#30 tag 24jam
Samade Didukung BPDP Dorong Tata Kelola Lahan Gambut Berkelanjutan di Jambi
Samade dan BPDP menggelar workshop di Jambi untuk meningkatkan tata kelola lahan gambut, mendukung petani sawit swadaya dengan edukasi dan teknologi berkelanjutan. [510] url asal
#samade-jambi #bpdp-dukungan #lahan-gambut #tata-kelola-lahan #workshop-sawit #petani-swadaya #kelapa-sawit-jambi #pengelolaan-lahan #herbisida-ramah-lingkungan #produktivitas-kebun #sektor-hulu-sawit
(Bisnis.Com - Terbaru) 13/05/26 12:54
v/220063/
Bisnis.com, JAMBI - Asosiasi Sawitku Masa Depanku (Samade) dengan dukungan penuh dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menyelenggarakan workshop bertajuk "Optimalisasi Pengelolaan Kebun Kelapa Sawit di Lahan Gambut" di Jambi, 11–12 Mei 2026. Agenda ini difokuskan pada penguatan kompetensi teknis petani swadaya guna memastikan implementasi tata kelola lahan gambut yang berkelanjutan demi menjaga keberlangsungan industri sawit nasional dari sektor hulu.
Jambi dipilih sebagai lokasi strategis mengingat wilayah ini merupakan salah satu provinsi dengan luas lahan gambut yang sangat signifikan di Indonesia.
Ketua Pelaksana sekaligus Ketua DPW Samade Jambi, Andi Ari, menjelaskan bahwa workshop ini mendatangkan para ahli di bidang pengelolaan lahan, pemupukan, hingga penggunaan herbisida ramah lingkungan. Tujuannya adalah memberikan edukasi praktis bagi petani swadaya yang memiliki keterbatasan akses terhadap teknologi budidaya di lahan marjinal.
"Workshop ini bertujuan mendidik petani swadaya agar mampu mengelola lahan gambut seoptimal mungkin. Kami menghadirkan pakar untuk membedah tata kelola lapangan, mulai dari pemupukan hingga penggunaan herbisida yang ramah lingkungan, agar produktivitas kebun rakyat di Jambi terus meningkat melalui penerapan tata kelola lahan gambut yang berkelanjutan," ujar Andi.
Senada dengan itu, Anggota Bidang Pembentukan dan Pembinaan Kelompok dan Koperasi DPP SAMADE, Sukanto, menegaskan bahwa penguatan sektor hulu adalah syarat mutlak bagi keberhasilan program hilirisasi pemerintah.
Samade berkomitmen melakukan pendampingan penuh bagi petani, termasuk dalam akses program Beasiswa Sawit bagi anak-anak petani.

"Kunci utama hilirisasi adalah sektor hulu harus diperkuat terlebih dahulu. Samade ambil peran untuk mendukung produktivitas melalui workshop ini, karena lahan gambut bisa dioptimalkan secara produktif jika kita disiplin menerapkan prinsip tata kelola lahan gambut yang berkelanjutan," tutur Sukanto.
Sementara itu, Kepala Divisi Kerjasama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, menyoroti pentingnya optimalisasi di sektor hulu untuk mendukung kebutuhan domestik yang semakin meningkat. Ia menekankan bahwa penyelesaian hambatan teknis melalui tata kelola lahan gambut yang berkelanjutan merupakan langkah krusial agar penyerapan dana bantuan pemerintah dapat berjalan maksimal.
"Penguatan di sektor hulu adalah kunci, terutama di wilayah dengan karakteristik lahan gambut yang luas seperti Jambi. Melalui forum ini, kami ingin memastikan masalah teknis dapat diselesaikan bersama agar dana PSR dan sarpras segera terealisasi. Implementasi tata kelola lahan gambut yang berkelanjutan sangat penting untuk mendukung program strategis pemerintah seperti B50, sehingga kebutuhan sawit nasional terpenuhi secara konsisten," jelas Helmi.
Ia juga menambahkan bahwa BPDP membuka ruang bagi produk UMKM berbasis perkebunan di Jambi untuk berkolaborasi dalam meningkatkan kapasitas dan akses pemasaran.
Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, Henrizal, yang memberikan apresiasi tinggi terhadap kolaborasi ini. Ia menilai workshop ini sebagai langkah nyata dalam menyelesaikan hambatan administratif dan teknis yang selama ini menghambat serapan program pemerintah di daerah.
