Bisnis.com, JAKARTA — Seiring meningkatnya tren gaya hidup sehat, tubuh tiap orang merespons makanan berbeda sehingga hasil dari diet populer bisa berbeda-beda.
Food Genomics dan Nutrigenomics, merupakan terapi nutrisi berbasis genetik, yang sedang ramai menjadi perbincangan.
Food Genomics berfokus pada bagaimana gen memengaruhi cara tubuh menyerap, mengolah, dan memanfaatkan nutrisi, sementara Nutrigenomics melihat bagaimana nutrisi dari makanan itu sendiri dapat memengaruhi aktivitas gen dalam tubuh.
Terapi ini memungkinkan pola makan disesuaikan dengan kebutuhan individu, bukan sekadar mengikuti aturan diet umum. Misalnya, beberapa orang cepat mengalami kenaikan gula darah setelah makan karbohidrat, sedangkan yang lain lebih sensitif terhadap lemak atau vitamin.
Dengan memahami interaksi antara gen dan nutrisi, setiap orang bisa merancang pola makan yang lebih tepat untuk menjaga kesehatan dan energi sehari-hari. Hal ini membuat pola makan lebih personal, efektif, dan sesuai dengan karakter tubuh masing-masing.
Menurut artikel ilmiah Biotechnology Policy and Outreach Specialist, Universitas Wisconsin-Madison, Berikut karakter utama pola makan berbasis genetik:
- Penyesuaian Asupan Karbohidrat
Gen memengaruhi respons tubuh terhadap karbohidrat, sehingga sebagian orang perlu membatasi karbohidrat sederhana untuk mencegah lonjakan gula darah, sedangkan yang lain bisa mengonsumsinya dalam jumlah sedang.
- Pengaturan Konsumsi Lemak
Gen menentukan kemampuan tubuh mengolah lemak jenuh dan tak jenuh; bagi individu tertentu, lemak jenuh berlebih dapat meningkatkan kolesterol sehingga perlu diganti dengan lemak sehat seperti omega-3 atau lemak nabati.
- Kebutuhan Protein Spesifik
Gen berperan dalam pembentukan otot dan perbaikan sel, sehingga orang dengan gaya hidup aktif atau usia tertentu membutuhkan protein lebih tinggi untuk menjaga massa otot dan daya tahan tubuh.
- Optimalisasi Vitamin dan Mineral
Kekurangan vitamin D, zat besi, kalsium, atau folat tidak selalu disebabkan oleh pola makan, tetapi juga kemampuan tubuh menyerap nutrisi, sehingga penyesuaian genetik membantu menentukan jenis dan jumlah mikronutrien yang tepat.
Selain itu, Food Genomics tidak hanya membantu menyesuaikan pola makan individu, terapi juga memberikan kontribusi luas pada nutrisi dan kesehatan masyarakat. Terapi ini membuka peluang untuk mengembangkan makanan yang lebih sehat dan aman, sesuai kebutuhan genetik dan gizi.
Berikut kontribusi food genomics dalam nutrisi dan kesehatan:
- Pengembangan Pangan Bernutrisi Tinggi
Ilmu ini memungkinkan penelitian untuk menghasilkan makanan dengan kandungan gizi yang lebih sesuai kebutuhan kesehatan masyarakat.
- Peningkatan Zat Gizi Tertentu
Food genomics dapat mendukung penambahan kandungan omega-3, antioksidan, protein nabati, dan serat, tanpa mengubah rasa atau kualitas makanan.
- Pangan Lebih Aman dan Berkualitas
Dengan memahami gen mikroorganisme berbahaya, risiko penyakit dari makanan bisa dikurangi sambil tetap menjaga nilai gizinya.
Selain itu, food genomics berkaitan erat dengan nutrigenomics, ilmu yang mengkaji interaksi nutrisi dan gen manusia.
Ilmu ini menjelaskan bahwa pola makan yang sama bisa baik untuk satu orang, tapi kurang cocok untuk orang lain, sehingga asupan makanan bisa disesuaikan dengan kebutuhan tiap individu. (Angel Rinella)