Mengenal Food Genomics, Pengaturan Pola Makan Berbasis DNA

Mengenal Food Genomics, Pengaturan Pola Makan Berbasis DNA

Food genomics adalah pendekatan nutrisi berbasis DNA yang menawarkan pola makan personal sesuai profil genetik, membantu mengidentifikasi alergi dan intoleransi makanan.

(Bisnis.Com) 13/01/26 23:57 102551

Bisnis.com, JAKARTA - Pendekatan nutrisi berbasis DNA mulai menarik perhatian masyarakat Indonesia seiring meningkatnya tren gaya hidup sehat yang lebih personal.

Dalam beberapa tahun terakhir, metode food genomics atau nutrigenomik menjadi sorotan karena menawarkan rekomendasi pola makan yang disesuaikan dengan profil genetik setiap individu. Pendekatan berbeda dari diet konvensional yang sering memberi hasil berbeda pada tiap orang.

Food genomics merupakan terapi nutrisi berbasis genetika, di mana rekomendasi asupan disesuaikan berdasarkan kode genetik masing-masing individu.

Perbedaan gen membuat respons tubuh terhadap makanan, mulai dari metabolisme hingga potensi intoleransi, tidak sama pada setiap orang.

“Tidak ada satu pola makan yang cocok untuk semua orang. Perbedaan kode genetik mempengaruhi cara tubuh merespons nutrisi, sehingga pendekatan ini bersifat sangat personal,” ujar Davie Muhamad, dokter Spesialis Gizi Klinik di Primaya Hospital Bekasi Barat.

Secara global, riset nutrigenomik terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pencegahan penyakit dan gaya hidup sehat setiap individu. Di Indonesia, layanan pemeriksaan food genomics masih terbatas, meski penelitian mengenai hubungan gen dan nutrisi makin banyak dilakukan.

Proses tes food genomics dilakukan melalui sampel darah atau air liur, dengan waktu analisis sekitar 1-2 minggu. Hasilnya kemudian diinterpretasikan oleh dokter spesialis gizi klinik untuk memberikan rekomendasi nutrisi yang lebih presisi.

Rekomendasi ini mencakup pengaturan makronutrien, kebutuhan vitamin tertentu seperti vitamin D, lemak esensial omega-3, hingga saran aktivitas fisik yang telah disesuaikan dengan kebutuhan individu.

Davie menambahkan, secara teori hasil nutrigenomik tidak berubah karena genetik seseorang bersifat tetap. Tetapi pada penerapannya tetap perlu mempertimbangkan faktor epigenetik dan lingkungan, seperti pola hidup, stres, dan aktivitas fisik.

"Karena itulah diet yang berhasil pada satu orang belum tentu efektif pada orang lain,” jelasnya.

Selain memberikan gambaran respons tubuh terhadap nutrisi, panel nutrigenomik juga dapat mengidentifikasi potensi alergi atau intoleransi makanan. Informasi ini membantu individu menghindari asupan yang berpotensi memicu gangguan kesehatan.

Meski menjanjikan, dokter Davie menegaskan bahwa food genomics bukan pengganti prinsip hidup sehat yang mendasar. Masyarakat tetap dianjurkan memulai dari langkah sederhana seperti menjaga pola makan teratur, tidak melewatkan waktu makan, dan memastikan komposisi makanan yang lengkap dan seimbang.

Ke depannya, food genomics diperkirakan berkembang sebagai salah satu modalitas penunjang gaya hidup sehat yang lebih presisi, dengan potensi integrasi bersama teknologi AI, big data, dan perangkat wearable.

“Harapannya, food genomics dapat menjadi alat pendukung dalam menentukan pola makan yang lebih personal, sehingga berkontribusi pada perbaikan tren kesehatan masyarakat Indonesia dalam sepuluh tahun ke depan,” tutup Davie.

#food-genomics #nutrisi-berbasis-dna #nutrigenomik #pola-makan-genetik #terapi-nutrisi-genetika #respons-tubuh-makanan #metabolisme-genetik #intoleransi-makanan #rekomendasi-nutrisi-presisi #tes-food-g

https://lifestyle.bisnis.com/read/20260113/106/1943955/mengenal-food-genomics-pengaturan-pola-makan-berbasis-dna