"Kami sangat berterima kasih atas inisiatif Samade dan dukungan BPDP. Workshop ini sangat membantu Dinas Perkebunan dalam mengedukasi masyarakat mengenai penggunaan bibit unggul serta pentingnya tata kelola lahan gambut yang berkelanjutan. Ini adalah solusi konkret untuk mempercepat program PSR di Provinsi Jambi sekaligus menjadi motor penggerak ekonomi bagi masyarakat," tegas Henrizal.
Melalui sinergi yang didukung oleh BPDP ini, diharapkan produktivitas kelapa sawit di Jambi dapat meningkat, sekaligus memperkuat daya saing sektor perkebunan melalui komitmen bersama terhadap tata kelola lahan gambut yang berkelanjutan.
Proyek GIZ GRASS Berhasil Mendongkrak Pendapatan Petani Swadaya
Di tengah meningkatnya dampak perubahan iklim dan krisis global, petani swadaya menghadapi tantangan dan kerentanan yang makin besar. [1,022] url asal
#proyek-giz-grass-berhasil-mendongkrak-pendapatan-petani-swadaya #petani-swadaya #petani #keberlanjutan #perubahan-iklim
(MedCom - Sustainability) 19/11/25 10:14
v/43014/
Jakarta: Di tengah meningkatnya dampak perubahan iklim dan krisis global, petani swadaya menghadapi tantangan dan kerentanan yang makin besar.Proyek GRASS (Greening Agricultural Smallholder Supply Chains) mendorong keanekaragaman produksi pertanian petani swadaya guna menciptakan sistem pertanian yang lebih stabil, lebih kuat secara biologis, dan tangguh terhadap perubahan iklim.
Dengan mempromosikan praktik seperti permakultur dan agroforestri, proyek ini telah meningkatkan kesuburan tanah, konservasi air, dan keanekaragaman hayati, sekaligus membuka peluang pendapatan baru bagi petani.
Proyek GRASS, yang diimplementasikan oleh GIZ (Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit) dan didanai oleh BMZ (Kementerian Federal Jerman untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan) itu memberi penekanan pada akses pasar, sistem penyuluhan pertanian, dan pemanfaatan teknologi digital untuk pertanian yang berkelanjutan.
Dengan mendorong diversifikasi, ketahanan, dan inovasi, proyek ini telah memberdayakan petani swadaya dan memperkuat rantai pasok pertanian berkelanjutan di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.
Pendekatan yang terbukti berhasil meningkatkan ketahanan petani swadaya ini juga dibagikan kepada pemangku kepentingan pertanian lain untuk diimplementasikan dalam skala yang lebih luas di luar Kapuas Hulu.
Dalam paparannya, Country Director GIZ untuk Indonesia, Hans-Ludwig Bruns, menjelaskan program yang dijalankan pihaknya saat ini berfokus penuh di Kampung Sulu dijalankan dengan pendanaan sebesar 4 juta euro untuk periode tiga tahun.
Untuk mengukur dampak program secara objektif, tim melakukan baseline survey di awal proyek dan endline survey di akhir masa implementasi. Survei ini tidak dilakukan oleh internal, melainkan oleh konsultan independen.
Survei awal mengukur pendapatan per kepala keluarga di Kampung Sulu, kemudian dibandingkan kembali pada akhir proyek. Hasilnya menunjukkan adanya kenaikan pendapatan yang signifikan.
“Secara rata-rata, pendapatan masyarakat meningkat 23,6% dalam rupiah,” kata dia yang jika dikonversi ke dolar AS, peningkatan pendapatan tercatat lebih rendah, yakni 15,7%, akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar beberapa tahun terakhir.
Menurutnya, data tersebut menggambarkan statistik kenaikan pendapatan, namun kondisi di lapangan bisa dijelaskan lebih detail oleh perwakilan masyarakat setempat
Selama tiga tahun terakhir, GRASS telah memberi pelatihan kepada 1.100 petani swadaya untuk mempraktikkan cara Bertani yang tangguh, meningkatkan pendapatan 600 rumah tangga petani swadaya serta menyediakan bantuan teknis kepada lebih dari 500 petani dalam mengadopsi praktik pertanian yang tangguh dan cerdas iklim.
