TOKYO, KOMPAS.com - Pemerintah Jepang menyetujui paket stimulus senilai total 21,3 triliun yen atau 135,5 miliar dollar AS pada Jumat (21/11/2025). Angka ini setara sekitar Rp 2.267 triliun (asumsi kurs Rp 16.735 per dollar AS).
Stimulus ekonomi ini seiring dengan upaya Perdana Menteri JepangSanae Takaichi untuk mendorong perekonomian Jepang yang melambat dan menawarkan dukungan kepada konsumen yang terdampak inflasi.
Dikutip dari CNBC, Sabtu (22/11/2025), paket tersebut didasarkan pada tiga pilar, yakni mengatasi kenaikan harga, mencapai perekonomian yang kuat, dan memperkuat kemampuan pertahanan dan diplomatik.
AFP/KAZUHIRO NOGI Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi.Paket stimulus ini merupakan yang terbesar sejak pandemi Covid-19, menurut media lokal.
Kabinet Jepang juga menyatakan akan memperluas hibah pemerintah daerah, serta memberikan subsidi untuk tagihan listrik dan gas.
Langkah-langkah dukungan tersebut akan dimulai pada Januari 2025, dengan nilai sekitar 7.000 yen atau sekitar Rp 747.214 (asumsi kurs Rp 106,7 per yen) untuk rumah tangga standar selama periode tiga bulan, menurut laporan NHK.
Di samping itu, pajak bensin akan dihapuskan.
Jepang juga berencana membentuk dana 10 tahun untuk meningkatkan kemampuan pembuatan kapal.
Jepang pun memberlakukan langkah-langkah untuk meningkatkan anggaran pertahanan hingga 2 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada tahun fiskal 2027.
Pemerintah mengatakan akan "segera menyusun" rancangan anggaran tambahan untuk mendanai langkah-langkah ini, dan berencana untuk mengesahkannya pada akhir tahun dengan bantuan dari partai-partai oposisi.
Dok. Unsplash/Dino Johannes Ilustrasi Himeji Castle atau Kastel Himeji di Hyogo, Jepang.Partai Demokrat Liberal yang berkuasa saat ini merupakan pemerintahan minoritas, tetapi kini bersekutu dengan Partai Inovasi Jepang.
Bersama-sama, mereka memegang 231 kursi, kurang dua kursi dari mayoritas di Majelis Rendah Jepang yang beranggotakan 465 orang.
Takaichi mengatakan kepada wartawan, pemerintah akan menggunakan pendapatannya untuk mendanai paket tersebut, dan kekurangannya akan ditutupi melalui penerbitan obligasi pemerintah.
Ia mengatakan, jumlah obligasi pemerintah kemungkinan akan lebih rendah daripada 42,1 triliun yen yang diterbitkan tahun lalu setelah anggaran tambahan, menekankan bahwa pertimbangan penuh telah diberikan pada keberlanjutan fiskal.
Jesper Koll, direktur ahli di perusahaan jasa keuangan Monex Group yang berbasis di Tokyo, mengatakan langkah Takaichi akan mengguncang pasar obligasi pemerintah Jepang.
Obligasi Jepang telah mengalami aksi jual, dengan imbal hasil (yield) JGB 10-tahun mencapai level tertinggi sejak 2008 pada Kamis (20/11/2025), di angka 1,817 persen.
Imbal hasil tersebut turun 3 basis poin menjadi 1,785 persen pada Jumat.
Koll mengatakan meskipun Takaichi telah memenuhi janji kampanyenya dengan anggaran yang lebih besar dari perkiraan, fokusnya tampaknya lebih pada populisme jangka pendek dan sekali jadi, alih-alih pada insentif untuk perubahan struktural yang positif.
Kekhawatiran ekonomi Jepang
Paket stimulus dari pemerintahan Takaichi muncul ketika inflasi di Jepang secara konsisten melampaui target bank sentral, dengan pernyataan dari pejabat senior tentang pertumbuhan harga yang memicu kekhawatiran baru.
"Langkah-langkah dukungan pendapatan dan harga menawarkan dorongan jangka pendek dan sekali pakai bagi daya beli masyarakat, tetapi tidak akan menyelesaikan tekanan inflasi fundamental," kata Koll.
SHUTTERSTOCK/LIGHTSPRING Ilustrasi inflasi.Ia menambahkan bahwa untuk mengatasi inflasi, perekonomian Jepang membutuhkan reformasi sisi penawaran, bukan stimulus sisi permintaan.
Angka inflasi utama untuk Oktober 2025 naik menjadi 3 persen dari 2,9 persen, bertahan di atas target Bank of Japan (BoJ) sebesar 2 persen selama 43 bulan berturut-turut.
Sementara itu, inflasi inti, yang tidak termasuk harga makanan segar, berada di angka 3 persen.
Gubernur BoJ Kazuo Ueda mengatakan kepada parlemen Jepang bahwa pihaknya harus mewaspadai yen yang lemah dapat memengaruhi inflasi dasar dengan mendorong kenaikan biaya impor dan harga secara umum.
Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama juga memperingatkan volatilitas yen dan dilaporkan mengisyaratkan kemungkinan intervensi di pasar.
Ia mengatakan bahwa "khawatir dengan pergerakan tajam dan sepihak baru-baru ini di pasar mata uang," lapor Reuters.
Kekhawatiran inflasi diperparah oleh melemahnya pertumbuhan ekonomi Jepang, dengan PDB dalam tiga bulan hingga September mengalami kontraksi untuk pertama kalinya dalam enam kuartal.
Perekonomian Jepang menyusut 0,4 persen dibandingkan kuartal sebelumnya, sementara secara tahunan mengalami kontraksi 1,8 persen, menurut data pemerintah yang dirilis pada awal pekan ini.
Namun, data perdagangan Oktober 2025, yang dirilis Jumat, memberikan sedikit kelegaan bagi negara tersebut.
Ekspor Jepang naik 3,6 persen secara tahunan dan melampaui ekspektasi karena ekspor ke Asia dan Eropa mengimbangi penurunan barang yang dikirim ke AS.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang