#30 tag 24jam
Doa Nabi Luth AS : Mohon Dijauhkan dari Azab Allah
Banyak rekomendasi doa-doa yang pernah dipanjatkan oleh para nabi dan sangat patut kita teladani. Salah satunya adalah doa Nabi Luth alaihisallam yang memohon kepada... | Halaman Lengkap [437] url asal
#kisah-nabi-luth #azab-allah #penyebab-turunnya-azab-allah #kaum-nabi-luth #doa-para-nabi
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 14/04/26 18:45
v/191257/
Banyak rekomendasi doa-doayang pernah dipanjatkan oleh para nabi dan sangat patut kita teladani. Salah satunya adalah doa Nabi Luth as yang memohon kepada Allah agar dijauhkan dari azab.Nabi Luth berdoa kepada Allah agar ia dan keluarganya dilepaskan dari azab yang akan menimpa kaumnya akibat perbuatan-perbuatan mereka yang keji. Ia juga memohon agar dijauhkan dari azab Allah, baik di dunia maupun di akhirat.
Rabbi najjjinii wa ahlii mimmmaa ya'maluun
Artinya: “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dan keluargaku dari (akibat) perbuatan yang mereka kerjakan.” ( QS Asy-Syu’ara’/26 : 169)
Azab Kaum Nabi Luth
Dalam Al Quran dikisahkan tentang azab yang ditimpakan kepada kaum Nabi Luth alaihisallam ini. Azab ditimpakan Allah karenakaum Nabi Luth berperilaku seks menyimpang dan menolak dakwah Nabi Luth alaihisallam."Maka, tatkala datang azab Kami, Kami balikkan (kota itu), dan Kami turunkan di atasnya hujan batu, (seperti) tanah liat dibakar bertubi-tubi. Diberi tanda oleh Tuhanmu. Dan siksaan itu tidaklah jauh dari orang-orang yang zalim." ( QS Hud : 82-83 )
Wilayah yang terkena azab ini bernama al-Mutafikah, yang di dalamnya terdapat lima kota, yaitu Sabah, Sarah, Amarah, Duma, dan Sodom.
Al-Tabari dalam kitabnya berjudul Tarikh al-Rusul wa al-Muluk menyebutkan, bahwa Sodom kini terletak di Yordania.
Sementara itu, Ibnu Katsir dalam kitabnya berjudul Qisas Al-Anbiya menyebut dengan lebih detail. Menurut dia, lokasinya berada di pantai bagian barat Laut Mati, atau dalam bahasa Arab disebut Al-Bahr al-Mayyit.
Diutus di Kota Sodom
Kota Sodom adalah kota yang paling besar di antara kelima kota tersebut. Ke wilayah inilah Nabi Luth AS diutus Allah SWT.Mulanya, Nabi Luth ‘alaihissalam bersama pamannya, Nabi Ibrahim AS, berhijrah menuju Mesir. Keduanya tinggal di sana beberapa lama, lalu kembali ke Palestina.
Di tengah perjalanan menuju Palestina, Nabi Luth meminta izin kepada Nabi Ibrahim untuk pergi dan tinggal ke negeri Sodom. Selanjutnya Nabi Luth menikah di kota itu.
Penduduk kota ini memiliki akhlak sangat buruk. Mereka terjangkit perilaku seks menyimpang, homoseksual. Para lelaki menyalurkan nafsu seks dengan sesama laki-laki. Perempuan dengan perempuan.
Perbuatan itu merajalela di Kota Sodom. Seorang pendatang tidak akan selamat dari gangguan penduduk Sodom. Apabila pendatang itu adalah seorang perempuan, para wanita akan mengganggunya. Apabila pendatang itu adalah seorang lelaki tampan, para lelaki di Kota Sodom akan memperebutkannya.
Nabi Luth diutus oleh Allah untuk menyadarkan kaum yang menyimpang ini. Nabi Luth diperintahkan menyampaikan risalah-Nya kepada kaumnya itu. Berkata Nabi Luth kepada kaumnya.
“Mengapa kamu melakukan perbuatan tercela itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun di dunia ini sebelummu? Kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu, bukan kepada wanita. Bahkan kamu ini adalah kaum yang melampaui batas." ( Al-A'raf: 80-81 )
Kisah-kisah dalam Al Quran : 12 Kaum yang Dibinasakan karena Dosa Mereka
Kisah-kisah dalam Al Quran tentang kaum yang dibinasakan Allah SWT ini menarik untuk disimak. Selain diambil ibrahnya juga sebagai pembelajaran penting bagi umat... | Halaman Lengkap [1,071] url asal
#kisah-kisah-dalam-alquran #azab-allah #perkara-sepele-mengundang-murka-allah #sifat-buruk-suatu-kaum #penyebab-turunnya-azab-allah
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 14/04/26 16:30
v/191063/
Kisah-kisah dalam Al Quran tentang kaum yang dibinasakan Allah SWT ini menarik untuk disimak. Selain diambil ibrahnya juga sebagai pembelajaran penting bagi umat saat ini. Berikut ulasannya.Allah Taala berfirman :
اَلَمْ يَرَوْا كَمْ اَهْلَـكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِّنْ قَرْنٍ مَّكَّنّٰهُمْ فِى الْاَ رْضِ مَا لَمْ نُمَكِّنْ لَّـكُمْ وَاَ رْسَلْنَا السَّمَآءَ عَلَيْهِمْ مِّدْرَا رًا ۖ وَّجَعَلْنَا الْاَ نْهٰرَ تَجْرِ يْ مِنْ تَحْتِهِمْ فَاَ هْلَكْنٰهُمْ بِذُنُوْبِهِمْ وَاَ نْشَأْنَا مِنْۢ بَعْدِهِمْ قَرْنًا اٰخَرِ يْنَ
“Tidakkah mereka memperhatikan berapa banyak generasi sebelum mereka yang telah Kami binasakan, padahal (generasi itu), telah Kami teguhkan kedudukannya di bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu. Kami curahkan hujan yang lebat untuk mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa-dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan generasi yang lain setelah generasi mereka.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 6)
Dalam tafsir Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di (pakar tafsir abad 14 H) menjelaskan tafsir ayat di atas : Kemudian Allah memerintah mereka mengambil pelajaran dari umat-umat terdahulu.