Dia menyoroti semakin tidak menentunya kondisi iklim yang kini dirasakan langsung oleh para petani, khususnya di Kabupaten Kapuas Hulu. Ia menyebut pola cuaca saat ini jauh lebih sulit diprediksi.
“Musim kemarau bisa berlangsung lebih panjang dari seharusnya, lalu hujan datang dengan intensitas yang jauh lebih besar. Ini memicu banjir dan longsor, dan petani adalah pihak yang paling terdampak,” ujarnya.
Dua pendekatan utama
Untuk menjawab tantangan tersebut, program GRAS memberikan dua pendekatan utama bagi petani yakni adaptasi terhadap perubahan iklim dan kontribusi untuk mitigasi. Adaptasi dilakukan melalui pelatihan praktik-praktik pertanian seperti agroforestry, permakultur, dan regenerative agriculture. Pendekatan ini membantu petani mempertahankan hasil panen meski kondisi alam semakin berubah.Selain adaptasi, praktik-praktik tersebut juga memberi dampak pada mitigasi perubahan iklim. Tanah mampu menyerap dan menyimpan karbon sehingga emisi gas rumah kaca dapat ditekan.
“Dengan regenerative agriculture, karbon tetap tersimpan di dalam tanah dan tidak terlepas ke atmosfer. Ini membantu mencegah kondisi iklim yang semakin ekstrem ke depan,” jelasnya.
Situasi iklim ekstrem di Kapuas Hulu kian terasa. Dalam beberapa bulan terakhir, suhu dinilai lebih panas dari biasanya dan kejadian banjir lebih cepat muncul dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ia juga menyoroti kondisi sungai yang makin dangkal akibat sedimentasi, sehingga kapasitas tampung air menurun dan banjir lebih mudah terjadi.
Menurutnya, pemerintah dan masyarakat berkomitmen untuk bekerja bersama mendukung upaya-upaya adaptasi dan perlindungan lingkungan agar Kapuas Hulu dapat menghadapi tekanan perubahan iklim yang semakin berat.
Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma Kementerian Pertanian Baginda Siagian, menyatakan dengan mempromosikan praktik pertanian yang berkelanjutan dan terdiversifikasi, GRASS telah berkontribusi langsung pada agenda nasional pengembangan budidaya tanaman perkebunan yang tangguh terhadap iklim serta berkelanjutan.
Perwakilan BMZ di Kedutaan Besar Jerman di Jakarta, Angelika Stauder, menyampaikan proyek GRASS menggambarkan komitmen kuat Jerman mendukung upaya Indonesia menuju pertanian yang berkelanjutan dan tangguh iklim.
“Melalui pemberdayaan petani swadaya dan promosi rantai pasok yang bertanggung jawab, GRASS berkontribusi pada tujuan kerja sama kedua negara, yaitu melindungi lingkungan dan meningkatkan mata pencaharian masyarakat pedesaan” tegas dia.
Manfaat bagi Petani
Seorang perwakilan petani A.M. Maskur menjelaskan program yang dijalankan tidak hanya memberikan manfaat dari sisi harga jual, tetapi juga peningkatan kapasitas dan pengetahuan petani. Ia mengakui bahwa para petani sulit menghitung persentase kenaikan pendapatan secara pasti, namun selisih harga yang diterima cukup terasa.“Kalau kami jual ke tengkulak biasanya hanya Rp9.000 sampai Rp10.000 per kilogram. Tetapi lewat proyek ini, kami bisa dapat harga hingga Rp16.000,” ujarnya.
Menurutnya, harga tersebut masih dapat meningkat tergantung pada grade dan perubahan nilai FOB yang fluktuatif setiap hari.
“Jadi harganya bisa sampai lebih dari Rp20.000 tergantung FOB. Itu berubah setiap hari,” katanya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa bagi para petani, keuntungan terbesar bukan semata soal harga. Hal yang paling berdampak adalah peningkatan kapasitas yang diberikan melalui program tersebut. Para petani diberi kesempatan untuk belajar langsung di pusat penelitian karet, termasuk Balai Penelitian Karet di Palembang.
“Kami belajar langsung dari ahlinya. Petani-petani yang dipilih dari tiap daerah bisa membawa pulang ilmu dan menularkannya ke petani lain,” jelasnya.
