#30 tag 24jam
Perbedaan Musibah dan Azab, Begini Penjelasannya Menurut Al Quran
Apa perbedaan antara musibah dan azab dalam Islam? Kedua kata ini seringkali dikaitkan dengan bencana yang terjadi pada manusia. Berikut penjelasannya menurut... | Halaman Lengkap [1,786] url asal
#azab-dan-dosa #azab-allah #bala-dan-musibah #musibah-dalam-islam #penyebab-turunnya-azab-allah
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 28/12/25 14:38
v/26475/
Apa perbedaan antara musibahdan azabdalam Islam? Kedua kata ini seringkali dikaitkan dengan 'bencana' yang terjadi. Seperti peristiwa kebakaran hebat yang melanda kota Los Angeles beberapa waktu lalau maupun kebakaran yang saat ini melanda Israel. Kebanyakan orang-orang menilai bencana tersebut merupakan azab dari Allah SWT.Apa itu musibah? Kata muṣībah (Indonesia: musibah) berasal dari kata a-ṣāba yang berarti sesuatu yang menimpa kita. Kata muṣībah dalam Al-Quran secara umum mengacu pada sesuatu yang netral, tidak negatif atau positif, sekalipun terdapat beberapa ayat yang mengaitkan dengan sesuatu yang negatif.
Kata musibah dalam bahasa Indonesia selalu dikaitkan dengan semua peristiwa yang menyakitkan, menyengsarakan, dan bernilai negatif yang menimpa manusia. Musibah dalam konteks ini merupakan peristiwa yang menimpa manusia baik yang berasal dari peristiwa alam maupun sosial.
Dalam istilah Al-Quran, apa saja yang menimpa manusia disebut dengan “musibah”, baik yang berwujud kebaikan atau keburukan bagi manusia. Seperti dijelaskan dalam SuratAl Hadid ayat 22-23.
Allah juga menjelaskan bahwa jika “musibah” yang berupa kebaikan, maka hal itu berasal dari Allah, dan bila “musibah” berupa keburukan –yang kemudian disebut dengan bencana, maka karena perbuatan manusia sendiri (QS. An Nisa: 79).
Imam Ibnu Mandzur, dalam Lisân al-‘Arab menyatakan bahwa musibah adalah al-dahr (kemalangan, musibah, dan bencana) (Imam Ibnu Mandzur, Lisân al-‘Arab, juz 1, hal. 535).
Sedangkan Imam al-Baidhawi menyebutkan bahwa musibah adalah semua kemalangan yang dibenci dan menimpa umat manusia. Ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW, “Setiap perkara yang menyakiti manusia adalah musibah.” (Imam al-Baidhawi, Tafsir al-Baidhawi, juz 1, hal. 431).
Dalam Al Quran, kata musibah disebutkan di 10 ayat, dan semuanya bermakna kemalangan, musibah, dan bencana yang dibenci manusia. Namun demikian, Allah SWT memerintahkan kaum muslim untuk meyakini bahwa semua musibah itu datang dari Allah Swt, dan atas izin-Nya.
Allah SWT berfirman,
Maaa asaaba mim musii batin illaa bi-iznil laah; wa many yu'mim billaahi yahdi qalbah; wallaahu bikulli shai;in Aliim
“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepadanya hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS al-Taghâbun [64]: 11).
Azab dan Pengertiannya dalam Al Quran
Tentang azab,Imam Ibnu Mandzur dalam Lisân al-‘Arab, juz 1, hal. 585 menjelaskannya sebagai berikut: Secara literal, azab adalah al-nakâl wa al-‘uqûbah (peringatan bagi yang lain, dan siksaan [hukuman]) Al-nakâl adalah peringatan yang berupa siksaan atau hukuman kepada yang lain. Kata al-‘adzab biasanya digunakan pada konteks hukuman atau siksaan kelak di hari akhir.Allah SWTberfirman,
“Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” (QS al-Baqarah [2]: 7)
Kemudian ayat :
“Sesungguhnya, orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akherat, Kami sediakan bagi mereka azab yang pedih.” (QS al-Isrâ’ [17]: 10), dan lain sebagainya.
Namun demikian, kata azab juga digunakan dalam konteks hukuman di kehidupan dunia. Allah Swt. berfirman,
“Tak ada suatu negeri pun yang durhaka penduduknya, melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat, atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab lauhulmahfuz.” (QS al-Isrâ’ [17]: 58)
Menurut Ali ash-Shabuni, jika penduduk suatu kota ingkar atau bermaksiat kepada perintah Allah SWT mendustakan Rasul-rasul-Nya, niscaya Allah akan menghancurkan mereka, baik dengan kehancuran secara total (pemusnahan), maupun ditimpa dengan hukuman yang amat keras (Ali ash-Shabuni, Shafwât at-Tafâsîr, juz 2, hal. 165).