Dia berfirman, “Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka,” maksudnya, berapa banyak Kami membinasakan umat-umat yang mendustakan secara bergantian, dan sebelum mereka dibinasakan Kami telah memberi mereka kesempatan dengan “meneguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan” kepada mereka berupa harta, anak keturunan, dan kemakmuran. “Dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka.”
Dengan itu ia menumbuhkan untuk mereka apa yang dikehendaki oleh Allah berupa pohon-pohon dan buah-buahan yang mereka nikmati, dan mereka makan sesuai selera mereka, tetapi mereka tidak mensyukuri Allah atas nikmat-nikmatNya, mereka justru berpaling kepada hawa nafsu. Kenikmatan dengan berbagai macamnya telah melenakan mereka. Maka Rasul-rasul datang kepada mereka dengan (membawa) bukti-bukti kebenaran tetapi mereka tidak membenarkannya. Justru mereka menolak dan mendustakannya. Karena dosa-dosa mereka, maka Allah membinasakan mereka dan menumbuhkan generasi yang baru sesudah mereka. Ini adalah sunnatullah yang berlaku pada umat-umat terdahulu dan yang berikut, maka ambillah pelajaran dari orang-orang yang telah Allah ceritakan kepadamu.
Kaum yang Dibinasakan
Dalam Al Quran, banyak sekali diceritakan kisah-kisah umat terdahulu yang telah dibinasakan oleh Allah karena mereka mengingkari utusan-Nya dan melakukan berbagai penyimpangan yang telah dilarang.1. Kaum Nabi Nuh
Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun, namun yang beriman hanyalah sekitar 80 orang. Kaumnya mendustakan dan memperolok-olok Nabi Nuh. Lalu, Allah mendatangkan banjir yang besar, kemudian menenggelamkan mereka yang ingkar, termasuk anak dan istri Nabi Nuh (QS Al-Ankabut : 14).2. Kaum Nabi Hud
Nabi Hud diutus untuk kaum ‘Ad. Mereka mendustakan kenabian Nabi Hud. Allah lalu mendatangkan angin yang dahsyat disertai dengan bunyi guruh yang menggelegar hingga mereka tertimbun pasir dan akhirnya binasa (QS Attaubah: 70, Alqamar: 18, Fushshilat: 13, Annajm: 50, Qaaf: 13).3. Kaum Nabi Saleh
Nabi Saleh diutuskan Allah kepada kaum Tsamud. Nabi Saleh diberi sebuah mukjizat seekor unta betina yang keluar dari celah batu. Namun, mereka membunuh unta betina tersebut sehingga Allah menimpakan azab kepada mereka (QS ALhijr: 80, Huud: 68, Qaaf: 12).4. Kaum Nabi Luth
Umat Nabi Luth terkenal dengan perbuatan menyimpang, yaitu hanya mau menikah dengan pasangan sesama jenis (homoseksual dan lesbian). Kendati sudah diberi peringatan, mereka tak mau bertobat. Allah akhirnya memberikan azab kepada mereka berupa gempa bumi yang dahsyat disertai angin kencang dan hujan batu sehingga hancurlah rumah-rumah mereka. Dan, kaum Nabi Luth ini akhirnya tertimbun di bawah reruntuhan rumah mereka sendiri (QS Alsyu’araa: 160, Annaml: 54, Alhijr: 67, Alfurqan: 38, Qaf: 12).5. Kaum Nabi Syuaib
Nabi Syuaib diutuskan kepada kaum Madyan. Kaum Madyan ini dihancurkan oleh Allah karena mereka suka melakukan penipuan dan kecurangan dalam perdagangan. Bila membeli, mereka minta dilebihkan dan bila menjual selalu mengurangi. Allah pun mengazab mereka berupa hawa panas yang teramat sangat. Kendati mereka berlindung di tempat yang teduh, hal itu tak mampu melepaskan rasa panas. Akhirnya, mereka binasa (QS Attaubah: 70, Alhijr: 78, Thaaha: 40, dan Alhajj: 44).Selain kepada kaum Madyan, Nabi Syuaib juga diutus kepada penduduk Aikah. Mereka menyembah sebidang padang tanah yang pepohonannya sangat rimbun. Kaum ini menurut sebagian ahli tafsir disebut pula dengan penyembah hutan lebat (Aikah) (QS AlHijr: 78, Alsyu’araa: 176, Shaad: 13, Qaaf: 14).
