Bisnis.com, BALIKPAPAN — Pembiayaan syariah di Kalimantan Timur mencatatkan pertumbuhan solid sebesar 17,32% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal II/2025.
Angka ini baru mendapatkan pangsa 8,62% terhadap total pembiayaan di provinsi Kalimantan Timur.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, Budi Widihartanto, menyatakan capaian ini menandai peningkatan signifikan dibandingkan periode sebelumnya yang tercatat 8,28%, meskipun laju pertumbuhannya mengalami perlambatan.
"Hal ini mengindikasikan tren peningkatan preferensi masyarakat terhadap pembiayaan syariah di Kaltim yang terus berkembang," kata Budi Widihartanto dalam keterangan resmi, Selasa (21/10/2025).
Sejalan dengan itu, stabilitas pembiayaan tetap terjaga dengan rasio Non-Performing Financing (NPF) yang berada di level 0,89%, naik tipis dari kuartal sebelumnya namun tetap jauh di bawah ambang batas risiko 5%.
Dalam hal komposisi, pembiayaan modal kerja masih menjadi lokomotif utama dengan mencatat ekspansi tertinggi sebesar 44,09% (yoy), kendati mengalami moderasi dibandingkan periode sebelumnya.
Sementara itu, pembiayaan untuk keperluan investasi menunjukkan perlambatan cukup tajam menjadi 13,17% (yoy) dari posisi 20,35% (yoy) pada kuartal I/2025.
Di sisi lain, sektor konsumsi justru menunjukkan sedikit akselerasi dengan pertumbuhan 13,18% (yoy).
Adapun ditinjau dari aspek risiko per segmen, rasio NPF pembiayaan modal kerja tercatat paling tinggi di angka 1,61%, diikuti konsumsi 1,45%, dan investasi yang paling rendah yakni 0,21%.
Secara geografis, Budi menyebutkan pertumbuhan pembiayaan syariah didorong oleh sebagian besar kabupaten/kota di Kaltim, meskipun dengan variasi yang cukup signifikan.
Kabupaten Kutai Timur mencatatkan lonjakan tertinggi sebesar 66,72% (yoy), disusul Kabupaten Paser dengan 32,52% (yoy).
Namun demikian, tidak semua wilayah mengalami ekspansi. Kabupaten Berau dan Penajam Paser Utara justru mengalami kontraksi masing-masing 26,35% (yoy) dan 2,75% (yoy).
Kendati demikian, kualitas pembiayaan syariah di seluruh kabupaten/kota tetap terjaga baik. Kabupaten Berau bahkan mencatatkan NPF terendah di angka 0,08%.
Dari segi distribusi, Kota Balikpapan tetap menguasai pangsa terbesar pembiayaan syariah dengan kontribusi 29,19%.
Akan tetapi, pergeseran signifikan terjadi di posisi kedua, dimana Kabupaten Kutai Timur kini menyumbang 27,55% dan melampaui Kota Samarinda yang sebelumnya menempati urutan runner-up.
Adapun dia menuturkan kondisi ini menunjukkan minat atas pembiayaan syariah yang mulai merata di beberapa wilayah Kaltim lainnya selain dua kota besar (Balikpapan dan Samarinda).