Di ayat yang lain, Allah SWT berfirman,
“Sekiranya mereka tidak bercampur baur, tentulah Kami akan mengazab orang-orang kafir di antara mereka dengan azab yang pedih.” (QS al-Fath [48]: 25)
Tatkala menafsirkan ayat ini, Ali ash-Shabuni mengatakan, “Seandainya orang-orang kafir itu dipisahkan satu dengan yang lain, kemudian dipisahkan antara yang mukmin dengan yang kafir, tentulah Allah akan mengazab orang-orang kafir dengan azab yang sangat keras, berupa pembunuhan, penawanan, maupun pengusiran dari negeri mereka-negeri mereka.” (Ali ash-Shabuni, Shafwât at-Tafâsîr, juz 3, hal. 48).
Keterangan ini diperkuat dengan firman Allah SWTyang lain, yakni,
“Dan jikalau tidaklah karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka, benar-benar Allah mengazab mereka di dunia. Dan bagi mereka di akhirat azab neraka.” (QS al-Hasyr [59]: 3)
Ayat ini bercerita tentang pengusiran Bani Nadzir, sekaligus mengisahkan bahwa jikalau Allah Swt.. tidak menetapkan hukuman pengusiran terhadap Bani Nadzir, niscaya mereka akan diazab dengan pembunuhan (al-qatl). Hukuman bagi mereka cukup dengan pengusiran, bukan pembunuhan seperti halnya hukuman bagi Yahudi Bani Quraidzah.
Ayat di atas juga menunjukkan, bahwa azab tidak hanya berasal dari Allah SWT, tetapi juga bersumber dari manusia sendiri, yakni berupa hukuman atau sanksi di kehidupan dunia.
Penyebab Datangnya Azab Allah
Pada dasarnya, penyebab datangnya azab Allah Swt adalah kezaliman, kemaksiatan, dan kefasikan. Allah SWT telah menyatakan hal ini di beberapa ayat; diantaranya adalah firman Allah Swt.,“Dan tidak pernah Kami membinasakan kota-kota, kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kedzaliman.” (QS al-Qashash [28]: 59)
“Maka tidak dibinasakan kecuali kaum yang fasik.” (QS al-Ahqâf [46]: 35)
“Kami telah membinasakan mereka, karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berbuat dosa (al-mujrim).” (QS ad-Dukhân [44]: 37)
Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa azab Allah hanya akan dijatuhkan kepada penduduk negeri yang melakukan kezaliman, kemaksiatan, dan kefasikan. Dengan kata lain, azab Allah hanya akan dijatuhkan tatkala peringatan-peringatan Allah Swt. melalui lisan Rasul-Nya telah diabaikan dan didustakan.
Akan tetapi, ada beberapa riwayat yang menunjukkan bahwa azab Allah bisa saja mengenai orang-orang mukmin tatkala mereka enggan mencegah kemungkaran, padahal mereka mampu melakukannya. Dari Adi bin Umairah dituturkan, bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah bersabda,
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengazab orang-orang secara keseluruhan akibat perbuatan mungkar yang dilakukan oleh seseorang, kecuali mereka melihat kemungkaran itu di depannya, dan mereka sanggup menolaknya, akan tetapi mereka tidak menolaknya. Apabila mereka melakukannya, niscaya Allah akan mengazab orang yang melakukan kemungkaran tadi dan semua orang secara menyeluruh.” (HR Imam Ahmad)
Sedangkan azab manusia, baik berupa pembunuhan, teror, pengusiran, dan lain sebagainya semata-mata tergantung dari kehendak manusia itu sendiri. Contohnya, Firaun pernah mengumumkan hukuman bunuh bagi bayi yang lahir laki-laki. Rasulullah saw. menghukum Bani Quraidzah dengan pembunuhan atas pengkhianatan mereka. Nabi saw. juga pernah mengusir Bani Nadzir dari kota Madinah, sebagai hukuman atas makar yang mereka lakukan.
Jenis-Jenis Azab Allah
Azab Allah SWT ada dua jenis. Pertama, azab yang ditimpakan kepada penduduk suatu negeri yang berakibat musnahnya penduduk kota tersebut (isti’shâl). Kedua, azab yang sangat keras, tetapi tidak sampai memusnahkan penduduk negeri tersebut.Azab jenis pertama dijatuhkan Allah Swt. kepada umat terdahulu, seperti kaumnya Nabi Nuh, kaum Tsamud, dan lain sebagainya. Kaum-kaum tersebut telah dimusnahkan Allah Swt. akibat pengingkaran mereka terhadap tanda-tanda kebesaran Allah Swt.. Sebab, jika tanda-tanda kebesaran Allah Swt. telah ditunjukkan kepada suatu kaum, tetapi kaum tersebut tetap saja ingkar dan mendustakan Allah dan Rasul-Nya, Allah Swt. pasti akan memusnahkan kaum tersebut.
Allah SWT berfirman,
“Tak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu tertulis di dalam kitab (lauhulmahfuz). Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan tanda-tanda kekuasaan Kami, melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu.” (QS al-Isrâ’ : 58-59)
Allah Swt. telah menetapkan bahwa orang-orang yang mendustakan tanda-tanda kekuasaan-Nya akan dimusnahkan Allah Swt. Tanda kebesaran Allah ini pernah diberikan kepada rasul-rasul terdahulu; misalnya, unta betinanya Nabi Shaleh bagi kaum Tsamud. Sayangnya, kaum Tsamud mengingkari tanda kebesaran Allah ini. Akhirnya kaum Tsamud dimusnahkan dari muka bumi.
Mayoritas ahli tafsir menyatakan, bahwa ayat ini berhubungan dengan permintaan orang-orang Quraisy kepada Nabi saw. agar beliau saw. menunjukkan tanda-tanda kekuasaan Allah sebagai bukti kebenaran kenabian dan risalahnya. Akan tetapi, Allah Swt. memberitahu Nabi saw., bahwa jika Allah mengabulkan permintaan mereka, tetapi mereka tetap saja ingkar dan mendustakan tanda-tanda kebesaran Allah tersebut, niscaya mereka akan dimusnahkan, sebagaimana kaum-kaum terdahulu (Ali ash-Shabuni, Shafwât at-Tafâsîr, juz 2, hal. 165). Oleh karena itu, Allah Swt. tidak mengiyakan permintaan kaum Quraisy tersebut, dikarenakan Ia tidak ingin memusnahkan kaum Quraisy.
Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa azab isti’shâl (pemusnahan) tidak akan menimpa umat Muhammad SAW. Namun, umat Muhammad saw. tidak luput dari azab yang keras, jika mereka melakukan kezaliman, kefasikan, dan kekufuran.
Azab Akibat Penguasa Zalim
Jika penguasa atau pembesar-pembesar suatu negeri atau kota melakukan kemaksiatan, kedurhakaan, dan kezaliman, niscaya Allah akan mengirimkan azab kepada penduduk negeri tersebut. Al-Qur’an telah menyatakan hal ini dengan sangat jelas,“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah Swt.), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu. Maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS Al-isrâ’ [17]: 16).
Ibnu Abbas tatkala menafsirkan ayat ini menyatakan, “Maksud ayat ini adalah, jika Kami (Allah) telah memberikan kekuasaan kepada pembesar-pembesar di sebuah kota, kemudian mereka berbuat maksiat di dalamnya, maka Allah Swt. akan menghancurkan penduduk di negeri tersebut dengan azab.” (Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir, juz 2, hal. 371).
Di ayat lain, Allah Swt. telah mendiskripsikan kerusakan di darat dan laut akibat perbuatan manusia. Allah Swt. berfirman,
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (QS ar-Rûm [30]: 41).
Imam Baidhawi berkata, “Yang dimaksud dengan kerusakan (pada ayat tersebut) adalah paceklik al-jadb), kebakaran yang merajalela, ketenggelaman, hilangnya keberkahan, dan banyaknya kelaparan, akibat kemaksiatan dan ulah perbuatan manusia.” (Imam al-Baidhawi, Tafsir al-Baidhawi, juz 2, hal. 106).
Menurut Imam Ibnu Katsir, yang dimaksud kerusakan adalah berkurangnya hasil-hasil pertanian dan buah-buahan karena kemaksiatan manusia. Sebab, baiknya bumi dan langit tergantung dengan ketaatan (Mukhtasar Tafsir Ibnu Katsir, hal. 57).
Kezaliman penguasa dan keengganan rakyat melakukan koreksi dan muhasabah terhadap penguasa merupakan pemicu datangnya azab dari Allah Swt.. Sebaliknya, ketaatan kepada Allah Swt. merupakan kunci bagi perbaikan bumi dan seisinya.