6. Firaun
Kaum Bani Israil sering ditindas oleh Firaun. Allah mengutus Nabi Musa dan Harun untuk memperingatkan Firaun akan azab Allah. Namun, Firaun malah mengaku sebagai tuhan. Ia akhirnya tewas di Laut Merah dan jasadnya berhasil diselamatkan. Hingga kini masih bisa disaksikan di museum mumi di Mesir (Albaqarah: 50 dan Yunus: 92).7. Ashab Al-Sabt
Mereka adalah segolongan fasik yang tinggal di Kota Eliah, Elat (Palestina). Mereka melanggar perintah Allah untuk beribadah pada hari Sabtu. Allah menguji mereka dengan memberikan ikan yang banyak pada hari Sabtu dan tidak ada ikan pada hari lainnya. Mereka meminta rasul Allah untuk mengalihkan ibadah pada hari lain, selain Sabtu. Mereka akhirnya dibinasakan dengan dilaknat Allah menjadi kera yang hina (QS Al-A’raaf: 163).8. Ashab Al-Rass
Rass adalah nama sebuah telaga yang kering airnya. Nama Al-Rass ditujukan pada suatu kaum. Konon, nabi yang diutus kepada mereka adalah Nabi Saleh. Namun, ada pula yang menyebutkan Nabi Syuaib. Sementara itu, yang lainnya menyebutkan, utusan itu bernama Handzalah bin Shinwan (adapula yang menyebut bin Shofwan). Mereka menyembah patung. Ada pula yang menyebutkan, pelanggaran yang mereka lakukan karena mencampakkan utusan yang dikirim kepada mereka ke dalam sumur sehingga mereka dibinasakan Allah (Qs Alfurqan: 38 dan Qaf ayat 12).9. Ashab Al-Ukhdudd
Ashab Al-Ukhdud adalah sebuah kaum yang menggali parit dan menolak beriman kepada Allah, termasuk rajanya. Sementara itu, sekelompok orang yang beriman diceburkan ke dalam parit yang telah dibakar, termasuk seorang wanita yanga tengah menggendong seorang bayi. Mereka dikutuk oleh Allah SWT (QS Alburuuj: 4-9).10. Ashab Al-Qaryah
Menurut sebagian ahli tafsir, Ashab Al-Qaryah (suatu negeri) adalah penduduk Anthakiyah. Mereka mendustakan rasul-rasul yang diutus kepada mereka. Allah membinasakan mereka dengan sebuah suara yang sangat keras (QS Yaasiin: 13).11. Kaum Tubba’
Tubaa’ adalah nama seorang raja bangsa Himyar yang beriman. Namun, kaumnya sangat ingkar kepada Allah hingga melampaui batas. Maka, Allah menimpakan azab kepada mereka hingga binasa. Peradaban mereka sangat maju. Salah satunya adalah bendungan air (QS Addukhan: 37).12. Kaum Saba
Mereka diberi berbagai kenikmatan berupa kebun-kebun yang ditumbuhi pepohonan untuk kemakmuran rakyat Saba. Karena mereka enggan beribadah kepada Allah walau sudah diperingatkan oleh Nabi Sulaiman, akhirnya Allah menghancurkan bendungan Ma’rib dengan banjir besar (Al-Arim) (QS Saba: 15-19).Kisah kisah yang ada dalam Al Quran tersebut kejadiannya beragam dari ratusan sampai ribuan tahun sebelum kelahiran nabi Muhammad SAW. Semoga bermanfaat.
5 Perkara yang Menyebabkan Turunnya Azab Allah SWT di Dunia
Ada beberapa perkara atau penyebab yang bisa menurunkan azab Allah SWT di dunia. Perkara-perkara apa saja? Simak ulasan dan penjelasannya berikut ini. Ada beberapa... | Halaman Lengkap [551] url asal
#azab-allah #penyebab-turunnya-azab-allah #penyebab #azab-dan-dosa
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 14/04/26 11:03
v/190591/
Ada beberapa perkara atau penyebab yang bisa menurunkan azab Allah SWTdi dunia. Perkara-perkara apa saja? Simak ulasan dan penjelasannya berikut ini.Dalam salah satu hadisatau sabda Nabi Shallalahu Alaihi Wassalam yang didokumentasikan dalam kitab Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan dengan sanad yang shahih. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam bersabda:
“Wahai sekalian kaum Muhajirin, ada lima hal yang jika kalian terjatuh ke dalamnya, dan aku berlindung kepada Allah supaya kalian tidak menjumpainya.” (HR Ibnu Majah no 4019)
5 Perkara yang Menjadi Sebab Turunnya Azab Allah SWT :
1. Jika zina dianggap biasa
Perbuatan yang menjadi sebab azab Allah subhanahu wata’ala di dunia yang pertama adalah zina.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidaklah tampak zina di suatu kaum lalu dilakukan secara terang-terangan, kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka penyakit tha’un dan penyakit-penyakit yang tidak pernah menjangkiti generasi sebelumnya.”
