Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) memandang kesiapan industri reasuransi nasional perlu terus diperkuat, mengingat posisi geografis Indonesia yang berada di kawasanring of fire.
Menurut Ketua Umum AAUI Budi Herawan, penguatan kapasitas reasuransi nasional, diversifikasi sumber reasuransi, peningkatan kualitas manajemen risiko, serta pengembangan produk asuransi yang lebih adaptif terhadap risiko bencana menjadi agenda penting.
“Dengan langkah-langkah tersebut, industri diharapkan semakin tangguh dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan usaha di tengah meningkatnya risiko bencana alam,” ucapnya kepadaBisnis, Selasa (23/12/2025).
Di lain sisi, berdasarkan pemantauan awal AAUI ihwal bencana alam di wilayah Sumatra, klaim yang muncul tampaknya masih berada dalam batas toleransi risiko yang telah dipersiapkan oleh perusahaan asuransi.
Oleh karena itu, Budi mengeklaim bahwa industri asuransi secara umum telah memiliki kerangka manajemen risiko dan permodalan yang dirancang untuk menghadapi kejadian-kejadian katastropik, meskipun proses pendataan dan penyesuaian estimasi klaim masih terus berjalan.
Dirinya berpendapat bahwa potensi klaim yang paling terasa imbas bencana di Sumatra berada pada lini usaha properti, bangunan dancontenttermasukstockserta kendaraan bermotor di wilayah terdampak langsung.
“Untuk reasuransi, mekanisme proteksi yang selama ini telah disiapkan oleh perusahaan asuransi melalui program reasuransi, baik domestik maupun internasional, menjadi bagian penting dalam menyerap lonjakan klaim akibat kejadian ini,” tegasnya.
Sebab demikian, pria yang juga menjabat sebagai Direktur Utama Asuransi Candi ini memandang bahwa strategi mitigasi risiko dan pemetaan bencana menjadi semakin krusial dilakukan.
Menurutnya, perusahaan asuransi perlu perlu memperbarui pemodelan risiko bencana (catastrophe modeling), melakukan penyesuaianunderwriting, serta memastikan kecukupan proteksi reasuransi.
“Di sisi lain, kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah dan lembaga kebencanaan, juga penting untuk meningkatkan kualitas data risiko dan upaya pencegahan,” pungkasnya.
Sementara itu, PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) atau Indonesia Re berpendapat tahun ini termasuk periode yang sangat berat bagi industri reasuransi.
Direktur Teknik Operasi Indonesia Re Delil Khairat menyebut hal ini karena adanya tekanan dari regulasi, peristiwa bencana alam, hingga perubahan iklim.
“Jadi, ada fenomena eksposur kita, risiko kita makin naik, nih, dengan segala macam fenomena tadi. Inflasi juga makin tinggi, klaim kita makin mahal, tapi premi kita segitu-gitu saja. Berarti secara industri, kita akan punya masalah nanti denganperformanceindustri itu,” katanya dalam acara sportcation day di Jakarta, Jumat (19/12/2025).
Sebab itu, dia memandang 2026 mendatang tampaknya bisnis reasuransi akan semakin menantang (challenging). Adapun, untuk 2025 dirinya optimistis bisa tutup buku dengan hasil yang baik.
“Kami di Indonesia punya inisiatif atau punya keyakinanfinish strong[untuk 2025]. Apapun yang terjadi, InsyaAllah, tahun ini kami tutup denganresultyang solid, meskipun mungkin banyak metrik-metrik yang kami tidak bisa penuhi,” pungkas Delil.