Hikmah
Seorang mukmin harus meyakini bahwa seluruh musibah yang menimpa dirinya berasal dari Allah SWT. Sebab, tidak ada satupun musibah yang terjadi di muka bumi ini, kecuali atas kehendak dan izin Allah Swt. Akan tetapi, seorang mukmin juga wajib mengimani adanya musibah-musibah yang disebabkan karena kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia.Sesungguhnya, musibah maupun azab yang ditimpakan Allah Swt. kepada manusia ditujukan agar mereka kembali mentauhidkan Allah Swt., dan menjalankan seluruh syariat-Nya dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Sayangnya, banyak orang memandang musibah sebagai peristiwa dan fenomena alam biasa, bukan sebagai peringatan dan pelajaran dari Allah Swt. Wallahu A'lam
Memahami Bencana sebagai Ujian dari Allah SWT, Begini Penjelasannya
Ketika bencana datang bertubi-tubi, bagaimana seharusnya sikap seorang muslim? Hal ini menarik untuk dibahas, mengingat akhir-akhir ini banyak terjadi bencana alam... | Halaman Lengkap [1,008] url asal
#bencana #bala-dan-musibah #sikap-muslim-saat-musibah #bencana-menurut-islam #musibah-dalam-islam
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 28/12/25 05:15
v/86269/
Ketika bencanadatang bertubi-tubi, bagaimana seharusnya sikap seorang muslim? Hal ini menarik untuk dibahas, mengingat akhir-akhir ini banyak terjadi bencana alam di berbagai daerah di Indonesia. Berikut ulasan dan penjelasannyaDalam pandangan Islam, bencana atau musibah tidak pernah berdiri sendirian, selalu ada hikmah, pesan, dan pengingat di baliknya. Dalam kondisi seperti ini, justrusikap seorang Muslimsedang diuji. Apakah tetap tenang? Apakah mampu menahan diri dari menyalahkan? Atau justru menjadikan musibah sebagai momen muhasabah?
Dalam Al-Qur’an, Allah sudah mengingatkan bahwa ujian adalah bagian dari sunnatullah. Salah satu ayat yang paling sering dibacakan ketika bencana atau musibahterjadi adalah QS Al-Baqarah: 155–157:
“…Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
Ayat ini membuat banyak orang bertanya, “Apakah bencana selalu berarti azab?” Jawabannya: tidak selalu. Dalam banyak kondisi, musibah justru menjadi pengingat agar manusia kembali kepada jalan Allah, memperbaiki diri, dan melihat ulang hubungan antara manusia dengan lingkungan.
Sebab bencana juga bisa menjadi alarm untuk muhasabah, mengingatkan bahwa kerusakan di muka bumi sering kali lahir dari kelalaian manusia sendiri, seperti yang disebutkan dalam QS Ar-Rum: 41:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar-Rum : 41)
Maka, alih-alih memandang musibah sebagai hukuman, lebih tepat jika memahaminya sebagai jalan pulang untuk memperbaiki hati dan tindakan.
Sikap Utama Seorang Muslim
Dirangkum dari berbagai sumber, berikut beberapa sikap yang dianjurkan juga dicontohkan oleh Rasulullah SAW ketika menghadapi musibah.1. Bersabar dan Bertawakal
Respon pertama yang dianjurkan adalah mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”. Kalimat ini bukan hanya ungkapan duka, tetapi pengakuan penuh bahwa semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Sikap ini membantu menenangkan hati, mencegah lahirnya keluhan, dan menahan diri dari menyalahkan siapa pun.2. Beristigfar dan Bertaubat
Tidak sedikit ulama yang mengingatkan bahwa musibah sering kali menjadi tanda agar manusia memperbanyak istighfar. Ada yang bertanya, “Mengapa harus istighfar padahal musibah bukan selalu akibat dosa?” Jawabannya sederhana: istighfar memperbaiki hubungan dengan Allah sekaligus membersihkan hati agar lebih siap menerima takdir apa pun.3. Ikhlas Menerima
Allah berfirman dalam QS An-Nisa: 78 bahwa apa pun yang menimpa seseorang sudah berada dalam ketetapan-Nya. Ikhlas bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi menerima kenyataan dengan hati lapang sambil tetap mencari solusi terbaik.Rahasia Musibah dan Amalan yang Dianjurkan
Menurut Ustaz Oemar Mita dalam salah satu tausiyahnya, bencana atau musibah adalah hal yang pasti dialami seseorang. Namun, tak seorang pun tahu kapan ujian itu datang. "Yang perlu kita lakukan adalah mempersiapkan diri. Kalau mendapatkan musibah kita mengucapkan kalimat Istirja (inaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun). Kalau kita mengucapkan yang baik maka kita akan mendapatkan yang baik. Sebaliknya kalau kita ucapkan yang buruk maka kita akan mendapatkan yang buruk," kata Ustaz Oemar.Apabila mendapat musibah, seseorang diperintahkan untuk bersabar. Jangan terburu-buru meskipun hakikatnya manusia sifatnya terburu-buru. Sebagaimana Nabi Yusuf 'Alaihissalam ketika dipenjara, beliau bersabar selama bertahun-tahun hingga akhirnya diangkat menjadi pejabat menteri di Mesir. Ketika mendapat musibah kita harus sabar dan harus menyembunyikannya. Tidak perlu curhat kepada banyak orang, cukup curhat kepada satu orang saja. Sebab, semakin banyak musibah diceritakan kepada Allah Ta'ala, maka pertolongan Allah semakin besar pula.