Ini adalah peringatan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat keras dan tegas.
Zina adalah perbuatan dosa. Bahkan termasuk dosa besar. Apabila zina yang termasuk dosa besar ini dilakukan secara terang-terangan di ruang terbuka tanpa rasa malu, maka inilah yang menjadi salah satu sebab Allah Ta'ala menurunkan azabnya di dunia berupa penyakit Tha’un dan penyakit wabah lainnya yang belum pernah ada sebelumnya.
2. Jika para pedagang berbuat curang dengan mengurangi timbangan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan kecuali akan ditimpa paceklik, susahnya penghidupan, dan kezaliman penguasa atas mereka.”
Datangnya paceklik dan kekeringan yang menjadi sumber krisis kemiskinan dan merebaknya kriminalitas bukanlah kondisi yang datang tanpa sebab.
3. Jika enggan membayar zakat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Tidaklah mereka menahan zakat (tidak membayarnya) kecuali hujan dari langit akan ditahan dari mereka (hujan tidak turun), dan sekiranya bukan karena hewan-hewan, niscaya manusia tidak akan diberi hujan.”
Syariat Allah subhanahu wata’ala berupa zakat bukanlah aturan yang membuat manusia sengsara. Di balik perintah membayar zakat, terdapat hikmah yang sangat luar biasa.
Melalui syariat zakat, misi pemerataan kesejahteraan ekonomi umat dapat tercapai, penimbunan harta pada segolongan pihak dapat dihindari, juga menjadi cara yang paling efektif dalam membersihkan harta yang dimiliki oleh tiap pribadi muslim.
4. Jika terjadi pelanggaran terhadap perjanjian dengan Allah dan Rasul-Nya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Tidaklah mereka melanggar perjanjian mereka dengan Allah dan Rasul-Nya, kecuali Allah akan menjadikan musuh mereka (dari kalangan selain mereka; orang kafir) berkuasa atas mereka, lalu musuh tersebut mengambil sebagian apa yang mereka miliki.”
Menjadi salah satu sebab turunnya azab Allah Ta'ala di dunia adalah sikap sebagian kaum muslimin yang suka melanggar perjanjian yang dibuat atas nama Allah Ta'ala dan Rasul-Nya.
Jika perbuatan ini telah merebak di tengah masyarakat, maka azab Allah subhanahu wata’ala yang berupa dominasi kekuasaan orang-orang kafir atas kaum muslimin akan menimpa umat ini.
5. Jika para pemimpin enggan berhukum dengan hukum Allah Ta'ala
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Dan selama pemimpin-pemimpin mereka (kaum muslimin) tidak berhukum dengan Kitabullah (al-Quran) dan mengambil yang terbaik dari apa-apa yang diturunkan oleh Allah (syariat Islam), melainkan Allah akan menjadikan permusuhan di antara mereka.”
Peringatan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di atas sangat perlu menjadi perhatian kita bersama. Kita semua meyakini, setiap kabar yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam jalur periwayatan yang shahih, wajib untuk mengimani dan membenarkannya.
Ayat-ayat Al Quran Tentang Azab yang Menimpa Umat Terdahulu
Ada banyak ayat-ayat Al Quran tentang azab yang menimpa umat-umat terdahulu, yang penting diketahui. Sejumlah ayat dalam surat Al Quran tersebut juga menceritakan... | Halaman Lengkap [494] url asal
#azab-allah #ayat-ayat-al-quran #surat-surat-al-quran #penyebab-turunnya-azab-allah #azab-umat-terdahulu
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 03/01/26 17:32
v/92304/
Ada banyak ayat-ayat Al Qurantentang azab yang menimpa umat-umat terdahulu, yang penting diketahui. Ayat-ayat tersebut dapat kita jumpai dalam surat Al-Ankabut, Al Najm, Hud, Qaf, An Naml, Yunus, Qasas, Saba, dan Ad Dukhan. Sejumlah surat tersebut juga menceritakan kaum yang dibinasakan Allah SWT.Berikut ayat-ayat Al Quran tentang azab yang menimpa umat-umat terdahulu:
1. Surat Al-Ankabut Ayat 14
Artinya: "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim."
Surat Al-Ankabut ayat 14 mengisahkan tentang azab yang diberikan kepada kaum Nabi Nuh AS yang durhaka kepadanya. Allah SWT kemudian mengirimkan banjir bandang dan menenggelamkan mereka.
2. Surat An Najm Ayat 50
Artinya: “..Dan sesungguhnya Dialah yang telah membinasakan kaum ‘Ad dahulu kala,”
Surat An Najm ayat 50 menceritakan bahwa Allah SWT membinasakan kaum ‘Ad yang pertama, kaum Nabi Hud AS. Kemenag menjelaskan dalam tafsirnya, yang dimaksud dengan kaum ‘Ad yang kedua ialah kaum Iram bin Sam bin Nuh.
3. Surat Hud Ayat 68
Artinya: "Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, sesungguhnya kaum Tsamud mengingkari Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Tsamud."
Allah SWT juga menceritakan kisah tentang azab bagi kaum Samud melalui firman-Nya dalam surat Hud ayat 68. Kaum Samud adalah kaum yang mengingkari Nabi Saleh AS.
