut usulan tersebut.
"Saya nunggu dari pusat. Tetapi dari Sesneg sudah kelihatan, waktu itu sudah meminta saya untuk bertemu salah satu direktur," pungkasnya.