Bisnis.com, JAKARTA — Sektor properti residensial, khususnya rumah tapak (landed house) di wilayah Jabodetabek, menunjukkan performa solid sepanjang semester II/2025. Di mana, rumah tapak masih dinilai sebagai instrumen properti yang paling tangguh.
Senior Director of Strategic Consulting JLL Indonesia, Milda Abidin menegaskan bahwa indikasi positif ini tercermin langsung dari angka serapan pasar yang hampir menyentuh angka 90%. Dia menjelaskan, dominasi aktivitas transaksi mayoritas terjadi di wilayah penyangga Jakarta.
“Kalau kita lihat tadi seperti yang dikatakan, tingkat penjualan rumah tapak itu hampir mencapai sekitar 88%. Jadi menurut kami tingkat penjualan itu memberikan indikasi yang positif,” kata Milda dalam Konferensi Pers di Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Berdasarkan data yang dipaparkan, pasar rumah tapak saat ini didominasi oleh unit dengan harga terjangkau. Segmen harga Rp600 juta hingga Rp1,3 miliar menjadi kontributor terbesar dengan porsi 48% dari total unit terjual.
Kemudian, disusul oleh segmen menengah bawah dengan pembelian unit rumah di bawah Rp600 juta sebesar 27%. Sebaliknya, hunian mewah dengan harga di atas Rp3 miliar hanya terserap 5% dari total unit stok yang tersedia.
Tren tersebut, tambah Milda, membuat pengembang lebih mengutamakan keterjangkauan harga. Alhasil, strategi yang diterapkan mencakup pembangunan rumah dengan konsep lebih compact guna menjaga harga jual tetap berada di rentang pasar yang gemuk yakni di kisaran Rp600 juta hingga Rp1,5 miliar.
Selain penyesuaian dimensi, pengembang juga melakukan transformasi pada spesifikasi jumlah kamar tidur untuk menarik minat keluarga muda.
“Kalau dulu mungkin fokusnya dua kamar tidur, sekarang ada di tiga kamar tidur dan empat kamar tidur. Jadi sebenarnya kami melihat memang ada penyesuaian target pasar,” lanjut Milda.
Gairah pasar rumah tapak ini juga didukung oleh kondisi makroekonomi yang lebih bersahabat, di mana suku bunga acuan berada dalam tren rendah sebesar 4,75% pada Desember 2025.
Selain itu, insentif pemerintah berupa pembiayaan bersubsidi dan pembebasan pajak melalui program PPN Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) diklaim efektif mendorong realisasi pembelian.
Dari sisi pasokan, tercatat ada sekitar 3.800 unit baru yang diluncurkan pada paruh kedua 2025, dengan total permintaan yang hampir setara yakni 3.700 unit.
JLL Indonesia menekankan optimisme terhadap sektor ini diprediksi akan terus berlanjut sepanjang 2026 seiring dengan terjaganya keseimbangan antara peluncuran baru dan daya serap.
“Secara keseluruhan untuk rumah tapak ini masih kita lihat yang positif di tahun ini,” pungkas Milda.