4. Surat Qaf Ayat 12
Artinya : “Sebelum mereka, kaum Nuh, penduduk Rass dan Samud telah mendustakan (rasul-rasul),”
Surat Qaf ayat 12 menjelaskan tentang beberapa kaum yang mendustakan para rasul terdahulu.
5. Surat An Naml Ayat 54
“Dan (ingatlah kisah) Lut, ketika dia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah (keji), padahal kamu melihatnya (kekejian perbuatan maksiat itu)?”
Surat An Naml ayat 54 mengisahkan tentang kaum Nabi Luth AS yang berkelakuan menyimpang. Mereka adalah kaum Sodom yang menyukai sesama jenis.
6. Surat Saba Ayat 16
Artinya: "Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr."
Surat Saba ayat 15 dan 16 menjelaskan tentang betapa pedihnya azab Allah SWT yang diturunkan kepada kaum Saba
7. Surat Qasas Ayat 40
“Maka Kami siksa dia (Fir’aun) dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang zalim.”
Surat Qasas ayat 40 menceritakan tentang azab yang diturunkan kepada Firaun dan bala tentaranya. Mereka tenggelam dalam laut, sedangkan kaum Nabi Musa AS selamat.
Selain ketujuh surat di atas, kisah tentang azab yang menimpa umat terdahulu juga terdapat dalam surat Yasin: 13, Al Araf: 163, Al Furqan: 38, At Taubah: 70, Al Hijr: 78, Thaha: 40, hingga Asy Syu’ara: 176.
Turunnya azab dunia hendaklah dijadikan sebagai nasihat berharga, yang mampu menambah keyakinan kepada Allah SWT, memperbanyak ibadah atau amal saleh. Atau menjadi energi yang mendorong seseorang untuk bertaubat, kembali kepada pangkuan ridha Allah SWT.
Perbedaan Musibah dan Azab, Begini Penjelasannya Menurut Al Quran
Apa perbedaan antara musibah dan azab dalam Islam? Kedua kata ini seringkali dikaitkan dengan bencana yang terjadi pada manusia. Berikut penjelasannya menurut... | Halaman Lengkap [1,786] url asal
#azab-dan-dosa #azab-allah #bala-dan-musibah #musibah-dalam-islam #penyebab-turunnya-azab-allah
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 28/12/25 14:38
v/26475/
Apa perbedaan antara musibahdan azabdalam Islam? Kedua kata ini seringkali dikaitkan dengan 'bencana' yang terjadi. Seperti peristiwa kebakaran hebat yang melanda kota Los Angeles beberapa waktu lalau maupun kebakaran yang saat ini melanda Israel. Kebanyakan orang-orang menilai bencana tersebut merupakan azab dari Allah SWT.Apa itu musibah? Kata muṣībah (Indonesia: musibah) berasal dari kata a-ṣāba yang berarti sesuatu yang menimpa kita. Kata muṣībah dalam Al-Quran secara umum mengacu pada sesuatu yang netral, tidak negatif atau positif, sekalipun terdapat beberapa ayat yang mengaitkan dengan sesuatu yang negatif.
Kata musibah dalam bahasa Indonesia selalu dikaitkan dengan semua peristiwa yang menyakitkan, menyengsarakan, dan bernilai negatif yang menimpa manusia. Musibah dalam konteks ini merupakan peristiwa yang menimpa manusia baik yang berasal dari peristiwa alam maupun sosial.
Dalam istilah Al-Quran, apa saja yang menimpa manusia disebut dengan “musibah”, baik yang berwujud kebaikan atau keburukan bagi manusia. Seperti dijelaskan dalam SuratAl Hadid ayat 22-23.
Allah juga menjelaskan bahwa jika “musibah” yang berupa kebaikan, maka hal itu berasal dari Allah, dan bila “musibah” berupa keburukan –yang kemudian disebut dengan bencana, maka karena perbuatan manusia sendiri (QS. An Nisa: 79).
Imam Ibnu Mandzur, dalam Lisân al-‘Arab menyatakan bahwa musibah adalah al-dahr (kemalangan, musibah, dan bencana) (Imam Ibnu Mandzur, Lisân al-‘Arab, juz 1, hal. 535).
Sedangkan Imam al-Baidhawi menyebutkan bahwa musibah adalah semua kemalangan yang dibenci dan menimpa umat manusia. Ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW, “Setiap perkara yang menyakiti manusia adalah musibah.” (Imam al-Baidhawi, Tafsir al-Baidhawi, juz 1, hal. 431).
Dalam Al Quran, kata musibah disebutkan di 10 ayat, dan semuanya bermakna kemalangan, musibah, dan bencana yang dibenci manusia. Namun demikian, Allah SWT memerintahkan kaum muslim untuk meyakini bahwa semua musibah itu datang dari Allah Swt, dan atas izin-Nya.
Allah SWT berfirman,
Maaa asaaba mim musii batin illaa bi-iznil laah; wa many yu'mim billaahi yahdi qalbah; wallaahu bikulli shai;in Aliim
“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepadanya hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS al-Taghâbun [64]: 11).
