Bisnis.com, CIREBON - Luas lahan baku sawah (LBS) di Jawa Barat kembali mengalami penyusutan signifikan berdasarkan pembaruan data tahun 2024. Dari hasil pemutakhiran peta nasional yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, Kabupaten Cirebon tercatat sebagai daerah dengan penurunan LBS paling besar di seluruh wilayah provinsi, mengungguli kabupaten dan kota lainnya.
Kepala BPS Jawa Barat Margaretha Ari Anggorowati menyampaikan secara total LBS Jawa Barat pada 2024 tercatat seluas 916.798 hektare, menurun dibandingkan hasil penetapan 2019 yang mencapai 928.218 hektare. Dengan demikian, dalam lima tahun terakhir Jawa Barat kehilangan sekitar 11.420 hektare lahan sawah baku.
“Pembaruan ini menggunakan Keputusan Menteri ATR/Kepala BPN Tahun 2024 dan menjadi dasar resmi dalam penghitungan statistik pertanian, termasuk Kerangka Sampel Area (KSA) padi mulai Januari 2025,” kata Margaretha, Rabu (4/2/2026).
Dalam rincian per kabupaten/kota, Kabupaten Cirebon mencatat penyusutan LBS sekitar 2.963 hektare, menjadikannya wilayah dengan pengurangan lahan sawah terbesar di Jawa Barat. Penurunan ini melampaui daerah lain seperti Majalengka, Bekasi, Bogor, maupun Karawang yang juga mengalami kontraksi LBS namun dengan skala lebih kecil.
Margaretha menjelaskan, penurunan LBS merupakan konsekuensi dari pembaruan spasial berbasis citra satelit resolusi tinggi yang memotret perubahan penggunaan lahan secara lebih akurat.
“Pemutakhiran peta ini menangkap alih fungsi lahan yang sudah terjadi, terutama konversi sawah ke non-pertanian,” ujarnya.
Kabupaten Cirebon dinilai memiliki tingkat tekanan alih fungsi lahan yang tinggi karena posisinya sebagai wilayah strategis di jalur Pantura. Perkembangan kawasan industri, pergudangan, perumahan, serta infrastruktur transportasi menjadi faktor dominan berkurangnya sawah baku di daerah tersebut.
BPS mencatat, selain Cirebon, beberapa daerah lain juga mengalami penurunan LBS cukup besar, antara lain Majalengka, Bekasi, Bogor, Bandung, dan Sumedang. Namun secara absolut, penyusutan di Kabupaten Cirebon menjadi yang paling mencolok.
Menurut Margaretha, berkurangnya LBS memiliki implikasi langsung terhadap statistik produksi padi.
“LBS adalah basis utama estimasi luas panen dan produksi padi. Jika lahannya menyusut, maka potensi produksi juga ikut terdampak,” katanya.
Meski demikian, BPS menegaskan pembaruan data LBS bukan merupakan kebijakan pengurangan lahan, melainkan pencatatan ulang kondisi eksisting di lapangan.
Data tersebut digunakan untuk memastikan estimasi produksi pangan lebih akurat dan mencerminkan realitas.
“Data ini penting sebagai early warning bagi pemerintah daerah. Ketika lahan sawah berkurang, maka kebijakan perlindungan lahan pertanian perlu diperkuat,” ujar Margaretha.