Bisnis.com, JAKARTA — Harga minyak dunia terpantau turun, tertekan penguatan dolar AS dan melemahnya data manufaktur global, sementara keputusan OPEC+ menunda kenaikan produksi memicu kekhawatiran kelebihan pasokan.
Melansir Reuters pada Rabu (5/11/2025), harga minyak mentah jenis Brent turun 31 sen atau 0,5% menjadi US$64,58 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 33 sen atau 0,5% ke level US$60,72 per barel.
“Kontrak berjangka minyak mentah hari ini tertekan oleh penguatan nilai dolar AS. Pasar saham AS juga terkoreksi tajam pada awal perdagangan seiring dampak penutupan sebagian operasional pemerintah, yang pada akhirnya dapat menekan permintaan bahan bakar domestik,” kata Wakil Presiden Senior Divisi Perdagangan di BOK Financial, Dennis Kissler.
Dolar AS menguat ke level tertinggi empat bulan terhadap euro pada Selasa (4/11/2025), setelah meningkatnya keraguan atas kemungkinan pemangkasan suku bunga The Fed lanjutan tahun ini. Dolar AS yang lebih kuat membuat harga minyak—yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut—menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Sementara itu, indeks utama Wall Street turun ke posisi terendah dalam lebih dari sepekan setelah sejumlah bank besar AS memperingatkan potensi aksi jual di pasar saham.
Penutupan sebagian operasional pemerintah AS (government shutdown) kini memasuki hari ke-35, menyamai rekor pada masa jabatan pertama Presiden Donald Trump. Dampaknya kian meluas, mulai dari dihentikannya bantuan pangan untuk masyarakat berpenghasilan rendah hingga tertundanya pembayaran bagi pegawai federal di sektor transportasi, keamanan, dan militer.
Dari Asia, aktivitas manufaktur Jepang pada Oktober 2025 tercatat menyusut pada laju tercepat dalam 19 bulan terakhir akibat pelemahan permintaan di sektor otomotif dan semikonduktor, menurut survei sektor swasta.
Dari sisi pasokan, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, atau OPEC+, pada Minggu lalu sepakat untuk melakukan sedikit peningkatan produksi pada Desember dan menunda kenaikan tambahan pada kuartal pertama tahun depan.
Selain itu, sentimen positif terhadap harga minyak akibat sanksi AS terhadap perusahaan energi Rusia, termasuk Lukoil dan Rosneft, mulai memudar.
“Ketika sanksi tambahan terhadap perusahaan yang masih bertransaksi dengan entitas Rusia mulai berlaku pada 21 November, dampaknya kemungkinan akan hilang atau tertunda,” ujar Kepala Analis Komoditas SEB Research, Bjarne Schieldrop, dalam catatannya.
Pelaku pasar kini menanti laporan terbaru dari American Petroleum Institute (API) yang dijadwalkan rilis malam ini. Berdasarkan jajak pendapat awal Reuters, stok minyak mentah AS diperkirakan meningkat pada pekan lalu.