Azab dan Pengertiannya dalam Al Quran
Tentang azab,Imam Ibnu Mandzur dalam Lisân al-‘Arab, juz 1, hal. 585 menjelaskannya sebagai berikut: Secara literal, azab adalah al-nakâl wa al-‘uqûbah (peringatan bagi yang lain, dan siksaan [hukuman]) Al-nakâl adalah peringatan yang berupa siksaan atau hukuman kepada yang lain. Kata al-‘adzab biasanya digunakan pada konteks hukuman atau siksaan kelak di hari akhir.Allah SWTberfirman,
“Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” (QS al-Baqarah [2]: 7)
Kemudian ayat :
“Sesungguhnya, orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akherat, Kami sediakan bagi mereka azab yang pedih.” (QS al-Isrâ’ [17]: 10), dan lain sebagainya.
Namun demikian, kata azab juga digunakan dalam konteks hukuman di kehidupan dunia. Allah Swt. berfirman,
“Tak ada suatu negeri pun yang durhaka penduduknya, melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat, atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab lauhulmahfuz.” (QS al-Isrâ’ [17]: 58)
Menurut Ali ash-Shabuni, jika penduduk suatu kota ingkar atau bermaksiat kepada perintah Allah SWT mendustakan Rasul-rasul-Nya, niscaya Allah akan menghancurkan mereka, baik dengan kehancuran secara total (pemusnahan), maupun ditimpa dengan hukuman yang amat keras (Ali ash-Shabuni, Shafwât at-Tafâsîr, juz 2, hal. 165).
Di ayat yang lain, Allah SWT berfirman,
“Sekiranya mereka tidak bercampur baur, tentulah Kami akan mengazab orang-orang kafir di antara mereka dengan azab yang pedih.” (QS al-Fath [48]: 25)
Tatkala menafsirkan ayat ini, Ali ash-Shabuni mengatakan, “Seandainya orang-orang kafir itu dipisahkan satu dengan yang lain, kemudian dipisahkan antara yang mukmin dengan yang kafir, tentulah Allah akan mengazab orang-orang kafir dengan azab yang sangat keras, berupa pembunuhan, penawanan, maupun pengusiran dari negeri mereka-negeri mereka.” (Ali ash-Shabuni, Shafwât at-Tafâsîr, juz 3, hal. 48).
Keterangan ini diperkuat dengan firman Allah SWTyang lain, yakni,
“Dan jikalau tidaklah karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka, benar-benar Allah mengazab mereka di dunia. Dan bagi mereka di akhirat azab neraka.” (QS al-Hasyr [59]: 3)
Ayat ini bercerita tentang pengusiran Bani Nadzir, sekaligus mengisahkan bahwa jikalau Allah Swt.. tidak menetapkan hukuman pengusiran terhadap Bani Nadzir, niscaya mereka akan diazab dengan pembunuhan (al-qatl). Hukuman bagi mereka cukup dengan pengusiran, bukan pembunuhan seperti halnya hukuman bagi Yahudi Bani Quraidzah.
Ayat di atas juga menunjukkan, bahwa azab tidak hanya berasal dari Allah SWT, tetapi juga bersumber dari manusia sendiri, yakni berupa hukuman atau sanksi di kehidupan dunia.
Penyebab Datangnya Azab Allah
Pada dasarnya, penyebab datangnya azab Allah Swt adalah kezaliman, kemaksiatan, dan kefasikan. Allah SWT telah menyatakan hal ini di beberapa ayat; diantaranya adalah firman Allah Swt.,“Dan tidak pernah Kami membinasakan kota-kota, kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kedzaliman.” (QS al-Qashash [28]: 59)
“Maka tidak dibinasakan kecuali kaum yang fasik.” (QS al-Ahqâf [46]: 35)
“Kami telah membinasakan mereka, karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berbuat dosa (al-mujrim).” (QS ad-Dukhân [44]: 37)
Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa azab Allah hanya akan dijatuhkan kepada penduduk negeri yang melakukan kezaliman, kemaksiatan, dan kefasikan. Dengan kata lain, azab Allah hanya akan dijatuhkan tatkala peringatan-peringatan Allah Swt. melalui lisan Rasul-Nya telah diabaikan dan didustakan.
Akan tetapi, ada beberapa riwayat yang menunjukkan bahwa azab Allah bisa saja mengenai orang-orang mukmin tatkala mereka enggan mencegah kemungkaran, padahal mereka mampu melakukannya. Dari Adi bin Umairah dituturkan, bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah bersabda,
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengazab orang-orang secara keseluruhan akibat perbuatan mungkar yang dilakukan oleh seseorang, kecuali mereka melihat kemungkaran itu di depannya, dan mereka sanggup menolaknya, akan tetapi mereka tidak menolaknya. Apabila mereka melakukannya, niscaya Allah akan mengazab orang yang melakukan kemungkaran tadi dan semua orang secara menyeluruh.” (HR Imam Ahmad)
Sedangkan azab manusia, baik berupa pembunuhan, teror, pengusiran, dan lain sebagainya semata-mata tergantung dari kehendak manusia itu sendiri. Contohnya, Firaun pernah mengumumkan hukuman bunuh bagi bayi yang lahir laki-laki. Rasulullah saw. menghukum Bani Quraidzah dengan pembunuhan atas pengkhianatan mereka. Nabi saw. juga pernah mengusir Bani Nadzir dari kota Madinah, sebagai hukuman atas makar yang mereka lakukan.
