Bisnis.com, JAKARTA — Total nilai investasi global di teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon atau carbon capture and storage (CCS) menembus US$6,6 miliar atau sekitar Rp110,68 triliun sepanjang 2025. Nilai ini mencerminkan pertumbuhan 59% dibandingkan dengan komitmen investasi pada 2024 sebesar US$4,1 miliar menurut data BloombergNEF.
Terlepas dari pertumbuhan ini, investasi CCS pada 2025 masih jauh di bawah rekor US$13,6 miliar yang ditorehkan pada 2023. Hal ini mengindikasikan perlambatan dalam penyaluran modal, seiring dengan hambatan regulasi, biaya dan risiko eksekusi proyek.
Eropa, Timur Tengah dan Afrika mendominasi sebagai kawasan dengan komitmen investasi terbesar pada 2025, dengan kontribusi 86% dari total global atau sekitar US$5,7 miliar. Qatar dan Arab Saudi secara bersama menyumbang komitmen investasi terbesar di kawasan ini, hampir 50%. Norwegia dan Inggris Raya menyusul di peringkat selanjutnya, masing-masing menarik aliran dana senilai US$805 juta dan US$786 juta karena didukung oleh kerangka kebijakan yang mapan dan pipeline proyek yang telah siap.
Meski demikian, banyak proyek hasil komitmen investasi pada 2024 juga menghadapi hambatan di 2025. Sebagai contoh, pemerintahan Trump di Amerika Serikat menarik dukungan pembiayaan senilai US$2,2 miliar yang sebelumnya dijanjikan untuk proyek CCS.
Sementara itu, investasi di Kanada juga stagnan karena para pengembang masih menantikan kejelasan regulasi harga karbon dan struktur insentif menyusul dilantiknya pemerintahan baru Carney. Meski pemerintah Kanada menegaskan kembali dukungan terhadap proyek CCS pada November, sejauh ini belum ada satu pun proyek yang terealisasi hingga akhir tahun.
Secara umum, tren investasi 2025 menegaskan ketergantungan sektor ini pada dukungan kebijakan yang stabil dan memadai. Komitmen skala besar di kawasan EMEA menopang total global, sementara ketidakpastian kebijakan di Amerika Utara menekan momentum.
China menjadi penyeimbang parsial, dengan perusahaan milik negara dan pelaku industri tetap mengalokasikan modal ke proyek baru di tengah dukungan kebijakan publik yang menguat. Meski demikian, investasi CCS masih terkonsentrasi di segelintir pasar, sehingga membatasi percepatan penerapan teknologi ini secara global.
Adapun dalam perkembangan terbaru, pemerintah India mengusulkan program senilai 200 miliar rupee atau sekitar US$2,2 miliar untuk mempercepat penerapan teknologi carbon capture, utilization and storage (CCUS) guna menekan emisi dari lima sektor penghasil emisi karbon terbesar.
Menteri Keuangan India Nirmala Sitharaman menyampaikan rencana tersebut dalam pidato anggaran tahunan pemerintah federal. Proposal ini rencananya akan menyasar sektor ketenagalistrikan, baja, semen, kilang minyak, dan kimia dalam lima tahun ke depan.
Teknologi penangkapan karbon yang berfungsi menyimpan atau mendaur ulang emisi dari fasilitas industri kian mendapat perhatian global di tengah lambatnya laju dekarbonisasi ekonomi untuk membatasi dampak perubahan iklim.
Sektor baja India tercatat sebagai salah satu yang paling intensif karbon di dunia, antara lain karena banyaknya pabrik skala kecil yang masih mengandalkan batu bara sebagai bahan baku. Infrastruktur CCUS yang masih dalam tahap awal pengembangan juga dikenal mahal, umumnya hanya sesuai untuk klaster industri besar, serta sangat bergantung pada kondisi geografis.
Pemerintah India di satu sisi menawarkan insentif bagi produsen baja untuk menekan emisi, namun di sisi lain juga memasukkan batu bara kokas dalam daftar mineral kritis nasional yang diharapkan dapat mempercepat aktivitas penambangan dan ekstraksi bahan baku tersebut.
“Produksi baja skala besar dengan biaya kompetitif masih membutuhkan tanur tinggi berbasis karbon. Pasokan listrik beban dasar juga masih memerlukan pembangkit berbasis batu bara,” ujar Nishant Nishchal, APAC Lead for Metals and Mining Kearney. Ia menambahkan bahwa teknologi penghilangan karbon tetap diperlukan agar India dapat mencapai target net zero.