"Ketika handphone-nya hilang dianggap berat, tapi ketika anaknya diajak laki-laki dibiarkan saja. Di sinilah kita perlu belajar mana perkara ringan dan mana perkara berat," jelas Ustaz Oemar.
Ibnul Qayyim mengatakan: "Kita susah membaca hikmah karena hati kita kotor. Kalau hati itu kotor gak bisa menyerap hikmah dari takdir yang kita hadapi."
Ada ulama Salaf, beliau punya istri yang cerewet dan kata-katanya menyakitkan. Orang-orang sudah bilang agar berpisah, tapi ulama ini berkata "mungkin ada kebaikan yang bisa saya ambil". Alhasil, istrinya hamil dan anaknya menjadi anak yang saleh dan menjadi seorang ulama. Anaknya berkata "saya menjadi seperti ini karena berkat kesabaran ayah saya dalam menghadapi ibu saya".
Kemudian, Ustaz Oemar Mita menjelaskan amalan yang bisa dilakukan agar musibah menjadi anugerah, yaitu dengan memperbanyak Istighfar . Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu, Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa memperbanyak istighfar niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka." (HR. Ahmad)
Contohnya Nabi Yunus 'Alaihissalam, ucapan istighfarnya menjadi penyelamat dari kesulitan yang dihadapiya. Beliau berkata:
"Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau (Ya Allah), Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk di antara orang-orang yang berbuat zalim/aniaya." (QS Al-Anbiya ayat 87)
Zikirnya Nabi Yunus ini terdengar oleh penduduk langit. Ketika Nabi Yunus di dalam perut ikan paus, Allah Ta'ala memberikan pertolongan. Makanya istighfar bagi orang yang tidak beriman itu tak ada hubungannya. Orang yang beristighfar itu membersihkan dirinya dari dosa. Jika sudah membersihkan diri dari dosa, maka pertolongan Allah akan datang.
Lalu apa bedanya istighfar dengan taubat? Istighfar tidak identik dengan dosa, kalau taubat identik dengan dosa. Istighfar itu fungsinya untuk menghalangi dari dosa yang akan datang, sedangkan taubat untuk membersihkan diri dari dosa yang lalu. Taubat tak bisa diwakili, kalau istighfar bisa diwakili. Misalnya, seorang anak memintakan ampunan untuk orang tuanya. Kita harus memahami tentunya tidak semua masalah bisa selesai dengan istighfar, namun amalan istighfar bisa melapangkan setiap urusan.
Istighfar yang paling baik itu adalah Sayyidul Istighfar.
"Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau. Engkau yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku kepada-Mu, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau." Istighfar itu dahsyat, sangkin dahsyatnya Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa mengucapkannya di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum waktu sore, maka ia termasuk penghuni surga. Barang siapa membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk penghuni surga." (HR Bukhari No. 6303)
5 Sebab Sedekah Mampu Menolak Bala dan Musibah, Kaum Muslim Wajib Tahu!
Selain pahala besar yang Allah SWT janjikan, salah satu fungsi sedekah ini yakni untuk menolak bala dan bencana dalam kehidupan manusia. Terutama, jika kita bersedekah... | Halaman Lengkap [720] url asal
#sedekah #rebo-wekasan #bala-dan-musibah #keutamaan-sedekah #amalan-rebo-wekasan
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 16/12/25 05:15
v/73925/
Ada beberapa sebab sedekahatau bersedekah bisa menolak bala atau musibah. Begini penjelasan dalil-dalilnya. Seperti diketahui, dalam Islam sedekah memiliki banyak keutamaan. Selain pahala besar yang Allah SWT janjikan, salah satu fungsi sedekah ini yakni untuk menolak bala dan bencanadalam kehidupan manusia. Terutama, jika kita bersedekah saat dalam keadaan sulit.Beberapa hadis Nabi SAW banyak menjelaskan tentang hal tersebut. Karena dengan sedekah, maka akan meringankan beban kita, meringankan beban orang lain, dan menjadi pembawa keselamatan serta keberkahan di antara hidup manusia. Untuk itu, betapa dahsyatnya kekuatan sedekahjika benar-benar seorang muslim laksanakan secara konsisten.
Berikut penjelasan hadis yang berkenaan tentang sedekah yang mampu menolak bala dan bencana untuk kehidupan manusia.
1. Sedekah menolak wabah
Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits riwayat At-Thabrani.“Bersegeralah bersedekah, sebab bala bencana tidak pernah bisa mendahului sedekah. Belilah semua kesulitanmu dengan sedekah. Obatilah penyakitmu dengan sedekah. Sedekah itu sesuatu yang ajaib. Sedekah menolak 70 macam bala dan bencana, dan yang paling ringan adalah penyakit kusta dan sopak (vitiligo).” (HR At-Thabrani)
Sedekah bisa menjauhkan kita dari penyakit dan berbagai kesulitan yang datang dalam hidup kita. Selain itu, ada 70 jenis bala dan bencana lainnya yang bisa menghilangkan berbagai bala dan bencana dalam hidup kita. Jika banyak kesulitan dan hal-hal yang meresahkan dalam hidup kita, bersedekah bisa meringankannya.
2. Sedekah membawa perdamaian
Sedekah juga bisa membawa pada perdamaian dan membuat kemudahan untuk orang lain, khususnya untuk kaum dhuafa. Untuk itu, bersedekahlah saat ada perpecahan atau mungkin perselisihan yang kita alami atau kesulitan yang kita hadapi.Hal ini juga diperjelas oleh hadits dari Abu Hurairah,"Setiap anggota badan manusia diwajibkan bersedekah setiap harinya selama matahari masih terbit. Kamu mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah sedekah. Kamu menolong seseorang naik ke atas kendaraannya atau mengangkat barang bawaannya ke atas kendaraannya adalah sedekah. Setiap langkah kakimu menuju tempat sholat juga dihitung sedekah dan menyingkirkan duri dari jalan adalah sedekah."(HR Bukhari dan Muslim).
3. Bencana tidak melewati sedekah
”Bersegeralah kalian untuk mengeluarkan sedekah, karena sungguh bencana tak dapat melewati sedekah“ (HR Thabrani)Sedekah bukan saja menghindari bencana, tapi bencana tidak akan melewati jika ada orang-orang yang bersedekah. Kita memang tidak bisa memastikan sedekah yang mana dan sedekah apa saja yang bisa menghindarinya. Namun, sedekah tersebut bisa kita lakukan untuk agar bencana tak sedikit pun melewati kita.
Namun kadang, ujian bencana tetap akan datang kepada kita bukan karena Allah tidak sayang dan tidak menilai sedekah kita. Namun, ini adalah bentuk ujian apakah kita akan tetap bersedekah seperti biasanya, walaupun bencana dan kesulitan kita hadapi.
4. Sedekah menolak bencana di akhirat
Bukan saja di dunia, sedekah juga menolak bencana kelak di akhirat dan pada saat hari kiamat. Hal ini juga disampaikan dalam hadits berikut. “Naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sedekahnya.” (HR. Ahmad)Walau tidak kita rasakan di dunia, tetapi Allah akan menjamin bahwa sedekah akan menyelamatkan kita kelak di akhirat. Kita hanya bisa berdoa dan berharap agar semua itu bisa kita dapatkan di akhirat nanti.
5. Sedekah memadamkan kemurkaan Allah
Dalam riwayat al-Tirmidzi dan lainnya, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya sedekah benar-benar memadamkan kemurkaan Allah dan menghindarkan dari kematian yang buruk” (Hasan Li-Ghairihi)Murka Allah adalah hal yang paling kita hindari dan jangan sampai ini hadir di tengah kehidupan kita sebagai manusia dan hamba-Nya. Untuk itu, bersedekahlah agar kemurkaan Allah tidak meliputi kehidupan kita. Jika murka Allah telah hadir di tengah kita, maka kesulitan hidup dan kesesatan akan besar kita terima.
Pendapat Ulama
Imam Ibnul Qayim memiliki pandangan dan penfasiran mengenai sedekah. Hal ini bisa kita ambil pelajaran sekaligus menjadi hikmah bahwa sedekah dalam ajaran Islam begitu penting dan luas manfaatnya. Dalam kitab Al-Waabilus Shayyib, ia menyampaikan, “Sedekah memiliki pengaruh yang ajaib dalam mencegah berbagai bala’, walaupun sedekah dari seorang fajir (ahli maksiat) atau zalim bahkan dari orang kafir. Karena Allah mencegah dengan sedekah berbagai bala’. Hal ini telah diketahui oleh manusia baik yang awam ataupun tidak. Penduduk bumi mengakui hal ini karena mereka telah membuktikannya”.Telah banyak kisah-kisah yang memperkuat tentang pendapat dari Ibnul Qayim. Ada kisah seorang yang bisa sembuh dari penyakit karena ia rajin bersedekah. Ada yang berhasil mencegah pencurian dan perampokan, karena ia baru saja melangsungkan sedekah. Dan berbagai kisah lainnya yang bisa kita ambil sebagai hikmah dan pelajaran. Tentunya, Allah Maha Tahu segala amalan kita dan Ia yang akan membalasnya. Wallahu A'lam
Kisah Hikmah : Ketika Orang Saleh Menghadapi Bala (Ujian)
Kisah ini menceritakan seseorang yang beriman saat diberi ujian bala berupa penyakit. Banyak pelajaran dari kisah orang-orang saleh tersebut. Berikut ulasannya:... | Halaman Lengkap [437] url asal
#kisah-hikmah #hakekat-ujian #bala-dan-musibah #ujian-hidup-manusia #ujian-dunia
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 15/12/25 18:24
v/73515/
Kisah hikmah ini menceritakan seseorang yang beriman saat diberi ujian bala berupa penyakit. Banyak pelajaran dari kisah orang-orang saleh tersebut. Berikut ulasannya:Semua orang pasti ingin dijauhkan dari azab atau hukuman(siksaan) dari Allah Ta'ala. Namun tidak demikian dengan bala (ujian) di mana sebagian hamba-hamba yang saleh senang ketika diberi ujian tersebut. Secara makna, bala artinya ujian dan cobaan.