Jenis-Jenis Azab Allah
Azab Allah SWT ada dua jenis. Pertama, azab yang ditimpakan kepada penduduk suatu negeri yang berakibat musnahnya penduduk kota tersebut (isti’shâl). Kedua, azab yang sangat keras, tetapi tidak sampai memusnahkan penduduk negeri tersebut.Azab jenis pertama dijatuhkan Allah Swt. kepada umat terdahulu, seperti kaumnya Nabi Nuh, kaum Tsamud, dan lain sebagainya. Kaum-kaum tersebut telah dimusnahkan Allah Swt. akibat pengingkaran mereka terhadap tanda-tanda kebesaran Allah Swt.. Sebab, jika tanda-tanda kebesaran Allah Swt. telah ditunjukkan kepada suatu kaum, tetapi kaum tersebut tetap saja ingkar dan mendustakan Allah dan Rasul-Nya, Allah Swt. pasti akan memusnahkan kaum tersebut.
Allah SWT berfirman,
“Tak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu tertulis di dalam kitab (lauhulmahfuz). Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan tanda-tanda kekuasaan Kami, melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu.” (QS al-Isrâ’ : 58-59)
Allah Swt. telah menetapkan bahwa orang-orang yang mendustakan tanda-tanda kekuasaan-Nya akan dimusnahkan Allah Swt. Tanda kebesaran Allah ini pernah diberikan kepada rasul-rasul terdahulu; misalnya, unta betinanya Nabi Shaleh bagi kaum Tsamud. Sayangnya, kaum Tsamud mengingkari tanda kebesaran Allah ini. Akhirnya kaum Tsamud dimusnahkan dari muka bumi.
Mayoritas ahli tafsir menyatakan, bahwa ayat ini berhubungan dengan permintaan orang-orang Quraisy kepada Nabi saw. agar beliau saw. menunjukkan tanda-tanda kekuasaan Allah sebagai bukti kebenaran kenabian dan risalahnya. Akan tetapi, Allah Swt. memberitahu Nabi saw., bahwa jika Allah mengabulkan permintaan mereka, tetapi mereka tetap saja ingkar dan mendustakan tanda-tanda kebesaran Allah tersebut, niscaya mereka akan dimusnahkan, sebagaimana kaum-kaum terdahulu (Ali ash-Shabuni, Shafwât at-Tafâsîr, juz 2, hal. 165). Oleh karena itu, Allah Swt. tidak mengiyakan permintaan kaum Quraisy tersebut, dikarenakan Ia tidak ingin memusnahkan kaum Quraisy.
Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa azab isti’shâl (pemusnahan) tidak akan menimpa umat Muhammad SAW. Namun, umat Muhammad saw. tidak luput dari azab yang keras, jika mereka melakukan kezaliman, kefasikan, dan kekufuran.
Azab Akibat Penguasa Zalim
Jika penguasa atau pembesar-pembesar suatu negeri atau kota melakukan kemaksiatan, kedurhakaan, dan kezaliman, niscaya Allah akan mengirimkan azab kepada penduduk negeri tersebut. Al-Qur’an telah menyatakan hal ini dengan sangat jelas,“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah Swt.), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu. Maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS Al-isrâ’ [17]: 16).
Ibnu Abbas tatkala menafsirkan ayat ini menyatakan, “Maksud ayat ini adalah, jika Kami (Allah) telah memberikan kekuasaan kepada pembesar-pembesar di sebuah kota, kemudian mereka berbuat maksiat di dalamnya, maka Allah Swt. akan menghancurkan penduduk di negeri tersebut dengan azab.” (Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir, juz 2, hal. 371).
Di ayat lain, Allah Swt. telah mendiskripsikan kerusakan di darat dan laut akibat perbuatan manusia. Allah Swt. berfirman,
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (QS ar-Rûm [30]: 41).
Imam Baidhawi berkata, “Yang dimaksud dengan kerusakan (pada ayat tersebut) adalah paceklik al-jadb), kebakaran yang merajalela, ketenggelaman, hilangnya keberkahan, dan banyaknya kelaparan, akibat kemaksiatan dan ulah perbuatan manusia.” (Imam al-Baidhawi, Tafsir al-Baidhawi, juz 2, hal. 106).
Menurut Imam Ibnu Katsir, yang dimaksud kerusakan adalah berkurangnya hasil-hasil pertanian dan buah-buahan karena kemaksiatan manusia. Sebab, baiknya bumi dan langit tergantung dengan ketaatan (Mukhtasar Tafsir Ibnu Katsir, hal. 57).
Kezaliman penguasa dan keengganan rakyat melakukan koreksi dan muhasabah terhadap penguasa merupakan pemicu datangnya azab dari Allah Swt.. Sebaliknya, ketaatan kepada Allah Swt. merupakan kunci bagi perbaikan bumi dan seisinya.