Peningkatan kapasitas ini dinilai jauh lebih berharga karena produksi karet lokal di wilayah mereka masih rendah. Hal itu disebabkan penggunaan klon lokal yang produktivitasnya belum setinggi karet dari Thailand atau Vietnam. Setelah mendapat pelatihan dan akses pada klon unggulan dari pusat penelitian, para petani kini memiliki peluang untuk meningkatkan kualitas kebunnya.
Acara penutupan GRASS juga menampilkan pameran produk-produk petani swadaya yang didukung, serta diakhiri dengan diskusi panel dan dialog yang mengeksplorasi sinergi peningkatan skala capaian proyek, untuk memastikan pelajaran yang dipetik dari proyek GRASS terus memperkuat ketahanan ekonomi dan lingkungan masyarakat perdesaan di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, dan di daerah lain di Indonesia.
GRASS adalah kelanjutan dari proyek sebelumnya, SASCI (Sustainable Agricultural Supply Chains in Indonesia) (2020-2022), dan dibangun berdasarkan pencapaian serta pengalaman yang diperoleh dari proyek tersebut. Acara hari ini menandai puncak dari kemitraan selama enam tahun (2020–2025) antara GIZ dengan Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Viral! 18 Kampus ternama memberikan beasiswa full sampai lulus untuk S1 dan S2 di Beasiswa OSC. Info lebih lengkap klik : osc.medcom.id
(SAW)
Sinar Mas Dukung 299 Petani Aceh Raih Sertifikasi RSPO
Sinar Mas mendukung 299 petani Aceh raih sertifikasi RSPO melalui program Sawit Terampil, meningkatkan praktik berkelanjutan dan akses pasar sawit [788] url asal
#sinar-mas #petani-aceh #sertifikasi-rspo #sawit-terampil #petani-swadaya #praktik-berkelanjutan #harga-sawit #pasar-sawit-berkelanjutan #legalitas-lahan #produktivitas-sawit #pelatihan-petani #sinar-m
(Bisnis.Com - Terbaru) 06/11/25 14:44
v/29795/
Bisnis.com, KUALA LUMPUR – Saat pertama kali mengikuti pelatihan Sawit Terampil pada tahun 2023, Risniati Tarigan, seorang pedagang dan petani sawit swadaya dari Subulussalam, Aceh, tidak pernah membayangkan bahwa perjalanannya menuju perkebunan sawit berkelanjutan akan membawanya hingga ke panggung internasional.
Namun pekan ini, Risniati berdiri di panggung Konferensi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) di Kuala Lumpur untuk menerima sertifikasi RSPO atas nama CV Perangin-angin Group (CV PAG). Sertifikasi ini diberikan kepada 299 petani yang mengelola lebih dari 650 hektare kebun sawit swadaya yang telah menerapkan praktik pertanian berkelanjutan.
Sertifikasi RSPO berarti sawit diproduksi secara legal, tanpa deforestasi, menghormati hak pekerja dan masyarakat, serta mengikuti prinsip lingkungan dan sosial yang bertanggung jawab.
Kelompok ini menjadi petani swadaya ketiga berturut-turut yang berhasil mendapatkan sertifikasi RSPO dengan pendampingan Sinar Mas Agribusiness and Food, setelah kelompok dari Aceh Utara (2023) dan Langkat, Sumatera Utara (2024). Secara total, lebih dari 800 petani swadaya dengan sekitar 1.600 hektare lahan kini tersertifikasi melalui program Sawit Terampil.
Mendukung Akses Petani ke Pasar Sawit Berkelanjutan

Figure 2 Program Sawit Terampil membantu petani meningkatkan produktivitas, memenuhi regulasi, dan mengakses pasar bersertifikasi
Petani swadaya menyumbang hampir separuh dari produksi sawit Indonesia, namun banyak dari mereka masih menghadapi kendala seperti legalitas lahan, keterbatasan pengetahuan teknis, dan sulitnya akses ke pasar sawit berkelanjutan. Sertifikasi RSPO membuka jalan menuju harga jual yang lebih adil, produktivitas jangka panjang, serta ketahanan ekonomi masyarakat. Namun proses menuju sertifikasi sering kali rumit dan mahal jika ditempuh sendiri oleh petani, tanpa dukungan pihak luar.
