Bisnis.com, TAPANULI TENGAH - Tiga Kepala Desa lokasi perkebunanPT Tri Bahtera Srikandi (TBS) di Anggoli, Kecamatan Sibabangun Kabupaten Tapanuli Tengah menyatakan penyebab banjir bandang di Sungai Aek Garoga bukan pembukaan kebun di kawasan desa mereka yang ada di hilir tapi disebabkan oleh aktifitas di hulu sungai tersebut.
Kepala Desa Anggoli Oloan Pasaribu, Kepala Desa Simanosor Tua Pandapotan Batubara, dan Kepala Desa Huta Gurgur Rinta Hasean Hutagalung, mengatakan total 512 ha kebun yang baru diolahasyarakat desa bersama PT TBS adalah lahan kebun masyarakat desa yang dulu berisi pohon karet, jengkol, durian, dan pohon petai yang dialihkan menjadi kebun kelapa sawit karena alasan untuk meningkatan ekonomi masyarakat desa.
“Jadi ini bukan pembabatan hutan tapi kebun warga di tiga desa yang diubah jadi kebun sawit dengan harapan bisa meningkatkan kesejahteraan warga kami. Kebun itu isinya pohon karet, petai, jengkol, durian yang kemudian dialihkan jadi kebun sawit,” ujar Oloan di lokasi perkebunan tersebut, Minggu (18/1/2026).
Dia menambahkan lahan seluas 512 ha yang diubah jadi kebun sawit itu berstatus Areal Penggunaan Lain (APL) yang dikembangkan menjadi kebun plasma atau kebun masyarakat binaan dan perkebunan inti kelapa sawit milik PT TBS.
Sementara itu, Tua Pandapotan menjelaskan bahwa sejak lama warga sudah mengolah lahan tersebut sehingga tuduhan bahwa lahan yang digarap di desanya merupakan hutan lindung tidaklah benar berdasarkan faktanya.
”Tudingan peralihan kebun masyarakat ini jadi penyebab banjir bandang di sungai Aek Garoga tidak benar. Tidak ada kayu dari kawasan kami yang ke Aek Garoga karena memang tidak ada aliran sungainya ke sana. Yang ada hanya sumber mata air yang mengalir ke Garoga dan itu aliran kecil yang tidak mungkin kayu-kayu lewat,” kata Tua.
Kades Rinta menambahkan peralihan kebun rakyat jadi kebun sawit itu diharapkan bisa mendorong ekonomi warganya yang banyak masih mengalami kesulitan ekonomi.
Dalam hal ini, menurutnya, masyarakat desa juga berkomitmen menjaga lingkungan agar desa tetap aman.Oloan menambahkan sebagai bentuk komitmen itu, pihaknya melarang keras pembukaan kebun di wilayah kemiringan curam di desanya yang berisiko berdampak longsor.
Di tempat terpisah, juru bicara PT TBS Rizky Pratama Pasaribu mengatakan pihaknya menghormati keputusan pemerintah dengan menghentikan sementara aktifitas perkebunan di tiga desa yang dipersoalkan sampai ada keputusan lebih lanjut dari pemerintah.
Terkait dengan persoalan di lahan pengembangan kebun seluas 512 ha, pihaknya berinisiatif mengundang 2 orang ahli tanah dan hidrologi dari Institut Pertanian Bogor untuk meninjau kawasan tersebut dalam rangka membuat penilaian teknis dan objektif agar didapatkan rekomendasi yang objektif pula.
”Dua ahli tanah dan hidrologi dari IPB itu sudah meninjau kawasan kebun yang dianggap bermasalah dan mereka mencoba memberikan penilaian teknis seperti informasi yang sudah beredar saat ini,” kata Rezky.
PT TBS diketahui dipersalahkan sebagai salah satu perkebunan yang menyebabkan banjir bandang di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Garoga dan Anggoli, Sumatera Utara.
Adapun, Bareskrim Mabes Polri menuding bahwa sebagian besar gelondongan kayu yang hanyut di sungai Aek Garoga dan Anggoli berasal dari perkebunan PT TBS.