Hikmah
Seorang mukmin harus meyakini bahwa seluruh musibah yang menimpa dirinya berasal dari Allah SWT. Sebab, tidak ada satupun musibah yang terjadi di muka bumi ini, kecuali atas kehendak dan izin Allah Swt. Akan tetapi, seorang mukmin juga wajib mengimani adanya musibah-musibah yang disebabkan karena kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia.Sesungguhnya, musibah maupun azab yang ditimpakan Allah Swt. kepada manusia ditujukan agar mereka kembali mentauhidkan Allah Swt., dan menjalankan seluruh syariat-Nya dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Sayangnya, banyak orang memandang musibah sebagai peristiwa dan fenomena alam biasa, bukan sebagai peringatan dan pelajaran dari Allah Swt. Wallahu A'lam
5 Penyebab Turunnya Azab Allah SWT, Kaum Muslim Wajib Tahu!
Dalam Islam, ada beberapa perkara atau penyebab yang bisa menurunkan azab Allah SWT di dunia. Bahkan, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam telah memberikan peringatan... | Halaman Lengkap [551] url asal
#azab-dan-dosa #azab-allah #kuasa-allah-swt #kebesaran-allah #penyebab-turunnya-azab-allah
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 02/12/25 09:30
v/57594/
Dalam Islam, ada beberapa perkara atau penyebab yang bisa menurunkan azab Allah SWTdi dunia. Bahkan, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam telah memberikan peringatan kepada umatnya tentang perkara tersebut.Dalam salah satu sabda Nabi SAWyang didokumentasikan dalam kitab Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan dengan sanad yang shahih. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam bersabda:
“Wahai sekalian kaum Muhajirin, ada lima hal yang jika kalian terjatuh ke dalamnya, dan aku berlindung kepada Allah supaya kalian tidak menjumpainya.” (HR Ibnu Majah no 4019)
5 Perkara yang Menjadi Sebab Turunnya Azab Allah SWT :
1. Jika zina dianggap biasa
Perbuatan yang menjadi sebab azab Allahsubhanahu wata’ala di dunia yang pertama adalah zina.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidaklah tampak zina di suatu kaum lalu dilakukan secara terang-terangan, kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka penyakit tha’un dan penyakit-penyakit yang tidak pernah menjangkiti generasi sebelumnya.”
Ini adalah peringatan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat keras dan tegas.
Zina adalah perbuatan dosa. Bahkan termasuk dosa besar. Apabila zina yang termasuk dosa besar ini dilakukan secara terang-terangan di ruang terbuka tanpa rasa malu, maka inilah yang menjadi salah satu sebab Allah Ta'ala menurunkan azabnya di dunia berupa penyakit Tha’un dan penyakit wabah lainnya yang belum pernah ada sebelumnya.
2. Jika para pedagang berbuat curang dengan mengurangi timbangan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan kecuali akan ditimpa paceklik, susahnya penghidupan, dan kezaliman penguasa atas mereka.”
Datangnya paceklik dan kekeringan yang menjadi sumber krisis kemiskinan dan merebaknya kriminalitas bukanlah kondisi yang datang tanpa sebab.
3. Jika enggan membayar zakat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Tidaklah mereka menahan zakat (tidak membayarnya) kecuali hujan dari langit akan ditahan dari mereka (hujan tidak turun), dan sekiranya bukan karena hewan-hewan, niscaya manusia tidak akan diberi hujan.”
Syariat Allah subhanahu wata’ala berupa zakat bukanlah aturan yang membuat manusia sengsara. Di balik perintah membayar zakat, terdapat hikmah yang sangat luar biasa.
Melalui syariat zakat, misi pemerataan kesejahteraan ekonomi umat dapat tercapai, penimbunan harta pada segolongan pihak dapat dihindari, juga menjadi cara yang paling efektif dalam membersihkan harta yang dimiliki oleh tiap pribadi muslim.
4. Jika terjadi pelanggaran terhadap perjanjian dengan Allah dan Rasul-Nya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Tidaklah mereka melanggar perjanjian mereka dengan Allah dan Rasul-Nya, kecuali Allah akan menjadikan musuh mereka (dari kalangan selain mereka; orang kafir) berkuasa atas mereka, lalu musuh tersebut mengambil sebagian apa yang mereka miliki.”
Menjadi salah satu sebab turunnya azab Allah Ta'ala di dunia adalah sikap sebagian kaum muslimin yang suka melanggar perjanjian yang dibuat atas nama Allah Ta'ala dan Rasul-Nya.
Jika perbuatan ini telah merebak di tengah masyarakat, maka azab Allah subhanahu wata’ala yang berupa dominasi kekuasaan orang-orang kafir atas kaum muslimin akan menimpa umat ini.
5. Jika para pemimpin enggan berhukum dengan hukum Allah Ta'ala
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Dan selama pemimpin-pemimpin mereka (kaum muslimin) tidak berhukum dengan Kitabullah (al-Quran) dan mengambil yang terbaik dari apa-apa yang diturunkan oleh Allah (syariat Islam), melainkan Allah akan menjadikan permusuhan di antara mereka.”
Peringatan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di atas sangat perlu menjadi perhatian kita bersama. Kita semua meyakini, setiap kabar yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam jalur periwayatan yang shahih, wajib untuk mengimani dan membenarkannya.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56