Melalui program Sawit Terampil, Sinar Mas Agribusiness and Food mendampingi petani yang memasok ke pabrik sawit dalam rantai pasoknya. Program ini membantu petani dengan menerapkan praktik pertanian yang baik (Good Agricultural Practices/GAP) untuk meningkatkan hasil kebun, mengurus Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB) untuk legalitas lahan, mempersiapkan diri menuju sertifikasi agar bisa masuk ke pasar sawit berkelanjutan.
Hasilnya melalui pelatihan dan penguatan organisasi, banyak petani kini merasakan panen lebih baik, biaya lebih efisien, serta kelembagaan koperasi yang lebih kuat.
Kisah Risniati
Kisah Risniati unik, ia tidak hanya bertani, tetapi juga menjadi pedagang pengumpul tandan buah segar (TBS) dari hampir 100 petani lain dan memasok ke beberapa pabrik. “Sebagai petani, saya ingin menghasilkan buah yang lebih baik dan tidak ditolak pabrik. Buah berkualitas artinya harga lebih baik untuk petani maupun pedagang,” ujarnya.
Menurut Risniati, pelatihan tidak hanya mengajarkan standar kualitas buah yang diterima pabrik, tetapi juga mengajarkan bagaimana cara menghasilkan buah yang baik dari kebun sendiri. “Sekarang lebih transparan antara pedagang pengumpul TBS dan petani. Harga TBS itu ditentukan kualitas. Memang ada biaya angkut dan lainnya, tapi kualitas tetap nomor satu,” tambahnya.
Sertifikasi RSPO untuk CV PAG menjadi bukti konsistensi Sinar Mas Agribusiness and Food dalam mendukung petani swadaya. Hingga 2025, Sinar Mas Agribusiness and Food telah melatih lebih dari 11.000 petani melalui program Sawit Terampil. Program ini merupakan bagian dari kerangka keberlanjutan Collective for Impact, dengan target melatih 100.000 petani swadaya pada tahun 2035.
Helena Delima Lumban Gaol, Head of Smallholder Innovation Sinar Mas Agribusiness and Food, menekankan pentingnya komitmen jangka panjang untuk memberdayakan para pengusaha di bidang pertanian. “Sawit Terampil menunjukkan bahwa petani kecil tidak hanya butuh pelatihan singkat, tetapi pendamping yang berjalan bersama mereka untuk membantu memperbaiki praktik berkebun, memperoleh legalitas lahan, hingga membuka akses ke pasar bersertifikat. Melalui kolaborasi ini, kami bukan hanya meningkatkan penghidupan petani, tapi juga mendukung misi RSPO agar sawit berkelanjutan dapat dicapai oleh petani swadaya.”
Tentang Sinar Mas Agribusiness and Food
Sinar Mas Agribusiness and Food yang beroperasi di bawah Golden Agri-Resources (GAR) adalah salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit terkemuka yang mengelola area perkebunan kelapa sawit seluas lebih dari setengah juta hektare, termasuk kebun plasma milik petani kecil. Perusahaan memiliki operasi terpadu yang memproduksi bahan pangan yang berbahan baku minyak nabati.
Sinar Mas Agribusiness and Food berfokus pada produksi minyak kelapa sawit yang berkelanjutan. Di Indonesia, kegiatan utama perusahaan ini meliputi budidaya dan pemanenan pohon kelapa sawit; pengolahan tandan buah segar menjadi minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan inti sawit; perdagangan dan penyulingan CPO menjadi produk bernilai tambah seperti minyak goreng, margarin, shortening, dan biodiesel; serta perdagangan produk kelapa sawit di seluruh dunia. Perusahaan ini juga beroperasi di Tiongkok dan India, termasuk pelabuhan laut dalam, pabrik pengolahan biji minyak, kemampuan produksi untuk produk minyak nabati yang dimurnikan, serta produk makanan lainnya seperti mie.
Perusahaan induknya, GAR didirikan pada tahun 1996 dan tercatat di Bursa Efek Singapura pada tahun 1999 dengan kapitalisasi pasar sebesar US$2,5 miliar pada tanggal 30 Juni 2025. Flambo International Limited, sebuah perusahaan investasi, saat ini merupakan pemegang saham terbesar GAR, dengan kepemilikan saham sebesar 50,56%. GAR memiliki beberapa anak perusahaan, termasuk PT SMART Tbk yang tercatat di Bursa Efek Indonesia pada tahun 1992.
Untuk informasi lebih lanjut tentang perusahaan, silakan mengunjungi https://www.smart-tbk.com
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56