Bala merupakan kenikmatan yang diberikan Allah kepada orang-orang beriman. Sedangkan musibah artinya ujian yang tidak disukai manusia. Musibah ini bisa seperti kalamangan dan bencana, namun ada hikmah di dalamnya. Sedangkan azab yaitu peringatan berupa siksaan atau hukuman Allah Ta'ala karena disebabkan kezaliman dan kemaksiatan.
Dalam Kitab 'Al-Hikam', Syeikh Ibnu 'Atho'illah (1250-1309) menceritakan beberapa kisah orang beriman saat diberi ujian bala berupa penyakit.
Kata Ibnu 'Athoillah, seharusnya bala yang menimpa padamu terasa ringan, karena engkau mengetahui bahwa Allah yang menguji (memberi bala) padamu. Maka Tuhan yang menimpakan kepadamu takdir-Nya itu, Dia pula yang telah biasa memberi sebaik-baik apa yang dipilihkan-Nya untukmu. (Dialah yang membiasakan kau merasakan sebaik-baik pilihanNya/pemberianNya).
Abu Ali Ad-Daqqoq berkata: "Suatu tanda seorang itu mendapat Taufiq karunia Allah, ialah terpeliharanya iman (Tauhid) di waktu menghadapi bala, ujian bencana. Wa 'asaa an-takrohuu syai an wahuwa khoirullakum (Mungkin kamu tidak suka pada sesuatu, padahal itu baik untukmu).
Dikisahkan, Imron bin Husain radhiallahu 'anhu (RA) menderita penyakit buang air selama tiga puluh tahun tidak dapat bergerak dari tempat tidurnya. Sehingga dibuatkan lubang di bawah tempat tidur untuk kencing dan buang airnya. Suatu hari datang saudaranya Al-Alaa' atau Muthorrif bin Assyikhir, lalu menangis melihat penderitaan Imron bin Husain. Maka ditanya oleh Imron: "Mengapakah engkau menangis?"
Jawabnya: "Karena aku melihat keadaanmu".
Imron berkata: "Jangan menangis, karena aku suka pada apa yang disukai Allah untukku." Kemudian Imron berkata, "Saya akan berkata kepadamu semoga bermanfaat bagimu, tetapi jangan kau buka kepada orang lain sehingga aku mati."
Sesungguhnya para Malaikat berziarah padaku dan memberi salam padaku, sehingga aku merasa senang dengan adanya mereka.
Abu Tholib Al-Makki pernah berkata: Manusia itu tidak suka miskin, hina dan penyakit, padahal itu semua baik baginya untuk bekal di akhirat. Sebaliknya ia suka kaya, sehat dan terkenal padahal itu semua bahaya disisi Allah, dan jelek akibatnya.
Dari Abu Hurairah RA berkata Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (SAW) bersabda: "Siapa yang dikehendaki Allah untuknya kebaikan, maka diujinya dengan musibah bala".
Dalam hadis lain, Rasulullah juga bersabda: "Jangan menuduh tidak baik terhadap segala apa yang telah ditakdirkan Allah untukmu".
Beliau juga bersabda: "Jika Allah belas kasih pada seorang hamba, maka diuji dengan bala, jika sabar maka dipilihNya, jika telah ridha maka diistimewakan".
Bencana dan Klasifikasinya Menurut Petunjuk Al Quran dan Hadis, Simak di Sini!
Secara umum, bencana terjadi disebabkan oleh faktor kejadian alam maupun oleh ulah manusia. Lantas bagaimana penjelasan bencana ini berdasarkan petunjuk Al Quran... | Halaman Lengkap [905] url asal
#bencana-alam #bala-dan-musibah #doa-bencana-alam #musibah-dalam-islam #petunjuk-al-quran-dan-hadis
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 03/12/25 13:26
v/59243/
Bencana dan klasifikasinya menurut Islam penting diketahui. Secara umum, bencana terjadi disebabkan oleh faktor kejadian alam maupun oleh ulah manusia. Lantas bagaimana penjelasan bencana ini berdasarkan petunjuk Al Quran dan Hadis Nabi SAW? Simak ulasannya berikut ini.Dikutip dari Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah Jilid 3, tentang Fikih Kebencanaan, bencana diklasifikasikan menjadi 2 macam. Yakni bencana karena faktor alam, dan bencana karena non-alam. Berikut penjelasannya yang ditunjukkan dalam teks Al Quran dan Al Hadits:
1. Bencana Alam
a. Gempa bumi
Gempa bumi adalah getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi yang disebabkan oleh tumbukan antar lempeng bumi, patahan aktif, aktivitas gunung api atau runtuhan batuan. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka (QS Al A’raf : 78)
b. Letusan gunung api
Merupakan bagian dari aktivitas vulkanik yang dikenal dengan istilah “erupsi”. Bahaya letusan gunungn api dapat berupa awan panas, lontaran material (pijar), hujan abu lebat, lava, gas racun, tsunami dan banjir lahar.Peristiwa letusan gunung disebutkan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala,
Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap pada tempatnya, padahal ia berjalan sebagaimana jalannya awan. (begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS An Naml : 88)
c. Tsunami
Istilah ini berasal dari bahasa Jepang yang berarti gelombang ombak lautan (“tsu” berarti lautan, “nami” berarti gelombang ombak). Tsunami adalah serangkaian gelombang ombak laut raksasa yang timbul karena adanya pergeseran di dasar laut akibat gempa bumi. Peristiwa ini digambarkan dalam Al Quran,"Dan apabila lautan meluap "( QS. Al Infithar :3)
d. Tanah longsor
Adalah salah satu jenis gerakan massa tanah atau batuan, ataupun percampuran keduanya, menuruni atau keluar lereng akibat terganggunya kestabilan tanah atau batuan penyusun lereng.e. Banjir
Yaitu peristiwa atau keadaan dimana terrendamnya suatu daerah atau daratan karena volume air yang meningkat. Banjir bandang datang tiba-tiba dengan debit air yang besar yang disebabkan terbendungnya aliran sungai pada aliran sungai pada alur sungai. Firman Allah subhanahu wa ta’ala tentang banjir :Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang dzhalim (QS Al Ankabut : 14)
f. Kekeringan
Adalah ketersediaan air yang jauh dibawah kebutuhan air untuk kebutuhan hidup, pertanian, kegiatan ekonomi dan lingkungan. Adapun yang dimaksud kekeringan di bidang pertanian adalah kekeringan yang terjadi di lahan pertanian yang ada tanaman (padi, jagung, kedelai dan lain-lain) yang sedang dibudidayakan. Firman Allah subhanahu wa ta’ala :"Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit itu), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan" (QS Yusuf :48).
Patut dicatat dan ditegaskan bahwa peristiwa alam yang terjadi, tidak serta merta dapat disebut sebagai bencana. Suatu kejadian bisa disebut sebagai bencana ketika manusia “salah memperhitungkan” resiko dari peristiwa tersebut dan mengakibatkan kerugian pada diri sendiri atau komunitasnya. Oleh karena itu, pada dasarnya peristiwa tanah longsor, gunung meletus, banjir, gempa bumi dan lain-lain bukan merupakan bencana.Karena peristiwa tersebut adalah fenomena rutin dan siklus alam.
Peristiwa tersebut baru dikatakan sebagai bencana bila kita tidak memperhitungkan resiko dengan mempersiapkan diri dengan baik, sehingga kemudian mengakibatkan timbulnya kerusakan, sakit atau bahkan kehilangan jiwa.
2. Bencana Non-Alam
a. Kegagalan teknologi
Yaitu semua kejadian bencana yang diakibatkan oleh kesalahan desain, pengoperasian, kelalaian dan kesengajaan manusia dalam penggunaan teknologi dan/atau industri. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah membuat mereka merasakan akibat dari sebagian perbuatan mereka, dan agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS Ar-Rum : 41)
b.Epidemi / wabah
Yaitu kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka. Firman Allah subhanahu wa ta’ala,Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa (QS Al Anfal :133)
c.Konflik sosial
Bisa juga disebut kerusuhan sosial atau huru-hara adalah suatu gerakan massal yang bersifat merusak tatanan dan tata tertib sosial yang ada, yang dipicu oleh kecemburuan sosial, budaya dan ekonomi yang biasanya dikemas sebagai pertentangan antar suku, agama dan ras (SARA). Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah membuat mereka merasakan akibat dari sebagian perbuatan mereka, dan agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS Ar Rum : 41)
d.Teror
Yaitu aksi yang dilakukan oleh setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan sehingga menimbulkan suasana teror atau rasa takur terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan sehingga hilangnya nyawa dan harta benda, mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik intenasional. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi hendaklah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan silang, atau dibuang dari negeri tempat tinggal mereka. Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka akan memperoleh siksaan yang besar (QS Al Maidah :33)
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56